
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
“Apakah kau mencariku, Sandaria?” tanya Joko lembut, menyapa untuk pertama kali.
Tersenyum Sandaria mendengar suara seorang lelaki yang memang mungkin adalah orang yang dicarinya selama ini. Namun saat ini, ia wajib menolak bahwa Joko Tenang adaleh lelaki yang dicarinya.
Meski ia menolak, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang merasuk dalam hatinya saat mendengar kata-kata Joko Tenang yang ditujukan kepadanya langsung. Ada terlihat ketulusan rasa bahagia yang terpoles dalam senyuman itu. Sandaria bahkan mengginggit sedikit bibir bawahnya. Ia tidak sadar bahwa tindakan bibirnya itu membuat Joko Tenang berdesir dan langsung jatuh hati, terlebih gadis kecil itu memiliki karakter dada yang membusung padat, seolah Dewi Bayang Kematian versi mungil.
Hanya Joko Tenang yang tahu, bahwa ada denyut-denyut halus yang aktif di tubuh bawahnya, tetapi tidak sebrutal ketika berhadapan dengan Dewi Bayang Kematian.
Bukan hanya Joko Tenang yang betah memandangi wajah cantik nan mungil menggemaskan itu, Tirana pun demikian.
“I… iya, Kakang. Tapi… hihihi!” ucap Sandaria lalu tertawa pelan mengandung kebingungan. “Tapi aku berharap, bukan Kakang pemuda yang aku cari.”
“Loh, kenapa?” tanya Tirana cepat.
“Aku mencari lelaki berbibir merah yang belum memiliki istri atau calon istri. Aku sangat berharap ada lelaki lain yang seperti Kakang Joko,” ujar Sandaria.
“Kenapa, Mungil Sayang?” tanya Tirana lembut. Ia berusaha meyakinkan Sandaria. “Menikah dengan Kakang Joko tidak hanya membuatmu dimiliki oleh Kakang Joko, tetapi kau juga akan dimiliki oleh kami, istri-istri Kakang Joko.”
“Aku rasa takdirmu memang dengan Joko, jika kau memang mencarinya padahal belum pernah bertemu dengannya. Aku yang sudah lama hidup di dunia ini, belum pernah bertemu dengan pemuda yang berbibir merah seperti bergincu, kecuali Joko Tenang, murid Ki Ageng Kunsa Pari. Lagi pula, kau tidak akan disakiti jika menjadi salah satu dari istri Joko,” kata Ki Ranggasewa.
Perkataan itu membuat Sandaria terdiam, tapi bibir mungilnya mulai ia gerak-gerakkan tanda sedang berpikir, memberikan kegemasan di mata Joko Tenang.
“Gadis ini begitu menggoda perasaanku. Ingin rasanya aku menggigit bibirnya yang tidak mau diam itu,” kata Joko Tenang, tetapi itu di dalam hati.
Sandaria benar-benar tersudut untuk mempertahankan pendiriannya bahwa bukan Joko Tenang pemuda yang ia cari.
“Tirana, jangan mendesak Sandaria. Jika ternyata hati kami berdua ditakdirkan bersatu, maka benang cinta itu pasti akan saling menjalin dengan sendirinya,” kata Joko Tenang bijak.
Mendengar perkataan Joko Tenang, Tirana dan Putri Sri Rahayu mendelik lalu tertawa rendah.
__ADS_1
“Kenapa kalian tertawa?” tanya Joko Tenang.
“Kata-katamu, Kakang, begitu indah di telingaku,” jawab Putri Sri Rahayu. “Alangkah bagusnya jika kata-kata seperti itu Kakang rangkai saat malam pertama. Hihihi!”
Tertawalah Tirana dan Putri Sri Rahayu, memaksa Sandaria juga turut tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
“Terima kasih, Kakang. Aku bahagia bisa berkesempatan bertemu dengan Kakang. Benar yang Kakang Joko katakan, jika memang aku termasuk dari calon istri yang ditakdirkan, pastinya aku tidak bisa menghindarinya meski aku berusaha,” tutur Sandaria. “Aku pamit diri, Kakang, Kakak, Kakek Setan!”
Agak mendelik Ki Ranggasewa disebut “Kakek Setan”.
Sandaria lalu berbalik. Tirana memegang tangan kiri Sandaria dan menuntunnya berjalan.
Ketika Sandaria berbalik melangkah pergi, Joko Tenang merasa ada kesenangannya yang hilang saat itu juga. Hal itu memancing pikirannya berhayal dan berharap memiliki seluruh yang ada pada diri Sandaria.
“Jika kau tidak keberatan, datanglah bersama nenekmu ke Perguruan Tiga Tapak untuk menyaksikan pernikahan kami,” kata Tirana saat mengiringi perjalanan Sandaria menuju kepada Satria, serigala hitam.
“Baik, akan aku usahakan hadir, Kakak,” ucap Sandaria.
Akhirnya, Sandaria pergi meninggalkan rombongannya dengan cara menghilang begitu saja, tertelan udara setelah tiga kali suara gemerincing gelang lonceng pada leher Satria.
Tirana memberi kode mata kepada Putri Sri Rahayu agar melihat Joko Tenang. Kedua gadis itu melihat Joko Tenang berdiri terdiam, terpaku dengan tatapan menerawang ke arah hilangnya Sandaria dan kelima serigalanya.
“Tidak usah dipikirkan, Joko. Jangan mengharapkan sesuatu yang bukan untukmu. Syukurilah dulu apa yang ada. Mudah-mudahan, dengan demikian rezeki cintamu bisa ditambah oleh Yang Maha Penentu Takdir,” kata Ki Ranggasewa yang membuat Joko tergerak tersadar.
Joko Tenang hanya tersenyum salah tingkah karena Ki Ranggasewa tahu apa yang ia rasakan. Jarang-jarang Joko Tenang bisa terserang virus salah tingkah.
Tirana dan Putri Sri Rahayu hanya tertawa-tawa. Mereka bisa menerka apa yang dirasakan oleh pemuda yang mereka cintai itu. Sandaria memang terlalu memikat dengan kecantikan dan kemungilannya, ditambah tingkah mimik wajahnya yang menggemaskan.
Cring!
Sandaria dan kelima serigalanya muncul wujud di sebuah lembah kecil nan indah dengan tanah berumput halus. Lembah itu berada di tengah-tengah hutan belantara. Lembah Lelembut itu berada di tengah Hutan Raibarah.
__ADS_1
Setibanya di tempat sejuk itu, keempat serigala yang tidak ditunggangi segera berlari-lari saling berkejaran di lembah, seperti anak-anak kucing yang suka bermain-main.
Sementara Satria berlari agak kencang menuju ke utara. Tidak berapa lama, ia dan Sandaria tiba di dekat sebuah pohon besar berdaun rindang. Pohon itu sangat tepat untuk bermalas-malasan sambil berbelai angin hutan yang segar.
Di bawah pohon itu, bertiduran empat binatang serigala lain dengan warna bulu yang berbeda-beda. Ada dua serigala berbulu cokelat, tetapi memiliki warna dahi yang berbeda, satu warna putih dan lainnya warna kuning. Serigala ketiga berwarna merah gelap dengan sepasang mata berwarna biru muda.
Serigala terakhir memiliki postur tubuh yang sebanding dengan Satria. Rambut bulunya semua berwarna perak dengan sepasang mata berwarna ungu. Di lehernya melingkar gelang lonceng besar berbahan perak.
Tampak seorang nenek berambut putih perak sedang asik berbaring berbantalkan kaki si serigala perak yang bernama Samudera. Nama itu diberikan kepada serigala itu karena ia bisa berenang menyeberangi beberapa lautan samudera untuk bisa sampai di daratan Tanah Jawi.
Si nenek mengenakan jubah semodel mantel tebal berbulu berwarna cokelat. Nenek itu memiliki model wajah asing jika dibandingkan dengan wajah-wajah masyarakat penghuni daratan Tanah Jawi. Ia memiliki model hidung yang mancung dan besar. Meski sudah tua, tetapi dagunya memiliki model belahan yang cukup jelas. Sepasang alisnya berwarna putih. Di lehernya melingkar sebuah gelang lonceng berwarna emas.
Sandaria turun dari punggung Satria yang sudah turun merendah. Gadis itu menghampiri si nenek.
“Nenek! Neneeek!” panggil Sandari bernada manja sambil berjongkok mengguncangkan-guncangkan bahu si wanita tua.
“Hmm? Ada apa, Sayang?” tanya si nenek tanpa membuka matanya, seolah malas untuk bangun. Suaranya juga terdengar serak, hampir mirip dengan Sandaria, tetapi masih lebih indah jika mendengar suara Sandaria.
“Aku sudah bertemu dengan pemuda sakti itu,” ujar Sandaria pelan, tapi nadanya serak sedih, seolah ingin menangis.
Mendengar itu, sepasang mata tua si nenek langsung terbuka. Maka terlihat sepasang matanya yang berpupil biru muda. Ia segera bangun duduk. Sementara para serigala di sekitar mereka tetap tertidur malas-malasan.
“Lalu kenapa kau bersedih seperti itu jika sudah menemukannya? Kau sudah bertemu langsung dengan pemuda berbibir perempuan itu?” tanya si nenek yang nama persilatannya Serigala Perak, nama aslinya adalah Santa Marya. Ia adalah wanita dari negeri Benua Biru, pergi mengembara bersama dua ekor serigalanya, yaitu Satria dan Samudera.
“Iya, aku bertemu langsung dengannya, tapi ternyata dia sudah akan menikah dengan tiga wanita cantik dan baik hati. Kemarin aku bertemu dengan dua calon istrinya, tapi Nenek belum pulang. Barusan, aku bertemu langsung dengan Kakang Joko dan calon istrinya yang lain,” jawab Sandaria dengan suara pelan, seolah tinggal menunggu suara berubah menjadi tangis.
“Tidak bisa! Lelaki itu sudah ditakdirkan sebagai jodohmu, jangan biarkan dia sampai menikah! Kita harus menggagalkannya!” kata Serigala Perak dengan ekspresi wajah tua yang marah.
“Tapi, Nek,” ucap Sandaria berat, sepasang matanya sudah berair.
“Tidak ada kata tapi-tapian. Takdir menyebutkan bahwa lelaki itu adalah calon suamimu, bukan calon saumi wanita lain!” tegas Serigala Perak. (RH)
__ADS_1