Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo13: Cinta Warga Wongawet


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)* 


Setelah mendapat pesan rahasia, Joko Tenang lebih memilih beristirahat di rumah Dagang. Ia hanya berpesan kepada Tudurya agar ia diberi tahu jika Kepala Desa sudah selesai dari ritualnya.


Joko Tenang mencurigai bahwa ada kejahatan di desa aneh itu, tetapi ia harus mengutamakan untuk mengejar Kelompok Pedang Angin. Jika mengurus permasalahan di desa itu, justru akan berpotensi mempengaruhi masa kejarnya.


Namun Joko menduga kuat, ia akan gagal membujuk Kepala Desa untuk membiarkan ia dan Tirana langsung melewati Jalan Lubang Cahaya hari itu atau malam itu juga.


Sementara di wilayah perempuan, Tirana menikmati membantu kaum perempuan muda memasak berbagai makanan dan menyiapkannya.


Ternyata kegiatan memasak seperti itu dilakukan setiap hari oleh kelompok perempuan secara bergantian. Sistem roling seperti itu membuat semua warga Desa Wongawet memiliki keahlian yang merata di semua bidang, meski tingkat kemahirannya berbeda-beda.


Sudah menjadi kebiasaan kaum wanita, ketika berkumpul mereka akan bekerja sambil bergosip. Meski saat itu ada Tirana di antara mereka, tetap saja para wanita muda di dapur besar itu membicarakan tentang Joko.


“Tirana, siapa nama suamimu?” tanya gadis yang menggoreng ikan.


“Joko Tenang,” jawab Tirana yang membantu memotongi kentang.


“Jika Joko Tenang yang menjadi Kepala Desa, aku rasa banyak dari kita yang menawarkan diri menjadi istrinya. Hihihi!” kata gadis penggoreng ikan lalu tertawa cekikikan yang diikuti tawa beberapa gadis lainnya.


Tirana hanya tersenyum mendengar candaan mereka.


“Apakah kalian juga melakukan hal seperti itu terhadap Ki Daraki?” tanya Tirana.


“Tidak,” jawab gadis yang bertugas menjaga ketersediaan kayu di dalam tungku agar api terus besar. Ia lalu mengedarkan pandangannya, seolah mencari seseorang. Setelahnya ia berkata kembali, “Kemuning dan Karani saja menjadi Kekasih Sementara karena terpaksa. Ki Daraki memang tampan dan gagah, tetapi perangai buruknya membuat kami tidak ada yang mau menawarkan diri menjadi kekasihnya.”


“Sunirma, hati-hati kalau membicarakan Kepala Desa, orang yang tersenyum kepadamu bisa saja mengadukanmu di belakang!” sahut Bangirayu mengingatkan.


“Kalau aku tahu siapa orang yang suka cari muka itu, akan aku buat dia menyesal. Aku termasuk dari sebelas orang generasi pertama di desa ini. Selain Mak Gandur, siapa wanita yang lebih tua usianya dariku?” kata Sunirma.


“Jika generasi awal, berarti usiamu sudah berapa?” tanya Tirana, tertarik untuk tahu.


“Delapan puluh sembilan tahun,” jawab Sunirma.

__ADS_1


“Lebih baik kau dan dan suamimu menetap di sini. Ketampanan dan kecantikan kalian sungguh sulit dicari bandingnya. Aku sangat menyayangkan jika wajah kalian itu mulai berkerut,” kata gadis yang memotong-motong daging ayam.


“Aku takut berpisah dengan suamiku jika menetap di sini,” kata Tirana seraya tersenyum.


“Ya itulah, kekurangan kami di balik kelebihan kami,” kata Sunirma. “Tapi masih untung kaum lelaki tidak dikebiri oleh Kepala Desa. Hahaha!”


Ramailah tempat itu oleh suara tawa bersama mereka.


Tidak terasa waktu terus berlalu di hari itu.


Sudarka datang menemui Joko di rumah Dagang menjelang matahari terbenam.


“Mohon maaf, Joko. Ki Daraki sudah keluar dari tempat semadinya, tetapi dia baru bisa ditemui setelah acara makan,” kata Sudarka.


“Baiklah, apa boleh buat,” kata Joko setuju, meski kekesalan bercokol di dalam dadanya.


Sementara di daerah perempuan, para gadis beramai-ramai pergi ke sungai untuk mandi menjelang acara makan bersama. Tirana tidak ikut mandi, ia hanya membasuh wajah, leher, kedua tangan dan kakinya.


Hal yang sama dilakukan oleh kaum pemuda.


“Aku agak bingung dengan kalian. Kalian berdandan seperti gadis yang ingin dipinang oleh kaum pemuda, tetapi faktanya kalian tidak bisa mendapatkannya?” tanya Tirana.


“Kepala Desa sangat suka melihat gadis cantik. Aku ingin melihat, bagaimana reaksi Ki Daraki ketika melihat kecantikanmu, Tirana,” kata Bangirayu sambil memoles bibirnya dengan gincu yang dicocol di sebuah wadah kecil.


“Sudah berapa lama Ki Daraki menjadi Kepala Desa?” tanya Tirana lagi sambil memandangi Bangirayu yang berdandan sambil tangan kirinya memegangi cermin kusam, yang memantulkan bayangan samar dari wajahnya.


“Sekitar dua puluh tahun,” jawab Bangirayu. “Aturan berhias menjelang acara makan adalah aturan ciptaannya. Sebelumnya tidak ada aturan seperti itu. Meski para gadis terpaksa, akhirnya kami menjadikannya sebagai cara untuk menarik perhatian kaum pemuda. Sudah menjadi rahasia di antara kami, baik wanita maupun lelaki, berharap kelak aturan itu dihilangkan dengan bergantinya kepemimpinan di desa ini.”


“Tapi kita hanya bisa terus berharap. Rasanya sulit itu akan terwujud, karena Ki Daraki didukung oleh Tetua Desa,” kata Asih Marang dari pintu kamar.


“Asih Marang diam-diam memiliki kekasih, namanya Palang Segi,” ungkap Bangirayu seraya tersenyum tanpa memandang Asih yang dibelakanginya.


“Sayang kami tidak bisa berduaan layaknya sepasang kekasih. Tapi setidaknya, aku memiliki orang yang aku cari saat acara makan,” kata Asing Marang lalu tertawa kecil. “Ayo, kaum lelaki sudah mulai berdatangan ke alun-alun!”

__ADS_1


“Ayo!” kata Bangirayu.


Mereka bertiga pun beranjak ke luar rumah.


Tirana melihat kaum wanita sudah tampil dengan pakaian yang bagus. Mereka berkeluaran dari rumah-rumahnya dengan wajah-wajah tercantiknya. Senyum-senyum mereka yang mekar menunjukkan bahwa mereka senang.


“Mereka tidak akan mengindahkan tatapan nafsu Kepala Desa kepada mereka, tetapi mereka lebih memperhatikan tatapan dari para pemuda,” kata Bangirayu. “Kau lihat itu!”


Bangirayu menunjuk kepada seorang gadis berpakaian putih. Gadis berambut panjang itu memilik wajah yang putih bersih dan sangat cantik.


“Kenapa dia?” tanya Tirana.


“Wanita tercantik di desa ini. Namanya, Sedap Malu....”


“Dia pasti kekasih Ki Daraki,” terka Tirana.


“Bukan. Dia kekasih Sudarka. Hanya Kepala Desa dan Sudarka yang berhak memiliki kekasih.”


Akhirnya mereka tiba di alun-alun. Ternyata di alun-alun itu ada panggung papan yang pendek, tetapi luas. Tinggi panggung hanya selutut. Puluhan tiang suluh yang sudah menyala membuat tempat itu terang, meski alam akan semakin gelap.


Di atas panggung itu, para pemuda telah duduk membentuk lingkaran memanjang. Jumlah mereka puluhan orang. Mereka yang baru datang bebas mau duduk di sebelah mana, tetapi formasinya lingkaran yang memanjang, sehingga mereka duduk saling berhadapan.


Sementara kaum perempuan yang tidak bertugas menyiapkan hidangan, duduk membentuk formasi serupa, tetapi mereka duduk dua depa di belakang posisi lelaki.


Karena kaum lelaki yang duduk terlebih dahulu membentuk formasi, maka para wanita akan duduk di belakang pemuda yang berseberangan dengan pemuda yang disukainya. Seperti Asih Marang, dia duduk di belakang pemuda yang berseberangan dengan Palang Segi, sehingga keduanya bisa saling pandang saat acara makan berlangsung.


Pada formasi itu, di ujung lingkaran ada sebuah meja berkaki pendek yang masih kosong dari orang. Sepertinya tempat itu memang sengaja dikosongkan.


Sementara itu, Joko Tenang telah ikut duduk di dalam barisan itu. Di sebelah kanannya duduk Sudarka dan di sisi kirinya duduk Tudurya. Posisi itu tidak begitu jauh dari meja kosong.


Tirana dan Bangirayu memilih duduk di belakang pemuda yang berseberangan dengan Joko Tenang. Ternyata, Sedap Malu, wanita tercantik yang tadi ditunjukkan oleh Bangirayu, duduk di sisi lain Bangirayu.


Joko Tenang agak terkejut ketika melihat Tirana ternyata bersama dengan wanita yang sebelumnya sering memandanginya diam-diam. Adu tatap pun terjadi antara Joko Tenang dan Bangirayu. Namun, Sedap Malu menyangka Joko Tenang memandanginya, sehingga ia tersenyum malu di tempatnya.

__ADS_1


Melihat kekasihnya tersenyum-senyum aneh di sisi Bangirayu, Sudarka jadi heran dan kerutkan kening. Ia jadi menengok memandang Joko Tenang di sisinya. Namun, dilihatnya wajah Joko dingin.


“Kepala Desa datang!” seru seorang pemuda lantang. (RH)


__ADS_2