
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
“Siapa?” tanya Nyi Lampingiwa sambil keluar. Ia menggerak-gerakkan tongkat kayunya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya diulurkan agar bisa menyentuh jika ada benda di depannya. Wanita tua berambut putih itu berfisik bungkuk dengan jubah merah gelap.
Melihat gerak-gerik Nyi Lampingiwa yang berjuluk Nyi Pandang Ireng tersebut, Tirana segera menangkap keanehan.
“Ada apa denganmu, Nyi?” tanya Tirana heran.
Mendengar suara Tirana, Nyi Lampingiwa yang bermata buta cepat menghadapkan wajahnya ke arah Tirana yang bersama Getara Cinta, dan Putri Sri Rahayu.
“Sepertinya aku pernah mendengar suaramu, Nisanak. Siapa kau? Sepertinya kau bersama teman,” kata Nyi Lampingiwa.
“Aku Tirana, calon istri Joko Tenang. Aku yang pernah datang bersama muridmu, juga bersama murid Pangeran Tapak Tua dan Setan Genggam Jiwa,” jawab Tirana dengan jelas.
“Oh, iya. Aku ingat, kau wanita muda yang sangat sakti itu,” ucap Nyi Lampingiwa.
Tirana segera mendapati keberadaan Nyi Lampingiwa. Ia menyentuhkan tangannya kepada tangan si nenek yang rambutnya terurai. Ketika Tirana menyentuhnya, ia tersenyum. Tirana menuntunnya duduk di balai-balai.
“Apa yang terjadi denganmu, Nyi? Aku tidak merasakan kesaktianmu,” tanya Tirana lagi.
“Kesaktianku sudah musnah sejak beberapa hari yang lalu,” jawab Nyi Lampingiwa.
Mendengar hal itu, ketiganya terkejut.
“Apakah Nyi Lampingiwa bertarung dengan seseorang?” tanya Tirana lagi.
“Tidak, tetapi aku merasakan sesuatu tiba-tiba menerpa tubuhku, setelah itu lenyap semua kesaktianku,” jawab Nyi Lampingiwa.
“Mungkin kau korban keris seperti yang dimaksud Joko. Jika benar, aku tahu pelakunya,” kata Putri Sri Rahayu. “Aku dan Joko sempat bertemu dengannya saat wanita itu bertarung dengan Nini Silangucap.”
“Apakah Nini Silangucap juga mengalami nasib sepertiku?” tanya Nyi Lampingiwa cepat.
“Tidak, tetapi ia kehilangan satu kakinya. Wanita pencuri Pusaka Serap Sakti itu adalah murid durhaka Setan Genggam Jiwa, namanya Mega Kencani,” kata Putri Sri Rahayu.
“Apa?” kejut Tirana.
“Jadi, yang mencuri pusaka itu adalah murid Setan Genggam Jiwa sendiri?” tanya Tirana.
“Benar. Kata Joko, Mega Kencani sudah tidak diakui sebagai murid Setan Genggam Jiwa,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Rupanya anak kurang ajar itu!” desis Nyi Lampingiwa marah. Namun, apa boleh buat, ia kini sudah tidak berdaya selain menjadi wanita tua buta biasa.
“Bukan hanya Nyi Lampingiwa saja yang diserangnya, murid durhaka itu juga menyerang gurunya sendiri,” kata Tirana.
“Apa?!” kejut Nyi Lampingiwa.
“Setan Genggam Jiwa kini seperti kau, Nyi. Ia juga sudah tidak memiliki ilmu kesaktian sedikit pun,” kata Tirana.
Nyi Lampingiwa menarik napas dalam lalu menghempaskannya.
“Sudah suratanku. Oh ya, siapa saja kalian?”
“Aku datang bersama dua saudaraku, Nyi. Aku datang bersama Putri Sri Rahayu, dan mungkin kau masih ingat dengan saudaraku yang satu lagi, yaitu Ratu Getara Cinta.”
__ADS_1
“Hah!” kejut Nyi Lampingiwa. Ia buru-buru bangun dari duduknya lalu turun berlutut di lantai tanah. “Hormatku, Yang Mulia Ratu Getara!”
Nyi Lampingiwa menjura hormat.
“Apa yang kau lakukan, Nyi?” ucap Getara Cinta cepat sambil meraih kedua lengan Nyi Lampingiwa agar segera berdiri.
Kondisi itu disaksikan oleh Jaga Manta dan Helai Sejengkal yang baru tiba bersama.
“Dia memang ratu, Helai,” bisik Jaga Manta kepada Helai Sejengkal.
“Tapi sudah tidak. Ratu Getara melepas keratuannya demi mengikuti calon suaminya,” tandas Helai Sejengkal, setengah berbisik pula.
“Aku telah bersalah karena telah membunuh Raja Gertak Semesta, Yang Mulia,” ucap Nyi Lampingiwa.
“Sudahlah, Nyi. Semua sudah berlalu. Kini kau pun bukan lagi seorang sakti dan aku bukan lagi seorang ratu. Tahtaku telah aku wariskan kepada Putri Ranti Bayapuspa yang merupakan pewaris sah tahta di Rimba Berbatu,” tutur Getara Cinta, merujuk kepada Ratu Puspa yang memiliki nama lengkap Ranti Bayapuspa.
“Tapi, bagaimana bisa Yang Mulia sampai datang ke mari?” tanya Nyi Lampingiwa.
“Aku mengikuti calon suamiku, Nyi,” jawab Getara Cinta.
“Siapa?” tanya Nyi Lampingiwa.
“Kami bertiga calon suami Kakang Joko, Nyi.” Yang menjawab adalah Tirana.
“Apa?!” pekik Nyi Lampingiwa terkejut.
“Gila bocah itu. Baru pergi ke Rimba Berbatu belum sampai sebulan, sudah memikat banyak wanita!” gerutu Nyi Lampingiwa.
“Wah, beruntung sekali lelaki itu, sampai memiliki tiga calon istri,” ucap Jaga Manta.
“Bukan hanya tiga calon, Kakang Jaga, tetapi sudah punya satu istri dan empat calon istri,” kata Helai Sejengkal.
“Waw! Aku penasaran, setampan apa orang itu sampai begitu beruntung,” kata Jaga Manta.
“Apakah kau juga ingin memiliki banyak istri, Jaga Manta?” tanya Putri Sri Rahayu kepada Jaga Manta, agak ketus.
“Helai Sejengkal sangat membutuhkan ludah perjaka untuk menyembuhkan racunnya, kau bisa menikahinya,” kata Tirana pula.
Mendelik terkejut Helai Sejengkal mendengar perkataan Tirana. Jaga Manta jadi memandang kepada Helai Sejengkal.
“Kau mengidap racun, Helai?” tanya Jaga Manta.
“I… iya,” jawab Helai Sejengkal sambil tersenyum kecut.
“Aku bisa mencoba mengeluarkan racunmu, jika kau tidak keberatan,” kata Jaga Manta.
“Ti… tidak perlu. Racunku sangat sulit untuk dikeluarkan, karena sudah menyatu dengan seluruh persendianku,” kata Helai Sejengkal.
“Tapi di Perguruan Tiga Tapak ada cara mengeluarkan racun yang sulit untuk dikeluarkan,” kata Jaga Manta.
“Terima saja tawaran Jaga Manta, Helai. Tidak ada salahnya mencoba. Pikirkan jika racun itu kumat kembali, itu sangat berbahaya dengan kehormatanmu,” kata Tirana.
“Baiklah, nanti aku akan mencoba di Perguruan Tiga Tapak,” ucap Helai Sejengkal akhirnya. Dalam pikirannya, dengan berobat ke Perguruan Tiga Tapak, ia memiliki banyak kesempatan untuk lebih dekat dengan Jaga Manta.
__ADS_1
“Siapa mereka, Tirana?” tanya Nyi Lampingiwa.
“Teman kami namanya Helai Sejengkal, bersama calon suaminya, Ketua Perguruan Tiga Tapak, Jaga Manta,” jawab Tirana.
Mendengar kata “calon suami” dari jawaban Tirana, Jaga Manta dan Helai Sejengkal seketika gelagapan, tapi tidak berusaha membantah juga.
“Ketua Perguruan Tiga Tapak?” sebut Nyi Lampingiwa. Sebab jika benar, maka ia memiliki urusan tersendiri dengan Jaga Manta.
“Apakah kau berniat mengambil pusaka milik ayahmu?” tanya Nyi Lampingiwa.
“Benar sekali, Nyi!” jawab Jaga Manta.
“Bagaimana kabar ibumu?” tanya Nyi Lampingiwa.
“Kondisinya bagik-baik saja, Nyi,” jawab Jaga Manta.
“Apakah Pendekar Seribu Tapak masih tinggal di perguruan itu?” tanya Nyi Lampingiwa.
“Masih, Nyi,” jawab Jaga Manta, merujuk kepada kakek gurunya.
“Lalu di mana calon suami kalian?” tanya Nyi Lampingiwa.
“Joko sedang bersama calon istrinya melepas rindu, Nyi,” jawab Tirana.
“Hah! Ada lagi?” kejut Nyi Lampingiwa.
“Kau mencariku, Nek?” tanya Joko Tenang sambil berjalan mendekat. Empat langkah darinya berjalan Kerling Sukma yang sudah menuntaskan tagihan rindu dan cintanya.
“Kakang Jaga!” sebut Kerling Sukma saat mengenali pemuda yang berdiri di sebelah Helai Sejengkal.
Terkejutlah mayoritas dari mereka melihat Kerling Sukma ternyata mengenali Jaga Manta.
“Sukma!” sebut Jaga Manta seraya tersenyum lebar mengenali wanita yang datang bersama Joko Tenang.
Kerling Sukma langsung berlari kepada Jaga Manta dan memeluknya. Apa yang mereka saksikan membuat para gadis itu terkejut dengan berbagai dugaan.
Namun bagi Joko Tenang, ia segera mengenali siapa pemuda dewasa itu.
“Jadi, lelaki yang beruntung itu adalah Joko Tenang yang pernah menolongmu di jurang?” tanya Jaga Manta kepada Sukma, setelah pelukan Kerling Sukma lepas. Ia berharap dugaannya salah besar.
“Beruntung apa, Kakang?” tanya Sukma.
“Beristri banyak,” jawab Jaga Manta.
“Hihihi…!” tertawalah para calon istri Joko Tenang melihat reaksi Jaga Manta.
“Aku dan Joko akan menikah secepatnya di depan Ibu,” ujar Kerling Sukma seraya tersenyum bahagia di depan kakaknya.
“Apa?!” kejut Jaga Manta lalu memandang kepada Joko Tenang.
Pemuda berbibir merah itu hanya tersenyum kepada Jaga Manta.
“Aku tidak menyangka akan bertemu Kakang Jaga Manta di sini,” sapa Joko Tenang. (RH)
__ADS_1