Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 22: Berbagi Tugas


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


 


Pagi yang cerah terlihat semarak di Kerajaan Sanggana Kecil, ketika Pangeran Kubur datang berbondong-bondong bersama seluruh warga Gunung Prabu. Ada lebih dua ratus orang yang datang ke istana untuk mendaftarkan diri.


Ada beberapa pilihan dalam pendaftaran, yaitu menjadi warga biasa, menjadi prajurit militer, dan menjadi prajurit pendekar atau nonmiliter. Untuk prajurit pendekar akan terbagi lagi, yaitu prajurit Pasukan Pengawal Bunga dan Pasukan Hantu Sanggana yang ditanggungjawabi oleh Permaisuri Mata Hijau sebagai Mantri Keprajuritan, juga Pasukan Pedang Putri yang ditanggungjawabi oleh Permaisuri Kusuma Dewi. Pasukan Pedang Putri adalah pasukan khusus pendekar wanita.


Keberadaan burung rajawali di tengah halaman Istana menjadi daya tarik yang menakjubkan bagi warga Gunung Prabu.


Di saat para warga Gunung Prabu melakukan pendaftaran, Pangeran Kubur bersama Manik Cahaya, Setan Kesurupan, Tukang Tanam, dan Bala Bala, ikut dalam persidangan pagi.


Persidangan pagi itu dipimpin langsung oleh Prabu Dira Pratakarsa Diwana yang sudah menyempurnakan pernikahannya. Keenam permaisuri semua hadir dalam sidang. Hadir pula Mahapati Putri Sagiya, Amangkubumi Turung Gali, Senopati Batik Mida, dan Asih Marang.


Sebelum melakukan perjalanan untuk menjemput Putri Yuo Kai bersama Gimba, Prabu Dira harus membagi urusan dan tugas kepada para pembantu dalam pemerintahannya, terutama kepada para istrinya.


“Aku sudah mendengar berbagai laporan dari ratuku,” kata Prabu Dira kepada peserta sidang. “Pertama mengenai Gunung Prabu. Aku putuskan untuk menjadikan Gunung Prabu sebagai kadipaten pertama di bawah pemerintahan Kerajaan. Aku angkat tetua Pangeran Kubur sebagai Adipati Kadipaten Gunung Prabu!”


“Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia Gusti kepada hamba. Hamba akan berusaha melaksanakan tugas hamba sebaik mungkin!” ucap Pangeran Kubur seraya turun berlutut menghormat.


“Bangkitlah!” perintah Prabu Dira. “Aku mengalihkan jabatan Putri Sagiya dari mahapati kepada Mantri Kesejahteraan!”


“Hamba menerima patuh, Gusti Prabu,” ucap Putri Sagiya sambil menghormat dari tempat duduknya.


“Aku perintahkan Mantri Kesejahteraan untuk membangun kediaman yang layak bagi Adipati dan membentuk tiga desa. Tiga desa masing-masing akan dipimpin oleh Setan Kesurupan, Tukang Tanam dan Bala Bala!”


“Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia Gusti kepada kami!” ucap ketiga pendekar unggulan Pangeran Kubur.


“Pengaturan Kadipaten dan tiga desa akan dipimpin oleh Putri Sagiya, tetapi ketiga kepala desa akan bertanggung jawab kepada Adipati. Gunung Prabu adalah gunung yang subur. Kampung Kubur sudah membudidayakan pertanian kacang tanah. Aku harap pertanian yang lain bisa mulai ditanam. Aku berhayal, nantinya Kadipaten Gunung Prabu bisa menjadi pusat pengirim hasil pertanian ke berbagai daerah tetangga. Untuk urusan petapa sakti di Gua Api, Permaisuri Mata Hati yang akan mengatasinya. Bagi warga Gunung Prabu yang memilih menjadi prajurit, akan tinggal di barak keprajuritan. Adapun mereka yang memilih tetap menjadi warga biasa, nanti akan dibantu untuk menjadi warga yang petani atau warga yang sesuai keahliannya. Sampaikan keberatan kalian sekarang juga jika ada, Adipati Pangeran Kubur!” kata Prabu Dira.

__ADS_1


“Setan Kesurupan, Tukang Tanam dan Bala Bala sudah Yang Mulia Gusti beri jabatan sebagai kepala desa, lalu bagaimana dengan Manik Cahaya?” tanya Pangeran Kubur, merujuk kepada Pendekar Kipas Hitam.


“Sebagai pengikut utama tetua Pangeran Kubur, tentu aku tidak akan meragukan keempat orang ini, termasuk Pendekar Kipas Hitam. Permaisuri Serigala pun telah menilai tingkat kesaktiannya. Manik Cahaya akan memimpin Pasukan Pedang Putri di bawah tanggung jawab Permaisuri Pedang!” jawab Prabu Dira.


“Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia Gusti kepada hamba. Hamba berjanji tidak akan mengecewakan Yang Mulia Gusti!” ucap Manik Cahaya.


“Bangkitlah!” perintah Prabu Dira. Lalu katanya lagi, “Aku pun mengangkat Asih Marang sebagai Utusan Kerajaan Sanggana Kecil untuk Desa Wongawet. Rincian tugasmu nanti akan dijelaskan oleh Permaisuri Penjaga!”


“Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia Gusti kepada hamba!” ucap Asih Marang setelah turun berlutut menghormat.


“Kepergianmu akan dikawal oleh empat orang prajurit dari Pasukan Hantu Sanggana!” kata Prabu Dira.


“Baik, Yang Mulia,” ucap Asih Marang.


“Dengan bergabungnya Gunung Prabu ke dalam wilayah Kerajaan, maka wilayah kita akan semakin luas dan jumlah prajurit kita semakin sedikit. Apa rencanamu, Permaisuri Mata Hijau?” tanya Prabu Dira.


“Asih Marang, Adi Manukbumi dan Luring berasal dari salah satu dari tujuh desa yang ada di seberang telaga. Mereka bisa menjadi pendorong utama bagi para pemuda desa untuk mendaftar menjadi prajurit di kerajaan ini. Namun, rute dari desa untuk menuju ke Istana hanya ada dua, yaitu jalur air dan Hutan Malam Abadi. Mereka tidak akan melalui jalur air karena mereka meyakini bahwa ada dedemit di dalam telaga. Dan mereka pun tidak akan bisa melewati Hutan Malam Abadi, terbukti seorang pendekar desa mereka tewas oleh penghuni hutan itu. Aku mengusulkan bahwa kita harus menciptakan rute aman di Hutan Malam Abadi. Caranya adalah dengan merebut Hutan Malam Abadi atau menyepakati perjanjian dengan Penagih Nyawa. Dengan demikian para calon prajurit dari ketujuh desa itu akan bisa melewati Hutan Malam Abadi dengan aman,” papar Permaisuri Kerling Sukma.


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Permaisuri Kerling Sukma.


“Baik, Yang Mulia Gusti,” ucap Senopati Batik Mida pula.


“Ayah Turung Gali aku alihkan kepada jabatan mahapati!” kata Prabu Dira.


“Hamba terima putusan Gusti Prabu,” ucap Turung Gali.


“Selama kepergianku untuk menjemput Putri Yuo Kai, jalannya pemerintahan kerajaan ini aku serahkan kepada Mahapati dengan memperhatikan masukan-masukan dari Ratu Getara dan Penasihat Permaisuri Nara. Aku perintahkan kepada Mahapati untuk mengolah Telaga Fatara. Telaga itu memiliki potensi hasil ikan yang sangat besar, tetapi masih belum aman bagi nelayan biasa. Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat adalah bajak laut, mereka berpengalaman dengan urusan perahu dan ikan. Mereka bisa diserahi tanggung jawab untuk mengelolah telaga!”


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapati Turung Gali.

__ADS_1


Demikianlah pembagian tugas-tugas yang diperintahkan oleh Prabu Dira kepada para pembantu pemerintahannya.


Setelah sidang itu, Prabu Dira bersama dengan Permaisuri Tirana pergi menemui Ginari di kamarnya.


Saat Prabu Dira masuk ke kamar, Ginari yang ditunggui oleh dua orang dayang, sedang duduk di pinggir kolam. Kedua kakinya direndam di air kolam sebatas pergelangan kaki. Saat itu, ia mengenakan pakaian serba putih dengan rambut panjang yang terurai indah.


Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, kali ini Ginari bergerak. Kedua kakinya bermain mengayun-ayun kecil di permukaan air kolam.


“Ginari sayang!” panggil Joko Tenang dari belakang.


Panggilan itu membuat sepasang pupil mata gadis jelita itu bergerak samar. Kedua kakinya pun berhenti bergerak di air kolam.


Tersenyum lebarlah Prabu Dira ketika melihat wajah Ginari bergerak perlahan memutar menengok ke belakang.


“Perkembangan yang sangat bagus, Tirana,” ucap Prabu Dira sambil melangkah maju lebih dekat kepada Ginari.


Kini, pandangan Ginari benar-benar memandang kepada wajah Prabu Dira yang tampan berbibir merah.


“Ginari sayang, apakah kau mengenalku?” tanya Prabu Dira lembut setelah duduk berjongkok di sisi Ginari.


Wajah Ginari begitu dingin dan tanpa perubahan ekspresi sedikit pun. Ginari tidak menjawab, tetapi kemudian kembali memutar wajahnya menghadap ke depan.


“Aku Joko Tenang, calon suamimu!” kata Prabu Dira lebih kencang.


Kembali Ginari menengok dan menatap wajah Prabu Dira lekat-lekat. Namun sebentar kemudian, Ginari kembali meninggalkan wajah Prabu Dira. Ginari diam dan kakinya kembali bermain air.


Prabu Dira akhirnya hanya tersenyum dalam jongkoknya, saat Tirana menyentuh bahu kanannya.


“Ini sudah perkembangan yang sangat bagus. Semoga ketika Kakang Prabu kembali bersama Putri Yuo Kai, kembali ada perkembangan baik,” ujar Permaisuri Tirana. (RH)

__ADS_1


 


__ADS_2