
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
“Siapa dia, Kakang?” tanya Getara Cinta dengan tatapan curiga.
“Kakang baru pergi sebentar saja sudah dapat perempuan lagi?” tanya Tirana juga. Tanpa senyum.
“Perempuan yang menjebakku. Ujung-ujungnya dia minta ikut,” jawab Joko dengan nada tanpa semangat.
“Hihihi!” Helai Sejengkal tersenyum kuda. Lalu katanya santun, “Tidak begitu kok, Kak. Aku ditolong olehnya, lalu aku peluk dan aku sedot ludahnya. Begitu kan, Hei?”
“Kau memeluk calon suami kami?” tanya Getara Cinta dengan sorot mata tajam kepada Helai Sejengkal.
Melihat gelagat yang ditunjukkan oleh Getara Cinta, mendeliklah gadis berambut pendek itu.
“Gawat, calon istri si Hei marah,” membatin Helai Sejengkal. Buru-buru dia berkata sambil mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dada, “Maafkan aku, aku tidak bermaksud memperkosa calon suami kalian. Aku hanya minta tolong. Mohon maaf, aku akan pergi!”
“Tunggu! Kau harus jelaskan, apa yang kau perbuat terhadap calon suami kami!” seru Tirana, kali ini ia agak galak.
“Tidak, aku tidak menyerangnya. Aku hanya minta tolong, Nisanak. Maaf, permisi!” ucap Helai Sejengkal seraya tersenyum dipaksakan. Buru-buru ia berbalik hendak pergi.
Wes!
Namun, ketika Helai Sejengkal baru berbalik, satu gelombang tenaga halus menerpa tubuhnya dari belakang. Mendeliklah Helai Sejengkal karena mendapati dirinya tidak bisa bergerak sedikit pun, kecuali bola matanya yang melirik ke sana dan ke sini.
Sementara Joko Tenang sibuk mengurus pisangnya. Separuh pisangnya ia berikan kepada Getara Cinta dan beberapa ia bakar dengan api unggun kecil yang menyala tidak jauh dari dangau.
Namun, setelah menunggu sebentar, Helai Sejengkal tidak merasakan serangan apa pun dari kedua calon istri Joko Tenang.
“Apa yang Kakang lakukan?” tanya Tirana, tanpa memandang kepada Joko. Ia bersama Getara Cinta makan pisang.
“Aku membakar pisangku,” sahut Joko.
“Pisang yang mana?” tanya Tirana usil, lalu tersenyum kepada Getara yang jadi ikut tersenyum.
“Pisang yang ini,” jawab Joko apa adanya, tanpa mengerti maksud pertanyaan Tirana.
Awalnya, Joko adalah pendekar yang lugu terhadap urusan yang berkaitan dengan perempuan. Namun, seiring perjalanannya yang selalu berhubungan erat dengan perempuan, ia mulai banyak mengerti. Terlebih sudah merasakan malam pertama yang tidak berdaya dengan Putri You Kai.
“Yang ini mana, Kakang? Pisang yang ada temannya atau pisang yang tumbuh sendiri dan terbungkus?” tanya Tirana lagi.
“Hahaha!” Getara Cinta tertawa.
Helai Sejengkal sebenarnya ingin tertawa, tetapi ia tahan. Ia takut dianggap sebagai perusak suasana.
“Di mana-mana pisang itu tumbuh sendiri dan terbungkus dengan kulitnya. Dan di mana-mana, pisang itu ada temannya,” kata Joko menjelaskan.
__ADS_1
“Hihihi…!” tertawa panjanglah Tirana, mengimbangi tawa Getara Cinta.
“Sebenarnya apa yang kalian pikirkan? Kenapa membahas masalah pisang saja sampai tertawa bahagia seperti itu?” tanya Joko heran sambil membakar pisang, sementara pandangannya ke pada kedua calon istrinya.
“Yang aku pikirkan adalah pisang Kakang yang di bawah perut, pisang yang ketika berhadapan dengan Dewi Bayang Kematian dia akan terbelalak!” jelas Tirana.
“Hah!” kejut Joko sampai terpekik. Ia tidak menyangka jika kedua calon istrinya sedang berpikiran mesum. Joko segera berdiri dan berkata, “Kalian berdua, belum menikah saja pikirannya sudah ke sana terus. Aku saja yang sudah menikah, tidak memikirkannya!”
“Hahaha…!” Tirana dan Getara Cinta justru makin tertawa melihat suaminya mengomel. Sebab menurut mereka, Joko sangat tidak cocok menjadi pemuda yang suka marah-marah. Bakatnya terlalu jauh dari kata “pantas”.
“Tunggu tunggu tunggu!” teriak Helai Sejengkal tiba-tiba, merusak suasana.
“Kenapa, Nisanak?” Yang bertanya adalah Tirana.
“Benarkah si Hei sudah menikah?” tanya Helai Sejengkal.
“Si Hei siapa?” tanya Getara pula.
“Itu, calon suami kalian,” jawab Helai Sejengkal, tetap dalam kondisi mematung.
“Nama calon suami kami Joko Tenang,” kata Getara.
“Iya, maksudku Kakang Joko. Apakah benar dia sudah menikah?” tanya ulang Helai sejengkal.
“Benar, Kakang Joko sudah menikah dan punya istri satu. Kenapa? Kau ingin juga menikah dengan Kakang Joko?” tanya Tirana.
Wes!
Satu gelombang angin halus kembali menerpa punggung Helai Sejengkal, membuatnya bisa bergerak kembali. Mendengar pengakuan Helai Sejengkal tadi, Tirana menaruh dugaan bahwa ada hal malang yang dialami oleh gadis asing itu.
“Duduklah di sini, kita makan pisang sungguhan, bukan pisangnya Kakang Joko,” kata Tirana.
Ketiga gadis itu kembali tertawa bersama, tetapi masih dalam kendali dan aman. Joko Tenang hanya menarik napas dalam mendengar candaan mereka. Ia melanjutkan bakar pisang benarannya.
“Siapa namamu, Nisanak?” tanya Getara Cinta, tidak lagi galak.
“Helai Sejengkal,” jawab Helai Sejengkal sambil naik duduk di atas dangau. Lalu katanya malu, “Maaf, aku agak berbau, sebab aku terlalu banyak mengeluarkan keringat tadi.”
“Tidak mengapa. Jika kau tidak nyaman, kau bisa mandi di kolam,” kata Tirana sambil menunjuk kolam dengan pandangannya.
“Nanti saja,” ucap Helai Sejengkal sambil melirik kepada Joko Tenang yang abai dengan apa yang didengarnya.
“Kakang Joko tidak akan bernafsu jika melihatmu mandi,” kata Tirana yang memahami arti lirikan Helai Sejengkal.
Helai Sejengkal hanya tersenyum malu.
__ADS_1
“Apa yang terjadi dengan dirimu? Kenapa kau tidak bisa menikah?” tanya Getara Cinta.
“Guruku menanam Racun Naga Es di dalam tubuhku,” jawab Helai Sejengkal.
“Seorang guru menanam racun di tubuh muridnya? Kenapa setega itu?” tanya Getara Cinta serius.
“Guruku seorang tokoh aliran hitam yang menurutku pikirannya agak kacau. Dia hanya ingin seorang cucu,” kata Helai Sejengkal.
“Agak tidak masuk akal jika gurumu ingin seorang cucu lalu kau yang diracun,” kata Tirana mengomentari.
“Sudah lama Guru menyuruhku menikah, tapi aku tidak pernah menuruti, karena aku tidak suka lelaki. Akhirnya aku dipaksa. Guru menanam Racun Naga Es ke tubuhku. Jika aku terlalu letih, racun itu akan bereaksi dan membuatku sangat kedinginan. Tadi sore murid Dewi Mata Hati ingin membunuhku sehingga aku keletihan untuk bisa lolos. Aku meringkuk kedinginan di kebun pisang sampai Kakang Joko datang menemukanku,” tutur Helai Sejengkal.
“Lalu?” tanya Tirana lagi. Ia tertarik mendengar cerita Helai Sejengkal.
“Obat dari racunku adalah ludah perjaka. Guruku berharap, ketika racunku bereaksi, aku tidak bisa menolak lelaki, karena aku membutuhkan ludah perjakanya. Guruku mengira, lelaki yang aku ciumi akan bernafsu dan akan menyetubuhiku sehingga aku nanti hamil,” jelas Helai Sejengkal.
“Jika demikian, apakah gurumu tidak berpikir bahwa orang tua pun bisa masih perjaka jika memang belum pernah melakukan perbuatan seperti itu?” kata Tirana.
“Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan cara berpikir guruku,” keluh Helai Sejengkal. “Karenanya aku heran, jika Kakang Joko sudah menikah, tetapi kenapa ludahnya bisa menawarkan racunku.”
“Meski sudah menikah dan mempunyai istri, Kakang Joko masih perjaka,” kata Tirana menjelaskan.
“Jadi kau menjerat Kakang Joko dan mengambil ludahnya?” terka Getara Cinta sambil menatap serius keapada Helai Sejengkal.
Helai Sejengkal menelan salivanya mendapat tatapan tajam berwibawa seperti itu.
“Maaf, Kak. Aku terpaksa memperkosa Kakang Joko. Sebab, jika tidak, aku bisa mati kedinginan di kebun pisang,” kata Helai Sejengkal seraya menunduk, tapi matanya memandang tidak enak hati kepada Getara Cinta.
“Lalu kenapa kau mengikuti Kakang Joko?” tanya Tirana.
“Aku takut bertemu lagi degan murid Dewi Matah Hati. Jadi, jika aku kelelahan, Kakang Joko bisa dengan mudah memberi ludahnya tanpa harus aku perkosa atau dia memperkosaku,” kilah Helai Sejengkal.
“Setelah kami berdua menikah dengan Kakang Joko, berarti obatmu sudah tidak ada. Mungkin hanya sehari dua hari kau bisa mengharapkan Kakang Joko menjadi obatmu,” kata Tirana.
“Tapi, kenapa Kakang Joko berubah lemah tidak berdaya ketika aku memeluknya?” tanya Helai Sejengkal.
“Kakang Joko tidak boleh bersentuhan dengan wanita,” jawab Tirana.
“Kenapa kau berurusan dengan murid-murid Dewi Mata Hati?” tanya Getara Cinta, sebab ia tahu tentang tokoh wanita sakti aliran putih itu, meski hanya mendengar kisah dan legendanya.
“Aku dituduh membunuh satu murid Dewi Mata Hati, karena mereka menemukan senjataku ada pada tubuh adik seperguruan mereka. Padahal bukan aku yang melakukannya, tetapi mereka tidak percaya,” kata Helai Sejengkal.
“Aku punya sahabat yang menjadi muridnya Dewi Mata Hati,” kata Joko dari tempatnya. “Waktu kami bersama beberapa tahun yang lalu, ia ingin menikah denganku.”
“Siapa, Kakang?” tanya Tirana, seperti kucing yang tiba-tiba mencium aroma ikan. Jika wanita yang dimaksud memang mau menjadi istri Joko, tentu itu akan mempermudah mengumpulkan delapan istri.
__ADS_1
“Namanya Kerling Sukma. Tapi aku tidak tahu, apakah keinginan itu masih ada atau tidak, terlebih jika ia tahu bahwa aku sudah punya istri banyak,” jawab Joko Tenang.
“Aku berharap dia bisa bersatu cinta dengan kita,” kata Tirana. (RH)