
*Desa Wongawet (Dewo)*
Ketika Tirana membuka pintu rumah singgahnya di Desa Wongoko, ia agak terkejut. Pandangannya langsung tertumpu pada sosok gendut bulat yang duduk berjongkok tidak jauh di depan tangga. Perut yang gendut dan berlemak, membuat lelaki berambut gondrong sebahu itu tampak tersiksa dalam berjongkok.
Lelaki berbaju putih ketat itu tidak lain adalah Gulung Lidah. Ia tersenyum lebar kepada Tirana saat gadis jelita itu muncul membuka pintu. Wajahnya sudah segar, menunjukkan bahwa ia sudah mandi atau sekedar cuci muka.
Bret!
Terkejutnya Gulung Lidah saat dia hendak bangun berdiri. Ada suara robek yang jelas dari bawah tubuhnya.
“Hihihi!” Meledaklah tawa Tirana.
Gulung Lidah seketika berdiri dengan menjepitkan kedua pahanya. Kedua kakinya berdiri menyilang. Wajah putih bulatnya menyemu merah karena malu.
“Ki Lololo... Longgooor!” teriak Gulung Lidah sambil berlari ke arah rumah Kepala Desa.
Tertawa panjang Tirana melihatnya. Apalagi pas melihat bokongnya yang memantul-mantul ketika berlari.
“Ada apa?” tanya Joko dari dalam. Tampak wajahnya sudah segar dengan bibir yang merah terang.
“Gulung Lidah, pagi-pagi berjongkok di depan tangga. Saat bangun celananya robek,” jawab Tirana.
Joko Tenang hanya tersenyum irit mendengar itu.
“Ayo, kita langsung pergi ke Desa Wongawet!” kata Joko.
Tirana lebih dulu turun. Barulah Joko turun setelahnya. Mereka langsung menuju ke rumah Ki Longgor.
Terlihat sejumlah warga telah menampakkan dirinya dalam aktivitas paginya.
“Kalian mau langsung pergi ke Desa Wongawet?” tanya Ki Longgor saat melihat kedatangan Joko dan Tirana. Ia sedang mempersiapkan peralatan untuk pergi ke sungai.
“Iya, Ki. Kami tidak boleh mengulur waktu,” jawab Tirana.
“Apakah tidak ingin makan pagi dulu, biar perut tidak kosong?” tawar Ki Longgor.
“Tidak usah, Ki. Terima kasih,” ucap Tirana.
“Baiklah,” kata Ki Longgor seraya tersenyum. “Tapi aku ingatkan, Nak Pendekar. Orang-orang Desa Wongawet itu memang ramah kepada tamu, tetapi aku mendengar banyak desas-desus bahwa mereka juga licik. Pokoknya waspada saja.”
“Terima kasih, Ki. Kami pamit,” ucap Joko.
“Hmm!” gumam Ki Longgor seraya mengangguk.
Joko dan Tirana pun berbalik pergi.
“Tututu... tunggu!” seru seseorang dengan gagap.
Orang itu adalah Gulung Lidah. Ia datang berlari dengan celana baru yang lebih longgar, tidak seketat tadi. Dia mendapat celana dari Ki Longgor.
__ADS_1
“Ada apa, Kisanak?” tanya Tirana.
“Hehehe! Kakaka... kalian mau ke Dedede... Desa Wongawet, kan?” tanya Gulung Lidah, cengengesan.
“Benar,” jawab Tirana.
“Aku jujuju... juga,” kata Gulung Lidah.
“Kalau kau mau ke Desa Wongawet juga, pergilah sendiri, jangan ganggu kebersamaanku dengan suamiku,” kata Tirana.
“Hehehe! Aku itu orangnya tatata... takut kalau jajaja... jalan sendirian,” kilah Gulung Lidah.
“Kalau takut, lalu kemarin-kemarin jalan dengan siapa?” tanya Tirana.
“Tidak usah hiraukan. Ayo!” kata Joko.
Maka, Joko dan Tirana melangkah pergi.
“Kita harus cepat!” kata Joko Tenang lalu melesat cepat ke arah utara.
Slap!
Tirana juga tiba-tiba melesat laksana menghilang.
“Hei!” teriak Gulung Lidah terkejut. Ia buru-buru berlari lalu berkelebat pergi menggunakan ilmu peringan tubuhnya untuk menyusul Joko dan Tirana.
Dengan cara cepat seperti itu, Joko dan Tirana dapat mempersingkat waktu. Sementara Gulung Lidah tertinggal di belakang.
Keduanya menemukan beberapa tubuh lelaki tergeletak di tengah jalan. Bahkan ada satu tubuh duduk tersandar di bawah pohon, tetapi kepalanya terkulai menunduk dalam tanpa tenaga. Senjata tajam jenis golok yang mereka miliki juga tergeletak tidak jauh dari tangan mereka yang tidak bergerak. Tubuh itu berjumlah lima orang.
“Siapa mereka?” tanya Joko yang tidak membutuhkan jawaban. Sebab, Tirana pun tidak mungkin tahu siapa orang-orang itu adanya.
Joko Tenang melangkah mendekati satu tubuh yang tergeletak tepat di tengah jalan hutan.
Deg deg deg!
Namun, Joko Tenang menghentikan langkahnya sebelum mendekat. Itu karena Joko mendengar detak jantung kelima orang yang tergeletak itu dengan jelas. Tidak hanya lima detak jantung, tetapi lebih. Ada suara detak jantung lain di balik dan di atas pohon.
“Ini jebakan,” kata Joko kepada Tirana.
Mendengar perkataan Joko itu, lelaki yang tengkurap di tengah jalan segera bangun dan tidak lupa memungut goloknya.
“Bangun bangun bangun! Kita ketahuan!” teriak lelaki brewok yang baru bangun, kepada teman-temannya.
“Tidak seru!” gerutuh lelaki lain yang pura-pura mati bersandar di batang pohon. Ia pun bangkit berdiri dan bergabung bersama temannya.
Kini kelima lelaki berpakaian biru gelap itu telah bangkit semua dan berdiri bersama menghadang Joko Tenang dan Tirana.
“Ada-ada saja tingkah mereka,” kata Tirana sambil tersenyum.
__ADS_1
“Kalian payah!” seru seorang lelaki lain sambil keluar dari balik pohon. Ia seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berotot. Berambut gondrong tanpa ikat kepala. Kumisnya tebal melintang seperti tuan tanah. Ia menyandang sebuah golok yang lebih besar dari teman-temannya. Lalu teriaknya lagi, “Gampang sekali kalian ketahuan!”
“Seperti biasa, Kang Mas Bejo. Kita sudah pura-pura semahir mungkin jadi orang mati, tapi tetap saja ketahuan,” sahut lelaki yang brewok.
Setelah lelaki yang disebut Bejo keluar dari persembunyiannya, dua lelaki juga keluar dari balik pohon, ditambah dua orang melompat turun dari atas pohon. Jadi genap jumlah mereka sebanyak sepuluh orang lelaki bersenjata golok.
“Siapa kalian?” tanya Joko, tenang.
“Jujur saja, kami ini perampok hutan!” jawab Bejo sambil berjalan penuh jumawa ke depan rekan-rekannya. “Jumlah kami sangat banyak, hanya mereka masih bersembunyi!”
“Tidak perlu berdusta kalau mau jadi perampok, tidak perlu takut mati. Aku hanya mendengar sepuluh detak jantung,” kata Joko.
Bejo dan rekan-rekannya jadi terkejut mendengar perkataan Joko. Sebagian besar memegang dada mereka masing-masing, termasuk Bejo.
“Hahaha!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa datang dari belakang, yang dikenal oleh Joko dan Tirana. Bejo dan rekan-rekannya melihat kedatangan seorang lelaki gemuk dan gendut, yang berlari dengan kecepatan tidak biasa. Setibanya di sisi Tirana, orang yang adalah Gulung Lidah itu, berdiri terbungkuk sambil ngos-ngosan dengan wajah bulat yang mengerenyit.
“Kakaka... kalian tidak sesese... setia kawan. Aku dididi...ditinggal,” gerutuh Gulung Lidah.
Selagi Gulung Lidah terbungkuk berusaha menyedot udara sebanyak-banyaknya, Joko memberi isyarat gerakan alis kepada Tirana. Gadis jelita itu mengangguk samar.
Clap! Clap!
Tiba-tiba Joko Tenang dan Tirana menghilang begitu saja.
Bejo dan rekan-rekannya terperangah diam. Sedikit pun mereka tidak bisa melihat gerakan perginya dua calon korban mereka itu. Bahkan Gulung Lidah telat menyadari kepergian Joko dan Tirana.
“Kakaka... kalau kita bebebe... bersama-sama, jijiji... jika a....”
Kata-kata Gulung Lidah terhenti saat ia menengok ke samping dan tidak mendapati kedua kaki Tirana.
Buru-buru Gulung Lidah berdiri tegak. Ia cepat menengok ke kanan, ke kiri, lalu ke belakang. Namun, ia tidak menemukan Joko dan Tirana.
“Loh, kekeke... ke mana?” ucap Gulung Lidah bingung.
Gulung Lidah lalu berjalan ke arah kesepuluh lelaki bergolok di depan.
“Mimimi... minggir kakaka... kalian!” bentak Gulung Lidah, hendak menerabas kumpulan itu.
“Mamama... mau kekeke... ke mana, Gegege... Gendut?” tanya Bejo menirukan gagap, sambil todongkan ujung goloknya ke depan leher Gulung Lidah.
“Hahaha...!”
Rekan-rekan Bejo tertawa ramai-ramai mendengar pimpinan mereka menirukan kegagapan Gulung Lidah.
“Sasasa... sabar, sabar!” ucap Gulung Lidah sambil mundur-mundur mengangkat kedua tangannya di sisi kepalanya.
Namun, ujung golok Bejo juga tetap ikut tidak menjauh dari leher Gulung Lidah. (RH)
__ADS_1
KUNJUNGI JUGA karya Om Rudi yang sensasional kocaknya. Chat Story PETUALANGAN TINA AYU.