Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
144. Dua Jenderal


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Ratusan prajurit berseragam merah sudah bergelimpangan tanpa nyawa di lapangan luas depan Istana Naga Langit. Mereka adalah para prajurit Pasukan Naga Hitam. Sementara di tangga yang naik ke Istana Naga Langit, penuh oleh barisan beratus-ratus prajurit. Pasukan itu menutup rapat akses menuju ruang persidangan di mana Kaisar Long Tsaw dan para pejabat sedang berada.


Nun jauh di depan sana, gerbang besar yang menjadi pintu pertama menuju ke Istana Naga Langit telah hancur parah. Dentuman besar tadi diduga berasal dari hancurnya gerbang itu.


Kini di tengah lapangan Istana Naga Langit berdiri dua orang manusia yang tidak dikenal oleh para penghuni lingkungan Istana. Orang pertama adalah Biksu Hitam, orang sakti dari Kuil Tanpa Dosa yang kemarin ditemui oleh Tu Xie Yua.


Orang kedua adalah juga seorang tua, tetapi penampilannya seperti seorang perwira prajurit. Lelaki berjenggot panjang berwarna putih itu mengenakan pakaian perang berwarna merah dengan lapisan zirah berwarna kuning emas yang sudah kusam. Kepalanya dilindungi helm kuning emas, hanya wajah tuanya yang terlihat. Di punggungnya menyilang dua pedang kembar berwarna merah. Dialah orang yang dikenal dengan nama Jenderal Ujung Langit, seorang pendekar sakti yang juga kemarin didatangi oleh Tu Xie Yua. Nama aslinya Mong Tsing.


“Panah!”perintah seorang komandan.


Seset seset...!


Ratusan anak panah dilepaskan oleh pasukan panah, menciptakan hujan maut. Namun, apa yang terjadi hanya membuat Kaisar dan seluruh pasukannya terkejut.


Kedua orang tua itu dengan tenang berjalan mendekat ke arah tangga. Semua panah yang menghujani mereka seolah mengenai lapisan baja tidak terlihat yang melindungi tubuh keduanya. Hujan panah itu mentah semuanya.


Melihat kehebatan kedua orang asing itu jelas menjadi ancaman besar bagi Negeri Jang, terlebih mereka tahu-tahu sudah berada di jantung kekuasaan.


“Kaisar Long Tsaw!” sebut Mong Tsing dengan suara serak. Gema suaranya yang bertenaga dalam menciptakan intimidasi terhadap perasaan Kaisar Long Tsaw dan para pejabatnya.


“Hiruplah udara sebanyak-banyaknya, karena hari ini adalah waktu kematianmu dan putrimu!” Biksu Hitam yang menyambung perkataan Mong Tsing.


“Sesumbar yang tidak masuk akal!” seru satu suara perempuan tiba-tiba menanggapi Biksu Hitam. Seiring itu, di udara berkelebat sosok anggun Putri Yuo Kai dan mendarat halus di depan Pasukan Pengawal Kaisar.


Selanjutnya muncul pula seperti setan sosok Joko Tenang, empat langkah berdiri di sisi kanan sang putri. Joko Tenang sengaja muncul dengan cara seperti itu dengan tujuan memberi dukungan mental kepada pasukan kerajaan dan mencoba membuat lawan mengambil perhitungan.


Cara muncul Joko Tenang memang menarik perhatian Biksu Hitam dan Mong Tsing. Namun, sebagai orang digdaya, keduanya menilai itu bukan hal yang berbahaya bagi mereka.


Dua jenderal yang ada di dekat Kaisar Long Tsaw sudah tidak bisa menahan amarahnya. Amarah itu harus dilampiaskan. Terlebih mereka tidak ingin semakin banyak prajurit yang berguguran.


Sing!

__ADS_1


Jenderal Mok Jueng, Kepala Pasukan Naga Merah, mencabut sepasang pedang pendeknya yang ada di belakang pinggang. Selanjutnya dia berkelebat dan berlari menginjaki bahu-bahu barisan prajurit di tangga. Selanjutnya, dia melompat jauh ke depan, langsung menyerang Biksu Hitam.


“Tidak bisa dibiarkan berlarut-larut!” seru Jenderal Wai Yie, Kepala Pasukan Naga Hitam. Ia merampas satu tombak prajurit lalu berlari melompat jauh ke udara, melewati barisan prajurit yang ada di tangga.


Set!


Saat melompat itu, Jenderal Wai Yie melemparkan tombaknya dengan kekuatan bertenaga dalam kepada Mong Tsing.


Dua jenderal tinggi Negeri Jang kini telah turun tangan.


Dengan mudahnya Mong Tsing memasang telapak tangan kirinya menahan mata tombak yang datang dengan dahsyat. Tombak itu berhenti tertahan tanpa bisa menembus kulit telapak tangan Mong Tsing. Tombak itu bahkan hancur gugur berpatahan kecil-kecil.


Meski dibuat terkejut, Jenderal Wai Yie terus melanjutkan menyerang Jenderal Ujung Langit dengan senjata miliknya yang berupa dua mata kapak tanpa gagang, tetapi memiliki lubang untuk tempat genggaman.


Mong Tsing menghadapi dengan tangan kosong.


Set set!


Ketika mata kapak Jenderal Wai Yie ditangkis dengan tangan yang berpelindung zirah, ternyata irisan kapak itu bisa memotong sampai dalam, meski tidak sampai mengenai kulit. Itu menunjukkan bahwa senjata Jenderal Wai Yie cukup istimewa.


Ternyata, kedua tangan sang biksu kebal terhadap senjata tajam. Kedua pedang pendek Jenderal Mok Jueng mentah tidak berfungsi.


Pada satu waktu, sepasang mata pedang Jenderal Mok Jueng berhasil ditangkap oleh dua jepitan jari telunjuk dan jari tengah.


Ting!


Sekali gerak, jari-jari Biksu Hitam mematahkan kedua pedang itu.


Jenderal Mok Jueng membuang kedua pedang buntungnya. Ia segera mengerahkan ilmu kesaktiannya. Kedua lengannya mendadak menyala merah seperti bara api hingga ke jari-jari tangannya.


“Hiaat!” teriak Jenderal Mok Jueng sambil merangsek maju dengan hujanan tinju panas.


Bem bem bem!

__ADS_1


Namun, Biksu Hitam cukup memajukan telapak tangan kanannya berdiri terbuka. Menciptakan perisai bening tembus pandang menahan semua tinju maut itu.


Wes!


Ketika Biksu Hitam mengepalkan telapak tangannya, tiba-tiba perisai bening itu hilang dan berganti dengan satu gelombang tenaga kuat yang langsung mementalkan tubuh Jenderal Mok Jueng.


Sang jenderal jatuh keras, punggungnya menghantam lantai lapangan. Ia segera bangkit dengan gagah.


Namun, sang jenderal harus terkejut karena tiba-tiba sosok Biksu Hitam sudah berdiri sangat dekat dengannya. Tangan kanan Biksu Hitam mencengkeram tepian zirah berwarna perak Jenderal Mok Jueng.


Boom!


Tiba-tiba saja di tangan kanan sang biksu muncul sinar biru yang kemudian langsung meledak dan menghancurkan tubuh atas Jenderal Mok Jueng.


Semua orang Negeri Jang terkejut. Saat itu juga, sosok Jenderal Mok Jueng yang mereka kenal kini telah tidak ada di dunia ini.


“Jenderal Mok!” ucap Kaisar Long Tsaw dengan nada bergetar. Ia tidak menyangka akan kehilangan seorang Jenderal Mok Jueng.


Sementara itu, tubuh Jenderal Wai Yie terlempar jatuh oleh tendangan keras Mong Tsing.


Graurss!


Jenderal Wai Yie yang sudah kehilangan senjatanya tiba-tiba melepaskan sinar berbentuk kepala harimau kuning yang mengaum.


Sezz!


Mong Tsing yang mendapat serangan tingkat tinggi itu, langsung saja mencabut satu pedangnya di punggung yang langsung ditebaskan.


Tebasan itu membelah buyar sinar kepala harimau dan ternyata tebasan pedang itu melesatkan kiblatan sinar ungu.


“Jenderaaal!” teriak histeris para prajurit Pasukan Naga Hitam serentak. Mereka melihat langsung tubuh jenderal mereka terbelah dua oleh kiblatan sinar ungu.


“Dua jenderal kita tewas!” ucap Perdana Menteri La Gonho syok. Menurutnya, jelas itu pertanda yang sangat buruk.

__ADS_1


“Pengawal Angsa Merah!” teriak Putri Yuo Kai. (RH)


__ADS_2