Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
159. Pulang Negeri


__ADS_3

*Cincin Darah Suci* 


Joko Tenang segera memandang ke posisi calon istrinya, Tirana. Dilihatnya sang gadis telah duduk bersila di tempatnya.


Meski Joko Tenang tidak melihat langsung, tetapi dugaannya yang untung-untungan ternyata benar. Tidak lama setelah ia meletakkan rompi pusakanya ke tubuh Tirana, Rompi Api Emas ternyata bereaksi. Rompi itu sempat bersinar emas dan sinarnya meresap masuk ke dalam tubuh Tirana.


Sinar emas itulah yang kemudian mengobati Tirana dan menyelamatkan nyawanya.


Melihat calon istrinya telah lebih baik, Joko segera berkelebat ke tempat Puspa berada. Didapatinya Puspa terbaring tanpa gerakan. Meski mulutnya tetap terbuka, tetapi kedua matanya telah terpejam. Tidak ada gerakan sedikit pun selain dada yang masih naik turun dengan sangat samar, seolah sebentar lagi jantungnya akan berhenti memompa.


“Puspa?” panggil Joko pelan dan ragu.


Puspa tidak menjawab dan tidak bereaksi, membuat Joko Tenang was-was.


“Puspa!” Penggilan kali ini terdengar lebih keras.


Namun, tetap saja tidak ada reaksi, membuat Joko kian cemas. Masalahnya, jika Puspa mati, bagaimana mereka bisa pulang ke Tanah Jawi.


“Bagaimana kondisi Puspa, Kakang?” tanya Tirana yang tahu-tahu telah berdiri empat langkah di sisi Joko. Ia kini mengenakan rompi merah milik Joko.


“Puspa!” teriak Joko Tenang memanggil, ia tidak menjawab pertanyaan Tirana.


“Berisik kau, Ayam Pingit!” hardik bibir Puspa dengan mata tetap terpejam.


“Hahaha!” tertawalah Joko Tenang. Ia menjadi lega.


Sambil tersenyum, Tirana segera menghampiri tubuh Puspa.


Cup!


Tirana yang sudah membersihkan wajahnya dari darah, mengecup kening Puspa. Kondisinya yang sudah pulih delapan puluh persen membuat Tirana sudah mampu kembali mengerahkan tenaga dalamnya.


Sinar kuning tipis dari bibir Tirana masuk ke wajah Puspa, lalu berproses menyebarkan rasa sejuk ke seluruh tubuh.


Joko Tenang membiarkan Tirana mengurus Puspa. Ia memilih berkelebat ke satu titik dan berdiri gagah menghadap ke arah puluhan ribu pasukan Ci Cin yang masih ada.


Melihat pertarungan Joko Tenang dengan mendiang Pangeran Baijin jelas membuat pasukan itu jatuh mentalnya. Pikir mereka, jika Joko Tenang mengamuk, maka dalam waktu singkat mereka bisa habis.


Pasukan Ci Cin telah kehilangan kepala. Pangeran Baijin dan empat jenderal yang memimpin pasukan telah mati. Perwira tertinggi dalam pasukan Ci Cin kini tinggallah Sala A Jin, itupun ia dalam kondisi terluka.


Press!


Joko Tenang kembali menyalakan sinar hijau Surya Langit Jagad. Tujuannya untuk menakuti pasukan besar itu.


“Munduuur!” teriak Sala A Jin.


“Mundur! Mundur!” maka para komandan pasukan Ci Cin yang masih tersisa segera memerintahkan pasukannya mundur. Panik.


Puluhan ribu pasukan Ci Cin terlihat bergerak buru-buru mengikuti komandan-komandan mereka.


Namun, Joko Tenang mendengar ada suara keramaian di arah belakang. Ia cepat menengok ke belakang dan melempar pandangannya ke arah jauh.


Ribuan pasukan prajurit berseragam cokelat gelap muncul berjalan dari balik bukit. Mereka datang dengan panji-panji Negeri Lor We.

__ADS_1


Suara ledakan yang berulang-ulang dari pertarungan Joko sebelumnya telah memancing pasukan Negeri Lor We datang.


Joko sebelumnya telah diberi tahu oleh Su Ntai bahwa pasukan yang berbasis di belakang bukit adalah pasukan negeri itu.


Joko Tenang memilih mendatangi Tirana dan Puspa di dalam kawah kering. Tampak Puspa sudah duduk bersila untuk lebih meringankan lukanya. Tiga kali ilmu pengobatan Tirana yang bernama Kecupan Malaikat hanya bisa memberi pengobatan enam puluh persen.


Ketika Tirana mencoba memakaikan rompi pusaka Joko kepada Tirana, ternyata rompi itu tidak bereaksi. Entah apa sebabnya?


“Bagaimana?” tanya Joko.


“Puspa sepertinya tidak bisa pulih secara penuh, Kakang,” jawab Tirana. “Bagaimana dengan Permata Darah Suci?”


“Sudah aku dapatkan. Ada padaku,” jawab Joko. “Aku sangat khawatir kalian tidak akan selamat.”


“Aku juga khawatir Kakang akan berakhir di sini,” kata Tirana pula.


“Kita memang sehati,” ucap Joko seraya tersenyum manis, senyum yang hilang selama pertarungan berlangsung.


Tirana hanya tertawa kecil.


“Bagaimana dengan pasukan yang datang itu?” tanya Tirana.


“Biarkan saja. Apa yang kita cari sudah kita dapatkan. Kita harus segera kembali ke negeri kita,” jawab Joko.


“Puspa tidak bisa pulang!” kata Puspa tiba-tiba, mengejutkan Joko Tenang dan Tirana.


“Apa maksud Puspa?” tanya Tirana.


“Puspa harus sembuh dulu. Ilmu Gerbang Tanpa Batas tidak bisa Puspa keluarkan!” kata Puspa bernada kesal.


“Berapa lama Puspa bisa menyembuhkan diri?” tanya Tirana.


“Satu pekan atau lebih!” jawab Puspa ketus.


“Waktu yang kita miliki masih cukup untuk menunggu, Kakang. Terlebih aku dan Kakang bisa membantu penyembuhan Puspa lebih cepat,” kata Tirana.


“Benar, tapi aku khawatir jika kita menunda waktu. Pulang lewat laut pun akan lebih lama,” kata Joko.


“Apakah Gimba bisa dipanggil, Kakang?” tanya Tirana.


Pertanyaan itu mengejutkan Joko karena mengingatkannya.


“Tapi, berapa lama perjalanan yang akan kita tempuh untuk sampai?” tanya Joko yang sebenarnya tidak bisa dijawab oleh Tirana.


“Hei, Ayam Pingit!” panggil Puspa membentak. “Perempuan siapa lagi yang mau kau panggil, hah?!”


Joko dan Tirana tersenyum oleh pertanyaan Puspa.


“Puspa pasti suka jika Kakang Joko memanggil Gimba,” kata Tirana. Lalu ia beralih kepada calon suaminya, “Berapa pun lamanya, setidaknya kita menuju pulang sambil bisa menunggu Puspa menyembuhkan diri.”


“Kau benar, Tirana. Aku rasa hanya akan memakan waktu beberapa hari saja,” kata Joko.


Joko Tenang lalu melesat cepat, pergi ke punggung bukit tandus.

__ADS_1


Sementara pasukan Negeri Lor We semakin mendekati posisi area bekas pertarungan yang memiliki beberapa lubang raksasa, kerusakan akibat pertarungan tadi.


Di punggung bukit, Joko Tenang berdiri di atas sebuah batu besar menghadap ke timur. Joko berkonsentrasi mengatur pernapasannya. Pada puncaknya, dia menghirup udara cukup panjang hingga dadanya membusung. Kemudian,....


“Kaaakkk...!”


Joko Tenang berteriak, berkoak nyaring membahana yang didukung oleh tenaga dalam tinggi. Koakan itu menggema lepas ke alam luas seakan ingin memperdengarkannya kepada seluruh penghuni langit.


Puspa terkejut mendengar. Jenderal Negeri Lor We yang memimpin pasukannya segera memberi isyarat tangan agar pasukannya berhenti. Mereka semua terkejut mendengar koakan keras itu.


Sementara pasukan Ci Cin yang bergerak mundur, semakin was-was.


“Ilmu apa itu?” tanya Puspa.


“Tunggu saja. Jika berhasil, Puspa akan melihatnya,” kata Tirana seraya tersenyum.


Sejenak Joko Tenang menunggu. Ia menatap ke atas langit, tepatnya ke arah timur. Tirana pun memandang ke arah pandangan Joko. Puspa mengikuti.


Melihat orang asing di punggung bukit memandang jauh ke langit, pasukan Lor We jadi ikut memandang jauh ke langit atas.


Kaak!


Tiba-tiba terdengar suara koakan burung dari tempat yang jauh, tetapi terdengar sampai ke telinga mereka semua.


Mendengar itu, Joko Tenang tersenyum, demikian pula Tirana. Puspa hanya kerutkan kening.


Tidak berapa lama, sesosok benda kecil keemasan muncul terbang dari balik awan yang cerah. Benda itu melesat terbang mendekat. Kecuali Joko, mereka semua fokus memandang kepada benda emas yang terbang.


Semakin lama, semakin mendekat. Semakin jelas bahwa makhluk yang muncul dari balik awan itu adalah seekor burung yang terlihat begitu indah karena laksana bersinar keemasan. Awalnya terlihat itu burung kecil, tetapi ketika semakin mendekat, terkejutlah Puspa dan seluruh pasukan Negeri Lor We.


“Ayaaam! Hihihi!” teriak Puspa lalu tertawa cekikikan sambil menunjuk ke makhluk langit itu.


“Makhluk Dewa! Makhluk Dewa!” teriak para prajurit di dalam pasukan Negeri Lor We.


Mereka semakin mendelik, burung yang datang bukan lagi sekedar besar, tetapi burung raksasa. Burung yang indah tetapi menakutkan. Sinar matahari yang cerah membuat bulu-bulu kuning kecokelatannya terlihat bersinar emas dari kejauhan.


“Cepat cepat cepaaat!” teriak Sala A Jin kepada pasukan Ci Cin. Ia semakin panik, membuat pasukannya pun semakin panik.  Dugaan mereka, burung raksasa itu akan diperintah untuk mengejar mereka.


“Kaaakkk! Hahaha...!”


Joko Tenang berkoak lagi, tapi lebih pelan dari sebelumnya. Ia pun kemudian tertawa senang, seolah-olah mendapat calon istri yang baru lagi.


“Gimbaaa!” teriak Joko Tenang membahana, memanggil.


Kaak!


Burung itu berkoak seolah menjawab penggilan Joko.


Gimba adalah nama burung rajawali raksasa milik Joko Tenang, seekor burung dari Alam Kahyangan. (RH)


 


*******

__ADS_1


TERIMA KASIH kepada seluruh READERS yang sudah setia dan AUTHORS sahabat yang sudah mendukung karya OM RUDI.


Season "Cincin Darah Suci" akan berakhir dan masuk ke dalam perjalanan season "DESA WONGAWET" yang akan disingkat "Dewo".


__ADS_2