Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
89. Ketegangan di Tenda Jenderal


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Setelah berkuda selama setengah jam, tibalah mereka di sebuah kamp militer.


“Aku Zhao Lii, putri Jenderal Zhao Jiliang!” seru Zhao Lii kepada prajurit yang berjaga di gerbang depan dari kamp.


Para prajurit penjaga itupun membiarkan kedua gadis tersebut lewat.


Tirana segera teringat.


“Sepertinya ini kemah tempat aku dan Puspa mendarat,” membatin Tirana.


Namun, perkiraan Tirana cepat terjawab ketika Zhao Lii membawa kudanya menuju ke sebuah tenda paling besar dan bagus. Tenda itu memiliki penjagaan yang lebih banyak dan ketat dibanding tenda-tenda lainnya yang lebih kecil dan tidak berpenjaga.


Tidak jauh dari tenda ada sebuah sangkar besi berbentuk kotak panjang ke atas. Teralis besinya sebesar dua genggaman tangan. Di dalam penjara besi itu sosok Puspa duduk bersandar dalam belengguan pasung kayu tebal pada lehernya dan borgol besi berat lagi tebal pada kedua tangannya. Rantai besi nan besar menguntai dari borgol di tangan ke borgol yang menggelangi kaki, lalu rantainya terus menjulur rumit mengikat pada teralis kerangkeng. Enam prajurit berjaga ketat di sekeliling kerangkeng.


Saat itu Puspa dalam kondisi tertidur. Jadi dia tidak melihat kedatangan Tirana.


Zhao Lii memperhatikan Puspa sambil lewat.


“Bagaimana bisa Puspa tertangkap seperti itu?” batin Tirana.


Namun, Tirana memilih mengikuti Zhao Lii. Mereka berhenti dan turun di depan tenda besar yang dijaga oleh dua prajurit. Sisi depan kanan dan kiri ada bejana di atas tiang kayu berisi api unggun kecil yang berfungsi sebagai penerangan.


“Sampaikan kepada Ayah, aku datang!” perintah Zhao Lii.


“Tapi Nona siapa?” tanya prajurit yang berjaga, tidak mengenal Zhao Lii adanya.


“Aku Zhao Lii, putri Jenderal Zhao Jiliang!” jawab Zhao Lii membentak.


“Baik, Nona!” kata prajurit itu jadi gelagapan. Buru-buru dia berlari masuk dan berhenti di depan tirai yang tertutup. Samar-samar terlihat bayangan sosok dua lelaki sedang berdiri di dalam. Ia pun melapor, “Lapor, Jenderal! Nona Zhao Lii tiba!”


Jenderal Zhao Jiliang yang sedang berdiri mengelapi baju amornya, agak terkejut mendengar laporan itu. Ia tidak pernah berpikir putrinya akan datang, terlebih hari sudah malam.


“Biarkan masuk!” perintah sang jenderal yang ditemani oleh Ho Mo, pengawal pribadinya.


Tidak lama kemudian.


“Ayah!” panggil Zhao Lii yang muncul menyibak tirai dengan gembira.

__ADS_1


“Putriku! Hahaha!” sambut Jenderal Zhao Jiliang dengan tawa jumawanya. Ia mengusap kepala gadis cantiknya, sebab ia tahu bahwa putrinya sudah tidak suka dipeluk oleh ayahnya, bahkan oleh ibunya.


Namun, tiba-tiba tawa Jenderal Jiliang terhenti dan berubah dengan keterkejutan, saat melihat kemunculan wanita lain dari luar tirai. Bukan kecantikan Tirana nan jelita yang membuat sang jenderal terkejut, tetapi ia mengenali warna pakaian sosok perempuan yang jatuh dari langit lalu hilang menembus bumi. Ho Mo juga terkejut melihat kemunculan Tirana.


“Berhenti!” seru Jenderal Jailing sambil menunjuk Tirana agar tidak tambah mendekat.


Sing!


Sang jenderal bergerak mencabut pedang besarnya yang sedang direhatkan di atas tonggak kayu setinggi pinggang. Melihat atasannya menghunus pedang, Ho Mo pun meloloskan pedang yang ada di pinggangnya.


“Prajurit!” teriak Jenderal Jailing keras, seperti orang yang sedang panik.


Zhao Lii jadi heran dan terkejut dengan sikap ayahnya menghadapi kemunculan Tirana. Belum lagi ia mengerti, dari luar tenda sepuluh orang prajurit berpedang datang berlari masuk dan langsung mengepung sisi belakang Tirana.


Wess!


Tirana sedikit menghentakkan sepasang lengannya ke bawah tanpa kentara. Maka saat itu juga, tiba-tiba ada angin yang berhembus menyebar dari tubuhnya ke segala arah, membuat kain-kain di tenda itu bergerak-gerak tertiup angin.


Selain Tirana, semua terkejut melihat fenomena aneh itu. Suasanya berubah tegang.


Tidak mau menunggu ada keanehan berikutnya dari wanita yang dianggap sangat berbahaya itu, Jenderal Jiliang cepat berteriak.


“Hiaaaat!” teriak para prajurit berpedang, ramai-ramai maju menyerang sambil ayunkan pedangnya ke sosok Tirana yang berdiri dingin dengan angin misteriusnya yang terus berhembus.


Tak tak tatak...!


Namun, yang terjadi ternyata di luar dugaan. Sebelum pedang-pedang itu menyentuh dan mencincang tubuh indah Tirana, pedang-pedang itu tertahan dua jengkal dari tubuh si gadis. Tidak hanya tertahan oleh dinding tidak terlihat, tetapi juga ada kekuatan dorong yang membuat kesepuluh prajurit itu terlempar dan jatuh berjengkangan.


“Ayah! Hentikan! Dia temanku!” pekik Zhao Lii yang terkejut dan bingung dengan kondisi yang terjadi begitu ekstrem berubah.


Tirana dengan tenang dan dingin melangkah maju mendekati Jenderal Jiliang. Ia mengangkat kedua tangannya setinggi lengan dengan telapak terbuka menengadah ke atas. Tiba-tiba di atas kedua telapak tangan Tirana muncul bola sinar biru. Kemunculan kedua sinar dari ilmu Bola Kulit Langit itu kian membelalakkan mata yang melihat.


Zhao Lii yang sempat melihat keganasan ilmu kesaktian Tirana cepat bergerak ke depan ayahnya dengan maksud menghadang langkah Tirana. Dalam pikirannya, dua sinar biru yang bertengger di tangan Tirana sangat berbahaya jika dilemparkan.


“Hentikan, Tirana!” teriak Zhao Lii sambil membentangkan kedua lengannya. Wajahnya berubah pucat, ketakutan.


Meski tidak mengerti kata Zhao Lii, tetapi Tirana bisa menebak artinya. Tindakan Zhao Lii membuat Tirana memadamkan kedua bola sinar di tangannya.


“Bebaskan Puspa!” kata Tirana sambil menunjuk ke luar.

__ADS_1


Zhao Lii tidak mengerti kata-kata Tirana.


“Tunggu! Tunggu!” kata Zhao Lii sambil memberi isyarat tangan agar Tirana menahan diri. Isyarat yang dimengerti oleh Tirana.


Tirana menghentikan pengerahan ilmunya. Angin yang bersumber dari tubuhnya berhenti. Suasana berubah agak lebih tenang.


“Jangan ada yang menyerang! Kalian bisa mati! Wanita ini sangat berbahaya! Tapi dia temanku!” seru Zhao Lii.


Satu hal lagi yang membuat Jenderal dan putrinya terheran adalah diamnya Ho Mo dan kesepuluh prajurit berpedang yang berdiri siap menyerang Tirana lagi jika ada perintah. Mereka berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun, tetapi mata dan suara mereka masih berfungsi.


“Ada apa ini? Aku tidak bisa bergerak!” seru Ho Mo bingung.


“Aku juga tidak bisa bergerak!” teriak seorang prajurit lainnya.


“Aku juga!”


“Ini perbuatan wanita itu!” kata yang lain, menerka.


Tanpa terlihat, sebelumnya Tirana telah mengirimkan satu gelombang tenaga halus kepada para prajurit itu, membuat mereka mematung. Seperti itulah cara kerja ilmu Pemutus Waktu milik Tirana.


Kini tinggal Jenderal Jailing dan putrinya yang masih bisa leluasa bergerak.


“Ayah, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Zhao Lii.


“Kau lihat perempuan kotor di dalam kerangkeng di luar tenda?” tanya Jailing kepada putrinya sambil menunjuk ke luar, sama arahnya seperti arah tunjukan Tirana tadi.


“Iya.”


“Perempuan kotor itu dan temanmu ini, adalah teman. Mereka berdua datang dari langit. Yang kotor itu bisa kami tangkap, sedangkan dia jatuh lalu hilang masuk ke dalam tanah,” jelas Jailing.


“Berarti Tirana meminta Ayah membebaskan temannya,” kata Zhao Lii menyimpulkan maksud Tirana. Ia lalu membujuk ayahnya, “Ayah, Tirana baru saja menolongku dari kejaran gerombolan penjahat gurun. Aku melihat begitu kejam kesaktiannya. Lebih baik kita berteman dengannya dan membebaskan temannya yang di luar sana.”


“Apa gunanya ribuan tentaraku jika tidak bisa menangkap wanita ini?” kata Jailing.


“Ayah bisa lihat, dia tidak bisa disentuh, dia juga bisa membuat para prajurit Ayah tidak bergerak. Bagaimana jika Ayah dibuat tidak bergerak? Dengan mudahnya dia membunuh kita semua,” tandas Zhao Lii.


“Bicaralah kepadanya. Aku tidak mengerti bahasanya yang aneh itu. Aku akan membebaskan temannya, asalkan mereka berdua tidak melakukan tindakan menyerang. Ingat, ayahmu punya ribuan prajurit,” ujar Jiliang.


“Serahkan padaku, Ayah,” kata Zhao Lii yakin. “Aku berjanji akan membawanya pergi dari sini setelah bermalam malam ini. Ayah, sarungkan dulu pedangmu.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2