
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Ombak Goro kembali menyerang untuk kedua kalinya setelah dibuat terjengkang oleh pukulan jarak jauh Joko Tenang.
Wut!
Ombak Goro maju sambil melemparkan kapaknya dari tangan kanannya. Sementara dia melompat menerkam hendak menancapkan pisau besarnya ke tubuh Joko Tenang.
“Macan Penakluk!” seru Joko Tenang sambil gesit menghindari kapak yang berputar kencang mengincar wajahnya.
Grraaurrm!
Sebelum Ombak Goro berhasil menikamkan pisau besarnya ke dada Joko Tenang, dari dalam cincin Joko Tenang melesat keluar sinar merah yang langsung menerkam tubuh Ombak Goro yang sudah sangat dekat.
“Aaakk!”
Alangkah terkejut dan syoknya Ombak Goro mendapati dirinya tahu-tahu sudah diterkam oleh makhluk bersinar. Ia tidak tahu jelas makhluk apa yang menerkamnya jatuh ke tanah, tetapi yang jelas dia digigit dan dicakar berulang-ulang. Tidak hanya sangat sakit, tetapi juga sangat panas.
Ikan Kecil yang juga sedang menyerang Turung Gali dan Kurna Sagepa yang menyerang Tirana, jadi turut terkejut melihat kemunculan makhluk sinar itu, terlebih melihat kondisi pemimpin mereka.
Dak! Baks!
Keterkejutan Ikan Kecil dan Kurna Sagepa membuat keduanya menciptakan kelengahan mereka sendiri. Turung Gali dan Tirana adalah dua pendekar yang memiliki kecepatan gerak yang sangat tinggi. Mereka tidak boleh disuguhi kelengahan sedikit pun.
Akibatnya, tendangan kaki kanan Turung Gali begitu keras menghajar pelipis si kakek kecil. Ia terbanting mantap ke samping dengan bibir pecah dan gigi tanggal dua biji.
Di sisi sebelah, dengan tenang tapi cepat, pukulan telapak tangan Tirana menusuk masuk ke dada Kurna Sagepa. Begitu keras pukulan itu, membuat si pemuda tampan terjengkang jauh ke belakang. Kedua senjata pengait balok esnya terlepas dari tangan.
“Hugk!” keluh Kurna Sagepa saat punggungnya menghantam tanah keras dengan kuat. Darah kental sampai tersembur keluar melalui mulutnya.
Alangkah terkejutnya Garis Merak yang berada di atas pohon agak jauh di sana, ketika melihat kondisi ketiga rekannya yang harus bertumbangan dalam sekali gebrak saja.
“Mengerikan sekali,” ucap Garis Merak lirih kepada dirinya sendiri melihat keganasan Macan Penakluk milik Joko Tenang.
Di sisi belakang, separuh dari pasukan Kerajaan Balilitan sudah bertewasan menghadapi para pendekar pimpinan Joko Tenang. Yang paling banyak memakan korban adalah Reksa Dipa dan Si Monyet Putih.
Meski Reksa Dipa sedang bertarung melawan Cukik Aking yang kurus, tetapi ilmu Sukma Bayang Wujud-nya terus bermain. Bayang-bayang serupa dirinya berulang kali melompat keluar dan menghancurkan para prajurit dengan sinar merah.
Sementara Cukik Aking melompat jauh ke depan hendak menggada kepala Reksa Dipa dengan gada kecilnya yang bersinar hijau membara. Reksa Dipa cepat melompat mundur sambil tinju kanannya menghentak.
Wuss…! Dudum…!
Sepuluh sinar merah samar berwujud kepalan tangan melesat beruntun cepat menghajar tubuh Cukik Aking yang kurus. Tak ayal lagi, ilmu Tinju Rangkai Sepuluh itu mementalkan tubuh enteng Cukik Aking jauh ke belakang.
“Cukik Aking!” pekik Garis Merak sambil mengerenyit ngeri, melihat sahabat-sahabatnya bertumbangan satu demi satu.
__ADS_1
Orang kedua yang paling banyak memakan korban adalah Si Monyet Putih. Dengan tenangnya dia berdiri tegak di tempatnya tanpa bertarung. Yang berbahaya darinya adalah ekornya. Dengan ilmu Sepuluh Ekor Putih, Si Monyet Putih banyak membunuh prajurit.
Ekor putihnya yang awalnya berukuran sedang, bisa memanjang sejauh dua tombak dan bisa menjadi banyak menjadi sepuluh ekor. Selain ujung ekor bisa menggulung menjadi tinju, ujung ekor itu juga bisa berubah menjadi runcing setajam mata tombak. Itulah yang bisa langsung membunuh para prajurit yang datang menyerang si kakek monyet.
Orang ketiga yang banyak membunuh prajurit Balilitan adalah Kusuma Dewi. Dengan senjata pedangnya yang didukung oleh ilmu pedang yang ganas, semua prajurit yang mendekati kereta kuda harus rela nyawanya dicabut lunas. Beberapa kali Kusuma Dewi memainkan jurus Putaran Pedang Angin, membuat prajurit yang mendekat tubuhnya harus terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
Sementara Gowo Tungga dan Gembulayu benar-benar dilanda ketakutan yang ekstrem. Mayat-mayat dan potongan-potongan tubuh berserakan di dekat kaki-kaki mereka. Gembulayu bahkan sudah pipis di celana. Tingginya rasa takut tidak membuat mereka peduli terhadap bau pesing yang tajam.
Pertarungan cukup seimbang terjadi antara Nyai Kisut melawan Sogok Karang. Pedang besar Sogok Karang bisa Nyai Kisut imbangi dengan kecepatan gerakannya.
Pak!
Sehingga Nyai Kisut beberapa kali berhasil masuk lebih rapat kepada Sogok Karang, membuat pedang besarnya tidak begitu berfungsi. Pukulan bertenaga dalam Nyai Kisut masuk cepat menghajar perut Sogok Karang. Namun, tangan kiri lelaki kurus tinggi itu sanggup menahannya, meski hanya bersifat menamengi perut.
Hasilnya, kedua petarung itu saling terjajar ke belakang. Kemudian saling maju lagi dan bertarung dengan sengit.
Nyai Kisut meningkatkan upayanya dengan memainkan satu jurus yang memiliki arah gerak tubuh yang sulit ditebak. Gerak langkah kaki Nyai Kisut terlihat acak, bahkan mirip dengan gerak langkah jurus mabuknya Surya Kasyara, tetapi langkah Nyai Kisut lebih tersistem. Hal itu membuat Sogok Karang sulit membaca serangan Nyai Kisut.
Jalan baik bagi Sogok Karang adalah meningkatkan pertahanan dirinya dengan mengebalkan tubuhnya dari pukulan bertenaga dalam tinggi.
Beberapa kali pukulan Nyai Kisut berhasil masuk menghajar Sogok Karang, tetapi ia hanya dibuat terdorong selangkah tanpa mengalami luka berarti.
Baks!
“Hugk!”
Namun, Sogok Karang harus terkejut ketika pada serangan terakhir, pukulan Nyai Kisut yang biasa masuk tiba-tiba diselimuti sinar biru tipis. Tenaga pukulan itu membuat tenaga pertahanan Sogok Karang tidak berarti. Sogok Karang terjengkang keras.
Pertarungan seimbang bisa disebutkan pula pada Surya Kasyara melawan Swara Sesat.
“Fruuurt!” sembur Surya Kasyara mengincar wajah Swara Sesat.
Swara Sesat buru-buru membuang wajahnya ke belakang, sehingga semburan itu menyirami bahu belakang si gendut.
“Akkh!” rintih Swara Sesat menahan rasa panas dan perih pada kulit-kulit bahunya.
Wus! Dak!
Tanpa terlihat, bumbung tuak Surya Kasyara tahu-tahu melesat dari bawah naik mengudara, lalu menghantam dagu Swara Sesat yang sedang menahan sakit. Demikian kerasnya bumbung tuak itu menghantam dagu, membuat tubuh berat Swara Sesat terangkat ke udara dengan darah dan gigi terlempar ke udara.
Set! Tes!
“Aaak!” jerit Surya Kasyara cukup tinggi, ketika senjata besi kecil Swara Sesat melesat dan menembus perut kirinya.
Ketika meluncur jatuh berdebam di tanah, Swara Sesat secara random melesatkan saja senjatanya. Ternyata senjatanya yang senarnya melingkar di pergelangan tangan itu, melesat mengenai perut Surya Kasyara.
Meski Swara Sesat jatuh keras menghantam tanah, tetapi satu tangannya menggenggam senar yang ujungnya menembus perut kiri Surya Kasyara. Jika Swara Sesat menarik kembali senjatanya, maka luka pada perut Surya Kasyara akan semakin robek lebar.
__ADS_1
Set! Tes!
Sebelum Swara Sesat menarik pulang senjatanya, tiba-tiba seorang wanita berkelebat cepat memutus senar kuat senjata Swara Sesat dengan tebasan pedangnya. Wanita yang tidak lain adalah Kusuma Dewi itu, melanjutkan ayunan pedang samurainya hendak mengeksekusi Swara Sesat yang sudah terluka dalam.
Siit! Sreet!
Sebelum mata pedang yang sudah berlumur darah itu menebas leher Swara Sesat, satu benda kecil yang nyaris tidak terlihat melesat dan menangkap baju Swara Sesat. Benda yang adalah sebuah mata kail itu, kemudian menarik tubuh besar Swara Sesat, sehingga ujung pedang Kusuma Dewi lewat tipis di depan wajah Swara Sesat.
Ketika Kusuma Dewi hendak menyusulkan serangan terhadap Swara Sesat, Garis Merak yang telah menolong sahabat tulinya itu segera mengirimkan satu pukulan jarak jauh. Kusuma Dewi terpaksa menahan diri dan memilih berjumpalitan menghindar.
Baamm!
Satu ledakan peraduan dua tenaga sakti terjadi antara Raja Kera dan Mata Samudera. Namun, Mata Samudera kalah tingkat dari Raja Kera. Orang tua pelaut itu terdorong beberapa langkah. Sementara Raja Kera tetap kokoh dengan kuda-kudanya. Dia justru menyusulkan seranganya dengan lesatan tasbih yang menyala hijau.
Das!
Kondisinya yang kehilangan keseimbangan dan kuda-kuda, membuat Mata Samudera tidak bisa menghindari serangan tasbih Raja Kera yang cepat. Hantaman pada dadanya membuat terjengkang keras.
“Hoekh!” muntah darah Mata Samudera.
Ketika Raja Kera hendak melakukan penyelesaian akhir, tiba-tiba….
“Hentikan!”
Satu teriakan wanita yang mengandung tenaga dalam tiba-tiba mengejutkan mereka semua. Sontak semua pertarungan terhenti dan mengalihkan perhatian kepada Garis Merak yang telah berteriak.
Joko Tenang yang telah selesai membunuh Ombak Goro, memusatkan pandangannya kepada Garis Merak yang sedang berhadapan dengan Kusuma Dewi.
Tirana dan ayahnya yang sudah membuat Ikan Kecil dan Kurna Sagepa tidak berdaya oleh luka parahnya, mengalihkan perhatian ke belakang sana.
“Hentikan! Kami menyerah!” teriak Garis Merak. Ia tidak mau melihat semua anggota Bajak Laut Elang Biru mati dalam pertempuran yang menurutnya tidak jelas tujuannya.
“Apa yang kau lakukan, Merak?!” teriak Sogok Karang yang masih kuat bertarung melawan Nyai Kisut.
“Kita tidak akan menang, Ayah! Apakah Ayah mau menumbalkan Elang Biru hanya demi ratu itu?” bantah Garis Merak dengan wajah merah penuh emosi. Sepasang matanya berkaca-kaca. Lalu katanya lagi kepada teman-temannya yang pada terluka, “Kita sudah kehilangan Ombak Goro. Tidak ada gunanya kita mengorbankan Elang Biru hanya untuk urusan cinta Ratu Ginari!”
“Dengarkan!” seru Joko Tenang sambil melangkah lebih mendekat ke pusat pertempuran. Tirana mendampingi.
Getara Cinta, Kerling Sukma dan Sandaria yang sejak tadi hanya mengamati pertempuran, segera berkelebat lembut tanpa suara lalu mendarat turut mendampingi suami mereka.
“Kami tidak memiliki urusan dengan kalian. Urusanku hanya dengan Ginari dan keenam abdinya. Aku juga menyarankan untuk menyudahi pertempuran kalian. Lihat, betapa banyak prajurit yang mati tanpa tahu apa alasan mereka harus mati,” ujar Joko Tenang.
Selain Garis Merak, Sogok Karang adalah anggota Bajak Laut Elang Biru yang kondisinya jauh lebih baik dari keenam anggota lainnya. Ia memang harus membenarkan perkataan Joko Tenang. Dilihatnya terlalu banyak korban yang jatuh. Jumlah prajurit Kerajaan Balilitan tinggal sekitar dua ratus orang. Ia sendiri pun bisa bertahan karena mendapat lawan yang tidak sesakti Reksa Dipa atau Kusuma Dewi.
“Baik, kami menyerah!” ucap Sogok Karang akhirnya. Ia lalu menjatuhkan pedang besarnya.
Perkataan ayahnya membuat Garis Merak bernapas lega.
__ADS_1
“Para pengkhianat harus dihukum mati!”
Tiba-tiba satu teriakan yang menggelegar keras mengejutkan mereka semua, terutama kelompok Bajak Laut Elang Biru. Sedetik kemudian, ada yang datang. (RH)