Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
138. Berita Penting Dari Timur


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


 


Hingga sore itu, Putri Yuo Kai masih bersama Joko Tenang.. Mereka menghabiskan waktu sorenya untuk memantau operasi besar yang dilakukan oleh Pasukan Naga Merah yang dipinpin langsung Jenderal Mok Jueng, Kepala Pasukan Naga Merah.


Operasi besar-besaran itu dilakukan berdasarkan perkembangan terbaru hasil dari kerja badan intelijen Biro Mata Putih, pengakuan tahanan, informasi dari Jaringan Ular Tanah pimpinan Ular Buta, dan intelijen khusus milik Putri Yuo Kai.


Setelah duel singkat di Jalan Liong Sue antara Joko Tenang dan Pendekar Seribu Naga, Joko Tenang dan Putri Yuo Kai sempat kembali ke Istana. Kemudian, sejumlah laporan masuk yang mendorong pertemuan singkat antara Putri Yuo Kai, Perdana Menteri La Gonho, dan Jenderal Mok Jueng. Joko Tenang, Su Mei dan Bo Fei hanya menunggu di luar.


Putri Yuo Kai sore itu tidak mau berpisah dengan Joko Tenang, karenanya Joko diminta menunggunya. Joko menurut. Joko terpaksa menunda keberangkatannya menuju ke timur. Rencananya ia akan berangkat besok pagi.


Putri Yuo Kai ingin menikmati terus kebersamaannya dengan Joko Tenang. Seiring waktu terus berjalan, rasa cintanya kepada Joko semakin bertambah dalam.


Adapun informasi-informasi terbaru yang diperoleh adalah pengakuan dari Hongli Ho, satu pendekar bayaran yang harus menjadi korban pukulan Tapak Kucing Joko Tenang saat pertarungan di parit selatan kemarin.


Hongli Ho adalah satu dari dua pendekar bayaran Kelompok Hutan Timur yang tidak dibunuh atas permintaan Joko Tenang, sehingga ia dan Chen Ho menjadi tahanan dalam kondisi luka terlalu parah.


Hongli Ho mengaku bahwa orang bernama Bangsawan Sushan yang membayar dia dan teman-temannya.


Pengakuan itu membuat Komandan Bu Ruong terkejut, karena dia pernah melihat orang yang bernama Bangsawan Sushan berada di Biro Naga Besi milik Tu Xie Yua, sahabat Putri Yuo Kai.


Petunjuk lainnya, terungkapnya identitas Ling Mo, warga Ibu Kota yang mengorder tato ular untuk seratus orang. Dari arsip yang ada di Kementerian Penduduk, terungkap wajah orang yang bernama Ling Mo.


Seluruh warga Negeri Jang, baik di Ibu Kota maupun kota-kota yang lain, memiliki arsip identitas di Kementerian Penduduk, termasuk sketsa wajah mereka. Sketsa wajah akan diperbarui setiap lima tahun sekali.


Maka dibuatlah sebanyak-banyaknya sketsa wajah Bangsawan Sushan berdasarkan kesaksian Komandan Bu Ruong dan sketsa wajah Ling Mo mengikuti sketsa yang sudah ada di arsip penduduk. Sketsa-sketsa itu kemudian ditempel di setiap sudut Ibu Kota.


Biro Naga Besi yang baru beroperasi dua hari, digerebek oleh sejumlah pasukan yang cukup besar. Tidak tanggung-tanggung, penggeledahan di Biro Naga Besi dipimpin langsung oleh Jenderal Mok Jueng. Hal itu dilakukan atas pertimbangan karena usaha jasa keamanan pengiriman itu milik Xie Yua, putri Menteri Kehakiman.


Namun, mereka tidak menemui keberadaan Xie Yua untuk dimintai keterangannya terkait orang yang bernama Bangsawan Sushan. Saat itu, Xie Yua dalam perjalanan pulang dari kediaman tokoh persilatan Jenderal Ujung Langit.


Setelah memeriksa catatan daftar tamu pada acara pembukaan dan peresmian Biro Naga Besi, tercantum nama Bangsawan Sushan. Akhirnya, Biro Naga Besi disegel atas perintah Jenderal Mok Jueng. Menteri Kehakiman yang mendengar penyegelan itu, hanya terkejut tanpa bisa berbuat apa-apa.


Setelah penyegelan itu, seorang utusan segera dikirim untuk menyusul Xie Yua. Utusan itu berhasil menemui rombongan kereta kuda Xie Yua di tengah perjalanan.


“Lapor, Nona! Biro Naga Besi disegel oleh Jenderal Mok Jueng!” laporan utusan.


“Apa?!” kejut Xie Yua di dalam ruang keretanya. Lalu tanyanya marah, “Bagaimana bisa?!”


“Pasukan keamanan sedang mencari Bangsawan Sushan dan orang bernama Ling Mo,” jawab utusan.

__ADS_1


“Kurang ajar! Bagaimana nama Bangsawan Sushan bisa bocor ke Istana? Siapa anak buah Ushang La yang membocorkan nama Bangsawan Sushan?” ucap Xie Yua yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.


Ia terdiam sejenak, berpikir.


“Batalkan pulang ke Ibu Kota, kita pergi kota Munyang!” perintah Xie Yua akhirnya.


Kota Munyang adalah kota tetangga di sebelah selatan Ibu Kota.


Selain itu, Jaringan Ular Tanah memberi informasi bahwa ada aktivitas mencurigakan di sudut selatan Ibu Kota, yaitu berupa pembelian makanan dalam jumlah banyak oleh dua orang warga. Gerak-gerik kedua orang warga itu terlihat begitu waspada dengan seringnya menengok ke kanan-kiri dan sekitar. Langkah mereka juga terburu-buru dan tegang.


Anggota Jaringan Ular Tanah yang banyak tersebar di mana-mana akhirnya mengetahui bahwa di sebuah rumah di sudut selatan Ibu Kota, ada puluhan orang bersembunyi di dalamnya.


Dari Jaringan Ular Tanah pula di ketahui siapa pemasok drum minyak yang digunakan saat menyergap rombongan Putri Yuo Kai di Jalan Liong Sue dua hari lalu.


Informasi dari Jaringan Ular Tanah itu disampaikan Putri Yuo Kai kepada Jenderal Mok Jueng yang kemudian ditindaklanjuti dengan penggerebekan besar-besaran ke rumah di sudut selatan dan sebuah usaha perminyakan di utara Ibu Kota.


Sebanyak enam puluh orang lelaki yang bersembunyi bersempitan di sebuah rumah yang terlihat sepi dari luar, menjadi panik saat mendengar keramaian di luar rumah. Saat salah satu di antara mereka mengintip ke luar, ternyata pasukan keamanan Ibu Kota sudah mengepung rumah itu. Pasukan panah sudah pada posisi bidiknya.


“Menyerah atau kami serang!” teriak Komandan Naga Merah Selatan yang baru, pengganti Komandan Ram Pok.


Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari dalam rumah yang tertutup rapat pintu dan semua jendelanya. Puluhan orang yang bersembunyi karena menunggu perintah dari Ketua Kelompok Hutan Timur itu, tampak ketakutan dan bingung. Mereka bertanya kepada pemimpin kelompok mereka yang juga bingung, tetapi harus mengambil keputusan. Masing-masing sudah memegang pedang, jika memang harus bertarung sampai mati.


“Jika kita ditangkap, kita akan dipenjara, disiksa lalu dipancung,” kata ketua kelompok berpendapat. Lalu teriaknya, “Lebih baik kita mati dalam pertarungaaan!”


Ramainya teriakan yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah, mengejutkan sang komandan selatan.


Brak! Bruak! Brak...!


Saat itu juga, pintu dan jendela-jendela didobrak dari dalam.


“Hiaaat...!”


Berkeluaranlah orang-orang bersenjata bersama teriakan garangnya.


“Panah!” teriak Komandan Naga Merah Selatan.


Maka, hujan panah pun terjadi dari semua sisi. Para pria kelompok pemberontak itu bertumbangan sebelum mencapai posisi pasukan prajurit berpedang yang masih diam berbaris. Tak berapa lama, mayat-mayat pun bergeletakan dengan tubuh penuh tancapan anak panah.


Dalam waktu singkat, keenam puluh pemberontak itu tewas tanpa tersisa.


Penggerebekan besar juga dilakukan di utara yang dipimpin oleh Komandan Naga Merah Utara yang baru, pengganti Komandan Hei Xiong yang belum lama tewas. Mereka menggerebek usaha minyak yang telah menyelundupkan minyak untuk Kelompok Hutan Timur.

__ADS_1


Bukan hanya penggerebekan, pemeriksaan dan pencarian orang dilakukan di mana-mana, terutama ke dalam penginapan-penginapan dan tempat usaha yang dicurigai bisa dijadikan tempat bersembunyi.


Termasuk kediaman Menteri Kehakiman diperiksa, tetapi secara sopan. Meski marah atas tindakan Jenderal Mok Jueng, Menteri Tu Hua hanya bisa patuh.


Ling Mo, akhirnya ditemukan bersembunyi di kawasan kumuh yang ada di Ibu Kota. Dia tidak banyak berkutik ketika disergap oleh pasukan keamanan. Ia lebih memilih hidup daripada bunuh diri dengan melawan prajurit yang jumlahnya banyak.


Kebersamaan Joko Tenang dan Putri Yuo Kai yang didampingi oleh penerjemah Su Mai di atas atap sebuah bangunan tinggi, diganggu oleh kelebatan sosok putih. Sosok yang adalah wanita cantik berpakaian serba putih itu mendarat di ujung tepian genteng atap bangunan tanpa merusaknya. Wajah wanita itu mirip dengan Su Mai, hanya saja dia memiliki tahi lalat kecil di dagunya. Wanita itu tidak lain adalah Su Rai alias Ular Putih, kakak Su Mai dan orang nomor dua di Jaringan Ular Tanah.


“Hormat hamba, Yang Mulia Putri,” ucap Su Rai sambil menghormat secukupnya di lokasi yang tidak biasa itu.


“Sepertinya begitu penting hingga kau mencari dan menyusulku ke mari?” tanya Putri Yuo Kai.


“Ada berita penting terkait calon istri Pendekar Joko,” jawab Su Rai.


Mendengar namanya disebut, Joko Tenang segera pusatkan perhatian kepada Su Rai. Su Mai segera menerjemahkan perkataan kakaknya untuk Joko.


Mendengar terjemahan Su Mai, Joko tampak sumringah.


“Katakan, apa beritanya, Nona!” kata Joko Tenang mendahului Putri Yuo Kai.


Su Mai menerjemahkan untuk kakaknya.


“Katakanlah!” perintah Putri Yuo Kai menyusul.


“Calon istri Pendekar Joko dan temannya sedang menuju ke sini. Terakhir mereka bertanya kepada Jaringan Ular Tanah di ibu kota Negeri Lor We tadi pagi,” lapor Su Rai.


Su Mai menerjemahkan.


“Benarkah?” tanya Joko tersenyum lebar.


Su Rai hanya mengangguk kepada Joko.


“Itu artinya dibutuhkan waktu sepekan dengan perjalanan kuda,” kata Putri Yuo Kai.


Su Mai menerjemahkan.


“Itu terbilang lama,” komentar Joko.


“Berita apa lagi yang kau bawa?” tanya Putri Yuo Kai kepada Su Rai.


“Pangeran Young Tua telah dinobatkan sebagai Kaisar Lor We menggantikan ayahnya. Namun, hari itu juga dia tewas oleh dua wanita asing. Tidak jelas siapa kedua wanita itu. Dan kabar dari perbatasan timur Lor We mengatakan, Putra Mahkota Negeri Ci Cin memimpin pasukan besar ke perbatasan Lor We,” kata Su Rai.

__ADS_1


“Apa?!” kejut Putri Yuo Kai. Saat itu ia segera bisa menebak siapa dalang dari semua serangan terhadap dirinya dan Ibu Kota. (RH)


__ADS_2