Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
88. Penyelamatan yang Mengerikan


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Terkejut wanita berkuda yang sedang dikejar gerombolan lelaki berkuda itu. Bagaimana mungkin tanah berpasir di depan sana muncur sinar merah berpola gambar jaring laba-laba, yang kemudian muncul sosok wanita naik dari dalam pola sinar dan selanjutnya berdiri tepat di jalur laju kuda yang berlari kencang?


“Hantu apa itu?” tanya wanita berkuda kepada dirinya sendiri.


“Makhluk apa itu?!” Bala Rong yang memimpin pengejaran terhadap wanita cantik berkuda di depan, juga terkejut dengan kemunculan sosok perempuan dari dalam tanah yang bersinar merah.


Lima lelaki lainnya juga mendelik terkejut melihat kemunculan perempuan dari dalam tanah. Mereka semua langsung mengenali sosok ajaib yang keluar dari dalam tanah itu. Perempuan itu adalah perempuan yang mereka lewati tadi di belakang. Bala Rong telah memerintahkan Bong dan Lai untuk menangkap wanita itu. Wanita itu tidak lain adalah Tirana yang menggunakan ilmu Lorong Laba-Laba untuk menyelamatkan wanita berkuda dari kejaran para penjahat yang dipimpin Bala Rong.


Dengan sikap yang tenang, Tirana berdiri tepat di jalur lari para kuda.


“Minggir!” teriak wanita berpakaian merah biru dari atas kudanya. Teriakan yang sebenarnya tidak dimengerti oleh Tirana.


Tirana memberi isyarat agar wanita itu sedikit membelokkan kuda dan tidak menabraknya. Wanita berkuda itu cepat membelokkan sedikit lari kudanya agar tidak menabrak tubuh Tirana. Begitu kencang kuda melintas beberapa jangkauan di sisi kiri Tirana. Tirana berdiri diam seolah kuda itu hanya lintasan angin gurun.


Selepas itu, Tirana dihadapkan oleh enam kuda yang juga berlari kencang dan sudah siap menabrak tubuhnya.


“Tabrak siluman itu!” teriak Bala Rong kepada anak buahnya.


Wanita berkuda memacu kudanya sambil menengok ke belakang. Ia ingin melihat nasib Tirana yang pastinya akan ditabrak, setidaknya oleh satu ekor kuda.


Brokr!


Bala Rong bersama kudanya yang berlari cepat seperti menabrak tembok baja tidak terlihat saat melabrak Tirana. Tengkorak kepala Bala Rong remuk bersama tengkorak kepala kuda ketika tiba dua jengkal dari kulit Tirana. Berpatahan pula tulang leher dan tubuh yang lain, baik Bala Rong maupun si kuda tunggangan. Terlihat jelas bagaimana kuda dan penunggangnya melesat dengan kecepatan tinggi lalu membentur dinding keras yang tidak tampak.


Satu kuda bersama penunggangnya juga, bernasib sama telak dengan Bala Rong. Tepat menabrak Tirana, menyusul pemimpinnya. Sementara dua kuda lain seperti menabrak, tetapi hanya menyenggol dinding yang tidak terlihat. Akibatnya, kedua kuda itu terpental ke samping dan jatuh tersungkur ke tanah bersama penunggangnya.


Adapun dua kuda lainnya yang berlari mengejar agak di sisi sayap, tidak menabrak dinding gaib milik Tirana karena agak jauh.

__ADS_1


Betapa terkejutnya wanita penunggang kuda menyaksikan keanehan itu. Mulutnya sampai ternganga karena terpukau. Namun, kedua tangannya seketika menarik tali kekang kuda hingga berhenti mendadak.


“Lari! Lari!” teriak anak buah Bala Rong yang selamat. Ia jadi begitu ketakutan melihat nasib pemimpinnya dan keanehan yang dibuat Tirana.


Kedua lelaki berkuda itu berhenti mengejar wanita berkuda dan memilih pergi ke arah lain.


Bala Rong dan seorang anak buahnya tewas dengan kondisi yang mengerikan bersama kudanya yang juga mati mengerikan. Kepala kedua kuda dan kedua penunggangnya hancur. Dua anak buah Bala Rong lainnya juga tewas setelah jatuh keras bersama kudanya, tetapi kondisi fisiknya masih lebih bagus dibandingkan pemimpinnya.


Satu kuda yang terpental dan jatuh berhasil bangun kembali. Kuda itu hendak berlari pergi tanpa tuannya lagi. Namun sebelum pergi, Tirana cepat berkelebat di udara dan mendarat duduk tepat di pelana si kuda. Cepat ia mengendalikan tali kekang kuda. Walhasil, kuda itu resmi menjadi milik Tirana.


Wanita berkuda yang tadi menjadi buruan, datang mendekat kepada kuda Tirana, tetapi rasa takut membuatnya tidak begitu dekat dia menghampiri. Dia sebenarnya cukup merinding melihat cara mati Bala Rong dan anak buahnya.


“Nona! Terima kasih telah muncul menolongku!” ucap wanita itu agak berteriak sambil kedua tangannya bertemu di depan dada dengan badan atas agak membungkuk, menunjukkan hormat dan terima kasihnya.


Namun, Tirana terdiam. Ia tidak mengerti kata-kata wanita cantik bermata agak sipit itu. Tirana memutuskan menjalankan kudanya lebih mendekati wanita itu.


“Jangan mendekat!” seru wanita itu cepat sambil memajukan telapak tangan kanannya.


Senyum Tirana itu membuat si wanita mengambil kesimpulan bahwa Tirana bukan musuh. Buktinya, Tirana muncul menolongnya. Meski caranya begitu menakutkan.


“Siapa kau sebenarnya, Nona?” tanya wanita itu.


“Hm?” gumam Tirana sambil menunjukkan mimik wajah bertanya.


“Siapa kau, Nona?” tanya wanita itu lagi.


“Aku tidak mengerti kata-katamu,” kata Tirana dengan bahasa yang berbeda sambil tangan kanannya turun bergerak memberi isyarat menyentuh dadanya, lalu telapaknya digeleng-gelengkan tanda “tidak”, kemudian jari-jari dibuka-tutup menyimbolkan ucapan bibir.


“Oh, kau dari negeri asing rupanya,” kata wanita itu segera mengerti setelah mendengar kata-kata Tirana yang juga asing di telinganya. Ia tersenyum. Ia lalu menunjuk dirinya dan berkata, “Zhao Lii!”

__ADS_1


“Zhao Lii?” ulang Tirana dengan nada bertanya sambil menunjuk wanita berkulit kuning bersih itu.


“Ya, namaku Zhao Lii,” tandas wanita itu.


“Tirana,” ucap Tirana sambil menyentuh dada atasnya.


“Tirana?” tunjuk gadis bernama Zhao Lii dengan nada bertanya ulang.


“Iya,” jawab Tirana seraya tersenyum lebar.


“Hahaha!” tertawa Zhao Lii akhirnya. Terasa lucu dan kaku cara mereka berkenalan dan berkomunikasi. Rasa takut dan tegang pada dirinya berangsur hilang. “Nona Tirana dari mana?”


Tirana terdiam sejenak, seolah mencoba mencerna arti dari pertanyaan Zhao Lii.


“Aku mau ke barat,” jawab Tirana setelah menjalankan dua jari tangan kanannya di atas punggung tangan kirinya lalu menunjuk ke arah matahari terbenam.


“Kau mau ke barat?” tanya Zhao Lii lagi sambil ikut menunjuk ke arah barat.


Tirana mengangguk yang membuat lawan bicaranya tertawa. Tirana hanya tersenyum lebar.


“Aku tanya asalmu, tapi kau malah jawab tujuanmu. Tapi tidak apa,” kata Zhao Lii. Ia lalu menunjuk langit dan kemudian menempelkan satu telapak tangannya di pipi sambil memiringkan kepalanya. “Hari sudah gelap, menginaplah di tempatku. Besok kau bisa meneruskan perjalanan ke barat. Biarkan aku menjamumu sebagai rasa terima kasihku karena telah menolongku.”


Meski tidak memahami semua kata-kata Zhao Lii, tetapi Tirana bisa menerka maksud dari ajakan itu.


“Iya,” jawab Tirana mengangguk.


“Ikut aku ke tempat ayahku!” seru Zhao Lii lalu menggebah perut kudanya dengan kedua kakinya.


Tirana segera mengikuti Zhao Lii bersama tunggangan barunya.

__ADS_1


Kedua gadis cantik itu berkuda tanpa henti menyusuri gurun berbatu seiring turunnya malam.


Setelah berkuda selama setengah jam, tibalah mereka di sebuah kamp militer. (RH)


__ADS_2