
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Malam itu menjadi terang di Kadipaten Surosoh. Belasan rumah yang dibakar oleh anggota Gerombolan Kuda Biru menjadi suluh-suluh raksasa yang tersebar. Meski tidak semua warga Kadipaten dibunuh, tetapi mayat-mayat bergelimpangan di sembarang tempat, kebanyakan adalah warga biasa dibandingkan dengan nyawa prajurit.
Sebagian besar anggota Gerombolan Kuda Biru yang semuanya orang persilatan, berkumpul di luar kediaman Adipati Tambak Ruso dan sekitarnya. Ada juga sebagian kecil yang disebar di sekitar pusat Kadipaten untuk mencegah adanya penyusup.
Kadipaten Surosoh mutlak sudah dikuasai oleh Gerombolan Kuda Biru.
Nila Mawangi alias Gadis Kuda Biru, Nenek Haus Jantung dan Siluman Panah Setan baru saja masuk ke rumah Adipati Tambak Ruso. Di dalam rumah itu sudah ada Renggong Walu alias Celurit Kembar. Dia dan beberapa anak buahnya berdiri di pinggir ruangan utama.
Renggong Walu memiliki kedudukan seperti Kusuma Dewi, yaitu Ketua Kecil. Ketua Kecil dalam Gerombolan Kuda Biru memiliki sepuluh anak buah dengan kesaktian yang lebih rendah.
Adipati Tambak Ruso tersenyum ramah menyambut kedatangan ketiga pemimpin Gerombolan Kuda Biru itu, seperti warga biasa kedatangan tamu pembesar. Berdirinya yang biasanya tegak lurus sebagai seorang kepala kadipaten, kini agak membungkuk merendah.
“Selamat datang, Gadis Kuda Biru dan para pendekar sekalian!” ucap Adipati Tambak Ruso sambil tersenyum-senyum.
Tidak ada senyum di wajah Nila Mawangi dan Nenek Haus Jantung. Berbeda dengan Siluman Panah Setan yang tersenyum-senyum kecil melihat tingkah Adipati Tambak Ruso.
“Silakan duduk, Gadis Kuda Biru dan pendekar sekalian!” kata Adipati Tambak Ruso mempersilakan. Dia memang sudah mempersiapkan lima kursi kayu sederhana di ruangan itu yang berformasi leter L.
Dari ketiga pemimpin Gerombolan Kuda Biru itu, Adipati Tambak Ruso hanya mengenal Nila Mawangi sebagai pemimpin Gerombolan Kuda Biru. Ia tidak mengenal Nenek Haus Jantung dan Siluman Panah Setan.
“Adipati Tambak Ruso!” sebut Nila Mawangi. “Dengan berakhirnya serangan malam ini, berarti Kadipaten Surosoh resmi di bawah kekuasaanku. Hakmu dua kadipaten, baru akan kami berikan setelah tiga kadipaten lainnya kami kuasai.”
“Baik, aku mengerti,” ucap Adipati Tambak Ruso mengangguk seraya tersenyum. “Siapa kedua orang ini, Kuda Biru?”
“Nenek Haus Jantung. Berhati-hatilah dengannya, karena jika ada dia, jantungmu tidak akan aman. Dan ini adalah Siluman Panah Setan, utusan dari Kerajaan Siluman. Jadi kau harus tahu, Adipati, jangankan satu atau empat kadipaten, satu kerajaan pun kami bisa taklukkan, karena di belakang kami ada satu kerajaan yang memiliki bala tentara digdaya,” jelas Nila Mawangi.
“Sesuai kesepakatan kita, tambang perak yang ada di Desa Tulanoyo hasilnya akan kita bagi dua….”
“Bukan dua, tapi tiga!” Nila Mawangi cepat memotong perkataan Adipati Tambak Ruso. “Satu untuk Adipati, satu untuk Kuda Biru, dan satu lagi untuk Kerajaan Siluman.”
“Tapi, bukankah kesepakatan kita sebelumnya, hasil tambang itu dibagi dua!” tandas Adipati Tambak Ruso.
“Baik, kita bagi dua, tapi siapa yang akan kita korbankan?” Siluman Panah Setan masuk dalam pembicaraan. “Kerajaan Siluman bisa saja tidak dimasukkan, tetapi kami akan menarik dukungan dan datang dengan pasukan yang besar.”
__ADS_1
“Aku tidak menginginkan itu terjadi!” tandas Nila Mawangi. “Dan aku sebagai pemimpin Gerombolan Kuda Biru, juga tidak mau tidak mendapat bagian. Orang-orangku butuh makan.”
“Yang paling memungkinkan, lebih baik Adipati kau bunuh, selesai urusan. Tambang itu tinggal dibagi dua,” kata Nenek Haus Jantung enteng sambil menatap sang adipati.
“Jangan, jangan!” kata Adipati Tambak Ruso cepat. “Baik, aku setuju. Hasil tambang dibagi tiga!”
“Bagus jika kau lebih memilih nyawamu daripada harta, Adipati,” kata Nila Mawangi.
“Lalu kapan kita akan menyerang Kadipaten Walikepa, Kuda Biru?” tanya Siluman Panah Setan.
“Besok senja. Aku harus memeriksa dulu semua anggotaku,” jawab Nila Mawangi.
Dari luar masuk seorang pemuda tapi berusia sekitar tiga puluh tahun. Ia pemuda dengan mata yang sipit sebelah, seperti mata seorang dai kondang legendaris. Rambutnya digelung satu dan diikat dengan pita biru, sama dengan warna pakaiannya yang biru-biru. Ia memiliki kuku-kuku tangan yang panjang-panjang. Pemuda berleher jenjang itu bernama Wiri Miring, mungkin karena matanya yang tidak seimbang sehingga namanya pakai Miring.
Wiri Miring memiliki tugas khusus, yaitu mengecek keberadaan semua anggota yang ditempatkan pada titik-titik tertentu, termasuk mencari mereka yang tidak muncul di waktu yang seharusnya mereka ada.
“Lapor, Ketua!” ucap Wiri Miring sambil membungkuk menghormat kepada Nila Mawangi.
“Sampaikan!” perintah Nila Mawangi.
“Kusuma Dewi menghilang. Aku menemukan kesepuluh anak buahnya tewas di luar batas Kadipaten. Aku pun hanya menemukan warangka pedangnya di tempat pertarungan!” lapor Wiri Miring.
“Tadi siang Sumitri dan Sorak Bura bertemu rombongan orang sakti yang menolong putra Adipati, sampai-sampai Sorak Bura terluka. Mungkin pelakunya orang yang sama, Ketua!” timpal Renggong Walu.
“Apakah kau tahu siapa orang sakti yang menolong putramu, Adipati?” tanya Nila Mawangi kepada Adipati Tambak Ruso.
“Seorang pangeran dari Kerajaan Sanggana Kecil bersama tiga orang istrinya dan seorang prajuritnya,” jawab Adipati Tambak Ruso.
“Kerajaan Sanggana Kecil? Kerajaan mana itu?” tanya Nila Mawangi.
“Ada di Gunung Prabu,” jawab Adipati Tambak Ruso. “Awalnya aku mencoba menahan mereka agar tetap bertahan di kadipaten ini untuk menghadapi kalian, tetapi mereka sangat ingin bertemu dengan Resi Tambak Boyo di Padepokan Hati Putih.”
“Satu hal penting lagi yang ingin aku laporkan, Ketua!” kata Wiri Miring.
“Apa?” tanya Nila Mawangi lagi.
__ADS_1
“Kelima belas orang kita yang ditugaskan di Gerbang Hati Putih dan jalan hutan, tewas dan menghilang, Ketua!” lapor Wiri Miring.
“Apa?!” pekik Nenek Haus Jantung sampai berdiri dari duduknya. “Apakah kau sudah memastikan bahwa Setan Empat Penjuru semuanya tewas?!”
“Mereka berempat tewas, aku melihat langsung mayat mereka!” tandas Wiri Miring.
“benar-benar mencari mati mereka!” geram Nenek Haus Jantung.
Krakr!
Saking gusarnya, kursi kayu yang Nenek Haus Jantung genggam remuk seperti tangan memeras kerupuk udang.
“Orang sakti beristri tiga? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya saat aku mengikuti Putri Dua Matahari. Pendekar itu baru saja menikahi ketiga istrinya di Perguruan Tiga Tapak. Bukankah dia pemuda berbibir merah?” kata Siluman Panah Setan.
“Benar,” jawab Adipati Tambak Ruso.
“Pemuda berbibir merah? Dia juga yang membunuh Nenek Kerdil Raga, adikku!” Kembali terkejut Nenek Haus Jantung.
“Sepertinya kita akan berhadapan dengan orang yang benar-benar sakti, Nila,” kata Siluman Panah Setan.
“Lalu bagaimana orang mabuk yang diurus Tiga Algojo Besi?” tanya Nila kepada para anak buahnya.
Tidak ada yang menjawab.
“Panggil Juru Kandang!” perintah Nila Mawangi keras, karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
Tidak berapa lama, masuklah seorang lelaki berkepala botak dan klimis. Sepasang alisnya yang sangat tipis nyaris membuat kepalanya tidak berambut sedikit pun. Lelaki bertubuh kurus itu mengenakan pakaian hitam-hitam. Di sekeliling pinggangnya terselip potongan kayu-kayu runcing seperti pasak. Ia adalah Alang Mukso yang berjuluk Juru Kandang.
“Aku menghadap, Ketua!” ucap Alang Mukso seraya membungkuk hormat kepada Nila Mawangi.
“Apakah pendekar mabuk itu sudah mati?” tanya Nila Mawangi.
“Tidak,” jawab Alang Mukso.
“Apa?!” gusar Nila Mawangi.
__ADS_1
“Seorang pendekar wanita bersenjata cemeti menolongnya dan wanita itu membunuh Tiga Algojo Besi. Ketika kami mengepung wanita itu, tiba-tiba ada orang tua sakti yang menyelamatkannya dan membawanya pergi,” jelas Alang Mukso.
“Keterlaluan kalian!” maki Nila Mawangi. Lalu serunya, “Bersiagalah kalian malam ini! Serangan bisa datang kapan saja!” (RH)