
*Desa Wongawet*
Masih terlukanya Puspa akibat dari pertarungan dengan Pangeran Baijin, membuat pemilik ilmu Gerbang Tanpa Batas itu tidak bisa menggunakan ilmunya untuk bisa langsung pulang ke Rimba Berbatu.
Daripada harus menunggu hingga Puspa sembuh total, akhirnya Joko Tenang memutuskan menggunakan jasa Gimba.
Gimba adalah seekor burung rajawali raksasa yang berasal dari Alam Kahyangan. Ada beberapa pendekar atau tokoh persilatan yang memiliki Hewan Alam Kahyangan seperti Gimba, salah satunya adalah Joko Tenang.
Gimba yang sudah pernah terbang ke Rimba Berbatu, tentu hapal harus terbang ke arah mana.
Gunung-gunung, lembah-lembah, hutan-hutan, gurun, dan samudera luas, Gimba harus lalui dengan kecepatan terbang yang luar biasa.
Joko Tenang harus menerima risikonya. Kini, ia terbaring lemah tanpa tenaga di atas leher Gimba yang besar. Sementara kepalanya berbantalkan paha Tirana. Wanita cantik jelita yang berjuluk Gadis Penjaga itu kini benar-benar menjaga calon suaminya dalam pangkuannya.
Berbekal pengalaman bersama istrinya, Putri Yuo Kai, selama di atas ranjang pada hari pernikahan dan malam pertamanya, Joko Tenang memutuskan mengikhlaskan diri untuk menjadi lemah di dalam kasih sayang Tirana.
Joko Tenang memang menjadi sangat lemah tanpa tenaga, bahkan mengangkat tangan pun tidak sanggup. Bicara pun lemah dan terbata-bata. Namun dalam kondisi lemahnya itu, ia bisa merasakan kenyamanan saat Tirana berada begitu dekat dengannya. Belaian lembut tangan Tirana di kepalanya dan sentuhan jemari calon istri di kulit wajahnya, memberi desiran indah yang mengalir di antara syaraf-syaraf lemahnya.
Gara-gara sudah merasakan yang namanya menikah, Joko merasa ketagihan untuk dimanja oleh wanita yang mencintainya.
Dan bagi Tirana, berdua di atas leher Gimba itu adalah masa-masa paling indah baginya selama bersama sang pangeran. Hanya ia berdua dengan Joko Tenang, begitu dekat tanpa ada jarak lebih dari tiga langkah, dibelai oleh kencangnya angin di angkasa. Sambil tersenyum ia bisa menikmati wajah pucat Joko sepuasnya dari jarak yang sangat dekat.
“Kakang, boleh aku mencium keningmu?” tanya Tirana pada satu waktu.
Joko Tenang tidak menjawab, tetapi hanya memberikan senyuman lemah dengan mata yang sayu. Isyarat “iya” itu membuat Tirana tersenyum malu, tetapi tetap saja ia menurunkan wajahnya ke wajah Joko.
Cup!
Halus kecupan bibir yang ia berikan kepada dahi calon suaminya itu, lebih halus dari setiap kali ia memberikan Kecupan Malaikat.
Setelah itu, senyum Tirana semakin lebar dan semakin tersipu malu. Wajah putihnya sampai benar-benar memerah semu, diikuti oleh kibaran rambutnya yang ia biarkan terurai indah. Rasa syur di dalam dadanya terasa begitu tajam menyebar hingga ke bawah. Satu rasa bahagia yang baru kali ini ia rasakan begitu menggoda nafsu birahinya.
Namun, Tirana tahu batasannya. Ia belum menjadi istri Joko Tenang. Bahkan untuk menyentuh bibir merah calon suaminya itu, ia tidak akan melakukannya. Di dalam hati ia telah berkomitmen, lahir batin miliknya baru akan ia serahkan pada malam pertama setelah pernikahan mereka.
“Di benakku... ada pertanyaan,” ujar Joko lemah kepada Tirana pada satu ketika, kalimatnya terputus-putus tidak kuat menahan napas panjang.
“Apa, Kakang?” tanya Tirana.
“Rompi Api Emas... menyelamatkanku. Tapi... ada kekuatan lain... di dalam... tubuhku. Yang aku... tidak tahu... membuatku lebih... kuat,” kata Joko, tersengal-sengal dengan tatapan yang sayu kepada gadisnya.
“Jika pemilik Permata Darah Suci bisa dibuat sesakti itu hanya dengan memakainya di jari manis, tentunya Permata Darah Suci yang ada di dalam tubuh Kakang juga bisa membuat Kakang menjadi lebih sakti. Kakang harus ingat, di dalam tubuh Kakang ada Permata Darah Suci yang adalah nyawa bagi Ratu Getara Cinta,” jelas Tirana.
“Aku tidak terpikir... permata itu akan... memberi pengaruh... seperti itu.”
__ADS_1
“Apa Kakang sudah siap, dari seorang sakti luar biasa, dalam waktu semalam kelak akan menjadi orang biasa tanpa tenaga dalam?” tanya Tirana.
Joko Tenang tersenyum lemah seraya memejamkan kelopak matanya.
“Jika memiliki... istri sepertimu... yang bisa diharapkan, tentu aku siap,” jawab Joko.
“Selama itu, Kakang tidak akan bisa memanggil Gimba,” kata Tirana.
Joko Tenang hanya tersenyum lemah.
“Bagaimana penilaianmu... terhadap Putri Yuo Kai?”
“Wanita yang luar biasa. Ia memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Aku sangat senang melihatnya ketika ia berpakaian perang. Auara kepemimpinannya begitu kuat. Melihat Putri Yuo Kai aku jadi teringat adik Kakang.”
“Siapa?”
“Namanya Putri Sagiya Riangga Liya.”
“Apakah adik tiriku cantik?” tanya Joko, matanya masih terpejam.
“Sangat cantik, tetapi lebih cantik calon istrimu ini. Hihihi!” jawab Tirana lalu tertawa sendiri karena memuji dirinya sendiri.
Senyum Joko Tenang terlihat lebih lebar. Ia buka sepasang mata lelahnya, seakan ingin mempertegas ingatannya terhadap kecantikan Tirana. Joko memandang lekat wajah Tirana yang jadi tersenyum malu. Tatapan sunyi itu cukup lama tanpa kedip, seolah akan menjadi tatapan untuk yang terakhir kali.
“Siapa?” Tirana justru balik bertanya. Ia menjadi lupa topik bahasan sebelumnya. Hingga akhirnya ia cepat teringat, “Oh, Putri Sagiya. Meski aku seorang gadis desa yang tidak pernah masuk ke lingkungan Istana, tetapi Putri Sagiya sering berkunjung ke rumahku. Kami bersahabat sangat dekat. Dia gadis yang sangat baik. Hanya saja, kadang usil dan jahil.”
“Lalu, bagaimana dengan... Ratu Getara?” Joko segera mengalihkan topik pembicaraan.
Pembahasan tentang keluarganya memberi Joko Tenang rasa sakit di hati. Hingga kini ia hanya tahu bahwa ibunya telah meninggal sejak ia masih bayi. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba ia memiliki cerita sebagai anak dari seorang raja, Raja Kerajaan Sanggana.
Ia bertekad, sekembalinya ia ke Bukit Geluguk, ia akan mengorek cerita tentang orangtuanya sejelas-jelasnya.
“Menurutku, Ratu Getara harus menjaga harga dirinya sebagai seorang ratu, karena itulah ia hanya memberi isyarat. Dugaanku, Ratu menginginkan, Kakang yang meminta kepadanya agar mau menjadi istri Kakang,” jawab Tirana. “Aku menjadi calon istri Kakang karena melaksanakan hukuman dari Gusti Mulia. Ginari menjadi calon istri Kakang karena salah paham, karena Kakang dituduh menodainya. Putri Yuo Kai menjadi istri Kakang karena Kakang kalah tanding, hihihi!”
Pada bagian itu, Tirana tertawa. Joko hanya ikut tersenyum. Ia membenarkan perkataan Tirana.
“Setelah memberikan Permata Darah Suci kepada Ratu, Kakang harus memintanya langsung dan jelas. Aku yakin, Ratu tidak akan menolak.”
“Ada yang aku ragukan. Ratu berjanji... akan menyerahkan tahtanya... kepada Puspa. Tapi... apakah Puspa bisa menjadi... ratu?”
“Entahlah, Kakang. Aku juga meragukannya. Aku khawatir jika dia menjadi ratu, lalu marah, prajuritnya diperintahkan bunuh diri.”
“Apakah dia... masih di bawah?”
__ADS_1
“Puspa menikmati perjalanan ini.”
Saat ini Puspa memang menikmati perjalanannya. Ia duduk di ceker Gimba sambil satu tangannya memeluk batang kaki Gimba.
“Hihihi...!” Puspa tertawa nyaring dan panjang. Suara tawanya bahkan bisa didengar oleh Joko dan Tirana.
Puspa tertawa ketika Gimba mulai terbang di atas lautan. Selama hidupnya, Puspa tidak pernah bertemu yang namanya laut. Maka, ketika ia melihat limpahan air biru yang begitu luas tidak berujung, ia terperangah takjub, lalu tertawa kencang.
Ia teringat beberapa hari lalu, betapa menyenangkannya mandi di air telaga saat masih berada di wilayah Negeri Lor We.
“Ayam! Ayam! Turuuun!” teriak Puspa kepada Gimba.
Namun, Gimba tidak merespon teriakan Puspa.
“Hei Ayam! Turuuun!” teriak Puspa lagi, ia terlihat kesal memandang paruh besar Gimba yang tidak menggubrisnya.
Puspa dengan kesal bergerak berdiri. Ia lalu menonjok-nonjok kaki bersisik tebal Gimba.
“Hei Ayaaam! Apa kau tidak mengerti perkataan Puspa, hah?!” teriak Puspa emosi. “Puspa mau mandi!”
Tiba-tiba Puspa melompat terjun. Tubuhnya meluncur deras menembus gumpalan awan yang berlapis menuju ke laut samudera.
“Hihihi...!”
Jbur!
Tubuh Puspa benar-benar jatuh masuk ke dalam air laut. Tingginya tempat asal ia melompat membuat tubuhnya cukup dalam tenggelam.
Blep blap!
Di dalam laut, Puspa tiba-tiba gelagapan. Ia terkejut bukan main di dalam air, sampai-sampai ada air yang masuk ke tenggorokannya. Ia terkejut saat merasakan rasa air laut itu.
Buru-buru ia berusaha berenang ke permukaan.
Sementara di atas angkasa sana. Joko dan Tirana agak terkejut ketika Gimba tiba-tiba bermanuver. Gimba tiba-tiba terbang berputar lalu menukik tajam.
Puspa yang berenang naik ke permukaan, terkejut saat melihat ada bayangan besar datang dari atas ke arahnya.
Jbuar!
Laksana seekor elang menyambar ikan di permukaan air laut, seperti itulah Gimba ketika menyambar tubuh Puspa di balik permukaan air, lalu membawanya terbang kembali ke angkasa. Meski cakar kaki Gimba begitu besar, tetapi Gimba bisa mengukur kadar kekuatan cengkeramannya terhadap tubuh gadis cantik lagi liar itu.
“Hoekh! Hoekh!”
__ADS_1
Puspa benar-benar merasa menyesal terjun ke laut. Ia sedikit pun tidak tahu bahwa air laut itu begitu asin dan tidak enak. (RH)