Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 36: Kerling Sukma Menutup Mata


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*  


“Kerling Emas, tabrak!” perintah Kerling Sukma kepada ular kuning tunggangannya.


Ular raksasa bersayap itu melesat cepat dengan tubuh lurus menyerang ke arah Nyai Kilau Maut.


Dengan telapak tangan bersinar ungu menyilaukan laksana Dewi Langit, Nyai Kilau Maut melesat cepat seperti meteor.


Pass!


Ular sinar kuning Kerling Sukma yang bernama Kerling Emas, menabrak Nyai Kilau Maut yang menghantamkan telapak tangannya yang bersinar ungu menyilaukan.


Hasilnya, Kerling Emas hancur buyar di udara menjadi butiran-butiran sinar kuning yang sangat banyak. Serbuk sinar itu melesat cepat seperti tersedot masuk ke dalam tubuh Kerling Sukma yang terpental jauh, jatuh ke bawah.


Wuss!


Untuk menyelamatkan dirinya dari hantaman bumi, Kerling Sukma melepaskan angin Ombak Hati Lembut, yaitu gelombang angin bergulung yang bisa menyambut dan menahan jatuh tubuh. Angin yang dilepas berhembus bergulung ke tanah lalu berbalik menyambut jatuh tubuh tuannya.


Wuss!


Hebatnya, tanpa harus menyentuh tanah, Kerling Sukma bisa mengendalikan angin Ombak Hati Lembut untuk melemparkan tubuhnya ke angkasa tinggi, tepatnya ke arah Nyai Kilau Maut yang mengambang di udara.


Sess! Sess! Ctar! Ctar!


Kerling Sukma yang melejit laksana menghilang, melesatkan dua ilmu Api Putih, ilmu yang paling sering ia kerahkan. Dua bola sinar putih berselimut api warna putih melesat menyerbu Nyai Kilau Maut.


Wanita separuh baya berkebaya hijau itu cukup meliukkan tubuhnya menghindari kedua Api Putih, membuat kedua sinar itu terus melesat jauh di angkasa lalu meledakkan diri sendiri.


Suss! Bummm!


Namun, Nyai Kilau Maut langsung membalas dengan melesatkan sinar biru berekor seperti komet kecil.


Pada puncak lejitannya di angkasa itu, Kerling Sukma langsung pasang ilmu perisai Benteng Tiga Lapis. Tiga lapis sinar kuning melengkung muncul di depan tubuh Kerling Sukma, menahan sinar biru Nyai Kilau Maut.


Nyaris saja, ajian Nyai Kilau Maut itu berhasil menghancurkan dua lapis benteng dengan suara ledakan yang kuat.


“Apa kau bisa bertahan di udara, Bocah?! Hihihi…!” teriak Nyai Kilau Maut lalu menertawakan Kerling Sukma.


“Kau belum mengenalku, Nyai!” teriak Kerling Sukma pula, seiring tubuhnya bergerak jatuh, tertarik oleh gaya gravitasi.


Wuss!


Kerling Sukma cepat melepaskan angin Ombak Hati Lembut. Namun, kali ini bukan untuk menahan tubuhnya dari menghantam bumi, tetapi ia lepaskan sebagai lahan pijakan.


Kerling Sukma yang meluncur jatuh, tiba-tiba bisa berlari kencang di udara, seolah ia berlari di atas tanah. Ia telah menjadikan angin sebagai pijakan. Ia berlari seperti sedang mendaki gunung. Pada puncak larinya, ia melompat tinggi mencoba mencapai posisi Nyai Kilau Maut sambil melesatkan dua Api Putih.


Sess! Sess! Ctuar!


“Hukh!” keluh Kerling Sukma saat kedua Api Putih-nya diadu dengan pukulan bersinar ungu menyilaukan Nyai Kilau Maut.


Ledakan tenaga dahsyat terjadi di udara yang mementalkan tubuh Dewi Mata Hijau. Tubuh wanita itu meluncur jatuh ke bawah dengan berputar-putar tidak teratur.

__ADS_1


Bresss!


Tiba-tiba dari dalam tubuh Kerling Sukma keluar makhluk penghuni Cincin Mata Langit. Ular raksasa sinar kuning bersayap itu langsung terbang cepat menyambar tubuh tuannya, tujuh tombak dari atas tanah.


Meski selamat dari menghantam bumi, tetapi Kerling Sukma sudah mulai terluka dalam.


Sama seperti Macan Penakluk milik Joko Tenang, para penghuni Cincin Mata Langit bisa hancur, tetapi mereka tidak aka musnah. Mereka masih bisa dikeluarkan dalam wujud sempurna.


Set! Pass! Bluarr!


Melihat Kerling Sukma masih bisa selamat dari bumi, Nyai Kilau Maut memutuskan melesat menukik turun menyerang Kerling Sukma dan Kerling Emas. Kedua telapak tangannya bersinar ungu menyilaukan.


Tangan kanan menghantam kepala ular kuning sehingga hancur buyar. Pada saat yang sama, tangan kiri melesatkan sinar ungu kepada Kerling Sukma yang telah melindungi dirinya dengan ilmu perisai Benteng Tiga Lapis.


Ledakan dahsyat terjadi. Namun, berbeda dari sebelumnya, kali ini ilmu perisai Benteng Tiga Lapis hancur oleh sinar ungu dari ilmu Roh Langit Empat.


“Hukr!”


Kerling Sukma terpental deras dengan semburan darah kental dari dalam mulut.


Bugk!


Sebelum tubuh Kerling Sukma menghantam tanah keras, sekelebat sosok berwarna merah kuning putih melintas menyambar tubuh Gadis Mata Hijau. Kedua tubuh itu jatuh ke tanah dan bergulingan keras di tanah bukit.


“Kerling Sukma!” sebut Kusuma Dewi yang baru saja menyelamatkan Kerling Sukma.


“Aku masih bisa bertarung!” desis Kerling Sukma sambil cepat bangkit berdiri. Ia menyeka darah panas yang mengotori dagu dan bibirnya.


Kedua lengan Kerling Sukma telah diselimuti sinar emas bergelombang. Ia bersiap melepaskan ilmu Tebasan Mata Batin. Sementara Kusuma Dewi berdiri dengan pedang samurai siap tebas.


“Hihihi!” tawa Nyai Kilau Maut. “Tidak mengapa kalian berdua mengeroyokku sekaligus. Akan lebih cepat aku mengurangi jumlah kalian. Hihihi!”


“Hiiaaat!” pekik Kusuma Dewi sambil berlari tiga langkah lalu melompat sambil mengayunkan pedangnya, menebas udara dari atas ke bawah.


Bzeng!


Namun, sebelum tebasan Kusuma Dewi melesatkan kiblatan tenaga tajam, kibasan tangan Nyai Kilau Maut lebih dulu mementalkan tubuh si gadis. Kusuma Dewi jatuh berdebam di tanah jauh.


Zezzz! Bemm!


Kerling Sukma menyusulkan serangannya dengan satu kibasan tangan kanan. Satu sinar emas tipis berbentuk vertikal melesat cepat menebas tubuh Nyai Kilau Maut. Namun, dengan tangan yang bersinar ungu menyilaukan, Nyai Kilau Maut dapat mementahkan ilmu tinggi Kerling Sukma.


“Kuhabisi kau, Mata Hijau!” pekik Nyai Kilau Maut lalu tahu-tahu telah melesat menghantam dengan ilmu Roh Langit Empat.


Tidak ada cara lain bagi Kerling Sukma selain menahan dengan ilmu perisai Benteng Tiga Lapis.


Bluarr!


“Hukrr!”


“Kerling Sukmaaa!” teriak Kusuma Dewi

__ADS_1


Hasilnya sama seperti tadi. Tiga lapis sinar kuning hancur semua. Tubuh Kerling Sukma terpental deras jauh ke belakang. Ia kembali menyemburkan darah kental, menunjukkan bahwa lukanya kian parah.


Tirana yang sedang membantu ayahnya dalam menghadapi Raja Galang Madra, jadi berpaling melihat ke arah Kerling Sukma yang terkapar jauh. Ia tidak bisa berbuat apa-apa di saat ayahnya juga kesulitan menghadapi Roh Langit Tiga.


Namun, Tirana dan yang lainnya bisa melihat bahwa Kerling Sukma masih mampu bangkit berdiri.


Tirana yang dalam posisi duduk di punggung burung apinya, harus melesat terbang saat serangan dari Raja Galang Madra mengarah padanya.


Kini, Kerling Sukma berdiri dengan jari tangan kanan memancarkan sinar putih menyilaukan mata. Ia telah mengerahkan ilmu tertingginya untuk menghadapi ilmu Roh Langit Empat. Namun, wajah jelitanya mengerenyit menahan sakit yang sangat.


Melihat Kerling Sukma mengeluarkan ilmu Jari Surga, Nyai Kilau Maut pun bersiap.


Clap!


Tiba-tiba Kerling Sukma menghilang. Ia maju untuk memperdekat jarak. Tahu-tahu ia muncul beberapa tombak di depan Nyai Kilau Maut dan langsung melesatkan tiga sinar putih kecil menyilaukan.


Tum tum tum!


Bruarr!


“Hukr!”


Tiga hantaman sinar putih menyilaukan dalam setengah detik dihadang oleh telapak tangan Nyai Kilau Maut, yang memancarkan sinar ungu menyilaukan. Ledakan dahsyat dari dua tenaga sakti terjadi.


Nyai Kilau Maut akhirnya terpental ke belakang, sementara mulut menyemburkan darah kental.


Namun, kondisi tidak lebih baik dialami oleh Kerling Sukma. Meski pentalan tubuhnya tidak lebih jauh dari lawannya, Kerling Sukma langsung terkapar dan muntah darah lagi. Ia terdiam terkapar di tanah. Hanya lengan kanannya yang terlihat bergerak lemah.


“Kerling Sukma!” teriak Kusuma Dewi sambil berlari cepat ke posisi tubuh Kerling Sukma.


Nyai Kisut dan Garis Merak yang melihat hasil bentrokan itu, segera berkelebat ke tempat Kerling Sukma.


Namun, belum juga mereka bertiga tiba pada tubuh Kerling Sukma, mereka bertiga sudah terlempar oleh angin pukulan Nyai Kilau Maut. Wanita sakti itu telah bangkit dan melesat ke dekat tubuh Kerling Sukma yang tidak berdaya lagi.


“Rasakan kematianmu, Mata Hijau!” desis Nyai Kilau Maut sambil mengulurkan tangan kanannya yang bersinar ungu ke arah leher Kerling Sukma tanpa menunduk.


Krek!


Seperti tertarik oleh magnet, leher Kerling Sukma naik sendiri ke atas dan berhenti dalam cekikan tangan kanan Nyai Kilau Maut. Kerling Sukma mengerenyit menahan sakit dengan dagu penuh oleh darah. Ia menatap tajam kepada Nyai Kilau Maut.


Cress!


Ujung jari tangan kanan Kerling Sukma yang terkulai memancarkan sinar putih menyilaukan. Namun, sinar itu hanya muncul sejenak, lalu padam kembali seiring sepasang mata hijau Kerling Sukma menutup lemah. Seluruh anggota tubuhnya melemah tanpa daya lagi. Ia telah menghentikan perlawanannya.


Sementara rekan-rekannya tidak ada yang bisa menolongnya pada saat itu. Tirana yang dalam kondisi terluka kian parah sibuk membantu ayahnya, Turung Gali. Sementara Sandaria telah pergi naik ke puncak bukit sebelah kanan. Ia dan para serigalanya pergi menghadapi Satria Gagah.


Dengan tewasnya Kerling Sukma, berarti rencana untuk melumpuhkan Ginari tidak mungkin terlaksana. (RH)


***********


AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!

__ADS_1


__ADS_2