
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
“Bagaimana mungkin kau bersama Joko?” tanya Ki Ageng Kunsa Pari heran kepada Getara Cinta.
“Panjang ceritanya, Paman Kunsa,” jawab Getara Cinta. “Mungkin nanti Kakang Joko bisa menceritakannya.”
“Kakang?” tanya Ki Ageng bingung dengan sebutan itu. Jelas-jelas Getara Cinta usianya dua kali lipat dari pada Joko.
“Aku sekarang adalah calon istrinya Joko, Paman Kunsa,” ujar Getara Cinta.
“Apa?!” kejut Ki Ageng Kunsa Pari, benar-benar terkejut. Sepasang mata cekungnya berusaha mendelik, tetapi tetap saja terlihat kecil.
“Wah kau, Joko,” ucap Goceng dengan ekspresi kecewa. “Setahuku kau harus bertanggung jawab terhadap muridnya Setan Genggam Jiwa.”
“Apa sebenarnya yang kau perbuat, Joko?!” bentak Ki Ageng Kunsa Pari marah. Ingin rasanya ia memukul kepala murid tampannya itu seperti yang sering ia lakukan kepada Goceng. “Kau harus menikahi murid Ranggasewa karena telah menodainya, tetapi kau tahu-tahu hilang kabar. Aku jadi semakin percaya bahwa kau melakukan perbuatan terkutuk itu. Terbukti, dalam hampir sebulan, kau pulang membawa calon istri Getara Cinta, seorang ratu kerajaan di Rimba Berbatu. Ada apa denganmu, hah?!”
“Maafkan aku, Guru. Tolong Guru tenang dulu, jangan marah-marah tanpa tahu cerita yang sesungguhnya. Aku baru ditinggal mati oleh calon istriku,” kata Joko Tenang dengan ekspresi sedih. Tidak ada senyum di bibirnya.
“Apa?!” pekik Ki Ageng Kunsa Pari dan Goceng bersamaan, membuat keterkejutan mereka terdengar kocak. “Goceng, pergi buatkan aku kopi, kepalaku pusing menghadapi masalah murid kesayanganku ini!”
“Tapi, Guru, gubuknya sudah tidak ada,” kata Goceng dengan nada agak takut, sebab Ki Ageng dalam suasana hati yang buruk.
“Pergi ke desa dan beli kopi di sana!” teriak Ki Ageng Kunsa Pari kesal.
“Tidak usah, Paman. Tolong galikan kuburan untuk muridnya Ki Ranggasewa,” kata Joko segera.
“Ah?” desah guru dan murid itu bersamaan lagi. Kini kesal mereka hilang berganti dengan keheranan. Ki Ageng Kunsa Pari lalu bertanya kepada Joko, ia khawatir dirinya sudah mulai pikun, “Kuburan buat siapa?”
“Kuburan untuk Ginari, jasad yang bersama Getara. Dia muridnya Setan Genggam Jiwa, Guru!” tandas Joko.
“Apa? Itu murid Ranggasewa yang katanya telah kau nodai dan harus kau nikahi?’ tanya Ki Ageng Kunsa Pari lagi.
“Cerita dari Ginari sendiri itu tidak benar, Guru. Ia dalam kondisi tidak sadar karena pengaruh racun ketika kondisinya tanpa pakaian. Jadi tidak ada yang menodainya. Ia kemudian diberi racun Gerogot Jantung oleh Nenek Kerdi Raga sehingga aku harus pergi ke Rimba Berbatu untuk mendapat Arak Kahyangan. Ginari terselamatkan, tetapi di kemudian hari, seorang lelaki licik memberinya Racun Tanpa Rasa hingga ia pun mati,” tutur Joko yang membuat sepasang matanya kembali berkaca-kaca. Namun, kali ini ia masih bisa menahan agar air mata mudanya tidak terkuras lagi.
“Racun Tanpa Rasa, itu salah satu racun terganas di dunia rimba persilatan. Tidak ada orang yang bisa lolos dari racun itu,” kata Ki Ageng Kunsa Pari.
“Baik, akan segera aku buatkan liang lahat!” kata Goceng setelah mengerti.
__ADS_1
Ki Ageng Kunsa Pari menarik napas panjang mendengar cerita muridnya.
“Ketika Ranggasewa datang menemuiku hanya untuk urusan murid kesayangannya itu, ia banyak bercerita tentang Ginari. Seorang gadis suci yang wajahnya tidak pernah dilihat oleh lelaki selain gurunya dan Pengemis Maling. Sungguh aku tidak menyangka dan aku sangat sedih jika ternyata ia harus begitu cepat wafat,” kata Ki Ageng Kunsa Pari lirih.
Ia menyeka sudut mata tuanya dengan ujung jari telunjuknya.
“Lalu siapa gadis laksana bidadari itu?” tanya Ki Ageng Kunsa Pari.
“Calon istriku juga, Guru,” jawab Joko.
“Murid kebelinger!” teriak Ki Ageng Kunsa Pari tiba-tiba memaki. Sedihnya spontan hilang. Ia menatap tajam kepada muridnya itu, seolah hendak menelannya sedikit demi sedikit.
Joko yang awalnya sedih, justru jadi tersenyum melihat kemarahan gurunya yang selalu terkejut setiap ia menyebut “calon istriku”.
Akhirnya Joko pun berkata, “Aku sudah menikah dan punya istri, Guru.”
Ki Ageng Kunsa Pari kali ini terkejutnya beda, ia menghempaskan napas panjang dan tubuhnya terasa lemah. Orang sakti itu benar-benar merasa syok atau sawan, hingga ia kini duduk di tanah bukit yang kering.
“Dosa apa yang kau perbuat, Joko? Hanya dalam kurang dari sebulan, kau sudah beristri dan punya banyak calon istri. Bagaimana jadinya jika kau menghilang selama setahun?” ucap Ki Ageng Kunsa Pari lemah.
Sambil menghempaskan napas panjang, Joko turun dan duduk bersila di hadapan gurunya. Ia berkata dengan lembut kepada orang tua itu.
“Baiklah, Joko. Benar yang kau katakan. Mungkin aku terbawa emosi dari awal karena termakan cerita pemerkosaanmu itu,” kata Ki Ageng Kunsa Pari.
“Bahkan nanti pun aku ingin membuat perhitungan kepada Guru!” kata Joko sambil bangkit berdiri.
Ki Ageng Kunsa Pari mendelik mendengar perkataan muridnya itu. Perkataan Joko itu membuat gurunya jadi bertanya-tanya.
Joko Tenang pergi menghampiri Gimba yang sedang duduk pada kedua cekernya di atas reruntuhan. Ia lalu memeluk paruh Gimba dan menciumnya.
“Apakah kau bisa mencariku tanpa aku panggil, Gimba?” tanya Joko.
Gimba mengangguk-anggukan kepalanya tanda menjawab “iya”.
“Satu purnama lagi, datanglah mencariku. Karena saat itu, aku tidak akan bisa memanggilmu,” perintah Joko Tenang.
Gimba kembali manggut-manggut.
__ADS_1
“Terima kasih banyak, Sahabat. Sekarang kembalilah, sampai bertemu lagi satu purnama kemudian!” kata Joko Tenang lalu menepuk leher Gimba pelan sebanyak tiga kali.
Kaak!
Gimba berkoak pelan.
Joko Tenang, Getara Cinta dan Tirana menjauh dari Gimba. Hewan raksasa itu akhirnya lepas landas dan langsung mengepakkan sayapnya. Gimba menukik naik ke angkasa lalu terbang berputar-putar di atas bukit itu.
Kaaak!
Akhirnya Gimba berkoak kencang lalu melesat pergi jauh ke langit.
“Kenapa Kakang menyuruh Gimba mencari sebulan lagi?” tanya Getara.
“Karena pada saat itu mungkin aku sudah tidak berilmu dan kalian telah menjadi istri-istriku,” jawab Joko.
Joko Tenang lalu mengais di reruntuhan gubuk. Ia mencari kain untuk membalut tubuh Ginari secara keseluruhan.
“Aku melihat Guru dan Goceng berpakaian bagus. Apakah kalian berencana pergi?” tanya Joko dengan suara agak dikencangkan.
“Aku dipanggil oleh ayahmu!” sahut Ki Ageng Kunsa Pari.
“Guru dipanggil ke Kerajaan Sanggana?” terka Joko yang membuat Ki Ageng Kunsa Pari mendelik terkejut.
“Jadi kau sudah tahu, Joko? Apakah Gusti Mulia Raja Anjas datang menemuimu langsung?” tanya Ki Ageng Kunsa Pari.
“Tidak, ayahku tidak datang menemuiku, tetapi ia mengutus seorang prajurit penjaga yang sekaligus akan menjadai istriku, yaitu Tirana. Seharusnya aku marah kepada Guru, kenapa Guru tidak menceritakan perihal keluarga, ayah dan ibuku!” kata Joko. Ia lalu menghampiri gurunya,”Guru juga tidak pernah menceritakan bahwa aku adalah seorang pangeran.”
Kembali terkejut Ki Ageng Kunsa Pari. Buru-buru ia berlutut satu kaki kepada Joko dan menjura hormat sedalam-dalamnya.
“Hormat hamba, Yang Mulia Pangeran!” ucap Ki Ageng Kunsa Pari.
Melihat gurunya sendiri sampai menjura hormat seperti itu, berarti benar adanya segala apa yang diceritakan oleh Tirana tentang ayahnya dan Kerajaan Sanggana.
“Bangunlah, Guru. Kau tidak pantas menghormat seperti itu kepadaku. Aku adalah muridmu,” ucap Joko Tenang sambil meraih kedua lengan tua gurunya agar berdiri.
Akhirnya Joko Tenang menceritakan tentang Tirana dan apa misi yang diembannya dari Raja Sanggana. Ki Ageng Kunsa Pari mendengarkan dengan hikmat.
__ADS_1
Karena Joko Tenang sudah mengetahui semua tentang jati dirinya sebagai seorang pangeran yang terbuang, Ki Ageng Kunsa Pari pun akhirnya menjawab semua yang ingin Joko ketahui, termasuk siapa ibunya. (RH)