Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
112. Perbincangan Makan Siang


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Joko Tenang telah duduk menghadapi sebuah meja yang penuh oleh makanan lezat, dari yang berbau sayuran hingga daging-dagingan. Semuanya masih hangat dan mengebulkan asap tipis. Aroma harumnya begitu menggugah selera nafsu makan.


Selain itu, tersedia pula sebotol anggur dan satu cawan kecil sebagai gelas minum.


Selain Joko Tenang yang menghadapi sebuah meja yang penuh dengan hidangan lezat, ada tiga orang lain yang juga sudah duduk menghadapi meja yang serupa, yaitu Putri Yuo Kai, penerjemah Su Mai, dan pengawal Bo Fei.


Di belakang mereka berdiri para pelayan yang siap sedia setiap saat. Khusus di belakang Putri Yuo Kai berdiri Mai Cui dan Yi Liun, dua pelayan pribadi sang putri.


Joko Tenang dan Putri Yuo Kai duduk saling berseberangan, sementara Su Mai berseberangan dengan Bo Fei.


Putri Yuo Kai yang cantik selalu tampil indah memesona. Kali ini ia mengenakan pakaian kuning berpadu warna hijau muda. Sementara Joko Tenang mengenakan pakaian baru hanfu warna hitam. Namun, ia tetap memakai rompi merah Api Emas-nya, sehingga terkesan lucu karena menjadi gaya berpakaian yang tidak biasa.


Untuk menjaga kenyamanan Joko Tenang, Putri Yuo Kai meminta dua orang kasim untuk melayani penyediaan makan bagi Joko.


“Silakan!” kata Putri Yuo Kai. Seraya tersenyum kecil ia mempersilakan yang lain untuk mulai makan.


Tanpa perlu diterjemahkan, Joko Tenang mengerti maksud perkataan sang putri.


Putri Yuo Kai yang sudah menyumpit sepotong daging panggang ke mangkuknya, menghentikan gerakannya. Ia serius memandang kepada Joko.


Joko meraih mangkuk kecilnya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan mengambil beberapa macam lauk secukupnya yang ia letakkan di atas nasinya. Selanjutnya, Joko Tenang menyomot nasinya dan menyuapnya.


Melihat Putri Yuo Kai diam memandang ke arah Joko, Bo Fei dan Su Mai jadi memandang Joko pula. Putri Yuo Kai kemudian tersenyum. Joko Tenang tidak sadar bahwa ia saat itu sedang diperhatikan oleh tiga wanita karena ia sibuk menikmati makanan lezat yang jarang didapatnya jika berada di luar kerajaan.


“Tuan Joko!” sebut Bo Fei.


“Ya?” tanya Joko, sambil mengunyah ia memandang kepada Bo Fei.


“Mengapa tidak menggunakan sumpit?” tanya Bo Fei yang kemudian diterjemahkan oleh Su Mai.


“Sumpit?” tanya balik Joko.


Putri Yuo Kai mencapit-capitkan sumpit di tangannya, memperlihatkannya kepada Joko benda yang dimaksud Bo Fei.


“Oh,” seru Joko mengerti. Ia tersenyum lalu meraih sepasang sumpit di meja dengan jari kotornya.


Joko lalu menggunakan sumpit itu untuk menusuk potongan daging lalu ia pindahkan ke mangkuknya. Cara pegangnya pun seperti menggenggam sebuah pisau yang siap ditusukkan.

__ADS_1


“Hihihi!” tawa Su Mai melihat kelakukan Joko Tenang. Lalu katanya kepada Putri Yuo Kai, “Maaf, Yang Mulia. Di negeri Pendekar Joko, kami terbiasa makan langsung dengan tangan.”


“Baiklah, silakan makan dengan tangan, Joko,” kata Putri Yuo Kai seraya tertawa kecil.


Joko Tenang hanya tertawa setelah Su Mai menerjemahkan perkataan sang putri. Ia kembali meletakkan sumpitnya di atas meja dan kemudian kembali menyuap dengan tangan.


“Yang Mulia Putri, bagaimana aku bisa bangun di kediamanmu?” tanya Joko. Meski sebelumnya mereka sudah bertukar pertanyaan tadi pagi melalui media gambar, tetapi Joko perlu memperjelas duduk permasalahan selagi di antara mereka ada seorang penerjemah handal.


“Kau jatuh dari langit dan tepat menghancurkan tempat tinggalku di Istana Haram, tepat jatuh di kamar mandiku,” jawab Putri Yuo Kai.


“Tapi aku tidak melihatmu mandi,” kata Joko, seolah menyangkal.


Pertanyaan Joko itu membuat paras Putri Yuo Kai memerah, menjadi agak malu. Melihat reaksi wajah Putri Yuo Kai, Joko Tenang tersadar.


“Ma... maafkan aku, Yang Mulia Putri. Aku tidak berniat melihatmu mandi,” ralat Joko cepat. “Tapi, seharusnya aku bersama calon istri dan sahabatku....”


“Calon istri?” tanya Putri Yuo Kai, kembali serius dalam pembicaraan. Serasa ada secuil rasa kecewa yang dirasakan di dalam hatinya ketika tahu bahwa Joko sudah memiliki calon istri.


“Ya. Apakah Yang Mulia Putri tahu di mana mereka?”


“Saat kau jatuh, kau seorang diri, Joko,” tandas Putri Yuo Kai.


“Hanya ada satu peristiwa benda langit yang jatuh di hari kemarin, yaitu kau. Justru aku ingin bertanya. Sebenarnya kau manusia atau dewa utusan Kaisar Langit?” Putri Yuo Kai yang kini balik bertanya.


“Aku manusia. Aku bukan dewa atau utusan dari raja di langit.”


“Lalu bagaimana bisa kau datang dari langit dan jatuh tanpa mengalami luka sedikit pun?”


“Aku bersama calon istriku dan sahabatku, dalam tugas pergi mencari Permata Darah Suci menggunakan ilmu Gerbang Tanpa Batas milik Puspa. Karena penyakitku, aku pingsan dalam perjalanan. Ketika terbangun, aku sudah ada di sini.”


“Permata Darah Suci? Permata seperti apa itu?”


“Aku juga tidak tahu seperti apa bentuknya. Hanya Puspa yang bisa menuntun kami di mana benda itu berada.”


“Untuk apa?”


“Sebagai obat untuk calon istriku yang lain. Dia seorang ratu sebuah kerajaan, jadi dia tidak boleh mati.”


“Calon istri yang lain?” tanya Putri Yuo Kai. Kali ini dia agak terkejut mendengar jawaban pemuda berbibir merah itu. Ia pun kembali bertanya, “Sebenarnya, berapa banyak kau punya calon istri?”

__ADS_1


“Calon istri yang sudah resmi baru ada dua dan satu yang baru isyarat akan menjadi calon istri. Jadi masih kurang lima lagi.”


“Apa?!”


Kali ini bukan saja Putri Yuo Kai yang terkejut, tapi Su Mai dan Bo Fei juga terkejut, sampai-sampai mereka berhenti menyuap.


Melihat reaksi ketiga wanita cantik itu, Joko Tenang jadi tertawa agak keras, hampir-hampir saja ia tersedak makanan. Gantian, giliran ketiga wanita itu yang jadi tertawa ringan melihat Joko. Terlebih ketika Joko Tenang meneguk langsung anggur dalam botol tanpa menggunakan cawan lagi.


“Jangan banyak-banyak, Joko, nanti kau bisa mabuk!” seru Putri Yuo Kai.


“Tenang, aku tidak mudah mabuk,” katanya. Lalu ia menjelaskan tentang calon istri yang banyak, “Delapan istri untuk menyembuhkan penyakitku, bukan karena aku mata keranjang jika melihat wanita cantik. Jika Tirana bertemu denganmu saat ini, pasti ia akan menawarkan kepadamu untuk menjadi calon istriku yang berikutnya.”


“Apa?” kejut Putri Yuo Kai dengan wajah menyemu merah muda lagi. Putri segera mengalihkan fokus pembicaraannya, “Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?”


“Mencari keberadaan calon istriku dan Puspa, karena hanya Puspa yang bisa tahu ada di mana Permata Darah Suci itu.”


“Tapi kau sudah berjanji kepada Yang Mulia Kaisar untuk membantu kami di sini.”


“Tentu. Aku akan menetap di sini sementara, sambil mencari kabar. Sebab, aku memiliki batas waktu untuk mendapatkan permata itu.”


“Aku akan meminta kenalanku di Ibu Kota untuk mencari berita tentang calon istrimu, mereka ahli dalam hal mencari orang hilang.”


“Kenapa Yang Mulia Putri begitu baik kepadaku, padahal aku orang asing?”


“Karena aku tidak melihat tindakan berbahaya darimu.”


“Tapi bukankah aku bisa saja menipu dalam penampilan dan kelakuan, tetapi jahat dalam niat?”


“Aku merasa masih bisa menaklukanmu jika ternyata kau rubah berekor serigala.”


Joko Tenang hanya tersenyum mendengar keyakinan dari Putri Yuo Kai.


“Aku berterima kasih sekali atas jamuanmu, Yang Mulia Putri. Aku kenyang sekali. Aku merasakan makanan-makanan dengan rasa yang begitu lezat. Pasti, ketika aku sudah pergi dari negeri ini, rasa makanan ini akan selalu terkenang, terutama orang yang memiliki makanan ini.”


Tersenyumlah Putri Yuo Kai mendengar kalimat terakhir Joko. Ada rasa senang yang menyusup masuk ke dalam dadanya. Ia menatap tanpa berkedip kepada Joko Tenang yang tersenyum manis kepadanya.


Sementara itu, Bo Fei dan Su Mai sempat menangkap keterpakuan Putri Yuo Kai dalam tatapannya kepada pemuda berbibir merah itu.


Semua percakapan yang lancar antara Joko Tenang dan Putri Yuo Kai dalam acara itu tidak lepas dari terjemahan Su Mai yang baik. Ia menjalankan fungsinya dengan sangat baik.

__ADS_1


Sebagai penutup dari makannya, Joko menjadikan anggur di botol untuk mencuci tangannya, membuat sang putri lagi-lagi hanya memandanginya. (RH)


__ADS_2