
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Setelah perpisahan dengan Dewi Mata Hati, sehari kemudian, Joko Tenang memutuskan untuk pergi ke Gunung Prabu bersama ketiga istrinya, yaitu Tirana, Getara Cinta dan Kerling Sukma. Perjalanan mereka dikawal pula oleh Turung Gali, ayah dari Tirana sekaligus mertuanya Joko Tenang.
Di dalam bilik pedati saat dalam perjalanan menuju Gunung Prabu, Joko Tenang merundingkan berbagai permasalahan. Kini Joko Tenang bukan sekedar seorang pendekar, tetapi kini ia juga sudah menjadi pemimpin dari ketiga istrinya.
Misi menikahi delapan istri bukanlah sekedar menunggu jodoh datang sendiri atau jatuh dari langit, tetapi seiring itu hidup juga harus dijalani dengan tujuan dan perencanaan yang baik. Berbagai permasalahan yang bersinggungan dengan mereka harus diselesaikan dengan sebaik mungkin. Dari berbagai masalah yang ada, maka Joko Tenang dan ketiga istrinya sepakat untuk memprioritaskan pergi ke Gunung Prabu, tempat adanya kediaman baru bagi Joko Tenang dan para istrinya. Ketiga istri Joko Tenang tidak mau jika suami mereka harus menjadi “gembel” tanpa tempat tinggal dan harta.
“Kini kita tidak tahu keberadaan Ginari, Kakang. Namun dugaanku, Ginari telah merasa Kakang adalah miliknya. Dengan sendirinya dia akan mencari Kakang dan bertarung dengan kami,” kata Tirana.
“Tapi, aku sangat tidak ingin kehilangan Ginari untuk kedua kalinya,” kata Joko Tenang.
“Jika berdasarkan keterangan dari Malaikat Serba Tahu, mungkin dalam waktu dekat ini Ginari akan menjadi pemimpin beberapa pendekar yang menghamba kepadanya. Itu berarti kekuatannya tidak akan seperti sebelumnya ketika bertarung dengan Sukma,” kata Getara Cinta.
“Aku ingin mengikuti saran dari Malaikat Serba Tahu, aku ingin menanamkan kenangan-kenangan baik yang baru ke dalam ingatannya,” kata Joko Tenang.
“Bagaimana caranya, Kakang? Ginari kini menjadi jahat. Jika mendekatinya, akan sangat berbahaya, terlebih Kakang tidak dibekali ilmu kesaktian. Justru aku khawatir, jika Ginari menyerang Kakang tiba-tiba, nasibnya akan seperti kakakku, diterkam oleh Macan Penakluk,” kata Kerling Sukma.
Joko Tenang terdiam berpikir. Ia membenarkan semua perkataan istri-istrinya itu.
“Apakah kalian bisa memusnahkan kesaktiannya tanpa melukainya, apalagi sampai membunuhnya?” tanya Joko Tenang kemudian.
“Aku bisa dengan ilmu Jari Pemusnah,” jawab Kerling Sukma.
“Tapi, Kakang. Jika kesaktian Ginari dimusnahkan, dia tidak akan bisa masuk sebagai Delapan Dewi Bunga,” kata Tirana.
__ADS_1
“Itu lebih baik daripada dia menjadi jahat dan membunuh orang lain. Bahkan ia pun bisa mati karena kejahatannya. Aku mencintainya, sama seperti aku mencintai kalian. Aku tidak mau dia menjadi buruk atau ditimpa keburukan. Sudahkah kalian menghitung, berapa istriku sekarang dan yang kemungkinan akan menjadi istriku berikutnya?”
“Istri Kakang sudah lima, tinggal tiga lagi, yaitu Ginari, Sandaria dan Putri Sri Rahayu,” jawab Tirana.
“Ada satu calon yang belum kalian ketahui,” kata Joko Tenang.
“Siapa, Kakang?” tanya ketiga istri serentak, yang kemudian memancing tawa di antara mereka.
“Akan aku jawab, tapi cium aku dulu,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum.
Maka kompak ketiga istri itu mencium suami mereka berdasarkan posisi mereka masing-masing. Tirana mencium pipi kanan Joko Tenang, Kerling Sukma mencium pipi kiri, dan Getara Cinta mencium bibir suaminya karena posisinya tepat berhadapan.
“Ratu menang banyak!” protes Kerling Sukma, yang membuat Joko Tenang, Tirana dan Getara Cinta tertawa melihat si mata hijau merengut. Lalu katanya lagi, “Biarkan, nanti aku akan mencuri-curi kesempatan.”
“Curilah, asal jangan kau habiskan bibir Kakang Joko,” kata Getara Cinta sambil tersenyum kepada Kerling Sukma, membuat gadis bermata hijau itu tersenyum.
“Hahaha…!” tertawa ramailah mereka mendengar syair “bibir merah” Kerling Sukma.
Turung Gali yang mendengar kemesraan pangerannya dengan ketiga istrinya, hanya tersenyum sendiri sambil sesekali menggebah dua kuda penarik kereta.
“Katakan, Kakang!” kata Tirana setelah tawa mereka reda.
“Saat aku berbicara khusus dengan para tetua menyampaikan amanah Guru Tiga Malaikat Kipas, Malaikat Serba Tahu sangat menganjurkan aku hadir di Jurang Lolongan. Menurutnya, di sana aku akan bertemu satu calon istriku, tetapi dia tidak menyebutkan nama,” jelas Joko Tenang.
“Berarti, ada kemungkinan kuat antara Ginari, Sandaria dan Putri Sri Rahayu, salah satunya bukan bagian dari Delapan Dewi Bunga?” terka Getara Cinta.
__ADS_1
“Benar. Dan yang sangat jauh dari kemungkinan menjadi Dewi Bunga adalah Ginari,” kata Joko Tenang. “Bukankah kata Malaikat Serba Tahu bahwa jumlah istriku akan lebih dari delapan. Semoga saja itu Ginari.”
Seperti itulah pembahasan tentang masalah Ginari. Jika prediksi mereka meleset, maka mereka akan membahas langkah lain untuk menyelamatkan Ginari.
“Kami sudah memberi tahu kepada Sandaria, jika ia sudah siap untuk menjadi istri Kakang, kami minta dia datang ke Telaga Fatara agar menikah di sana,” kata Tirana mengenai Sandaria.
Joko Tenang bisa menerima penjelasan Tirana.
Sedangkan untuk Putri Sri Rahayu, mereka memutuskan akan pergi ke Kerajaan Siluman setelah merapikan segala urusan di Kerajaan Sanggana Kecil.
Setelah melakukan perjalanan dua hari dua malam dan beberapa kali singgah untuk beristirahat, akhirnya mereka tiba di Kadipaten Surosoh.
Mereka memutuskan berhenti di sebuah kedai makan besar. Kedai makan berlantai papan itu terlihat ramai oleh satu rombongan prajurit berseragam biru putih. Kuda-kuda prajurit itu ramai ditambatkan di depan kedai. Dihitung dari jumlah kuda, berarti ada dua belas prajurit yang sedang makan di dalam kedai.
Ketika Joko Tenang masuk bersama ketiga istrinya, semua prajurit dan pelanggan lain di kedai itu jadi diam terpaku. Mereka terpana terpesona oleh kecantikan ketiga wanita jelita milik Joko Tenang. Bahkan beberapa lelaki harus menganga tanpa sadar. Karena meja makan di kedai itu sudah didominasi oleh para prajurit kadipaten, Joko dan ketiga istrinya harus duduk satu meja di sebelah dalam dekat dapur. Model meja di kedai itu berbentuk persegi panjang dengan kursi kayu model panjang. Jadi mereka duduk dua berhadapan dua.
“Huacchih!”
Tiba-tiba semua dikejutkan oleh bersin buatan Turung Gali yang baru masuk. Keterpukauan para kaum batangan itu seketika buyar dengan kesan yang mengesalkan terhadap Turung Gali. Namun, karena melihat penampilan Turung Gali yang seperti orang persilatan, maka mereka tidak ada yang berani membuat perkara.
“Sudah sudah sudah! Biarkan mereka, mereka itu para pendekar!” kata satu prajurit yang pakaiannya sedikit beda sendiri. Dia adalah pemimpin dari sebelas prajurit lainnya, namanya Sugira.
Seorang pelayan wanita segera mendatangi meja Joko Tenang. Satu pelayan wanita lain juga mendatangi Turung Gali yang duduk di meja kosong yang lain.
“Gerombolan Kuda Biru semakin merisaukan saja, Kakang Sugira. Kita saja kalah jumlah dengan mereka. Ternyata Padepokan Hati Putih tidak bisa berbuat banyak, padahal padepokan itu dipimpin oleh Resi Tambak Boyo,” kata seorang prajurit kepada pemimpinnya.
__ADS_1
Mendengar nama Resi Tambak Boyo disebut, Joko Tenang segera berpaling memandang sejenak ke arah prajurit itu.
“Aku harus bertemu dengan Resi Tambak Boyo,” ujar Joko Tenang kepada ketiga istrinya. (RH)