Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 21: Lepas Rindu, Adu Sakti


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


Baru saja Kerling Sukma dan Helai Sejengkal hendak berkelebat naik ke punggung bukit, tiba-tiba ….


“Helai!”


Satu suara lelaki tiba-tiba memanggil dari arah belakang.


“Seperti suara Joko,” ucap Helai Sejengkal kepada Kerling Sukma.


Deg!


Terkejutlah Kerling Sukma dengan jantung tiba-tiba berdebar kencang dan darah mengalir cepat, seolah menjadi titik kritis bagi perasaannya. Ketika Helai Sejengkal cepat berbalik, Kerling Sukma tiba-tiba terpaku, seolah tidak sanggup untuk berbalik ke belakang.


Helai Sejengkal memang benar. Lelaki yang memanggilnya adalah Joko Tenang. Namun, Joko Tenang tidak bersama dengan Tirana atau Getara Cinta, tetapi dengan wanita muda berwajah buruk berpakaian merah yang Helai Sejengkal tidak kenal.


“Kau bersama siapa, Helai?” tanya Joko seraya berjalan tersenyum mendekati Helai Sejengkal.


Helai Sejengkal tidak menjawab. Ia justru bergerak menyentuh bahu kiri Kerling Sukma dengan lembut.


Tindakan Helai Sejengkal sedikit membuat Joko Tenang curiga, sehingga ia memilih berhenti dan memandang serius punggung gadis berpakaian hijau.


“Wanita ini, dilihat dari belakang saja sudah sangat cantik,” membatin Joko.


Sebagai seorang wanita yang memiliki bentuk tubuh yang indah, itu membuat Kerling Sukma terlihat tetap sangat cantik meski dipandang dari belakang.


Kerling Sukma perlahan balik kanan. Pandangan mata Joko Tenang dan Kerling Sukma langsung bertemu, saling menikam jantung lawan pandangnya. Satu rasa indah yang mengejutkan berdesir indah ke seluruh pembuluh darah pemuda tampan dan gadis jelita itu, membuat mereka seolah terbang berayun tanpa menjejak bumi.


“Joko,” ucap Kerling Sukma lirih di saat hatinya tiba-tiba begitu bahagia. Sepasang mata indahnya mendadak berkaca-kaca karena begitu terharu. Akhirnya cinta yang ia pelihara siang dan malam kini ia temukan, laksana memandang purnama di langit berbintang tanpa keberadaan segaris awan pun.


Melihat sepasang pupil mata indah yang berwarna hijau terang, bibir merah Joko Tenang seketika tersenyum lebar seiring rasa bahagia menggempur hati dan pikirannya.


“Hahaha! Kelling Sukma!” tawa Joko Tenang senang lalu menyebut nama Kerling Sukma dengan sengaja mencadelkan lidahnya.


“Hihihi…!”


Kerling Sukma yang awalnya ingin langsung marah kepada Joko Tenang, jadi tertawa kencang mendengar Joko Tenang memanggilnya dengan sebutan yang cadel. Jelas itu langsung mengingatkannya kepada masa mereka berdua, yang harus menderita cadel berjemaah karena memakan buah cumir.


“Joko! Aku akan menghaj…!” Kata-kata keras Kerling Sukma mendadak putus di tengah jalan karena tiba-tiba Joko berlari sangat cepat kepadanya.


“Kelling Sukma calon istliku!” teriak Joko sambil berlari dan menubruk peluk tubuh Kerling Sukma.


Kerling Sukma yang tidak menyangka sama sekali bahwa Joko Tenang akan berlari kepadanya, hanya bisa terpaku hingga Joko menabrak dan memeluknya, tetapi tidak sampai jatuh. Ia kira Joko tidak akan berani mendekatinya kurang dari empat langkah.

__ADS_1


“Hahaha!”


Suara tawa Joko terdengar dari kencang menjadi lemah, seiring menghilangnya tenaga pendekar sakti itu.


Sebelum Joko Tenang melorot jatuh ke tanah, buru-buru Kerling Sukma memeluk pemuda yang telah lama ia rindukan dan tunggu kedatangannya itu.


“Joko,” ucap Kerling Sukma lembut dengan tatapan sayu. Amarah yang ingin ia buat, telah hilang tenggelam dalam kebahagiaan.


“Kelling, apakah kau masih ingin menikah denganku? Apakah kau masih ingin menjadi istliku? Aku sudah siap menikah,” bisik Joko lemah di dekat telinga gadis yang kini tidak bisa ia peluk itu, tetapi justru memeluknya erat.


“Kenapa kau membuatku menangis, Joko?” Kerling Sukma justru balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Joko. Ia masih memeluk kuat Joko, tidak mau melepaskannya.


“Aku tidak akan pelnah punya niat untuk membuatmu menangis. Tellalu tega jika aku membuatmu sedih,” kata Joko lagi.


“Sejak kita belpisah, aku selalu menghayalkanmu. Tiada pagi, tiada senja dan tiada malam yang aku lalui tanpa menyebut namamu di bibil dan hatiku. Bayangmu selalu menjadi penyemangat aku untuk giat bellatih dan menjadi sakti. Namun, hali ini aku mendengal bahwa kau telah punya dua calon istli dan sudah menikah. Kau tahu, Joko, aku menangis mendengalnya, hatiku pelih,” ucap Kerling Sukma, sengaja berbicara cadel demi membumikan kenangan cinta mereka berdua.


“Maafkan aku, Sayang.”


Nyesss!


Laksana embun sejuk penyegar jiwa yang masuk kedalam kepala dan raga Kerling Sukma ketika mendengar Joko menyebutnya “sayang”. Ucapan maaf dan sayang itu seketika melelehkan kemarahan dalam diri si gadis. Sikap Joko itu membuatnya semakin cinta.


“Masih maukah kau menjadi istliku?” tanya Joko lagi dengan lemah. Sejak tadi kedua tangannya sudah terkulai menggantung tanpa bisa digerakkan.


Terkejutlah Joko, terlihat dari gerak matanya yang mendelik samar. Perasaannya seketika sedih.


“Sampai kau menjelaskan semuanya, kenapa sampai begitu mudahnya kau mengambil calon istli.”


Tersenyumlah Joko mendengar perkataan Kerling Sukma selanjutnya.


“Telima kasih sudah membeliku kesempatan,” ucap Joko.


Tiba-tiba….


Wusss!


Satu gelombang angin dahsyat yang menderu keras berhembus cepat menyerang Kerling Sukma dan Joko yang cukup lama berpelukan melepas rindu.


Angin pukulan berbahaya itu dilepaskan oleh Putri Sri Rahayu. Ia sejak tadi merasa ubun-ubunnya terbakar dan jengah melihat kemesraan Joko dengan gadis bermata hijau yang tidak dikenalnya itu. Putri Sri Rahayu cemburu. Karena pelukannya tidak kunjung lepas seperti lintah kasmaran, ia memutuskan untuk memisahkan keduanya.


Set! Brakr!


Sebelum angin itu mengenai ia dan Joko, Kerling Sukma membawa Joko Tenang melejit lurus ke atas, membuat angin pukulan lewat di bawah dan mematahkan sebatang pohon yang lumayan besar, bersama menghamburkan tetanahan bukit ke udara.

__ADS_1


Dari puncak lejitannya di udara, Kerling Sukma melempar tubuh Joko begitu saja. Tubuh Joko meluncur jatuh seperti kelapa rontok dari pohonnya. Namun, sebelum menghantam bumi, sebuah angin halus dari Kerling Sukma berhembus dari atas ke bawah dan menahan jatuh tubuh Joko, sehingga punggungnya bisa mendarat dengan lembut di tanah.


Blar!


Satu sinar putih berbentuk piringan kecil dilesatkan oleh Kerling Sukma dari atas yang menyerang langsung kepada Putri Sri Rahayu. Sang putri seketika menghilang dari tempatnya, membuat sinar putih Kerling Sukma menghancurkan tanah kosong, mengubahnya menjadi liang besar.


Sementara Helai Sejengkal hanya bisa terpaku melihat dua wanita itu tahu-tahu bertarung dengan serius.


Clap!


Tiba-tiba Putri Sri Rahayu muncul di atas depan Kerling Sukma yang baru menginjak bumi. Di tangan sang putri telah bercokol sinar merah berpijar dari ilmu Amarah Siluman.


Bluar!


Putri Sri Rahayu membanting sinar merahnya kepada Kerling Sukma. Namun, sinar itu hanya menghancurkan dengan dahsyat tanah bukit. Kerling Sukma yang menghilang lebih cepat, muncul pula dari atas kepala Putri Sri Rahayu.


Gadis beracun itu terkejut menyaksikan tingkat kecepatan Kerling Sukma yang sudah muncul di atasnya dengan ilmu lain siap dilepaskan.


“Dia bisa mengimbangi kecepatanku,” batin Putri Sri Rahayu.


Sress!


Kerling Sukma menghentakkan lengan kanannya dengan telapak terbuka. Dari telapak tangan itu melesat sangat cepat sinar-sinar hijau panjang yang kemudian turun berbentuk seperti kurungan ayam. Sangat cepat sehingga ujung-ujung sinar hijau itu menancap di tanah di sekeliling tubuh Putri Sri Rahayu membentuk kurungan. Setelah itu, kurungan sinar bergerak cepat merapat seolah bermaksud menjepit tubuh sang putri.


Blesss!


Blar blar blar!


Namun, sebelum kurungan sinar itu menjerat lebih dulu, dari dalam tubuh Putri Sri Rahayu meledak sinar merah ke segalah arah, memusnahkan ilmu Kurungan Ayam Dewa milik Kerling Sukma.


Ledakan sinar merah itu membuat Helai Sejengkal sebagai penonton terpental keras lalu jatuh setelah menghantam sebatang pohon.


Saat yang sama, beberapa pohon sekitar yang terkena ledakan ilmu Kecupan Iblis itu, berledakan batangnya. Dua pohon di antaranya berujung tumbang.


Sementara Joko Tenang yang baru mulai pulih, harus terpental keras ketika ia membentengi dirinya dengan hentakan tenaga dalam.


Kerling Sukma sendiri yang saat itu masih berada di udara. Terpental agak jauh, tapi ia masih mampu mendarat dengan sempurna di tanah.


Sinar ilmu Amarah Siluman telah bercokol di tangan kanan Putri Sri Rahayu. Sementara di tangan kanan Kerling Sukma juga sudah menyala bola sinar putih sebesar genggaman, tetapi diselimuti lidah api berwarna putih pula. Itu ilmu Api Putih.


Putri Sri Rahayu dan Kerling Sukma sama-sama melesat maju dengan ilmu Amarah Siluman dan Api Putih.


“Hentikan!” teriak Joko Tenang terkejut dan ngeri melihat kedua wanita yang disayanginya akan adu ilmu kesaktian.

__ADS_1


Namun, teriakan Joko terlalu terlambat dibandingkan dengan kecepatan gerak kedua gadis sakti itu. (RH)


__ADS_2