
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Setelah kematian Mega Kencani, ketegangan masih berlangsung di pinggir rawa dan hutan itu. Komposisi ketegangan itu adalah dua tokoh tua lawan empat tokoh muda.
Malaikat Pedang Air dan Nenek Haus Darah menatap tajam kepada Joko Tenang dan ketiga gadis yang bersamanya.
Cup!
Tirana memberikan Kecupan Malaikat kepada dahi Kumala Rimbayu. Seketika gelombang sinar kuning tipis masuk kedalam wajah cantik Kumala Rimbayu. Hawa sejuk dirasakan oleh Kumala Rimbayu masuk ke dalam kepalanya lalu menyebar ke seluruh tubuhnya.
Tirana tersenyum manis menatapi kecantikan Kumala Rimbayu yang memiliki sepasang mata indah nan bening dan bibir yang sensual, tidak hanya memikat mata lelaki, tapi juga bisa memikat mata wanita jika tidak peduli norma kepantasan.
“Terima kasih, Tirana,” ucap Kumala Rimbayu kepada gadis yang sebelumnya telah memperkenalkan dirinya.
“Kau gadis yang cantik,” puji Tirana sambil menyentuh pipi Kumala Rimbayu sejenak.
“Murid Kunsa Pari!” sebut Nenek Haus Darah galak kepada Joko Tenang yang telah berdiri gagah menghadap kepada kedua tokoh tua itu.
“Ya, itu aku, Nek,” jawab Joko Tenang tenang.
“Aku telah lama gelisah menunggu kedatanganmu. Aku ingin sekali mengisap darahmu!” kata Nenek Haus Darah seraya tersenyum menyeringai.
“Aku pun demikian, Bocah. Aku rela meninggalkan banyak wanitaku hanya demi untuk menuntaskan urusan dendamku kepadamu!” kata Grayugantang pula.
“Agar keributan di antara kita tidak seperti orang bodoh, tolong jelaskan apa permasalahan kita, Para Tetua,” ujar Joko Tenang.
“Cuih!” Nenek Haus Darah meludah ke tanah, tapi justru mengenai kaki Grayugantang yang berdiri di sisinya.
Grayugantang hanya mengerenyit jijik saat kakinya merasakan terkena cairan berlendir.
“Hahaha!” tawa Joko melihat insiden yang tidak disadari oleh si nenek.
“Apa yang kau tertawakan, hah?!” bentak Nenek Haus Darah.
“Lanjutkanlah, Nek. Kau belum memberikan jawaban. Atau, mungkin kau memang tidak bisa menjawab dan membiarkan aku bodoh?” kata Joko Tenang.
__ADS_1
“Kurang ajar seubun-ubun bocah ini! Dengarkan! Aku adalah Nenek Haus Darah. Aku adalah mautmu karena salahmu adalah membunuh adikku Nenek Kerdil Raga!” tandas Nenek Haus Darah.
“Oh. Maafkan aku, Nek. Aku rasa itu tidak perlu diperpanjang, Nenek Kerdil Raga sudah memilih jalan hidupnya sendiri,” kata Joko Tenang.
“Cuih! Tidak perlu diperpanjang nenekmu!” maki Nenek Haus Darah yang lebih dulu meludah ke tempat yang sama. Namun, kali ini Grayugantang cepat memindahkan kakinya agar tidak ternodai untuk kedua kali.
“Dan kau tentunya ingat dengan Grayuda, Pangeran Pedang Air?” tanya Grayugantang, menggunakan hak suaranya.
“Tidak, Kek,” jawab Joko Tenang yang membuat Grayugantang geram kuadrat.
Geram pertama Grayugantang karena Joko Tenang tidak ingat dengan Pangeran Pedang Air yang dibunuhnya. Geram kedua karena ia disebut “kakek”, padahal dia masih kuat naik karavan dengan dua sapi.
“Kau… kau tidak ingat dengan putraku yang tampan tapi kau bunuh itu?” tanya Grayugantang sewot campur kesal.
“Sungguh aku tidak ingat,” kata Joko, dua rius.
“Grayuda itu adalah pendekar sakti yang tampan seperti waktu aku muda, pedangnya tembus pandang….”
“Ah, kalau pemuda mesum yang membawa pedang tembus pandang, aku ingat. Maafkan aku, Kek. Aku tidak bermaksud membunuhnya, aku hanya bermaksud menolong murid Ki Ranggasewa dari kecabulan putramu. Aku rasa itu juga tidak usah diperpanjang dan diungkit-ungkit lagi, apalagi putramu sudah tenang di alamnya,” ujar Joko, berusaha menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya terkait kasus masa lalu itu.
“Uenakmu betul kalau bicara, seperti tidak pakai otak!” maki Grayugantang gusar bukan main.
“Lalu bagaimana, Haus Darah?” Grayugantang justru bertanya kepada Nenek Haus Darah yang memang jauh lebih tua darinya.
“Potong saja burungmu jika kau tidak berani melawan pemuda pesolek itu!” bentak Nenek Haus Darah.
“Kau jangan merendahkanku dengan tuduhanmu itu, Haus Darah! Malu kita jika harus mundur setapak dari pertarungan!” kata Grayugantang.
“Ayo bunuh!” seru Nenek Haus Darah.
“Tunggu!” seru Joko cepat, membuat kedua orang tua itu menahan niatnya. “Agar kebesaran nama kalian tidak runtuh karena mengeroyok bocah sepertiku, alangkah bijaknya kalian jika mengizinkan salah satu calon istriku ikut bertarung. Jadi tidak perlu tertukar lawan.”
“Majulah! Jangan sampai kalian takluk di tanganku, sebab akan ada ranjang asmara yang menunggu. Hahaha!” setu Grayugantang kepada para wanita.
“Dasar lelaki tua mesum!” maki Putri Sri Rahayu. Lalu katanya kepada Joko, “Biar aku unjuk kesaktian di depan pemudaku, sekalian aku ingin lelaki tua itu merasakan mesumnya dewa kematian.”
__ADS_1
Putri Sri Rahayu maju berhadapan lebih dekat dengan Malaikat Pedang Air. Ia tersenyum sinis kepada Grayugantang.
Grayugantang memasang kuda-kuda dan mulai merapikan aturan napasnya. Pikirannya berkonsentrasi. Ia lalu mendorong kedua lengannya pelan tapi bertenaga dalam.
Cresrrr!
Maka dua pedang air yang menjadi senjata andalah Grayugantang keluar dari telapak tangannya.
“Sambut kematianmu, Bocah!” teriak Nenek Haus Darah sambil melesat ke depan dengan kedua tangan bersinar merah.
Cepat sekali Nenek Haus Darah bergerak. Namun, tahu-tahu Joko Tenang telah lenyap dan muncul agak jauh ke samping.
“Jangan jadi tikus, Bocah!” teriak Nenek Haus Darah yang kehilangan Joko Tenang. Namun, ia cepat melesat menyerang kepada Joko.
Joko Tenang cepat menyambut dengan pukulan Tapak Kucing yang langsung mengenai tubuh Nenek Haus Darah. Namun, Joko Tenang harus terkejut, ternyata sosok yang menyerangnya hanya sebuah bayangan.
Wujud Nenek Haus Darah yang sebenarnya justru muncul dari atas kepala Joko Tenang dengan telapak tangan mengincar ubun-ubun si pemuda. Joko kembali tahu-tahu hilang dari tempat berdirinya, menjaga jarak dari si nenek.
Namun, si nenek yang merasa gagal langsung melesat memburu. Kembali Joko Tenang menyambut sosok Nenek Haus Darah dengan pukulan Tapak Kucing. Kembali pula Joko tertipu untuk kedua kali. Sosok yang diserangnya ternyata hanya bayangan belaka.
Sosok asli Nenek Haus Darah tahu-tahu muncul di belakang Joko Tenang. Begitu dekat, sehingga si nenek langsung menghajar punggung Joko Tenang dengan telapak tangan bersinar merah.
Baks!
Namun, Nenek Haus Darah harus kecewa. Pukulan ilmunya tidak berdampak buruk pada Joko Tenang selain membuatnya nyaris tersungkur ke depan. Nenek Haus Darah tidak mengerti bahwa lawannya itu memakai Rompi Api Emas.
Sess! Ctar!
Tanpa harus menunggu dan melihat, Joko Tenang menghentakkan tangan kanannya ke belakang. Satu sinar hijau berbentuk pisau melesat cepat membalas Nenek Haus Darah.
Nenek Haus Darah yang sempat terkejut, kian tekejut. Buru-buru ia memasang sekilas ilmu perisainya yang berupa kiblatan sinar merah di depan tubuh. Ledakan sinar pun terjadi di depan sang nenek, membuatnya terpental sejauh dua tombak.
Joko Tenang telah melesat di udara memburu Nenek Haus Darah. Saat posisi Joko ada di atasnya, Nenek Haus Darah cepat melepaskan Belalai Darah-nya
Cweetts!
__ADS_1
Empat sinar merah panjang tanpa putus muncul dari balik punggung Nenek Haus Darah. Dan apesnya, Joko Tenang yang posisinya ada di udara, tidak bisa mengelak. Dua belalai membelit kedua tangan Joko Tenang, satu pada leher dan satunya lagi pada kaki kanan.
Sementara di sisi lain, pertarungan antara Putri Sri Rahayu dengan Grayugantang sudah dimulai pula. (RH)