
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Setelah peringkusan penyusup dari Gunung Prabu yang bernama Tangpa Sanding, hiburan acara pernikahan Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Permaisuri Sandaria diputuskan untuk dihentikan. Pertandingan antarprajurit dibatalkan.
Tanpa berniat mengganggu Prabu Dira yang sedang tenggelam bersama istri keenamnya dalam telaga asmara, Ratu Getara Cinta memutuskan untuk menanggapi serius ancaman yang disampaikan oleh Tangpa Sanding. Karena itu, ia memimpin pertemuan dengan para pejabat yang telah dimiliki Kerajaan Sanggana Kecil.
Pertemuan di adakan di balairung. Hadir pada pertemuan tersebut antara lain: Permaisuri Nara, Permaisuri Tirana, Permaisuri Kerling Sukma, Amangkubumi Turung Gali, Mahapati Putri Sagiya, Kepala Teliksandi Kusuma Dewi, dan Senopati Batik Mida.
“Aku rasa adalah suatu penghinaan bagi satu pemerintahan jika ada musuh berhasil menyusup masuk sampai ke pusat pemerintahan. Kejadian tadi mungkin masih bisa kita maklumi karena ini adalah hari pertama kita menjalankan pemerintahan dan lalai dalam acara pernikahan Gustri Prabu. Orang yang bernama Tangpa Sanding tadi mengatakan bahwa ada lima rekannya yang akan menyerbu masuk sebelum matahari terbenam. Aku minta tanggapan kalian!” ujar Ratu Getara Cinta.
“Jika kita tidak menginginkan mereka masuk, artinya kita harus mencegat mereka di luar perbatasan wilayah kita, yaitu di luar hutan,” kata Turung Gali.
“Teliksandi harus bekerja lebih dulu sebelum kita mengambil sikap,” kata Senopati Batik Mida.
“Siapa yang bisa aku andalkan untuk memantau ke luar sana?” tanya Kusuma Dewi, karena hingga saat ini dia belum memiliki seorang pun teliksandi, meski jabatannya sudah Kepala Teliksandi.
“Oh!” desah Senopati Batik Mida segera mengerti kendala Kusuma Dewi. “Aku memiliki dua puluh prajurit teliksandi dalam pasukanku.”
“Serahkan seluruh prajurit itu kepada Kusuma Dewi, Senopati!” perintah Ratu Getara Cinta.
“Baik, Yang Mulia Ratu,” ucap Senopati Batik Mida. Ia lalu memanggil seorang prajurit yang berjaga di balairung itu.
Prajurit yang dipanggil segera menghadap.
“Sampaikan perintahku kepada Mungkir Lang untuk mengumpulkan semua teliksandi secepat mungkin!” perintah Senopati Batik Mida.
“Baik, Gusti,” ucap prajurit itu lalu segera mundur seraya menjura hormat, kemudian berbalik pergi.
Senopati Batik Mida lalu berkata kepada forum, “Aku dan lima puluh pasukanku akan bersiap di balik pepohonan di perbatasan hutan. Kami akan menunggu kabar dari teliksandi.”
“Baik,” ucap Kusuma Dewi.
“Ikut sertakan Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat dalam pasukanmu, Senopati. Kelompok yang kita hadapi adalah kalangan pendekar, bukan prajurit biasa!” perintah Ratu Getara Cinta.
“Sehubungan aku belum ada kegiatan, aku akan turun memantau untuk menilai sejauh mana kehandalan prajurit Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Permaisuri Kerling Sukma.
__ADS_1
“Itu langkah bagus untuk menjaga kemungkinan adanya kekuatan tidak terduga dari pihak lawan,” puji Permaisuri Nara.
“Dua prajurit Pengawal Bunga akan mengawalmu, Mata Hijau,” kata Ratu Getara Cinta.
Setelah pertemuan itu, Kusuma Dewi segera mengarahkan kedua puluh pasukan teliksandinya. Sepuluh orang teliksandi ia tugaskan ke Gunung Prabu, sementara sisanya ia tugaskan ke tempat lain.
Senopati Batik Mida bergerak bersama lima puluh prajurit berseragam hitam-hitam, lengkap dengan persenjataannya. Tiga bajak laut turut serta dalam pasukan itu sebagai prajurit nonmiliter.
Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat merasa bangga, karena mereka mendapat tugas perdananya sebagai prajurit Kerajaan Sanggana Kecil.
Sementara itu, Reksa Dipa dan Surya Kasyara melangkah gagah di koridor depan Istana setelah mereka mendapat panggilan untuk menghadap Permaisuri Kerling Sukma.
Ketika keduanya tiba di hadapan Permaisuri Kerling Sukma, terlihat Surya Kasyara tersenyum-senyum terkagum melihat kecantikan sang permaisuri yang begitu indah, terlebih ia bisa memandangnya dari dekat. Sementara Reksa Dipa tanpa reaksi, wajahnya datar dan dingin.
“Hormat hamba, Yang Mulia Permaisuri Keempat!” ucap kedua pemuda tampan itu seraya turun berlutut menghormat.
“Bangkitlah. Ayo kita ke Gunung Prabu!” ajak Permaisuri Kerling Sukma.
“Baik, Yang Mulia!” ucap mereka.
Clap!
Di kaki Gunung Prabu, tepatnya di luar hutan wilayah Kerajaan Sanggana Kecil, prajurit-prajurit teliksandi sedang beroperasi. Mereka bergerak sendiri-sendiri dengan kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi.
Seorang teliksandi, selalu memantau lebih dulu wilayah di sekitarnya dan di depannya sebelum bergerak maju, untuk memastikan bahwa keberadaan mereka benar-benar tidak diketahui oleh seseorang pun. Kesepuluh prajurit yang Kusuma Dewi kerahkan bergerak tersebar dengan perhitungan radius wilayah sejauh mata memandang. Jadi, tidak ada satu prajurit teliksandi dengan prajurit yang lain saling bisa melihat posisinya.
Pada akhirnya, satu orang prajurit teliksandi berhasil melihat keberadaan lima orang berperawakan pendekar. Kelima orang itu berkumpul di satu tempat. Sementara posisi prajurit teliksandi cukup jauh dan sangat terlindung.
Agar tidak diketahui keberadaannya, prajurit itu diam tidak bergerak sedikit pun, bahkan untuk bernapas pun ia lakukan dengan perlahan.
Lima orang yang dilihat oleh prajurit teliksandi itu terdiri dari tiga lelaki dan dua wanita. Mereka terkesan menunggu. Jauhnya jarak membuat prajurit tersebut tidak bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan. Namun, ia berusaha membaca bahasa tubuh mereka.
Setelah memantau selama sepenanakan nasi, prajurit itu bergerak sangat halus untuk menjauhi area tersebut. Alhasil, tindakannya tidak membuat kelima orang di sana mencurigai keberadaannya.
Setelah dirasa aman, barulah prajurit itu berlari dan berkelebat pergi menuju hutan wilayah Kerajaan Sanggana Kecil.
“Lapor, Gusti!” lapor prajurit tersebut setelah tiba di tempat Kusuma Dewi menunggu.
__ADS_1
“Katakan!” perintah Kusuma Dewi.
“Ada lima orang pendekar yang berposisi menunggu di pinggang gunung. Tiga lelaki dan dua wanita. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi beberapa kali gerakan mereka menunjukkan bahwa hal mereka berhubungan dengan matahari!” lapor prajurit tersebut.
“Cepat sampaikan laporan ini kepada Senopati agar arah pergerakan pasukan tepat sasaran!” perintah Kusuma Dewi.
“Baik, Gusti,” ucap prajurit tersebut.
Sang prajurit kemudian pergi menghadang pergerakan Senopati Batik Mida yang masih berada di dalam hutam bersama pasukannya. Ia lalu menyampaikan informasi tentang di mana posisi lima orang yang dilihatnya.
Berdasarkan informasi itu, Senopati Batik Mida bisa langsung mengatur strategi. Ia mengirim dua puluh prajurit pembuka yang dipimpin oleh Kurna Sagepa. Pasukan itu akan langsung mendatangi kelima pendekar yang mencurigakan.
Senopati Batik Mida membawa sepuluh prajurit dengan rute memutar yang akan mengepung dari arah barat. Sementara Garis Merak dan Swara Sesat memimpin dua puluh prajurit lainnya menyergap dari arah timur.
Di tempat lain, seorang prajurit teliksandi lain datang menghadap kepada Kusuma Dewi.
“Lapor, Gusti. Ada tiga orang asing keluar dari Hutan Malam Abadi dan bergerak menuju batas barat hutan ini!” lapor prajurit teliksandi tersebut.
“Ada berapa pasukan yang berjaga di perbatasan barat?” tanya Kusuma Dewi.
“Tiga puluh prajurit.”
Kusuma Dewi terdiam sejenak. Dia berpikir.
“Namun, menurut dugaanku mereka sedang dikejar,” tambah prajurit.
Seolah langsung mendapat gambaran cemerlang berdasarkan keterangan tambahan dari sang prajurit, Kusuma Dewi langsung berkata, “Ayo cepat kita ke sana!” (RH)
**************
Tanpa syair dan kata-kata mutiara
Tanpa ketupat sayur ataupun baju baru
Menjelang datangnya Hari Raya
__ADS_1
Author ucapkan mohon maaf sepanjang waktu