Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
102. Pertarungan di Atas Jembatan


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Bao-yu sudah menyusup ke dalam istana sebagai pelayan sejak tiga hari lalu. Sebagai penyusup yang memiliki keahlian beladiri, ia dapat dengan lihai mengumpulkan informasi dan membaca area operasinya. Menggunakan ilmu jarumnya, Bao-yu bisa mengorek keterangan dari pelayan Putri Ling Mei dengan cara menghipnotisnya. Karenanya ia tahu jadwal Putri Ling Mei melukis di Taman Selatan di pagi hari.


Sebelum hari penculikan, Bao-yu diam-diam menyelinap masuk ke Taman Selatan dan mempelajarinya. Setelah menyusun rencana, ia mengirim pesan kepada kedua temannya yang lain yang ada di luar istana.


Teman pertama Bao-yu bernama Jia Li. Dia suka membawa payung berwarna merah setiap kali ia keluar dari ruangan. Ia selalu tampil cantik dengan pakaian hanfu berwarna hijau muda. Ia memiliki bekal senjata berupa paku-paku.


Bao-yu sudah mengatur rencana agar Jia Li menunggunya di jembatan di atas parit bagian selatan Ibu Kota.


Teman kedua Bao-yu bernama Qiongling. Seorang wanita berpostur besar dengan sanggulan yang selalu memiliki lima tusuk konde berbeda macam. Meski tusuk konde adalah senjata utamanya, tetapi kelima tusuk konde di kepalanya tidak pernah ia gunakan sebagai senjata. Ia punya persediaan tusuk konde sendiri di balik pakaian hanfu warna hitamnya.


Dalam rencana, ia ditugaskan untuk bersembunyi dan jangan buru-buru keluar jika terjadi kaos dalam upaya penculikan yang dilakukan Bao-yu.


Pada pagi hari ini, Bao-yu sukses melumpuhkan Putri Ling Mei dan kemudian menculiknya. Ia sudah memikirkan jalan keluar untuk bisa pergi dengan membawa tubuh sang putri. Saat dikejar oleh Komandan So Song, Bao-yu berusaha bertahan sampai dirinya tiba di jembatan atas parit. Di sana, Jia Li sudah berdiri menunggu dalam naungan payung merah.


Bao-yu, Jia Li dan Qionglin sama-sama mengabdi di Kelompok Hutan Timur, kelompok yang beberapa tahun lalu diyakini sudah musnah.


“Tugas kalian bertiga adalah menculik Putri Ling Mei untuk memancing Putri Besar keluar dari sarang!” perintah Ketua Kelompok Hutan Timur Ushang La beberapa hari yang lalu.


Kini di selatan Ibu Kota, tepatnya di atas jembatan atas parit, Bao-yu dan Jia Li telah terkepung. Puluhan prajurit berseragam hitam dari Pasukan Naga Merah Selatan sudah membentuk pagar betis menutup kedua ujung jembatan.


Sementara Komandan So Song berdiri di atas perahu yang tertambat di parit. Ia baru saja dibuat jatuh ke perahu saat diserang oleh Jia Li. Komandan So Song tidak memiliki seorang pun prajurit. Semua prajuritnya gagal mengejar Bao-yu sehingga harus tetap berada di bagian selatan istana.


“Serahkan Yang Mulia Putri Ling Mei dan menyerahlah!” seru Komandan So Song sambil mendongak memandang kepada Bao-yu yang memanggul tubuh Putri Ling Mei.


“Hei, Komandan So Song! Ini adalah wilayahku! Aku yang punya perintah di sini!” teriak seseorang tiba-tiba dengan suara yang keras menggelegar. Entah siapa yang bicara.


Tap!


Tiba-tiba di udara berkelebat sesosok tubuh dan mendarat di atas perahu lain yang ditambat di bawah jembatan kecil itu. Ia adalah seorang lelaki yang lebih tua dari Komandan So Song. Tubuhnya agak pendek, tetapi gempal berotot. Ia mengenakan seragam prajurit warna hitam dengan baju zirah berwarna hitam pula. Kepalanya ditutup kain hitam yang pada bagian dahi ada lempengan logam perak bercetak suatu gambar. Ia memiliki sepasang mata yang agak lebar dan kumis tebal yang melintang. Senjatanya berupa tongkat besi panjang berwarna hitam. Ia bernama Ram Pok, Komandan Naga Merah Selatan.


Ram Pok adalah perwira yang bertanggung jawab atas keamanan Ibu Kota sisi selatan. Dialah orang yang dipanggil menggunakan sandi tabuhan genderang dari prajurit menara pemantau, saat Komandan So Song sedang mengejar Bao-yu.


“Hahaha!” tawa Komandan Ram Pok kepada Komandan So Song. Lalu katanya mengejek, “Sepertinya di dalam istana terlalu nyaman bagimu sehingga harus mencari makan di wilayah orang.”


“Kau tahu siapa yang perempuan itu culik?” tanya Komandan So Song kepada rekannya sesama komandan, meski secara tingkatan ia lebih tinggi daripada Ram Pok karena ia bertugas di dalam istana.

__ADS_1


“Siapa?” tanya balik Komandan Ram Pok.


“Yang diculiknya adalah Putri Ling Mei!” tandas Komandan So Song.


“Apa?!” pekik Komandan Ram Pok sangat terkejut.


“Jika sampai Yang Mulia Putri terluka di wilayah kekuasaanmu, kepalamu jadi taruhannya!” kata Komandan So Song.


“Siapa yang berani membahayakan nyawa putri kalian?” tanya Bao-yu kepada para prajurit yang mengepung, sekaligus kepada dua komandan yang ada di atas perahu. Baru kali ini Bao-yu mengeluarkan suara.


Dengan disanderanya tubuh Putri Ling Mei, para prajurit tidak ada yang berani bertindak, terlebih belum ada komando dari Komandan Ram Pok.


“Aku berani!” teriak Komandan So Song lalu menolakkan kakinya di dak perahu. Tubuhnya melenting tinggi naik ke atas jembatan.


Jia Li segera merespon pergerakan Komandan So Song. Ia lepaskan payungnya naik ke udara, sementara tubuhnya bergerak cepat mengirimkan tendangan kepada Komandan So Song.


Dak!


Komandan So Song yang menargetkan Bao-yu justru mendapat serangan dari Jia Li. Ia segera menangkis tendangan wanita itu kala ia masih dalam lompatannya. Tubuh Komandan So Song terdorong agak jauh ke ujung jembatan dan berhenti di depan barisan para prajurit di sisi kanan parit.


“Gila! Tenaganya besar sekali!” desis Komandan So Song yang mendapati tangannya serasa bengkak, terlebih ia sampai terdorong jauh.


Kini, Bao-yu dan Jia Li berdiri berdampingan. Bao-yu berdiri menghadap Komandan So Song di sisi kanan parit, sementara Jia Li berdiri menghadap ke arah barisan prajurit di sisi kiri parit.


Daripada sendirian di bawah, Komandan Ram Pok melompat naik ke ujung jembatan di sisi kiri. Ia berdiri di depan pasukannya dan berhadapan dengan Jia Li.


“Apa-apaan ini? Komandan Naga Merah Selatan berhadapan dengan perempuan!” teriak Komandan Ram Pok.


“Jika kau merasakan kekuatannya, kau tidak akan bisa berkoar lagi, Ram Pok!” teriak Komandan So Song mengingatkan temannya dari ujung jembatan satunya.


“Aku ingin merasakan kehebatannya! Hiaaat!” seru Komandan Ram Pok lalu berteriak sangar.


Komandan Ram Pok maju menusukkan ujung tongkat besinya kepada tubuh Jia Li.


Tap!


Mendelik Komandan Ram Pok. Ujung tongkat besinya ditahan dan ditangkap dengan satu telapak tangan kanan Jia Li. Dorongan tongkat itu tertahan, bahkan mendorong balik. Komandan Ram Pok buru-buru mengerahkan tenaga lebih besar.

__ADS_1


Saling dorong tongkat terjadi. Komandan Ram Pok harus terkejut karena Jia Li berdiri santai tanpa memasang kuda-kuda, tetapi tenaga dorongnya kuat. Sementara Komandan Ram Pok harus memasang kuda-kuda yang kuat.


Tangan kiri Jia Li melepaskan payungnya melayang terbang naik ke udara. Seiring itu, ....


Dak!


Satu kaki Jia Li menendang badan tongkat dari bawah. Kencangnya tendangan membuat tongkat terlepas dari tangan keduanya dan mencelat tinggi di udara. Pada saat itu, Jia Li merangsek maju.


“Aaargg!” teriak Komandan Ram Pok melakukan hal yang sama.


Di tengah-tengah, Jia Li dan Komandan Ram Pok bertemu saling serang dan tangkis dengan kecepatan tinggi bertenaga besar.


Duk!


Puncaknya dari adu serang itu, keduanya saling lesatkan tinju secara bersamaan. Tinju tangan halus Jia Li menyambut tinju tangan besar milik Komandan Ram Pok.


“Akh!” raung Komandan Ram Pok dengan tubuh terpental mundur dan jatuh di depan barisan prajuritnya. Mulutnya merembeskan darah kental.


Sementara Jia Li hanya terjajar beberapa langkah.


Tlang!


Tongkat besi Komandan Ram Pok jatuh begitu saja di atas jembatan. Semetara Jia Li kembali menangkap gagang payungnya yang melayang turun.


Komandan Ram Pok merasakan tulang lengan kanannya serasa remuk.


“Akan sangat memalukan jika Komandan Naga harus kalah oleh seorang perempuan!” kata Komandan Ram Pok sambil bangun berdiri dengan tatapan tajam kepada Jia Li sambil wajahnya menyeringai. Seolah ingin menerkam wanita cantik itu dan mengoyaknya.


Beg!


Komandan Ram Pok menjejakkan kaki kanannya ke lantai jembatan. Tenaga yang terkirim membuat tongkat besi yang tergeletak mencelat naik ke udara. Cepat Komandan Ram Pok melompat. Tangan kirinya meraih tongkat di udara lalu dengan satu gerakan.


“Aaarrgg!” raung Komandan Ram Pok di udara seperti hewan buas terluka. Tangan kirinya langsung mengayunkan tonkatnya dari atas ke bawah. Payung plus kepala Jia Li yang menjadi target, tidak peduli bahwa itu adalah perempuan.


“Hiaaat!” Pada saat yang bersamaan, Komandan So Song juga merangsek cepat kepada Bao-yu. Pedangnya telah terhunus yang artinya siap membunuh.


Dua komandan itu menyerang secara bersamaan dengan serangan yang bukan main-main. (RH)

__ADS_1


__ADS_2