Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
22. Ki Demang Rubagaya


__ADS_3

Dugaan Kembang Buangi setelah memasuki Desa Tepak Giring ternyata tidak meleset. Nenek Kerdil Raga yang diikutinya, berakhir di kediaman Ki Demang Rubagaya.


Kembang Buangi memiliki kenangan dengan Ki Demang. Dialah orang yang pernah memungutnya atas permintaan istrinya. Namun kemudian, Demang juga yang membuangnya. Setelah ia dibuang di masa kecil, gurunya memungutnya dan menjadikannya murid tunggal.


Beberapa tahun yang lalu, dalam suatu perjalanan, istri Ki Demang pernah ditolong oleh Kembang Buangi.


Dari balik kumpulan pepohonan pisang, Kembang Buangi mengintai kediaman Ki Demang Rubagaya yang besar dan megah untuk standar di sebuah desa. Rumah itu terbuat dari kombinasi batu dan kayu. Hampir semua sisinya memiliki penjagaan centeng yang tubuhnya dilengkapi rentetan senjata pisau terbang.


“Dengan masuknya Nenek Kerdil ke dalam, belum pasti jika Demang ada di dalam rumah,” membatin Kembang Buangi. “Rasanya tidak mungkin untuk menyelamatkan Pendekar Tikus Langit tanpa bisa diketahui.”


“Ai ai ai! Sedang apa di sini, Cantik?” tanya seseorang di belakang Kembang Buangi dengan nada suara mengalun.


Kembang Buangi yang terkejut cepat menengok. Ia mendapati seorang pria besar berkulit hitam tanpa baju, tersenyum-senyum kepadanya. Orang itu tidak lain adalah Gajahlani, murid Nenek Kerdil Raga.


“Hai, para penjaga! Ada yang mau mencuri di rumah Ki Demang!” teriak Gajahlani sambil melambai-lambai gemulai memanggil centeng-centeng terdekat.


Kembang Buangi tidak bisa lagi menghindar untuk tidak diketahui, ia sudah tertangkap basah.


Dalam waktu singkat, sejumlah anak buah Ki Demang Rubagaya sudah mengepung Kembang Buangi di area pepohonan pisang itu.


“Siapa kau?!” tanya seorang centeng dengan membentak dan mata melotot, seolah ialah yang paling jago di antara semuanya.


“Aku ingin bertemu dengan Ki Demang!” kata Kembang Buangi.


“Mana mungkin?” kata Gajahlani sambil tangannya mengibas lemah dan mimik wajah seperti wanita cantik yang angkuh. “Orang yang mengintai rumah orang kaya pastilah berniat mencuri.”


“Jika begitu, kita bunuh saja!” seru seorang centeng lainnya.


“Siapa orang itu?!” tanya satu suara orang tua cukup kencang, membuat para centeng mengurungkan niatnya untuk menyerang.


Kembang Buangi yang juga hendak meloloskan pedangnya, mengendurkan ketegangannya. Ia dan yang lainnya memandang kepada kedatangan sosok kecil bertubuh pendek tapi berwajah tua. Orang itu tidak lain adalah Nenek Kerdil Raga.


“Oh, rupanya murid Pangeran Tapak Tua,” kata Nenek Kerdil Raga setelah melihat jelas wajah wanita yang dikepung oleh para centeng.


“Aku ingin bertemu Demang Rubagaya,” kata Kembang Buangi.


“Lalu kenapa dengan cara seperti ini?!” bentak Nenek Kerdil Raga mendelik.


“Aku memakai cara seperti ini, karena aku melihat kau membawa tubuh murid Ki Ranggasewa yang kau larikan ke mari. Aku ingin menemui Demang Rubagaya sekarang juga, aku ada urusan penting dengannya,” tandas Kembang Buangi.


“Untuk urusan apa?” tanya Nenek Kerdil Raga.


Belum lagi Kembang Buangi menjawab, ....

__ADS_1


“Ki Demang datang!” teriak seorang centeng memberi kabar kepada segenap penghuni di rumah itu dan sekitarnya.


Semuanya pun beralih memandang ke halaman luas rumah itu. Sebuah kereta kayu terbuka datang. Dua kuda yang menariknya berhenti atas kendali seorang sais. Dua orang centeng segera datang memegangi tali kuda agar diam di tempat. Ada sepuluh centeng lain yang tadi berlari mengikuti kereta kuda sebagai pengawal. Seorang centeng segera membuka pintu kereta bagi tuan besar yang duduk di kotak kereta beroda dua itu.


Seorang lelaki berpakaian merah bagus dan mengenakan blankon berwarna biru, bergerak turun dari atas kereta kudanya. Ia memelihara kumis yang berwarna putih di usianya yang ke 59 tahun. Pria bertubuh cukup gemuk itu adalah Ki Demang Rubagaya.


Nenek Kerdil Raga segera mendatangi Ki Demang.


“Pendekar Tikus Langit sudah aku tangkap dan kini ada di dalam,” lapor Nenek Kerdil Raga.


“Lalu ada apa dengan gadis itu?” tanya Ki Demang.


“Katanya ia ingin bertemu denganmu. Ia murid Pangeran Tapak Tua,” jawab Nenek kerdil Raga.


“Biarkan dia!” seru Ki Demang Rubagaya kepada para centengnya.


Perintah itu membuat para centeng membuyarkan kepungannya lalu kembali ke posnya masing-masing.


“Apakah kau masih mengingatku, Demang?” tanya Kembang Buangi sambil berjalan ke depan Ki Demang Rubagaya.


“Aku masih ingat dengan orang yang pernah menolong istriku enam tahun yang lalu,” jawab Ki Demang. “Hal apa yang bisa aku bantu untukmu?”


“Aku sedang mencari tahu siapa sebenarnya kedua orangtuaku. Berdasarkan petunjuk yang aku dapat, kunci untuk mengetahui siapa kedua orangtuaku ada pada seorang yang bernama Bugujula,” ujar Kembang Buangi.


“Lalu kenapa kau datang kepadaku?” tanya Ki Demang seolah tidak mengerti tentang nama yang disebutkan tadi.


“Karena orang yang bernama Bugujula itu tidak lain adalah kau sendiri adanya,” tandas Kembang Buangi.


Ki Demang Rubagaya terdiam sambil manggut-manggut menatap Kembang Buangi tanpa berkedip. Kali ini ia tidak terkejut sedikit pun dengan pengungkapan dari Kembang Buangi.


“Lalu, apakah kau mau mengatakan bahwa aku adalah ayahmu? Atau kau mau menuduhku sebagai pembunuh kedua orangtuamu?” tanya Ki Demang Rubagaya dengan sikap yang tenang tapi tatapan tajam kepada Kembang Buangi.


“Aku tidak berharap salah satu dari keduanya, Demang. Aku berharap kau memberiku kenyataan yang lain, karena kaulah satu-satunya orang yang mengetahui siapa kedua orangtuaku.”


“Aku tidak tahu kau anak dari siapa pun. Pulanglah, karena kediamanku bukan tempat yang aman bagi seorang gadis sepertimu!” kata Ki Demang lalu berbalik melangkah menuju teras rumahnya, ia meninggalkan Kembang Buangi.


“Demang, aku adalah anak yang pernah kau pungut menjadi anak angkatmu!” seru Kembang Buangi.


Seketika Ki Demang berhenti melangkah mendengar kata-kata si gadis. Ia lalu berbalik dan memandang tajam kepada Kembang Buangi.


“Siapa kau sebenarnya?” tanya Ki Demang dengan nada yang mengandung amarah terpendam.


“Aku adalah bayi yang pernah kau pungut atas permintaan istrimu, tapi kemudian kau buang kembali,” kata Kembang Buangi.

__ADS_1


Mendelik Ki Demang mendengar jawaban itu.


“Aku bayi yang memiliki gelang biru. Tentunya kau masih ingat telah membunuh wanita yang juga memakai gelang biru seperti milikku. Jadi kau tahu siapa kedua orangtuaku.”


“Terpaksa, aku akan memberi tahumu siapa kedua orangtuamu. Aku khawatir arwahmu tidak tenang setelah kau mati. Setelah kau mengungkapkan jati dirimu, maka aku jadi tahu bahwa masih ada orang yang menyimpan dendam masa lalu kepadaku. Aku sungguh tidak tenang dengan hal itu. Jadi aku harus memastikan bahwa tidak ada orang lagi yang memendam dendam seperti dirimu,” kata Ki Demang Rubagaya yang secara tidak langsung memberi pesan yang jelas kepada Kembang Buangi bahwa gadis itu harus mati. “Sejak awal aku pungut kau waktu bayi, aku sudah tahu kau anak dari siapa. Kau adalah bayi dari pasangan Baruya dan Gendasari. Akulah yang membunuh keduanya atas perintah Dewi Tanpa Rupa.”


Seketika mendidih emosi dan membulat dendam Kembang Buangi.


Sing!


“Aku tidak ragu lagi, Demang!” teriak Kembang Buangi setelah meloloskan pedang dari warangkanya. Detik berikutnya, Kembang Buangi berkelebat cepat di udara ke arah Ki Demang.


Ting!


Serangan pedang Kembang Buangi tidak sampai kepada Ki Demang, sebab tongkat Nenek Kerdil Raga maju menghadang serangan itu. Kembang Buangi terpaksa mundur kembali.


“Bunuh!” teriak Ki Demang Rubagaya kepada centeng-centengnya.


Seseset ...!


Perintah Ki Demang segera ditindaklanjuti dengan pelesatan sejumlah pisau terbang kepada Kembang Buangi.


Tring ting ting!


Dengan gerakan pedang yang gesit, semua pisau terbang ditangkis dan berguguran ke tanah. Selanjutnya, lebih sepuluh orang centeng maju mengeroyok Kembang Buangi.


Sementara Ki Demang berjalan pergi ke teras rumah yang lapang. Ia duduk jumawa menyaksikan pertarungan.


Set! Set! Crass! Bret!


Kembang Buangi rupanya tidak mau setengah-setengah dalam bertarung. Dalam waktu singkat, empat centeng sudah terkapar dengan luka tubuh robek parah.


Para centeng segera melakukan formasi pengeroyokan berjarak. Mereka menghindari bentrok langsung dengan Kembang Buangi. Mereka pun mengandalkan pisau-pisau terbang untuk membunuh gadis itu. Namun, semua serangan pisau terbang menjadi mentah, karena Kembang Buangi bisa menangkis dengan pedang atau menghindarinya.


Tepteptep! Seseset!


“Akk ...! Akh! Aaa ...!”


Justru Kembang Buangi bisa menangkap beberapa pisau terbang dengan jepitan jari-jemarinya, lalu dilesatkan balik dengan lebih cepat yang tidak bisa dihindari oleh tiga centeng.


“Centeng-centeng tidak berguna!” rutuk Ki Demang Rubagaya yang menyaksikan sudah tujuh orang anak buahnya mati.


“Mundur kalian!” teriak Nenek Kerdil Raga. (RH)

__ADS_1


__ADS_2