Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 32: Berlutut Demi Joko


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


 


Tanpa menunda waktu lagi, Tirana, Getara Cinta dan Kerling Sukma segera pergi membawa Joko Tenang ke Jurang Patah Hati. Mereka menduga kuat bahwa guru Kerling Sukma itu pulang ke kediamannya.


Mereka menggunakan kereta kuda dengan tarikan dua ekor kuda. Turung Gali bertindak sebagai kusir. Tirana duduk di sisi ayahnya. Sementara Getara Cinta dan Kerling Sukma menemani raga suami mereka di dalam bilik kereta.


Wajah ketiga istri jelita itu terlihat jelas kesembapan pada bagian matanya. Namun, mereka sudah tidak menangis lagi, mereka sudah cukup bersedih dan mengeluarkan air mata. Terlebih harapan mereka sudah terlihat. Kunci keselamatan Joko Tenang ada pada Dewi Mata Hati, guru Kerling Sukma. Menurut pikiran mereka, tidak mungkin Dewi Mata Hati tidak menolong suami murid kesayangannya. Terlebih Joko Tenang adalah murid mantan kekasih sang guru.


Joko Tenang sudah seperti mayat makhluk jejadian. Warna kulit wajah dan seluruh tubuhnya hitam kelam, benar-benar hitam seperti gelapnya malam tanpa bulan, bintang dan lentera.


Namun, meski mereka sudah melihat keberadaan pintu keluar dari masalah yang pelik itu, tetap ada satu tanda tanya besar di benak mereka.


“Tapi kenapa, ketika Kakang Joko diserang, Guru langsung menghilang?” tanya Kerling Sukma beberapa waktu lalu, ketika masih di balairung perguruan.


“Aku tidak tahu. Yang aku tahu, ilmu terkutuk itu kini hanya bisa ditangkal dengan ilmu pengobatan Lintah Cinta. Dan satu-satunya orang yang mengasai ilmu kuno itu adalah Dewi Mata Hati,” jawab Malaikat Serba Tahu. “Kau bisa menanyakannya langsung kepada gurumu.”


Akhirnya alasan tindakan Dewi Mata Hati yang menghilang mendadak tetap jadi misteri. Sepertinya itu sangat mengganjal di dalam pikiran para istri Joko Tenang, terutama bagi Kerling Sukma. Kenapa gurunya pergi di saat-saat genting?


Joko Tenang memiliki waktu selama lima hari sebelum kemudian ilmu terkutuk Jari Penghancur Nyawa mengeksekusi jantungnya yang telah dipenjara.


Perjalanan berkuda dari Perguruan Tiga Tapak ke Jurang Patah Hati memakan waktu satu setengah hari.


Hari pun berganti. Perjalanan mereka tidak menemukan rintangan, kecuali satu rintangan kecil. Mereka sempat dihadang oleh sekelompok perampok kelas teri.


Tirana cukup membuat mereka mematung dengan ilmu Pemutus Waktu dan kereta kuda pun berlalu dengan damai.


Akhirnya mereka tiba di bibir Jurang Patah Hati di kala hari sudah beranjak menuju senja. Di jurang itu, mereka melihat sebuah jembatan anyaman tambang yang ujung lainnya terikat di mulut gua. Gua itu ada di tebing batu nan tegak menjulang.


“Jangan lewat jembatan, ikuti aku!” kata Kerling Sukma lalu berkelebat di atas mulut jurang yang menganga lebar, yang terlihat tidak memiliki jembatan.


Namun, ketika Kerling Sukma berkelebat, kakinya seolah menjejak sesuatu yang tidak tampak di udara. Dua kali pijakan di udara untuk bertolak dilakukan oleh Kerling Sukma.


Tirana, Getara Cinta dan Turung Gali segera melesat mengikuti cara Kerling Sukma. Ternyata mereka merasakan ada sesuatu yang padat untuk digunakan sebagai tempat bertolaknya kaki, agar tidak jatuh ke dasar jurang. Mereka mendarat pada teras mulut gua besar yang terbuat dari batu datar yang menjorok. Turung Gali mengangkat tubuh Joko Tenang dengan kedua batang tangannya.


Kerling Sukma yang selama tujuh tahun tinggal di dalam gua itu, segera mengulurkan tangannya untuk menyentuh sesuatu yang tidak tampak pada lubang gua.


Sweets!


Tiba-tiba dari telapak tangan itu muncul sinar biru, kemudian seperti membakar satu lapisan udara yang menutupi lubang gua, melebar hingga ke pinggirannya. Setelah itu, Kerling Sukma cepat melesat masuk, yang lain mengikuti.


Setelah melalui ruang besar gua yang indah, Kerling Sukma masuk ke salah satu lubang lorong. Ia langsung pergi ke kamar gua gurunya, Dewi Mata Hati.


Namun, mereka terhalang oleh sebuah dinding batu.


“Buntu,” ucap Tirana.


“Ini pintu yang ditutup. Aku tidak tahu cara membukanya,” kata Kerling Sukma.


“Aku bisa merasakan keberadaan satu manusia di dalam sana,” kata Getara Cinta.

__ADS_1


Pak pak!


Kerling Sukma lalu memukul dinding batu itu. Pukulannya mengandung tenaga dalam.


“Guru, aku Kerling Sukma! Aku ingin meminta bantuanmu!” teriak Kerling Sukma.


Ia diam sejenak, menunggu ada jawaban atau pintu batu itu terbuka. Namun, tidak ada respon dari balik dinding ataupun pintu batu bergerak membuka.


“Jelas-jelas ada orang di dalam, tetapi kenapa tidak menjawab atau membuka pintu ini?” kata Tirana.


“Coba panggil lagi, Sukma!” kata Getara Cinta.


Pak pak!


“Guru! Kami datang membawa Kakang Joko! Kakang Joko sangat membutuhkan bantuanmu!” teriak Kerling Sukma lagi, setelah menepuk dinding batu dengan tenaga dalam yang lebih kuat.


Kerling Sukma dan lainnya kembali diam, menunggu ada reaksi dari dalam. Namun, sepuluh hitungan berlalu, tidak ada juga jawaban dari balik dinding.


“Hancurkan saja! Aku khawatir gurumu menderita hal buruk di dalam sehingga tidak bisa menjawab,” kata Tirana.


Kerling Sukma lalu mundur. Yang lain bergerak mundur memberi ruang bagi Kerling Sukma.


Sess! Bluarr!


Kerling Sukma melesatkan bola sinar putih berselimut lidah-lidah api putih. Ilmu bernama Api Putih itu menghantamhancurkan pintu batu. Gua itu sampai bergetar sejenak.


Kini mengangalah sebuah lubang besar. Kerling Sukma yang pertama masuk, menyusul yang lain.


Ruangan itu luas. Selain memiliki lantai batu datar yang lapang, terdapat pula beberapa bongkahan batu berwarna hitam pekat mengkilap. Setelah itu ada kolam jernih yang memisahkan antara lantai dengan tempat Dewi Mata Hati berada. Pada kedua sisi kanan kiri kolam adalah dinding gua. Untuk sampai ke seberang, dibutuhkan tiga kali lompatan jauh atau berenang. Di belakang posisi Dewi Mata Hati adalah pembaringan yang dikemas dengan dominan warna putih.


Namun, mereka melihat ada dinding sinar warna kuning bening pada garis sebelum mencapai bibir kolam. Dinding sinar itu menutup penuh hingga ke atas. Jadi, tidak ada lubang untuk bisa sampai ke pinggir kolam.


“Kalian pasti sudah tahu!” kata Dewi Mata Hati dari jarak yang jauh itu, tetapi suaranya sangat jelas terdengar.


“Berarti Guru sudah tahu?” tanya Kerling Sukma terkejut.


Dewi Mata Hati diam tidak menjawab.


“Guru, Kakang Joko di ambang kematian, tolong Guru obati suami kami,” ucap Kerling Sukma lembut bernada sedih mengiba.


“Tidak. Biarkan Joko mati!” kata Dewi Mata Hati pedas.


Terkejutlah Turung Gali dan ketiga wanita cantik itu mendengar jawaban Dewi Mata Hati.


“Guru!” sebut Kerling Sukma sambil berlari dan menyentuh dinding sinar kuning. “Ak!”


Kerling Sukma terpental lalu jatuh terjengkang setelah tangannya tersengat oleh dinding sinar.


“Sukma!” Tirana cepat membantu Sukma berdiri.


“Apa yang terjadi denganmu, Guru Dewi Mata Hati?” tanya Getara Cinta heran, tidak habis pikir.

__ADS_1


Dewi Mata Hati tidak menjawab.


“Guru! Kenapa kau tidak mau mengobati Kakang Joko?!” tanya Kerling Sukma agak berteriak.


“Aku tidak bisa!” tandas Dewi Mata Hati.


“Guru bisa!” bantah Kerling Sukma.


“Malaikat Serba Tahu mengatakan bahwa kau memiliki ilmu Lintah Cinta, satu-satunya ilmu yang bisa mengobati ilmu terkutuk ini!” kata Tirana pula.


“Aku katakan tidak, ya tidak! Kalian jangan memaksaku!” bentak Dewi Mata Hati.


“Jika Guru tidak menolong, Kakang Joko akan mati, Guru!” kata Kerling Sukma, ia mulai menangis.


“Jika Joko Tenang mati, apa boleh buat. Ikhlaskan, sudah suratan takdirnya!” kata Dewi Mata Hati.


“Apa alasannya sehingga Guru tidak mau mengobati suami kami?” tanya Getara Cinta.


“Benar, apa alasannya, Guru? Kau senang jika Kakang Joko menjadi suamiku. Kau selalu mengatakan aku adalah murid kesayanganmu. Namun, kenapa kau sedikit pun tidak mau membantu. Apa alasan di balik itu?” kata Kerling Sukma yang sudah bersimbah air mata.


“Kami memohon kepadamu, Guru. Tolong selamatkan suami kami!” ucap Tirana lemah, bernada mengiba. Ia kemudian turun berlutut. “Kami mohon!”


“Aku pun memohon kepadamu, Dewi. Selamatkan Yang Mulia Pangeran Dira!” kata Turung Gali yang masih menimang tubuh besar Joko Tenang. Ia juga bergerak turun berlutut.


“Tidak!” teriak Dewi Mata Hati marah. Tidak hanya nada suaranya yang menunjukkan kemarahan, ekspresi wajah cantiknya juga tergurat jelas amarahnya.


“Guru, kenapa? Berikan alasannya, Guru!” ratap Kerling Sukma yang sejak tadi sudah jatuh terlutut.


“Kami semua berlutut kepadamu, Guru. Tolonglah Kakang Joko!” ucap Getara Cinta memohon sambil turun berlutut pula.


Dewi Mata Hati terdiam menahan gejolak di dalam dadanya. Isi kepalanya seolah mendidih karena harus bersikap kejam kepada murid kesayangannya. Sebenarnya ia menangis di dalam hati, tetapi air mata tidak mungkin keluar dari matanya yang cacat.


Akhirnya Dewi Mata Hati berkata.


“Meski aku memiliki ilmu pengobatan Lintah Cinta, tetapi aku tidak mungkin mengobati suami kalian,” kata Dewi Mata Hati lebih datar nada suaranya. “Apakah kalian tahu cara pengobatan Lintah Cinta?”


Ketiga istri Joko Tenang terdiam dan saling pandang, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu.


“Tidak, Guru. Malaikat Serba Tahu tidak memberi tahu kami,” jawab Kerling Sukma.


“Meski aku menguasai ilmu Lintah Cinta, tetapi aku tidak pernah menggunakannya kepada siapa pun, kecuali kepada ibuku puluhan tahun yang lalu. Ilmu ini hanya untuk mengobati orang yang tidak memiliki obat. Antara pengobat dan orang yang diobati harus menciptakan saluran tenaga yang tertutup dari udara luar dan tanpa penghalang apa pun. Saluran itu ada empat jalan, yang jika semuanya dapat terbentuk, itu akan mempercepat penyembuhan. Waktu penyembuhan bisa memakan waktu tujuh hari. Namun, jika dua saluran utama bisa tercipta dengan baik, maka waktu penyembuhan bisa terpangkas menjadi tiga atau empat hari,” jelas Dewi Mata Hati.


Mereka berempat mendengar dengan seksama, karena penjelasan itu adalah perkara yang sangat penting.


“Apakah kalian megerti apa artinya itu?” tanya Dewi Mata Hati.


“Apakah pengobatannya harus melalui penyatuan tubuh tanpa penghalang sehelai kain pun?” terka Tirana.


“Benar!” jawab Dewi Mata Hati.


Terkejutlah mereka mengetahui itu, terutama Kerling Sukma. Seolah-olah seluruh persendiannya melemah. Ia begitu terkejut di dalam hati. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau.

__ADS_1


“Gu… Guru akan bersetubuh dengan Kakang Joko, jika mau mengobatinya?” tanya Kerling Sukma lirih, seakan ia tidak percaya. Ia begitu syok mengetahui hal itu. (RH)


__ADS_2