
*Cincin Darah Suci*
Kereta kuda megah berwarna merah yang membawa Putri Yuo Kai berjalan keluar melewati gerbang istana menuju Jalan Liong Sue. Di dalam bilik kereta, Putri Yuo Kai ditemani oleh dua pelayan setianya, Mai Cui dan Yi Liun. Sementara Bo Fei menunggangi kuda hitam sendiri berjalan santai mengimbangi laju kereta yang ditarik oleh dua kuda putih berpakaian bagus dengan seorang sais yang juga seorang wanita.
Di belakang kereta berjalan 12 wanita perpakaian serba merah terang. Ke-12 wanita cantik-cantik itu dikenal sebagai Pengawal Angsa Merah, salah satu bagian dari pengawal-pengawal wanita yang dimiliki oleh Putri Yuo Kai.
Kali ini Putri Yuo Kai keluar dari istana karena dia diundang untuk meresmikan Biro Naga Besi, sebuah biro jasa pengawal yang katanya akan menjadi jasa pengawalan terbesar di negeri itu setelah nantinya menang saing dengan biro-biro pengawalan barang dan orang yang sudah eksis terlebih dahulu.
Di Kerajaan Jang, Putri Yuo Kai adalah orang nomor dua setelah Kaisar. Diundang oleh para bangsawan untuk suatu acara besar adalah hal yang sering, tetapi Putri Kai tidak selalu memenuhinya.
Pertimbangan yang membuat Putri Kai mau hadir adalah karena bisnis pengawalan yang akan bernama Biro Naga Besi itu milik sahabat seperguruannya yang bernama Xie Yua.
Putri Kai bersama Xie Yua dan seorang teman lagi sama-sama pernah berguru kepada Penebar Mimpi Buruk, seorang sakti yang tinggal di Lembah Keheningan. Namun, yang membuat Putri Yuo Kai berbeda karena dia lebih unggul dalam mempelajari hampir seluruh ilmu kesaktian milik Penebar Mimpi Buruk.
Xie Yua adalah putri dari Menteri Kehakiman Tu Hua dan istri dari seorang bangsawan pemilik sepuluh penginapan yang ada di Ibu Kota.
Untuk sampai ke Jalan Liong Sue, rombongan kereta kuda Putri Kai harus menyeberangi tanah lapang terbuka yang memisahkan gerbang istana utama dengan jalan utama kota He. Dari gerbang istana saja geliat perekonomian di Jalan Liong Sue sudah terlihat jelas keramaiannya.
Ketika kereta kuda itu mulai memasuki Jalan Liong Sue, warga yang mengenali bahwa itu adalah kereta kuda milik Putri Yuo Kai, mereka segera menjura hormat. Sebagai seorang yang masih melajang, sang putri masih sering keluar dari istana secara bebas untuk berbagai keperluan atau sekedar melihat kondisi masyarakat Ibu Kota.
Namun, tiba-tiba dari antara warga yang menjura hormat, muncul berjalan tergesa-gesa seorang wanita tua bertongkat kayu.
“Putri Kai! Putri Kai!” teriak wanita tua berpakaian hitam lusuh itu, sambil berusaha berlari kecil mencoba membalap dua kuda putih penarik kereta.
Putri Yuo Kai mendengar namanya dipanggil dengan cara tidak sopan, tapi ia tidak melihat siapa yang memanggilnya berulang itu dan terdengar seperti mengikuti jalan kereta kuda.
“Putri Kai! Putri Kai!” wanita tua berambut putih dan beralis putih itu terus memanggil seraya setengah berlari agar tidak tertinggal.
Melihat ada seorang tua berambut putih susah payah mengikuti kereta, Bo Fei segera mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada kusir agar menghentikan kuda penarik kereta. Kusir menarik tali kekang kuda agar kedua kuda berhenti dan kereta pun berhenti. Ke-12 Pengawal Angsa Merah turut berhenti di belakang kereta.
“Perempuan tua siapa yang tidak sopan itu, Bo Fei?” tanya Putri Kai tanpa tertarik melihat keluar.
“Biar aku tanyakan apa maksudnya memanggil Yang Mulia seperti itu,” jawab Bo Fei.
Berhentinya kereta membuat wanita tua bertongkat itu buru-buru pergi beberepa jangkauan ke depan kuda. Ia mengatur berdirinya di tengah jalan menghadap ke arah rombongan. Ada senyum yang terlihat di wajah keriputnya yang bermata sipit.
Insiden itu menjadi pusat perhatian warga sekitar, sehingga cukup banyak yang memilih tinggal sejenak di pinggir jalan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Mereka pun tidak mengenal siapa adanya wanita tua itu, karena tidak pernah terlihat ada di lingkungan itu sebelumnya.
__ADS_1
“Wanita tua, begitu lancangnya kau memanggil Yang Mulia Putri seperti itu!” hardik Bo Fei dengan tatapan marah. “Siapa kau dan apa urusanmu?”
“Hihihi!” wanita tua bertubuh agak pendek dan sedikit gemuk itu malah tertawa. Ia lalu berkata, tapi ditujukan kepada Putri Yuo Kai yang ada di dalam bilik kereta, bukan kepada Bo Fei. “Sebelumnya, terima kasih sudah mau berhenti, Putri Kai. Aku senang, aku dipedulikan. Hihihi!”
“Cepat, sampaikan siapa kau!” bentak Bo Fei.
“Aku tidak akan memberi tahu siapa aku dan menyampaikan apa maksudku, sebelum Putri Kai keluar. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting kepadanya!” tandas si nenek dengan mata mendelik kepada Bo Fei.
“Lancang!” teriak Bo Fei lalu tarik gagang pedangnya.
“Tahan, Bo Fei!” kata Putri Yuo Kai menahan Bo Fei meloloskan seluruh tubuh pedangnya. “Aku akan menemuinya.”
Bo Fei segera turun dari kudanya. Pintu bilik kereta dibuka oleh Yi Liun. Bo Fei segera berlutut satu kaki di bawah pintu bilik kereta yang tidak bertangga. Putri Kai mengeluarkan kepalanya yang bersanggul indah. Satu tangannya di berikan kepada tangan Bo Fei dan kaki kanannya turun menginjak paha Bo Fei sebagai tangga pijakan untuk turun.
Melihat Putri Yuo Kai yang cantik secara langsung membuat warga ramai terpukau dan memuji. Sebab, jarang-jarang mereka bisa melihat paras Putri secara langsung dan jelas seperti saat itu.
Putri Yuo Kai melangkah anggun dan tenang pergi ke depan kuda. Bo Fei berjalan mendampingi di sisi kanan agak ke belakang. Kemunculan Putri Kai membuat wanita tua itu tertawa senang.
Dengan wajah yang dingin, Putri Kai berkata, “Aku sudah menuruti permintaanmu, Wanita Tua, maka sampaikan siapa dirimu dan maksudmu. Aku harus menghadiri satu acara dengan tepat waktu.”
“Langsung saja, Nenek Ro. Sampaikan!” perintah Putri Kai, memilih untuk bersabar.
“Pertama tentang hal yang menyangkut hidupmu, Putri Kai. Perhatikan bilangan lima puluh enam dari langit,” kata Yu Rong Ro.
“Bisa kau jelaskan?” tanya Putri Kai.
“Tidak bisa, sebab hanya kalimat itu yang bisa aku himpun untukmu. Aku pun tidak mengerti apa maknanya, tetapi hanya kau yang bisa menyimpulkan bilangan lima puluh enam dari langit itu. Aku hanya khawatir, jika ramalan ini tidak aku sampaikan kepadamu, kau akan salah mengambil keputusan dalam masalah besar yang akan kau hadapi,” jelas si nenek.
“Nenek Ro, kau jangan menyampaikan hal omong kosong tidak jelas seperti itu kepada Yang Mulia Putri!” kecam Bo Fei.
“Tidak mengapa. Biarkan dia menyelesaikan maksudnya,” kata Putri Kai bijak.
“Saat ini mungkin kalian tidak akan percaya apa yang aku sampaikan, tapi dengarkan ramalan yang kedua. Cincin lebih besar dari mahkota. Itulah kalimat kedua yang berhubungan dengan nasib Negeri Jang ini. Keduanya akan segera terjadi, keduanya akan segera terjadi, Putri Kai!” kata Yu Rong Ro dengan nada yang tegas dan tatapan yang tajam.
“Apakah sudah semua kau sampaikan?” tanya Putri Kai dengan ekspresi datar.
“Hah! Dari wajahmu menunjukkan bahwa kau tidak percaya, Putri Kai,” gerutuh Yu Rong Ro kecewa. “Baiklah, aku akan menunjukkan bahwa kau harus memikirkan kata-kataku!”
__ADS_1
Btak! Bruss!
“Hah!”
Tiba-tiba Yu Rong Ro membanting lepas tongkat kayunya ke tanah yang keras. Tongkat itu memantul naik ke udara dalam bentuk yang sudah hancur terpotong-potong kecil dalam jumlah puluhan dan tidak teratur bentuk serpihannya. Anehnya, serpihan tongkat kayu itu mengambang diam di udara dalam ketinggian yang sama di atas kepala mereka semua, membentuk pola berantakan yang tidak teratur. Serpihan-serpihan itu tidak jatuh atau bergerak sedikit pun. Adegan itu membuat warga yang menonton jadi terperangah terkejut.
“Tongkat Baca milikku mengatakan, ada yang menunggumu di depan sana, Putri Kai,” kata si nenek setelah membaca pola serpihan tongkatnya di udara itu. Lalu pesannya, “Berhati-hatilah!”
Kali ini Putri Kai agak serius memandang apa yang ditunjukkan dan disampaikan oleh Yu Rong Ro.
Sers!
Wanita tua itu lalu melakukan gerakan menarik dari udara. Maka, seluruh serpihan tongkat yang mengambang melesat seperti tersedot kuat oleh tangan Yu Rong Ro. Anehnya, serpihan itu tahu-tahu sudah utuh kembali seperti sedia kala sebagai sebuah tongkat tanpa ada cacat atau rompalan bekas hancur.
“Pikirkanlah, Putri Kai!” seru Yu Rong Ro, tapi anehnya, raganya sudah tidak terlihat ada berdiri di jalan itu. Tiba-tiba menghilang begitu saja meninggalkan suaranya.
Warga sekitar hanya bisa terkejut lalu terdengar suara ramai saling berkomentar tidak jelas. Kuda-kuda kereta pun meringkik agak panik, tetapi segera ditenangkan oleh kusirnya.
“Kita lanjutkan perjalanan!” perintah Putri Kai.
Bo Fei segera pergi untuk memasang pahanya sebagai tangga bagi Putri untuk naik ke kereta. Mai Cui menyambut tangan tuannya sebagai pegangan.
“Waspadalah sepanjang perjalanan!” kata Putri Kai kepada Bo Fei.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Bo Fei.
Bo Fei kembali naik ke kudanya. Sebelum berangkat, ia memberi isyarat gerakan tangan kepada Pengawal Angsa Merah agar bersikap waspada.
Setelah semua kembali bersiap, kuda kembali dijalankan. Warga pun membubarkan diri dengan kepuasan bisa melihat Putri Kai secara jelas, tapi juga dengan kehebohan karena ulah wanita tua asing yang tidak dikenal tadi.
Poin-poin yang disampaikan oleh Yu Rong Ro memang masuk ke pikiran Putri Kai. Pertunjukan kesaktian di depannya itu jelas bukan perkara omong kosong.
Rombongan Putri Yuo Kai berjalan pelan seperti semula, terlebih tempat acara tidak begitu jauh. Prajurit kerajaan yang sedang melintas atau berpatroli secara rombongan segera berlutut menghormat ketika kereta itu lewat di depan mereka.
Meski perjalanan berjalan normal dan kondisi sekitar bergerak secara wajar, Bo Fei dan ke-12 Pengawal Angsa Merah diam-diam memperhatikan semua sudut kanan-kiri dan atas bangunan yang mereka lewati.
“Ada orang di atas!” teriak Bo Fei tiba-tiba. (RH)
__ADS_1