Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 16: Tamu Serigala


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Semua bersyukur bahwa Pangeran Joko Tenang tidak apa-apa setelah diculik oleh sosok misterius, demikian pula dengan ketiga calon istrinya. Setelah Joko Tenang dan Kerling Sukma kembali ke perguruan, mereka semua bisa melanjutkan istirahatnya dengan tenang hingga kokok ayam berteriak agak kesiangan.


Mulai pagi itu, kesibukan pun digelar. Rutinitas latihan para murid untuk sementara libur. Sejumlah murid dikerahkan untuk mencari banyak janur. Tidak ada murid perguruan yang judulnya menganggur.


Panggung besar dibangun untuk acara gamelan dan tarian. Tenda dibangun memanjang beratapkan rumbia dan beralaskan tikar anyaman daun pandan.


Kerajinan janur dipasang di setiap pintu gerbang, wewangian ditebar di segala ruang, kaum wanita berkumpul memasak, menggoreng, hingga memanggang, dan ketiga calon pengantin perempuan mendapat pelayanan kecantikan oleh tim tatarias dan tata kecantikan.


Keempat calon pengantin benar-benar dilarang melakukan kegiatan, apalagi sampai turun bertarung.


Perguruan pun telah mengkondisikan tersedianya kamar-kamar inap untuk para tamu yang memang harus bermalam. Kamar-kamar pun ditata serapi, seindah dan seharum mungkin.


Di bidang keamanan, penjagaan diperketat untuk menghindari adanya penyusup tidak dikenal atau timbulnya kekacauan.


Pada masa-masa kegembiraan semua orang itu, Joko Tenang justru memendam satu bait kesedihan. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah kondisi Ginari.


“Kakang, seharusnya kita semua bahagia, setidaknya kita sama-sama tahu bahwa Ginari masih hidup. Kakang harus fokus dulu pada pernikahan ini. Kita selesaikan satu demi satu. Setelah ini selesai, nanti kita rembukkan bagaimana cara mengatasi pemberontakan Ginari tanpa harus melukainya dan bisa bersatu lagi bersama kita,” kata Tirana tidak lama setelah mereka kembali dari berurusan dengan Ginari pada malam itu.


“Iya,” jawab Joko Tenang mengangguk seraya tersenyum. Ia membenarkan pikiran Tirana. Menyedihkan dan memikirkan nasib Ginari tidak akan banyak membantu untuk saat itu, justru berpotensi mengacaukan acara yang sudah lama mereka harapkan terwujud.


Pada hari pertama belum ada acara penting yang digelar, hanya kegiatan yang bertujuan memastikan bahwa semua hal sudah siap dengan sempurna. Acara seserahan ala pendekar akan dilaksanakan pada keesokan harinya.


Keesokannya lagi adalah acara penyambutan tamu dan pengenalan kepada semua calon pengantin. Acara itu dilakukan sebelum hari pernikahan karena setelah hari ucap janji suci, pengantin tidak boleh diganggu sedikit pun oleh keluarga ataupun tamu. Pertimbangan itu diambil karena orang yang menikah adalah level pendekar, orang-orang yang memiliki tenaga ekstra tanpa perlu obat kuat atau obat tahan lama. Jadi, pasangan pengantin bisa melakukan urusan ranjang sehari semalam suntuk.


“Tamu datang!” teriak seorang murid yang bertugas mengumumkan jika ada tamu yang datang. Teriakannya pun bukan sekedar teriak, tetapi mengandung tenaga dalam sehingga bisa terdengar jelas sampai ke mana-mana. “Tumbuk Gertak dan istrinya Sari Tembaya telah tiba!”

__ADS_1


Tumbuk Gertak adalah paman dari Jaga Manta dan Kerling Sukma. Ia adalah adik dari ayah mereka, Sangar Hentak.


Setelah menemui Ketua Perguruan Tiga Tapak, Lili Angkir dan Gatri Yandana, Tumbuk Gertak dan Sari Tembaya khusus pergi menemui keponakan mereka yang saat itu sedang dalam proses pemaskeran wajah. Masker wajah yang digunakan dibuat dari buah bengkuang yang dihaluskan. Tirana dan Getara Cinta dalam prosesi yang sama.


Tumbuk Gertak dan istrinya harus sedikit kecewa karena belum bisa langsung melihat wajah keponakannya. Namun, masih ada kesempatan yang lain.


Akhirnya, Tumbuk Gertak bergabung bersama Jaga Manta, Pendekar Seribu Tapak, Ki Ranggasewa, Pangeran Arya Duduwani dan Turung Gali, menikmati hiburan di panggung yang sudah mulai digelar. Mereka menonton tarian para penari dan menikmati musik gamelan yang indah didengar, sambil menikmati suguhan minuman dan panganan santai. Sementara Sari Tembaya bergabung dengan Lili Angkir dan Gatri Yandana.


Cring!


Tiba-tiba terdengar suara lonceng gelang yang keras. Suara itu sontak mengejutkan Joko Tenang dan para gadisnya, termasuk Ki Ranggasewa dan Nyi Lampingiwa.


Dugaan mereka tidak perlu menunggu jawaban karena segera terjawab.


Grrr! Graurr! Grrr!


“Ada penyusup!”


“Ada penyerang!”


“Ada siluman! Ada siluman!”


“Ada ciuman! Ada ciuman!”


Tiba-tiba terdengar suara geraman binatang seperti anjing atau harimau. Suaranya terdengar keras tidak seperti suara geraman binatang biasa pada umumnya.


Namun, sedetik setelah itu, semua orang yang ada di halaman utama, tepat di depan balairung, terkejut bukan alang kepalang. Seketika murid-murid perguruan menjadi panik dan berteriak-teriak untuk memberi tahun seisi perguruan.

__ADS_1


Sebanyak sembilan serigala besar menakutkan, berbagai corak warna bulunya, telah berdiri di tengah-tengah halaman, membuat ciut manusia di halaman itu.


Kesembilan serigala itu berdiri bersiaga dengan formasi melingkar saling membelakangi. Dua serigala terbesar, berbulu serba hitam dan serba perak, berdiri berdampingan menghadap ke arah bangunan utama perguruan.


Di punggung serigala berbulu perak bernama Samudera duduk seorang nenek berambut perak beralis putih. Nenek berwajah ras asing itu mengenakan mantel cokelat. Ia adalah tokoh tua persilatan yang bernama Santa Marya, berjuluk Serigala Perak. Ia adalah tokoh sakti yang jarang memunculkan diri, lebih sering sibuk menikmati masa tua bersama para serigalanya.


Jika ada Serigala Perak dengan Samudera, maka orang kedua yang duduk di atas serigala hitam bernama Satria adalah Putri Serigala, Sandaria. Kemunculan gadis buta jelita nan mungil ini telah berhasil menggoda hati, perasaan dan pikiran Joko Tenang.


Kemunculan keduanya bersama sembilan serigala membuat pemain gamelan dan para penari berhenti bekerja. Mereka selaku orang biasa, seketika diliputi ketakutan.


“Joko Tenang! Keluar! Batalkan pernikahan ini!” teriak Santa Marya yang mengandung tenaga dalam.


Mendengar kalimat teriakan itu, seisi perguruan jelas terkejut, demikian pula dengan Joko Tenang dan ketiga calon istrinya, termasuk Putri Sri Rahayu yang sedang menyaksikan acara luluran dan maskeran ketiga calon pengantin perempuan.


Semua murid perguruan yang ada di luar tidak ada yang berani mendekat. Namun, para murid yang jumlahnya puluhan orang segera membentuk formasi mengepung dalam jarak aman. Orang-orang yang ada di dalam pun segera berkeluaran. Mereka terkejut bukan alang kepalang melihat siapa yang hadir.


Ketua Perguruan Tiga Tapak Jaga Manta, Pendekar Seribu Tapak, Ki Ranggasewa, Pangeran Arya Duduwani, Tumbuk Gertak, dan Turung Gali segera berpindah tempat untuk menyambut kedatangan Serigala Perak dan cucunya yang tiba-tiba tanpa melalui pintu gerbang.


“Selamat datang di Perguruan Tiga Tapak ini, Serigala Perak!” kata Pendekar Seribu Tapak menyambut ramah.


“Hemm!” gumam Serigala Perak dengan bibir mencibir dan mata menyipit memandangi kelima lelaki itu. Lalu katanya, “Rupanya ini adalah perguruanmu, Seribu Tapak.”


“Apakah kau masih mengenaliku, Santa Marya?” tanya Ki Ranggasewa seraya tersenyum. Ia menyebut nama asli si nenek, menunjukkan tingkat kedekatan dirinya dengan Serigala Perak.


“Siapa yang lupa dengan pemuda baik hati yang sempat aku harapkan bertahun-tahun lamanya, tapi hanya memberi harapan kosong?” kata Serigala Perak dengan wajah yang sinis, tanpa senyum. Lalu tegasnya, “Aku tidak peduli bahwa pelaksana pernikahan ini adalah para sahabatku. Pernikahan ini harus dibatalkan. Joko ditakdirkan sebagai suami dari cucuku, bukan suami wanita lain!”


Kelima lelaki itu saling berpandangan. Khususnya bagi Pendekar Seribu Tapak dan Ki Ranggasewa, mereka mengenal karakter nenek serigala itu. Serigala Perak memeiliki karakter keras dalam mempertahankan pandangan yang menurutnya benar. Masalahnya, nenek berambut perak itu kini memahami bahwa yang benar adalah Joko Tenang adalah calon suami cucunya seorang saja. (RH)

__ADS_1


__ADS_2