Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
30. Menjadi Istri Joko


__ADS_3

"Pengakuanmu sangat aneh, Ginari. Itu sangat bertentangan dengan kebenaran kondisi yang ada. Secara normal, Pangeran Dira tidak akan bisa bersentuhan dengan wanita. Dalam jarak tiga langkah atau kurang, penyakit Sifat Luluh Jantan akan bekerja yang membuatnya lemah tidak bertenaga, bahkan bisa jatuh pingsan. Kau saksikan sendiri ketika aku mendatanginya pertama kali, ia sangat tidak berdaya. Segudang kesaktiannya tidak bisa bekerja di saat Sifat Luluh Jantan kumat. Lalu bagaimana caranya Pangeran Dira bisa memperkosamu? Aku tanya kepadamu. Maaf, apakah kau lihat sendiri Pangeran Dira memperkosamu?” ujar Tirana.


Ginari terdiam, ia menatap wajah cantik Tirana. Namun, kemudian ia menjawab.


“Aku tidak melihatnya langsung. Aku saat itu tidak sadarkan diri, ketika aku terbangun, aku sudah tidak berpakaian. Aku dapati hanya dia yang berada di gubuk itu,” kata Ginari.


“Aku yakin kau berhalusinasi saat tidak sadarkan diri. Apakah kau ingat apa yang terjadi sebelum kau tidak sadarkan diri?” kata Tirana lagi, terus mencoba memperjelas masalah tuduhan itu, karena ia akan sangat terganggu jika Pangeran Dira memiliki aib asusila tidak pantas seperti itu.


Ginari kembali terdiam sejenak. Ia seperti sedang mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ia tidak sadarkan diri di hari kemarin.


Akhirnya Ginari bisa mengingat. Sebelum ia jatuh pingsan, ia mendapat serangan berupa taburan bunga-bunga harum dari Grayuda yang berjuluk Pangeran Pedang Air. Setelahnya, Ginari telah mendapati dirinya dalam kondisi tidak berpakaian di dalam sebuah gubuk reot. Saat ia keluar gubuk, ia mendapati Joko Tenang sedang tidur di atap gubuk.


“Aku tidak sadarkan diri karena terkena serangan bunga dari Pangeran Pedang Air,” kata Ginari.


“Baik, aku simpulkan, Pangeran Dira tidak pernah membuatmu hina dengan cara seperti itu. Pada nyatanya, memang itu tidak mungkin terjadi. Lalu, apakah kau masih mau menjadi istrinya?” kata Tirana seraya tersenyum menggoda Ginari.


Namun, Ginari tidak sedikit pun tersenyum dengan godaan Tirana. Di kepalanya justru berkecamuk pikiran dan pertanyaan, “Apakah aku masih suci?”


Secara perlahan, timbul sedikit rasa penyesalan pada diri Ginari, karena ia telah mati-matian memaki Joko Tenang dan dengan harga mati harus mati di tangannya. Analisa Tirana begitu mempengaruhinya. Dalam hati ia mengakui bahwa ia tidak melihat langsung Joko Tenang merusak kehormatannya. Ia hanya mendapati Joko berada di waktu dan tempat yang tepat saat itu. Terlebih, Joko selama ini juga begitu keras membantah tuduhan itu.


“Aku rasa Joko tidak ingin menikahiku, tapi ia terpaksa menuruti permintaan Kakek Pengemis Maling. Jika aku mengaku bahwa aku masih suci, apakah ia akan membatalkan niatnya untuk menikahiku?” membatin Ginari.


“Atau kau, Kembang Buangi?” tanya Tirana tiba-tiba kepada Kembang Buangi. Tirana tersenyum manis dan lembut kepada Kembang Buangi yang hanya menatapnya dengan wajah meringis. “Deritamu begitu menyakitkan. Mungkin Kecupan Malaikat milikku bisa meringankanmu.”

__ADS_1


Perkataan Tirana itu membuat Hujabayat jadi memandang ke belakang. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Tirana kepada Kembang Buangi. Hujabayat kini memiliki rasa peduli yang jauh lebih tinggi kepada Kembang Buangi.


Tirana memajukan sedikit tubuhnya di atas gerobak itu. Ia menurunkan kepalanya dan mengecup kening Kembang Buangi. Seiring kecupan itu, satu gelombang sinar kuning tipis masuk ke wajah cantik Kembang Buangi. Setelah itu, Tirana menarik kembali kepala dan tubuhnya ke posisi semula seraya tetap tersenyum kepada Kembang Buangi.


Kembang Buangi merasakan satu gelombang rasa sejuk memasuki kepalanya lalu menjalar berproses ke seluruh dalam tubuh. Tirana hanya terus tersenyum kepada Kembang Buangi, seolah menunggu proses itu bekerja. Dan hasilnya, wajah cantik Kembang Buangi kini tidak mengerenyit, kini menjadi lebih tenang. Rasa sakit memang masih dirasakan oleh Kembang Buangi, tapi tidak sesakit sebelumnya.


“Paling lama berpengaruh baik hanya selama dua hari. Racun itu begitu jahat menyiksa,” kata Tirana.


“Terima kasih, Tirana,” ucap Kembang Buangi akhirnya, meski terdengar pelan.


Kondisi itu membuat Hujabayat yang mengendalikan laju kuda, jadi gembira. Ia tersenyum sendiri mengetahui kondisi Kembang Buangi membaik. Meski tidak sembuh, tapi setidaknya itu meringankan derita Kembang Buangi.


“Aku sedang mencari gadis yang banyak untuk aku nikahkan kepada Pangeran Dira. Apakah kau mau menjadi istri Pangeran Dira, Kembang?” tanya Tirana.


Mendelik Kembang Buangi mendengar pertanyaan yang juga adalah tawaran itu. Bukan hanya Kembang Buangi yang mendelik, Hujabayat pun merasa terkejut.


“Salah satu tugasku adalah mendapatkan istri-istri terbaik untuk Yang Mulia Pangeran, tentu salah satu syaratnya adalah memiliki kecantikan yang tinggi seperti aku. Kalian berdua aku nilai sangat cantik, aku merasa sangat senang jika kalian nantinya adalah istri Pangeran Dira,” ujar Tirana. “Aku hanya mengemukakan harapanku, tidak memaksamu, Kembang.”


“Kami belum tentu bisa selamat dari racun ini, Tirana,” kata Kembang Buangi.


“Nah!” seru Tirana lalu tertawa kecil. “Artinya, jika kalian bisa selamat dari kematian ini, kalian berdua resmi sebagai calon istri Pangeran Dira.”


“Tirana!” sebut Hujabayat akhirnya ambil bagian, telinganya terasa panas mendengar gadis itu membujuk Kembang Buangi untuk menjadi calon istri Joko. “Kau berbicara seolah-olah Joko sangat membutuhkan banyak wanita, padahal dia sendiri tidak mau seorang pun wanita, bahkan tidak bisa berhubungan dengan wanita.”

__ADS_1


“Banyak istri adalah kebutuhan wajib bagi Pangeran Dira, meski ia mengidap sakit Sifat Luluh Jantan. Para istri adalah obat dari penyakit itu,” kata Tirana seraya tersenyum kepada Hujabayat yang memunggunginya.


“Tirana!” panggil Joko dari punggung kudanya.


“Hamba, Yang Mulia Pangeran!” sahut Tirana.


“Apa yang kalian perdebatkan?” tanya Joko.


“Hamba sedang membujuk Kembang Buangi agar bersedia menjadi istri Yang Mulia Pangeran!” jawab Tirana agak berteriak.


“Apa?!” kejut Joko Tenang. “Hentikan usahamu itu. Kita tidak tahu, apakah kita bisa menyelamatkan Ginari dan Kembang Buangi. Dan sebagai hambaku, kau aku perintahkan untuk berhenti menyebutku ‘Yang Mulia’ atau ‘Pangeran’. Panggil aku Joko saja!”


“Baik, hamba patuh, Yang Mulia,” ucap Tirana.


“Jangan Joko. Sebut saja ‘Kakang’, karena menurutmu aku adalah calon suamimu,” kata Joko.


“Baik, Yang Mulia.”


Joko agak memajukan kudanya ke dekat posisi Hujabayat.


“Berapa jauh lagi kediaman gurumu?” tanya Joko.


“Tidak jauh lagi, setelah memutari bukit ini, kita akan naik ke bukit berikutnya. Di sanalah,” jawab Hujabayat.

__ADS_1


Joko Tenang  dan Hujabayat sebelumnya telah sepakat untuk pergi ke kediaman Nyi Lampingiwa, guru Hujabayat. Hujabayat yakin bahwa gurunya tahu tentang Arak Kahyangan yang disebutkan oleh Pengemis Maling di ujung napasnya.


Mereka sempat berniat pergi ke kediaman Ranggasewa yang berjuluk Setan Genggam Jiwa. Namun, menurut Ginari, gurunya tidak ada di kediamannya karena sedang pergi menemui guru Joko Tenang. (RH)


__ADS_2