Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
93. Petunjuk Tato Ular


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


 


“Aaak...!” jerit tinggi Ha Fei di sebuah ruang penyiksaan.


Lelaki yang berhasil ditangkap hidup-hidup oleh pasukan pimpinan Komandan Bu Ruong itu kini digantung tanpa baju. Kedua tangannya diborgol dan digantung membentang ke atas dengan rantai. Kedua kakinya yang juga dirantai menggantung tidak menyentuh lantai.


Kepala Ha Fei sudah terkulai lemah. Darah menetes melalui sela bibirnya. Tubuhnya telah penuh dengan luka cambukan. Darah dan keringat melumuri tubuh itu. Lengan kanannya pun dilumuri banyak darah yang keluar dari luka tusukan pedang di batang tangan.


Baru saja dada kanannya ditempeli besi panas yang membuatnya menjerit tinggi. Seorang prajurit berseragam menjadi algojo penyiksa.


Di depan Ha Fei yang sudah hampir tidak sadarkan diri itu, berdiri dua orang berseragam militer. Orang pertama tidak lain adalah Kepala Pasukan Naga Merah Jenderal Mok Jueng. Orang kedua adalah Komandan Naga Merah Tengah Bu Ruong.


Prajurit si tukang siksa meletakkan kembali besi panjangnya ke atas bara yang dibakar di atas sebuah tungku. Terlihat pula meja kayu panjang yang di atasnya bergeletakan berbagai alat siksa.


“Semua tubuh kalian punya tato ular. Jika kau katakan nama kelompokmu, maka siksaanmu akan berhenti sekarang juga!” seru Komandan Bu Ruong.


Berdasarkan hasil pemeriksaan seluruh mayat orang-orang yang melakukan penyergapan terhadap rombongan Putri Yuo Kai, semuanya memiliki tato olar di salah satu anggota tubuhnya. Tato ular hitam yang berposisi kepala berdiri di atas lingkaran tubuhnya juga ditemukan tergambar di belakang bahu kanan Ha Fei.


Jenderal Mok Jueng dan Bu Ruong sama-sama baru melihat tato model ular seperti itu, jadi mereka tidak tahu kelompok mana orang-orang yang menyergap rombongan Putri Yuo Kai.


Ha Fei belum memberikan jawaban atas pertanyaan Bu Ruong. Dia masih memilih diam.


Akhirnya Bu Ruong berkata lagi kepada Ha Fei, “Tato ular kalian tidak sulit untuk dilacak. Kau bicara atau memilih mati akan sama saja hasilnya. Kau hanya perlu memudahkan kami, maka kami pun memberimu kemudahan.”


Ha Fei masih terdiam. Darah kental mengulur menggantung di bibirnya. Namun, dalam hatinya ia membenarkan perkataan Panglima Bu Ruong. Meski ia bungkam, para prajurit itu pasti juga akan tahu nantinya.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Ha Fei, Jenderal Mok Jueng akhirnya memutuskan.


“Bunuh!” perintahnya kepada algojo penyiksa.


Prajurit algojo segera meletakkan cambuknya dan ganti mengambil golok besar.


“Tunggu,” ucap Ha Fei akhirnya. Suaranya begitu lemah, tapi masih bisa terdengar. “Itu tato ular tanah.”


“Keputusan bagus,” ucap Jenderal Mok Jueng memuji. Namun katanya lagi, “Berusaha membunuh keluarga Istana adalah kejahatan tidak terampunkan sampai tujuh turunan, kecuali Yang Mulia Kaisar mengampuni.”


Jenderal Mok Jueng lalu berbalik pergi keluar dari ruang penyiksaan itu. Komandan Bu Ruong segera mengikuti.


“Jenderal, aku pernah mendengar, ada kelompok bawah tanah di Ibu Kota yang bernama Jaringan Ular Tanah,” kata Bu Ruong.


“Jika memang ada, tangkap pemimpinnya!”


“Baik, Jenderal.”


Sementara itu, di Kamar Ular, di lantai bawah rumah bordil Teratai Nirwana, Bo Fei duduk menunggu seorang diri. Pemilik bisnis hiburan bagi lelaki itu membawanya ke kamar tersebut.


Agak lama Bo Fei menunggu, tetapi tidak ada cara lain selain menunggu.


Grek!


Tiba-tiba ada suara benda bergerak. Seiring itu, lemari yang rapat di dinding sebelah kiri Bo Fei bergeser ke samping, menunjukkan adanya sebuah pintu di belakangnya. Ketika lemari itu berhenti bergeser, terlihat Su Rai berdiri di ambang pintu rahasia itu.

__ADS_1


Bo Fei segera berdiri lalu mendatangi Su Rai yang berdiri menunggu. Tidak lupa Bo Fei membawa pedangnya.


“Bo Fei memberi salam!” kata Bo Fei seraya menghormat menundukkan kepala dan mempertemukan kedua tangannya di depan dada.


Su Rai pun sama-sama menghormat.


“Aku Su Rai, orang kepercayaan Ular Buta. Bisakah aku melihat Lencana Ular yang Nona Bo miliki,” kata Su Rai.


Bo Fei pun mengeluarkan Lencana Ular yang ia selipkan di balik sabuknya. Setelah melihat plakat itu, Su Rai mengangguk. Baru kali ini ia melihat benda yang sebelumnya hanya ia dengar namanya dari Ular Buta.


“Ikut aku!” perintah Su Rai.


Su Rai bergeser memberi jalan bagi Bo Fei. Semasuknya prajurit perempuan itu, Su Rai kembali menutup pintu dengan menggerakkan sebuah tuas di sisi dinding. Selanjutnya Su Rai memimpin jalan.


Mereka berada di sebuah ruangan kecil. Su Rai membuka pintu rahasia lain di dinding yang lain. Mereka lalu menuruni tangga sempit kemudian menelusuri lorong batu yang diterangi oleh obor yang terpasang di kanan kiri dinding. Setelah itu, mereka kembali menaiki tangga hingga menemukan tiga pintu yang tertutup.


Su Rai mendatangi pintu paling kanan. Ia memegang gagang pintu berbentuk bulatan berbahan kayu. Ternyata untuk membuka pintu itu punya cara khusus, yaitu diputar setengah lingkaran ke kanan, lalu tarik, lalu putar balik setengah lingkaran, lalu tarik lagi, lalu putar lagi ke kiri seperempat lingkaran. Barulah pintu itu bisa didorong terbuka ke dalam.


Ruangan yang mereka masuki lebih mirip seperti ruang kerja atau belajar. Ada sejumlah rak yang semuanya berisi tumpukan buku-buku dan gulungan-gulungan kertas.


Mengetahui ada yang masuk, sosok lelaki botak yang sedang berdiri di depan rak, segera meletakkan buku yang dibacanya. Lelaki berpakaian serba hitam itu memiliki mata yang aneh, karena mata kirinya tertutup penuh oleh lempengan logam berukir. Tangan kirinya memegang tongkat yang membantunya berjalan ketika menyambut dengan senyum kedatangan tamunya.


“Selamat datang! Selamat datang, Nona Bo Fei!” seru lelaki itu penuh ramah sambil menjura hormat. Lelaki itu memang Ular Buta adanya.


Sepasang mata Su Rai agak melebar melihat sambutan ketuanya kepada tamu yang mengaku hanyalah seorang pengawal. Baru kali ini ia melihat Ular Buta demikian merendah, padahal selama ini sosoknya dingin dan tegas.


Bo Fei pun menjura hormat dalam tingkat yang setara.


“Ya ya ya. Setelah sepuluh tahun, akhirnya aku bisa melihat Lencana Ular milikku lagi. Tidak disangka harus selama ini,” ucap Ular Buta. “Mari, silakan duduk, Nona Bo.”


Ular Buta mengajak Bo Fei duduk di meja yang di atasnya ada nampan kayu sebagai wadah sebotol arak dan empat cangkir kecil. Tanpa disuruh, Su Rai menuangkan arak ke dua cangkir lalu disodorkan ke depan Ular Buta dan Bo Fei.


“Bagaimana kabar, Nona Besar?” tanya Ular Buta.


“Yang Mulia Putri dalam kondisi baik dan sehat,” jawab Bo Fei.


“Apa?!” pekik Ular Buta terkejut. Satu bola matanya yang normal mendelik kaget.


Tiba-tiba Ular Buta bangkit dari duduknya dan langsung turun berlutut. Tindakan Ketua Jaringan Ular Tanah itu membuat Bo Fei terkejut dan bingung.


“Ampuni hamba, Yang Mulia Putri!” seru Ular Buta. “Hamba pantas dihukum!”


Tindakan Ular Buta membuat Su Rai juga turut berlutut.


“Apa yang Tuan lakukan! Bangunlah!” seru Bo Fei, merasa tindakan Ular Buta berlebihan, karena dia hanyalah seorang pengawal.


Ular Buta pun bergerak bangun, demikian pula Su Rai. Ular Buta kembali duduk di kursinya. Su Rai berdiri di samping belakang kursi pimpinannya.


“Sepuluh tahun yang lalu, aku ditolong dari kematian oleh seorang wanita sakti yang hanya bisa aku sebut Nona Besar. Aku tidak pernah tahu siapa sebenarnya Nona Besar yang telah menyelamatkanku dan membiarkanku sukses membangun bisnis di bawah tanah ini. Aku sungguh tidak menduga bahwa Nona Besar adalah Putri Negeri Jang,” ujar Ular Buta.


“Benar, aku adalah pengawal utama Yang Mulia Putri Tutsi Yuo Kai,” kata Bo Fei.


“Itu artinya, kedatangan Nona Bo ada hubungannya dengan penyerangan yang terjadi sore tadi di Liong Sue?” terka Ular Buta.

__ADS_1


“Benar.”


“Tentunya Tuan Ular sudah mengetahui siapa orang yang diserang sore tadi,” kata Bo Fei.


“Aku sudah mendengar beritanya, sampai-sampai pasukan besar-besaran dikerahkan untuk memeriksa Ibu Kota. Apa pun yang diminta oleh Yang Mulia Putri kepadaku, aku akan membantu dengan senang hati, meski nyawa aku korbankan demi Yang Mulia. Terhubung kembali dengan Nona Besar adalah hari yang sejak sepuluh tahun aku tunggu-tunggu. Meski sangat tidak aku sangka bahwa orang yang pernah menolong dan merawatku adalah Yang Mulia Putri.”


“Meski sangat memungkinkan Biro Mata Putih mengungkap siapa orang-orang yang terlibat, tetapi Yang Mulia Putri ingin mendapat informasi dari Tuan Ular Buta,” kata Bo Fei.


“Baik, akan segera aku cari tahu. Besok pagi informasi awal akan sudah siap,” kata Ular Buta dengan yakin.


“Sebelum aku datang ke sini, Yang Mulia Putri mendapat kabar bahwa di tubuh mayat seluruh orang yang menyerang rombongan mempunyai tato ular. Yang Mulia Putri selalu memantau pergerakan orang-orang Jaringan Ular Tanah, karenanya ia yakin orang-orang itu bukan Jaringan Ular Tanah. Namun, Yang Mulia mengkhawatirkan, tato ular itu ada kemungkinan dihubungkan dengan Jaringan Ular Tanah,” ujar Bo Fei.


“Sampaikan salamku kepada Nona Besar. Katakan kepada Yang Mulia Putri, beliau tidak perlu khawatir, orangku bisa mengatasi tantangan yang terjadi. Ular Buta dan Jaringan Ular Tanah akan selalu setia kepada Yang Mulia Putri,” tandas Ular Buta.


Bo Fei lalu meminum araknya di cangkir hingga habis. Setelah itu, ia bangkit dan menghormat kepada Ular Buta.


“Aku pamit, Tuan,” ucap Bo Fei.


Ular Buta pun berdiri dan menghormat serupa.


“Silakan, Nona Bo,” kata Su Rai seraya menunjuk jalan.


Su Rai kembali mengantar Bo Fei untuk keluar melalui jalan yang sama.


Sekeluarnya dari rumah bordil Teratai Nirwana, Bo Fei yang menunggang kuda langsung pulang menuju ke Istana Tua, istana usang yang untuk sementara menjadi tempat tinggal Putri Yuo Kai selama Istana Haram dalam perbaikan.


“Bo Fei menghadap, Yang Mulia!” lapor Bo Fei seraya membungkuk hormat dengan kedua tangan bertemu di depan.


Saat itu, Putri Yuo Kai sedang memperhatikan sosok pemuda asing berbibir merah yang masih belum sadarkan diri. Joko Tenang turut dipindahkan ke Istana Tua secara rahasia. Kini Joko dibaringkan di sebuah ranjang kayu dengan kedua tangan dan kaki diikat rantai.


“Bangunlah!” perintah Putri Yuo Kai tanpa beralih dari menatap wajah Joko.


Bo Fei kembali menegakkan punggungnya.


“Laporkan!” perintah sang putri. Ia belum beralih dari memandangi Joko yang terpejam seolah dalam kondisi damai.


Bo Fei pun melaporkan segala apa yang dia temui dan dengar setelah usai menemui pemilik rumah bordil Teratai Nirwana.


Hingga akhirnya Bo Fei menutup laporannya dengan mengatakan, “Ular Buta menyatakan, dia dan kelompoknya Jaringan Ular Tanah akan selalu setia kepada Yang Mulia Putri.”


Barulah Putri Yuo Kai berbalik menghadap kepada pengawalnya itu.


“Jadi besok pagi?” tanya Putri Yuo Kai, menegaskan apa yang dilaporkan Bo Fei.


“Benar.”


“Kau jaga lelaki dari langit itu!” perintah Putri Yuo Kai.


“Baik, Yang Mulia.”


Putri Yuo Kai melangkah pergi menuju kamar yang sedang dibersihkan dan dirapikan oleh Mai Cui dan Yi Liun.


Bo Fei sejenak berdiri menatap sosok Joko Tenang di atas ranjang. Ia lalu mengambil sebuah kursi dan meletakkan di sisi ranjang, tepat di samping kepala Joko. Bo Fei kemudian duduk di kursi itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2