
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Mega Kencani berlari terhuyung-huyung memasuki pekarangan sebuah rumah bambu berlantai tanah. Ia dalam kondisi terluka dalam setelah bertarung dengan Nini Silangucap.
“Grayugantang!” teriak Mega Kencani sambil menerobos masuk ke dalam rumah bambu itu.
“Setan Perempuan bodoh!” maki seorang lelaki tua kelabakan, karena ia dalam kondisi tanpa busana sedikit pun dan sedang berada di atas tubuh seorang perempuan gemuk, yang juga seragam dengannya.
Lelaki tua berusia separuh abad itu buru-buru menyambar kain biru yang tergeletak di balai-balai dan langsung ia lingkarkan di pinggang guna menutupi area terlarangnya. Sementara si wanita gemuk berlari imut sambil memeluk badan depannya sendiri masuk ke dalam kamar.
“Perempuan tidak tahu adab! Kau mau aku gauli sekalian, hah?!” maki lelaki berjenggot kambing itu marah sambil menyergap Mega Kencani, memeluk dan berusaha menciuminya.
“Lelaki tua mesum!” maki Mega Kencani sambil mendorong keras tubuh berkeringat lelaki itu.
Lelaki tua yang sedang berdenyut-denyut gairahnya itu terdorong nyaris jatuh ke sudut ruangan depan.
“Kau jangan macam-macam kepadaku, Grayugantang!” kecam Mega Kencani.
“Kenapa kau main masuk sembarangan? Kau tidak tahu, aku sedang berusaha sekuat tenaga, hah?!” bentak lelaki yang disebut bernama Grayugantang itu.
“Salahmu sendiri! Kau punya kamar, tapi kau malah memanjat di balai. Jangan salahkan aku kalau aku melihat bayi tua. Hihihi!” kata Mega Kencani lalu tertawa. “Pergilah! Kuras dulu kendi tuamu itu, setelah itu bantu obati aku karena aku ada berita penting untukmu!”
“Tapi aku ingatkan, jangan mengintip!” kata Grayugantang, tokoh silat aliran hitam yang dikenal dengan julukan Malaikat Pedang Air.
“Cuih!” Mega Kencani meludah ke lantai tanah. “Kau pikir aku bernafsu melihat punyamu yang jamuran itu!”
“Hahaha! Seandainya kau merasakan keperkasaanku, aku yakin kau tidak akan pernah mau mencari yang muda-muda lagi. Hahaha!” kata Grayugantang, lalu berbalik sambil tertawa, berjalan masuk ke kamar. Ia tidak sadar bahwa dua gumpalan bokong hitamnya tidak tertutupi oleh kain yang ia ikat di pinggangnya.
Mega Kencani terpaksa harus menunggu sambil menahan rasa sakit di dalam dadanya, rasa sakit karena luka dalamnya, bukan sakit karena cemburu. Ia hanya hembuskan napas kesal saat mulai mendengar suara desahan perempuan dan suara gebahan Grayugantang dari dalam kamar.
Sejenak Mega Kencani memandangi dinding kamar yang terbuat dari bilah-bilah bambu yang memiliki banyak lubang celah kecil-kecil. Mega Kencani tersenyum sendiri. Ia lalu berjalan pelan merapat ke dinding kamar. Ia tempelkan wajahnya pada dinding dan menempatkan matanya pada celah tipis di dinding. Ia mengintip, membuat nafsu dan gairahnya juga terpancing. Namun, ia masih sanggup menahan.
Hingga akhirnya waktu pun berlalu.
Grayugantang keluar dari kamarnya dengan kondisi sudah bercelana rapi. Keringatnya sudah ia keringkan dengan lap. Ia mengenakan baju warna hitam, warna yang sama dengan celananya. Sementara wanita gemuk yang baru saja digarap memilih bertahan di dalam kamar.
__ADS_1
“Siapa perempuan itu?” tanya Mega Kencani yang sudah lebih dulu duduk kembali di balai.
“Ayam piaraanku, hahaha!” jawab Grayugantang yang sudah Bahagia karena sukses memanjat di siang itu. “Siapa yang melukaimu?”
“Nini Silangucap. Dia memergoki aku melumpuhkan kesaktian guruku dengan pusaka ini.”
“Tapi kau bisa kabur darinya?” tanya Grayugantang lagi.
“Aku berhasil menghancurkan satu kakinya.”
“Buka bajumu!” perintah Grayugantang.
“Untuk apa?!” tanya Mega Kencani membentak.
“Mengobatimu!”
“Kau jangan membodohiku, Pedang Air. Aku tahu kau memiliki cara pengobatan lewat pedangmu,” kata Mega Kencani.
“Hahaha! Aku kira kau lebih suka cara pengobatan khususku,” kata Grayugantang santai yang didahului dengan tawanya. “Duduklah yang tenang!”
Cresrrr!
Setelah berdiri dengan kedua kaki terbuka, napas teratur dan pikiran berkonsentrasi, Grayugantang mendorong kedua tangannya ke depan dengan pelan tapi bertenaga dalam tinggi. Dari kedua telapak tangan Grayugantang keluar sesuatu.
Sesuatu itu adalah dua wujud pedang berbahan air bening yang bergerak-gerak kecil. Benda itu keluar dari kedua telapak tangan Grayugantang hingga sempurna, hingga kedua gagangnya yang juga dari air dipegang oleh lelaki mesum itu.
Grayugantang lalu menyentuhkan ujung pedang kanan ke dahi Mega Kencani. Ujung pedang satu lagi disentuhkan ke tengah dada sedikit ke kiri, tepatnya di posisi jantung.
Meski tidak ada hal lain yang terlihat terjadi, tetapi ada butiran-butiran air yang masuk ke dalam kepala dan dada Mega Kencani. Proses itu berlangsung hingga enam puluh hitungan. Setelah itu, Grayugantang menarik kembali kedua pedang airnya, lalu memasukkan lagi ke dalam telapak tangannya.
Mega Kencani sendiri merasakan kondisinya lebih baik. Rasa sakitnya telah berkurang dan kebugarannya telah kembali.
“Orang yang membunuh anakmu telah muncul di daerah ini, Grayugantang,” ujar Mega Kencani.
“Apa?!” kejut Grayugantang. “Di mana kau melihatnya?”
__ADS_1
“Di dekat Lembah Sirip, saat aku bertarung melawan Nini Silangucap,” jawab Mega Kencani.
“Kenapa tidak sejak tadi kau katakan?!” bentak Grayugantang marah, seketika matanya mendelik memerah menunjukkan amarahnya sedang naik setinggi nafsu birahinya.
“Jika kau tidak marah-marah sejak awal karena mengejar lubang, sudah aku sampaikan!” kilah Mega Kencani.
“Pasti murid Kunsa Pari itu sudah pergi dari lembah itu. Ayo kita ke sana!” kata Grayugantang lalu berjalan ke luar.
“Kau meninggalkan sapi betinamu,” kata Mega Kencani mengingatkan sambil segera mengikuti orang tua itu pergi.
“Dia bisa pulang sendiri,” jawab Grayugantang. “Kita juga harus memberi tahu Nenek Haus Darah dan Nenek Haus Jantung. Mereka juga menunggu-nunggu kemunculan murid Kunsa Pari itu.”
“Apa urusan kakak beradik itu terhadap Joko?” tanya Mega Kencani sambil melesat mencoba mengimbangi kecepatan ilmu peringan tubuh Grayugantang yang jauh lebih tinggi darinya.
“Bukankah Nenek Kerdil Raga juga mati di tangannya?”
“Benar. Setahuku Nenek Kerdil Raga dan kedua nenek aneh itu tidak ada hubungannya,” kata Mega Kencani.
“Nenek Kerdil Raga adalah adik yang tidak diakui oleh mereka. Namun aku yakin, mereka akan menuntut balas,” kata Grayugantang.
“Tapi kita harus hati-hati, Grayugantang. Kesaktian Joko itu sangat tinggi, terlebih ia sedang bersama seorang perempuan jelek yang menurutku dia juga sakti,” kata Mega Kencani.
“Untuk apa kau punya pusaka milik gurumu jika masih takut dengan ketinggian kesaktian orang?” kata Grayugantang.
“Aku curiga Joko sudah tahu tentang pusaka ini. Waktu aku menyerang teman perempuannya, ia menyelamatkan temannya itu,” kata Mega Kencani.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di lembah tempat Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu bertemu.
“Di mana? Tidak ada sesiapa?” tanya Grayugantang sambil berhenti. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang di lembah sepi itu.
“Aku bertarung di sebelah timur,” kata Mega Kencani, lalu lebih dulu menuju sisi timur lembah.
Namun, ketika mereka tiba di lokasi tempat Mega Kencani dan Nini Silangucap bertarung, mereka tidak menemukan siapa-siapa, kecuali sisa-sisa pertarungan dan sepotong kaki milik Nini Silangucap yang dihancurkan oleh serangan Mega Kencani.
“Sudah pergi. Kita ke kediaman Nenek Haus Darah!” kata Grayugantang. (RH)
__ADS_1