
*Cincin Darah Suci*
Sepuluh tahun yang lalu.
Putri Yuo Kai memacu kudanya dengan cepat menerabas lebatnya hujan di jalan setapak daerah berhutan. Ia tidak peduli dengan pakaian putihnya yang basah. Ia tidak mau menunda waktu untuk tiba di Ibu Kota.
Ada kebanggaan dan kepuasan di dalam jiwanya. Ujiannya di Lembah Keheningan untuk mewarisi ilmu tertinggi dari Penebar Mimpi Buruk berhasil dengan memuaskan. Meskipun bisa dikatakan ia telah mewarisi seluruh ilmu kesaktian gurunya itu, tetap ia tidak mungkin bisa menyamai kesaktian gurunya.
Namun, perjalanan yang buru-buru itu harus terhenti. Putri Kai menarik keras tali kekang kudanya hingga berhenti di area jalan yang tergenang air.
Agak jauh di depan sana, melintas sejumlah lelaki berpakaian serba biru berlari menghunus pedang di dalam lebatnya guyuran air hujan. Para lelaki yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang itu sedang mengejar seorang lelaki berpakaian merah. Putri Kai pun melihat kelebatan satu tubuh berwarna biru muda yang bisa berlari di udara, melesat lebih cepat daripada yang lainnya. Putri menduga sosok hebat itu adalah pimpinan dari para lelaki berpakaian serba biru gelap.
Lelaki berpakaian merah yang dikejar adalah seorang berkepala botak licin tanpa sehelai rambut pun yang tumbuh di kulit kepalanya, sehingga air hujan yang jatuh ke kepalanya langsung meluncur turun. Kulit kepala botak itu memiliki tato berwarna hitam bergambar kepala ular yang lidah bercabangnya menjulur hingga ke dahi. Ternyata lelaki gundul itu memiliki cacat mata. Mata kirinya ditutup oleh lempengan logam berukir tanpa alat pengikat. Lempengan itu menempel menutupi mata kiri. Sisa darah masih ada yang menempel di sela-sela kedua bibirnya. Sepertinya dia dalam kondisi terluka saat itu. Tangan kanannya juga membawa pedang.
Lelaki pemimpin para pengejar merebut satu pedang di tangan anak buahnya yang sedang berlari. Pedang itu lalu dilempar dengan pengerahan tenaga dalam.
Set! Bset!
“Aak!” jerit lelaki botak bermata satu ketika pedang yang melesat menyayat tajam dan dalam belakang lutut kanannya.
Ia pun jatuh tersungkur di rerumputan berair.
“Hiat!” pekik dua orang yang datang melompat dengan pedang terangkat tinggi ke langit siap ditebaskan ke punggung lelaki botak.
Sadar serangan datang dari atas, lelaki botak cepat berbalik, lalu buru-buru melintangkan pedangnya di atas dada, sementara tangan kiri menadah punggung pedang sebagai penahan.
Trang! Bukbuk!
Dua pedang yang datang dari atas bisa ditahan. Meski kaki kanannya cedera parah, tetapi kaki kirinya masih bisa melakukan tendangan cepat beruntun ke perut kedua penyerangnya. Membuat mereka terdorong mundur.
Namun, serangan sejumlah pedang segera datang betubi. Sambil menahan sakit karena lukanya, lelaki botak menangkis pedang-pedang yang datang dan berusaha sedapat mungkin menghindarinya dengan berguling ke sana ke mari. Akan tetapi, tetap ada dua sabetan pedang yang lolos menyayat lengan dan punggungnya.
“Akk!” jerit tertahan lelaki botak ketika ia memaksa diri untuk berdiri, demi selamat dari tusukan pedang.
Lelaki botak harus terdorong selangkah ketika badan pedangnya ia gunakan menahan terjangan lelaki berpakaian biru muda yang datang sangat cepat, membuatnya tidak siap.
Bugk!
“Hukhr!”
Maka, serangan susulan lelaki berpakaian biru muda yang berupa tinju bertenaga dalam, tidak mampu dielakkan oleh lelaki bermata satu itu. Tinju itu masuk telak menghantam dada kiri. Lelaki botak terjengkang. Mulutnya menyemburkan darah kental. Serasa remuk rongga dada kirinya hingga ke tulang belikat.
Lelaki botak seketika itu kehilangan seluruh pandangannya. Meski ia masih sadar dan bisa merasakan sakitnya yang sangat, serta masih bisa merasakan siraman air hujan, tetapi pandangannya sudah gelap. Ia berpikir, Dewa Kematian telah datang menjemputnya. Ia pun masih bisa mendengar teriakan pemimpin para pemburunya.
“Bunuh!” teriak lelaki berkumis berpakaian biru muda.
__ADS_1
Tiga lelaki cepat bergerak ke posisi lelaki botak yang sudah tergeletak terlentang tanpa bisa bangkit lagi. Pedangnya pun sudah lepas dari genggaman. Pedang ketiga lelaki itu datang menusuk ke arah badan.
Set! Trang!
Di saat kritis seperti itu, dua buah batu kerikil melesat menerobos celah-celah air hujan menghantam ketiga badan pedang yang menusuk. Satu kerikil mematahkan dua batang pedang dalam satu garis lurus. Satu kerikil lagi menghantam mematahkan pedang lainnya.
“Hah!”
Ketiganya hanya terkejut, karena mereka tidak tahu apa yang membuat pedang mereka berpatahan dalam satu waktu. Semuanya pun dibuat terkejut, terutama pemimpin mereka yang bernama Moa Ruzhing.
Seseset!
Detik berikutnya, Moa Ruzhing melihat lesatan tiga helai daun kecil melesat seperti benda keras menerobos hujan lalu menyayat urat leher ketiga lelaki yang hendak menusuk lelaki botak. Ketiga anak buah Moa Ruzhing seketika tumbang tanpa jeritan kematian. Darah mengucur deras dari leher mereka.
Kejadian itu membuat panik kesebelas lelaki berpedang yang tersisa. Moa Ruzhing segera beralih pandang ke arah datangnya serangan menakjubkan itu.
Di balik tirai hujan terlihat keberadaan sosok seekor kuda yang dipunggungnya duduk sosok wanita berpakaian serba putih. Separuh wajahnya ditutupi oleh cadar.
“Hei, Orang Asing! Jangan ikut campur urusan kami!” teriak Moa Ruzhing sambil menunjuk ke arah wanita yang kudanya berjalan pelan mendekat ke lokasi pertarungan.
Wanita bercadar yang tidak lain adalah Putri Yuo Kai itu, tidak menjawab seruan Moa Ruzhing.
“Bunuh si Ular Buta itu!” perintah Moa Ruzhing kepada anak buahnya. Ia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk membunuh si lelaki botak yang disebutnya dengan nama “Ular Buta”.
Dua orang lelaki segera bergerak melaksanakan perintah.
Tus! Tus!
Kematian kelima teman mereka sebelum menyentuh tubuh Ular Buta membuat kesembilan anak buah Moa Ruzhing tidak berani ambil tindakan lanjutan untuk membunuh lelaki botak yang sudah kritis itu.
Kejadian itu membuat Moa Ruzhing naik pitam terhadap wanita di atas kuda. Ia merampas pedang seorang anak buahnya lalu ia lesatkan ke arah si wanita.
Tang!
Putri Yuo Kai yang menggenggam sejumlah kerikil di tangannya, melesatkan satu kerikil yang dengan jitu mengenai ujung mata pedang itu di udara. Pedang pun terpental jatuh.
“Tinggalkan tubuh lelaki botak itu!” seru Putri Yuo Kai, saat kudanya sudah berhenti tidak begitu jauh dari para lelaki itu.
“Sehebat apa pun dirimu, Nona, jangan coba-coba berurusan dengan Kelompok Hutan Timur!” seru Moa Zhuring.
“Kelompok Hutan Timur,” sebut ulang Putri Kai. “Berarti aku tidak perlu berat hati jika harus membunuh kalian semua, seandainya kalian tidak mau meninggalkan orang itu.”
“Siapa kau, Nona?” tanya Moa Ruzhing, penasaran.
“Tidak perlu kalian tahu. Cepatlah pergi!” seru Putri Kai dengan nada agak tinggi.
__ADS_1
“Baik, jangan salahkan aku, Nona!” seru Moa Ruzhing. Ia lalu melompat dan berlari di udara ke arah posisi Putri Kai. Lengan kanannya berada di belakang dengan kepalan yang sudah mengandung tenaga dalam tinggi. Perisai besi pun bisa jebol oleh tinju itu. Ketika tubuhnya sudah berada di depan atas tubuh Putri Kai, tinju itupun didorong keras ke wajah Putri Kai.
Putri Kai bisa melihat gelombang tenaga dalam tinggi yang dibawa oleh tinju itu. Air hujan yang jatuh bahkan terpental sebelum menyentuh kulit tangan kanan Moa Ruzhing. Karenanya, Putri Kai pun tidak mau setengah-setengah. Jurus Jari Rahasia Dewa ia kerahkan.
Tuk! Krak krak krak!
“Hoakk!” jerit Moa Ruzhing tinggi dan panjang, di saat tubuhnya terhenti sejenak di udara.
Dua tusukan jari kanan Putri Kai menghadang tinju Moa Ruzhing, membuat tulang persendian pergelangan tangan, siku dan bahu kanan hancur di dalam. Moa Ruzhing jatuh berdebam di depan kaki kuda. Tangan kanannya seketika lumpuh. Ia kesakitan.
Ia kembali berteriak saat melihat dua kaki kuda sudah terangkat di atas lalu menghantam dada dan kepalanya.
Melihat pimpinannya, seorang anak buah berinisiatif berkomando.
“Seraaang!”
Meski agak ciut melihat tewasnya pemimpin mereka, tapi karena bersama-sama mereka pun serentak berlari menyerbu ke arah kuda.
Tus! Tus!
Dua kerikil yang tersisa di genggaman dilesatkan oleh Putri Yuo Kai, menembus kepala dua orang. Selanjutnya, sang putri menggenjot sepasang kakinya. Tubuhnya berkelebat cepat meninggalkan pelana kuda, menembus curah hujan.
Bakbak! Tak plak plak!
Tang set! Tang set!
Dua kaki Putri Yuo Kai langsung menghajar dua dada penyerangnya bergantian. Lalu menangkis tangan pemegang pedang yang datang. Selanjutnya, dua tamparan kelas berat menghajar dua wajah, membuat mereka terbanting keras dengan rasa panas di kepala. Putri Yuo Kai merampas satu pedang pengeroyoknya.
Tidak berhenti serangan datang. Dua sabetan datang bersusulan. Mudahnya Putri Yuo Kai menangkis lalu balas menyabet yang tidak terhindarkan oleh lawan. Dua orang segera gugur dengan luka irisan yang dalam pada tubuh mereka.
Pengeroyokan tetap berlanjut. Hasilnya, dalam waktu singkat tersisa lima orang yang masih bernyawa.
“Lari!” teriak satu orang pada akhirnya.
Kelima lelaki yang tersisa balik kanan dan langsung berlari. Namun, ternyata Putri Yuo Kai bukan Dewi Welas Asih. Ia lesatkan pedang di tangannya dan menusuk tembus punggung orang yang berlari paling belakang.
Setelah itu, Putri Yuo Kai menendang tiga pedang yang tergeletak di rerumputan. Tiga pedang itu melesat seperti anak panah, penancap tembus di punggung tiga lelaki berpakaian biru. Semuanya tewas seketika.
“Aaaa!” jerit lelaki yang masih hidup saat melihat semua temannya tewas. Sambil berteriak ketakutan, ia percepat larinya.
Untuk satu orang yang tersisa itu, Putri Yuo Kai membiarkannya hidup.
Putri Yuo Kai beralih memandang tubuh Ular Buta yang tergeletak. Orang botak bermata satu itu masih hidup, hanya sudah tidak bisa bangkit. Pandangan mata kanannya yang sempat gelap semua, telah kembali bisa melihat. Ia bisa melihat sosok wanita bercadar putih datang mendekatinya.
“Siapa kau?” tanya Ular Buta dengan nada lemah.
__ADS_1
Pertolongan itulah yang membuat Ular Buta berutang nyawa kepada Putri Yuo Kai. Ular Buta dirawat dan diobati luka-lukanya oleh tabib di suatu tempat di Ibu kota He di bawah perintah Putri Yuo Kai.
Dalam waktu singkat, Putri Yuo Kai mendapat semua informasi tentang orang yang ditolongnya itu. (RH)