
*Desa Wongawet (Dewo)*
Ki Longgor adalah seorang lelaki sepuh bertubuh kurus, berkulit hitam, berkepala botak, bermata sipit sebelah, dan berkumis tebal warna putih. Meski botak, tetapi kepalanya di tutup dengan balutan kain batik warna kuning. Ia mengenakan baju hijau gelap dan celana pangsi hitam. Kedua pergelangan tangannya melingkar gelang kayu warna merah gelap, berbentuk dua lilitan tubuh ular bersisik.
Ki Longgor adalah Kepala Desa Wongoko yang juga dikenal memiliki kesaktian. Sebagai desa yang terkadang disinggahi orang-orang persilatan untuk bermalam, pemimpin Desa Wongoko haruslah seorang yang berkesaktian.
“Jika Nak Joko dan Tirana ingin bermalam di desa kami yang kecil ini, tentunya dengan senang hati kami menerima. Hanya saja dengan satu syarat, jika kalian membawa permasalahan dunia persilatan, jangan libatkan warga Desa Wongoko,” ujar Ki Longgor kepada Joko dan Tirana yang kini duduk berhadapan dengannya.
Lelaki desa yang tadi mengantar Joko dan Tirana menemui Ki Longgor sudah pamit pergi.
“Tapi, Ki. Dapatkah kami bertanya tentang satu hal?” tanya Tirana.
“Silakan.”
“Apakah sekitar tiga atau dua hari yang lalu ada serombongan pasukan lewat di desa ini? Mereka berpakaian cokelat bercelana putih dan bersenjata pedang?” tanya Tirana.
“Dua hari yang lalu, memang ada pasukan dari Kelompok Pedang Angin yang lewat. Mereka sekedar lewat. Jumlahnya ratusan orang. Mereka menuju Desa Wongawet.”
“Apakah mereka membawa tawanan? Tepatnya tawanan perempuan?” Kali ini yang bertanya adalah Joko Tenang.
“Aku dan warga desa hanya melihat satu tawanan lelaki muda. Kami tidak melihat adanya tawanan wanita. Selain itu, mereka membawa tiga tandu tertutup. Tandu seperti keranda mayat,” jawab Ki Longgor.
Joko Tenang dan Tirana jadi mengerutkan kening mendengar penggambaran itu. Itu tidak sesuai perkiraan mereka. Joko Tenang dan Tirana saling pandang sejenak, seolah saling bertanya tanpa memberikan jawaban.
“Apakah kalian berseteru dengan Kelompok Pedang Angin itu?” tanya Ki Longgor, memecah keberpikiran mereka berdua.
“Benar, Ki. Kami menduga Kelompok Pedang Angin menawan ratu kami,” jawab Tirana apa adanya.
“Ratu? Apakah kalian berdua berasal dari Rimba Berbatu?” terka Ki Longgor.
“Benar.”
“Jadi mereka menyerang Rimba Berbatu. Jika mereka menyerang Rimba Berbatu, mereka benar-benar menakutkan. Setahu kami, di Rimba Berbatu ada kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu yang sangat sakti,” kata Ki Longgor.
“Bagaimana, Kakang?” tanya Tirana.
“Siapa pun orang yang Pedang Angin tawan, apakah hidup atau mati, kita harus memastikannya,” jawab Joko.
“Jika rombongan itu melalui jalan Desa Wongawet, mungkin besok kalian bisa menyusul mereka. Jika mereka mau mengikuti aturan Desa Wongawet, paling cepat mereka akan tertahan selama tiga hari,” kata Ki Longgor. Lalu katanya lagi, “Silakan diminum, Nak Pendekar.”
Joko Tenang dan Tirana lalu meminum suguhan wedang jahe dari tuan rumah.
“Apakah pasukan kuat seperti mereka tidak bisa menolak untuk mengikuti aturan di Desa Wongawet?” tanya Tirana.
“Kecuali mereka mau berhadapan dengan sesepuh Desa Wongawet, seorang sakti mandraguna,” kata Ki Longgor.
“Jadi kemungkinan besar kami masih bisa mengejar mereka di Desa Wongawet?” tanya Tirana memastikan.
“Menurut hitung-hitunganku demikian, Nak Pendekar,” tandas Ki Longgor. “Oh ya, apakah kalian berdua suami istri?”
Belum lagi Joko dan Tirana menjawab, Ki Longgor sudah menyela lebih dulu.
“Maksudku, jika kalian suami istri, kalian cukup menempati satu rumah. Jika bukan, maka aku akan menyediakan satu kamar lagi,” jelas Ki Longgor.
“Satu saja, Ki,” jawab Joko cepat.
__ADS_1
“Karena orang persilatan terkadang bermalam di sini, kami menyediakan rumah kosong yang khusus untuk para tamu,” kata Ki Longgor.
Setelah berbincang-bincang sejumlah bahasan di malam itu, akhirnya Ki Longgor mengantar dua tamunya ke rumah khusus tamu. Berbekal satu suluh bambu, Ki Longgor mengantar Joko dan Tirana.
“Ini rumahnya. Kalian bisa beristirahat dengan nyaman,” kata Ki Longgor, setibanya di depan tangga sebuah rumah bambu sederhana.
“Terima kasih, Ki,” ucap Tirana.
Namun, ketika Tirana hendak menaiki tangga rumah panggung bambu itu, tiba-tiba....
“Tututu... tunggu!” teriak seseorang, seiring sesosok tubuh besar berkelebat di udara dan mendarat ringan di anak tangga atas rumah singgah itu.
Kemunculan lelaki gemuk dan gendut itu memaksa Tirana harus melompat mundur menjauhi tangga.
Ki Longgor juga cukup terkejut melihat kemunculan lelaki berpakaian putih lagi ketat itu.
“Apa yang kau lakukan, Gulung Lidah?” tanya Ki Longgor.
“Hahaha! Rururu... rumah ini mamama... masih milikku!” kata lelaki gendut yang tadi disebut bernama Gulung Lidah. Ia bicara gagap.
Tirana agak melebarkan lingkar matanya ketika mendengar kegagapan Gulung Lidah. Ia mau tertawa, tetapi ditahannya.
“Bukankah kau sudah pergi, kenapa kembali lagi?” tanya Ki Longgor.
“Sesese... sebab, aku mememe... melihat bibibi... bidadaaari. Hahaha!” kata Gulung Lidah lalu tertawa yang membuat tubuhnya ikut berguncang bergelombang.
“Lalu kenapa kau ke sini jika melihat bidadari?” tanya Ki Longgor lagi.
“Kakaka... karena bibibi... bidadarinya ada di sini. Hehehe!” kata Gulung Lidah, kali ini tertawa cengengesan berlagak malu-malu sambil memandang kepada Tirana.
“Siapa maksudmu? Apa yang kau maksud Nak Tirana?” terka Ki Longgor.
“Hehehe!” Gulung Lidah hanya terkekeh malu, menunjukkan wajah kemayu yang amit-amit.
“Rumah itu lebih dulu aku berikan kepada mereka berdua. Kau akan aku berikan kamar yang lain,” ujar Ki Longgor.
“Tititi... tidak mau! Aku yang lelele... lebih dulu menginap dididi... di rumah ini!” tegas Gulung Lidah.
“Tapi kau sudah pamit tadi siang. Jadi kau tidak berhak lagi karena sudah aku berikan kepada Nak Joko. Kau akan aku berikan kamar yang lain,” kata Ki Longgor.
“Tititi... tidak masalah aku tititi... tidur di kamar lain, tatata... tapi bibibi... bidadari itu ikut dedede... denganku!” kata Gulung Lidah yang membuat mereka yang mendengarnya jadi lelah.
Tiba-tiba Joko Tenang menghilang dari tempatnya. Tahu-tahu Joko muncul di belakang Gulung Lidah. Seenaknya saja Joko mendorong punggung Gulung Lidah.
“Aaaa!” jerit Gulung Lidah yang terkejut dan hilang keseimbangan.
Blug!
Gulung Lidah jatuh tersungkur ke tanah dari atas rumah panggung yang tinggi lantainya hanya sepinggang.
Tirana dan Ki Longgor terkejut dengan tindakan Joko, tetapi mereka juga ingin tertawa.
Gulung Lidah buru-buru bangun menggeragap dan emosi.
“Bebebe... beraninya kau, Anak Mumumu...!”
__ADS_1
“Musang?” tanya Joko.
“Anak Muda! Mememe... meledekku ya!” gusar Gulung Lidah. “Bebebe... beraninya kau bububu... buat urusan dedede... denganku!”
“Ayo, Tirana!” ajak Joko.
Gulung Lidah mendelik melihat sikap Joko yang mengabaikannya. Sementara Tirana berjalan naik ke rumah.
“Tititi... tidak bisa!” seru Gulung Lidah lalu melompat naik.
Buk!
Sebelum Gulung Lidah mendarat di teras bambu rumah itu, dengan mudahnya kaki Joko menendang perut Gulung Lidah.
Blugk!
Tubuh berlemak Gulung Lidah terdorong kembali dan jatuh terjengkang di tanah. Ia meringis kesakitan.
Tirana hanya tersenyum melihat perkelahian kecil itu. Ia tahu bahwa Gulung Lidah hanya berpura-pura lemah dan kesakitan. Cara dia datang tadi menunjukkan bahwa dia berkesaktian tidak rendah. Bagaimana mungkin dia tidak bisa mengelaki tendangan biasa dan kasar dari Joko.
“Tututu... turun sini, Anak Mumumu... muda! Kau pipipi... pikir hanya kau yang sasasa... sakti di sini!” teriak Gulung Lidah.
Gulung Lidah memasang kuda-kuda dengan wajah yang menunjukkan kemarahan.
“Gulung Lidah, sudahlah. Malu dilihat banyak warga,” kata Ki Longgor, berusaha membujuk.
Gulung Lidah segera melihat ke sekeliling. Ia terkejut, karena sejumlah warga sedang berdiri menonton dari tempat-tempat yang gelap. Beberapa orang membawa obor sendiri.
Melihat situasi itu, Gulung Lidah mengendorkan ketegangannya. Ia menarik kembali kuda-kuda tarungnya, tetapi wajah bulatnya tetap asam.
“Biarkan suami istri itu tidur di sini, kau akan aku berikan kamar yang besar dan nyaman,” kata Ki Longgor membujuk lagi.
“Tititi... tidak enak kakaka... kalau tidak ada bibibi... bidadarinya,” kata Gulung Lidah merengut.
“Nanti aku akan berikan bidadari lain untuk menemanimu tidur,” kata Ki Longgor.
“Mememe... memangnya di sini ada bibibi... bidadarinya?” tanya Gulung Lidah tidak percaya.
“Tentu ada. Aku akan meminta Sukiyem untuk menemanimu,” kata Ki Longgor lagi.
“Hahaha...!” tawa warga tiba-tiba. Gulung Lidah terheran, lalu menatap curiga kepada Ki Longgor.
“Sisisi... siapa dia?” tanya Gulung Lidah.
“Yang setia membawakanmu ubi rebus dan wedang,” jawab Ki Longgor.
“Apa?! Wawawa... wanita nenek-nenek kekeke... keriput kau bibibi... bilang bibibi... bidadari?” kejut Gulung Lidah.
Ki Longgor hanya tersenyum lebar. Pantas saja warga tertawa ketika nama Sukiyem disebut. Tirana juga tersenyum lebar. Sementara Joko hanya tersenyum kecil melihat tingkah Gulung Lidah.
“Titititi... tidak usah papapa... pakai bibibi... bidadari!” ketus Gulung Lidah, lalu berjalan pergi menuju rumah Ki Longgor. (RH)
KUNJUNGI JUGA karya Om Rudi yang sensasional kocaknya. Chat Story PETUALANGAN TINA AYU.
__ADS_1