Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 10: Bertemu Bidadari Lagi


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


Kedua saudara seperguruan itu terkejut mendengar pengakuan Joko Tenang bahwa ia adalah calon suami Kerling Sukma. Dibandingkan Robenta, Sobenta lebih terkejut dan tampak gusar.


“Kau jangan mengada-ada, Jokoku,” tukas Sobenta gusar, tetapi ia masih menekan nada bicaranya kepada pemuda yang akan ia paksa menikah dengan murid kesayangannya. “Jika kau memiliki banyak istri, aku tidak masalah menjadikan muridku sebagai istrimu yang berikutnya. Namun, jika kau memang benar calon suami Kerling Sukma, mana bisa muridku satu suami dengan bibi gurunya?”


“Hahaha!” Joko Tenang tertawa melihat ketersudutan Sobenta. “Berarti urusan kita selesai, Orang Tua.”


“Belum. Saat ini kau boleh merasa aman dariku, Joko, tetapi aku akan menanyakan dulu kepada adik seperguruanku. Jika kau berdusta, aku tidak akan melepaskanmu!” ancam Sobenta.


“Kalau begitu, kita tangkap dulu Helai Sejengkal!” kata Robenta.


Fii uuu fuuu uuu…!


Sobenta lalu memainkan seruling sepanjang satu depanya. Irama seruling bernama Belaian Pantai kembali Sobenta mainkan.


Untuk mencegah mereka kembali dibuat tertidur oleh irama seruling itu, Joko Tenang berkelebat menyerang Sobenta untuk memutuskan permainan serulingnya.


Tak!


Namun, tendangan Joko Tenang dihadang oleh tongkat merah Robenta yang cepat membentengi kakak seperguruannya.


Namun setelah itu, Joko terhuyung dan jatuh duduk. Dalam posisi duduk itu, Joko telah tertidur. Di tempat lain, Getara Cinta, Tirana dan Helai Sejengkal juga sudah berdiri dalam kondisi mata terpejam.


“Seharusnya dari kemarin-kemarin,” ucap Robenta lalu bergerak cepat kepada Helai Sejengkal.


Tuk tuk!


Dua totokan cukup dilakukan oleh Robenta kepada Helai Sejengkal. Ia lalu memanggul tubuh wanita berambut pendek itu.


Sementara itu, ketika Sobenta menghentikan permainan serulingnya, ia langsung menyerang Joko Tenang dengan empat totokan. Joko adalah orang sakti, jadi harus diberi segel lebih. Setelah itu, Sobenta juga memanggul Joko Tenang di bahunya.


Tidak berapa lama, Getara Cinta dan Tirana membuka sepasang matanya. Namun, alangkah terkejutnya kedua gadis cantik itu.


“Kakang Joko!” teriak Tirana panik.


“Helai Sejengkal juga hilang,” ucap Getara Cinta.


Mereka berdua masih berada di tempat yang sama. Namun, kedua kakek murid Dewi Mata Hati bersama Joko Tenang dan Helai Sejengkal telah raib di tempat itu.


“Kakang Jokooo!” teriak Tirana kencang bertenaga dalam tinggi. Suara panggilannya terdengar ke mana-mana.


Namun, tidak ada sahutan atau jawaban dari Joko Tenang. Calon suami mereka telah hilang.


“Aaa!” teriak Tirana begitu kesal sambil melepaskan satu pukulan jarak jauh.


Blarr!


 Satu batang pohon besar jebol oleh pukulan jarak jauh Tirana.


“Hiks!” Tirana mendadak menangis. Ia seolah trauma jika harus kehilangan Joko Tenang, seperti waktu mereka pergi mencari Permata Darah Suci.


“Ini pasti perbuatan kedua kakek itu!” kata Getara Cinta.

__ADS_1


“Ke mana kita harus mengejarnya, Ratu?” tanya Tirana setelah menyeka air matanya.


“Mereka pasti melesat dengan ilmu peringan tubuh, sulit untuk mencari tanda jejaknya. Kakek bernama Robenta datang dari arah selatan, lebih baik kita ke selatan mencarinya,” kata Getara Cinta.


Mereka berdua sepakat mengejar ke arah selatan. Dengan kecepatan seperti setan, keduanya seolah menghilang.


Sementara itu, Sobenta dan Robenta melesat cepat di sebuah lembah.


“Mau kau bawa ke mana aku, Kek?” tanya Joko yang tersadar di dalam panggulan Sobenta.


“Hehehe! Akhirnya aku bisa menangkapmu, Joko,” kata Sobenta begitu senang, seperti nelayan yang berhasil menangkap ikan besar.


Sementara itu, Helai Sejengkal yang juga tersadar di panggulan Robenta, tidak bisa berkata apa-apa karena pita suaranya telah ditotok pula.


“Aku akan memberi hadiah kejutan kepada Kumala Rimbayu. Kita akan pergi ke perguruanku, tempat kau akan menjadi ketua,” kata Sobenta.


“Kakang! Aku akan pergi ke Jurang Patah Hati!” teriak Robenta kepada kakak seperguruannya.


“Baik, nanti aku menyusul. Aku ingin bertanya kepada Kerling Sukma tentang Joko!” sahut Sobenta.


“Baik!” sahut Robenta pula.


Sobenta lalu berbelok arah, berpisah dari Robenta.


“Kau beri aku totokan apa, Kek?” tanya Joko.


“Aku jamin kau tidak akan bisa lepas dari Totokan Jengkal milikku, Joko,” kata Sobenta. “Kenapa kau tidak mau menikah dengan murid kesayanganku, Joko? Sedangkan kau mau menikahi banyak wanita. Kau sudah melihat sendiri bahwa Kumala Rimbayu adalah gadis yang cantik dan terjaga kehormatannya.”


“Katakanlah!”


“Aku tidak mau karena dirimu, Kek. Kau adalah guru yang benar-benar kurang ajar. Kasihan muridmu itu memiliki guru seperti kau,” kata Joko.


“Apa salahku?” tanya Sobenta yang terkejut karena disalahkan.


Bang!


“Agk!” keluh Sobenta.


“Hugk!” keluh Joko Tenang.


Sobenta yang membawa tubuh Joko Tenang melesat cepat, tiba-tiba terpental ke belakang. Mereka seperti menabrak sebuah dinding yang tidak terlihat. Akibatnya, keduanya jatuh berdebam di tanah lembah yang berumput hijau.


Joko Tenang tidak bisa bergerak karena masih dalam kondisi tertotok. Sementara Sobenta buru-buru bangkit sambil meringis. Ia cepat memungut tongkat serulingnya.


Wutt!


Sobenta melemparkan tongkat bambunya ke depan untuk mengetahui posisi dinding tidak terlihat itu. Namun, tongkat itu berputar-putar tidak menghantam apa pun hingga pulang kembali ke genggaman tangan Sobenta.


Sobenta heran, bagaimana bisa ia menghantam sesuatu yang tidak ada.


“Pasti ada seseorang…” ucap Sobenta lirih sambil memandang ke sekeliling.


“Dia ada di belakangmu, Kek!” kata Joko Tenang memberitahukan.

__ADS_1


Sobenta cepat berbalik.


“Hakh!” kejut Sobenta.


Namun, keterkejutan Sobenta hanya seujung lirikan. Satu sosok berwarna merah telah lebih dulu menusuk ulu hati Sobenta dengan jari-jari berwarna merahnya. Kakek berkepala botak itu pun tumbang tidak sadarkan diri.


“Putri Sri Rahayu!” sebut Joko Tenang yang tergeletak tidak berdaya.


Joko Tenang menyapa sosok seorang wanita berpakaian serba merah berambut panjang. Wanita muda berwajah putih tapi buruk itu mengenakan sarung tangan merah pada kedua tangannya. Aroma harum bunga mawar tercium lembut memanjakan penciuman. Namun, Joko Tenang juga dapat mencium bau tajam racun yang entah jenis apa.


Wanita yang adalah Putri Sri Rahayu alias Bidadari Asap Racun itu pernah mengungkapkan bahwa seluruh kulitnya beracun.


“Sepertinya kau tidak baik-baik saja, Joko?” tanya Putri Sri Rahayu seraya tersenyum.


“ Ya begitulah. Kakek ini menotokku dengan totokan khusus. Aku tidak bisa membebaskan diri,” jawab Joko.


Putri Sri Rahayu lalu mendekati Joko Tenang.


“Jangan mendekatiku!” cegah Joko Tenang.


Putri Sri Rahayu segera berhenti.


“Kenapa, Joko?” tanya Putri Sri Rahayu heran.


“Aku punya penyakit jika berdekatan dengan wanita,” jawab Joko.


“Apakah kau akan mati jika aku mendekatimu?” tanya Putri Sri Rahayu.


“Tidak, tetapi sekarat,” jawab Joko lagi.


“Lalu? Apakah aku hanya bisa memandangimu tergeletak seperti ini?” tanya Putri Sri Rahayu seraya tersenyum.


“Biasanya kau datang bersama prajuritmu, Gulung Lidah atau yang lainnya?” tanya Joko.


“Biasanya, tapi kali ini tidak biasa,” kata Putri Sri Rahayu.


“Benar, kau tidak biasa. Hanya seseorang yang memiliki kesaktian luar biasa bisa tiba secepat ini. Kemarin, kita masih sama-sama ada di Lembah Cekung,” kata Joko.


“Berarti kesaktian kita sejajar. Kemarin kita masih berada di tempat yang sama, dan sekarang kita juga berada di tempat yang sama. Hihihi!” kata Putri Sri Rahayu lalu tertawa rendah.


“Kenapa kita selalu berada di tempat yang sama pada waktu yang tidak wajar?” tanya Joko Tenang curiga.


Putri Sri Rahayu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menatap dalam sepasang mata Joko yang menatapnya tidak berkedip.


Syuur!


Tiba-tiba ada sealiran rasa indah berselancar di jantung Putri Sri Rahayu dalam masa adu pandang tersebut. Akhirnya sang putri alihkan pandangannya ke arah lain.


“Karena aku mengejarmu, Joko,” kata Putri Sri Rahayu, membuat Joko agak melebarkan lingkar matanya.


“Kau menginginkan sesuatu dariku?” tanya Joko lagi.


“Ya.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2