Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
58. Menyedot Racun Arak Kahyangan


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


“Itukah Arak Kahyangan?” tanya Joko di dalam hati saat melihat apa yang dibawa oleh Panglima Jagaraya.


Di pelataran, di antara tiang berkepala harimau, Joko Tenang bertemu dengan rombongan Ratu Getara Cinta. Sejak itu, prajurit yang mengawal Joko berhenti mengawal. Joko Tenang menjura hormat kepada Ratu Getara Cinta.


“Apakah kau masih tetap yakin untuk melakukannya, Joko?” tanya Ratu Getara Cinta yang sekitar 15 menit lalu menemuinya di kolam ikan.


“Aku masih yakin,” jawab Joko mantap.


Ia lalu berjalan di sisi Ratu Getara Cinta, tetapi dengan jarak yang cukup jauh.


“Tapi kau akan mati. Semua orang yang mengenalmu tidak mengharapkan itu,” kata sang ratu. Ia memberi kesan berusaha mempengaruhi Joko agar merubah keputusannya.


“Semoga kematianku akan mulia dengan cara ini, Yang Mulia,” kilah Joko.


“Seharusnya aku tidak menyetujui keputusanmu ini,” kata Ratu Getara Cinta setelah menghempaskan napas keprihatinan.


Memang, beberapa waktu lalu di tepi kolam ikan, ia dengan berat hati menyetujui keputusan dan rencana Joko. Desakan Joko dengan dalih yang kuat, membuatnya sulit menolak. Karenanya ia langsung memerintahkan Panglima Jagaraya untuk langsung membawa Arak Kahyangan ke tempat Ginari dan Kembang Buangi menunggu kematiannya.


Mereka menaiki tangga papan setinggi sepuluh undak. Di pintu depan rumah yang terbuka ada empat prajurit berjaga. Mereka yang mengenakan kain penutup hidung segera menjura hormat.


Ketika sampai di teras rumah, bau busuk telah tercium tajam. Ratu Getara Cinta memberi isyarat kepada para prajuritnya agar berhenti sampai di depan tangga saja. Sementara ia, Joko dan Panglima Jagaraya terus berjalan memasuki rumah. Bau busuk kian kuat menyengat penciuman, tetapi mereka mampu menanggungnya, seolah tidak ada bau yang mengganggu sedikit pun.


Setelah melalui satu ruangan yang kosong, mereka memasuki ruangan tempat Ginari dan Kembang Buangi berada. Bau busuk semakin menusuk penciuman mereka, hingga-hingga Ratu Getara Cinta harus mengatur pernapasannya dan memilih hanya berdiri di dekat pintu.


Ginari tergeletak tidak bergerak di atas dipan papan berlapis tilam tipis. Kepala tertempat pada sebuah bantal merah. Meski wajahnya bersih, tapi putih pucat. Rambutnya masih lembab setelah ia dimandikan oleh Tirana beberapa waktu lalu. Pakaian hitamnya telah berganti dengan pakaian wanita berwarna biru muda. Kondisi raganya yang cukup bersih setelah dimandikan, tidak membuat tubuh Ginari berhenti menyebarkan bau busuk. Bibirnya bahkan tampak mulai menghitam. Demikian pula sekitar ujung jari-jarinya.


Sekitar sepuluh langkah dari dipan Ginari, berbaring pula Kembang Buangi di dipan yang lain. Wajahnya mengerenyit kesakitan tanpa bisa ia merintih. Urat-urat halus di dahinya sampai bertonjolan ketika puncak sakitnya yang seperti sayatan sejuta pedang menyerang. Sepasang matanya memerah dan selalu mengeluarkan air mata kepedihan. Berbeda dengan Ginari, Kembang Buangi tidak terlihat bahwa ia usai dimandikan. Pengaruh ilmu Kecupan Malaikat dari Tirana yang mengurangi sedikit rasa sakit itu telah hilang.


Joko Tenang menghampiri Ginari yang terbaring cantik jelita. Ia berhenti dalam jarak seharusnya. Sementara itu, Panglima Jagaraya menempatkan benda yang bernama Arak Kahyangan di atas meja kayu tebal yang ada di tengah ruangan.


Arak Kahyangan adalah sebuah benda yang terbuat dari perak. Seperti dua bola perak, yang satu sebesar kepala dan yang lain sebesar genggaman kemudian ditempel menjadi satu. Bola kecil posisinya berada di bawah dan memiliki moncong kecil sebesar kelingking orang dewasa yang terbuat dari emas. Bola perak yang posisinya di bawah dihiasi dengan ukiran cantik, berbeda dengan bagian atas yang bulat polos. Tidak terlihat apa yang ada di dalam benda seperti botol unik itu. Benda itu berdiri dengan dua kaki dari perunggu dan memiliki lingkaran kawat di antaranya. Botol Arak Kahyangan dimasukkan ke lingkaran kawat sehingga sifatnya menggantung.


“Inilah Arak Kahyangan. Satu tetesnya hanya bisa disedot dengan tenaga dalam tinggi melalui mulut,” kata Ratu Getara Cinta.


“Baik,” kata Joko seraya menatap benda yang menjadi tujuan perjalanannya ke Rimba Berbatu. Sejenak Joko diam.


Ratu Getara Cinta berharap Joko tiba-tiba berubah pikiran. Namun, perkataan Joko berikutnya memupus harapannya.


“Akan aku mulai, Yang Mulia,” kata Joko lalu melangkah mendekati meja. Penglima Jagaraya tetap berdiri di sisi meja.

__ADS_1


Joko lalu melakukan gerakan tangan perlahan dan bertenaga. Ia atur tarikan napasnya. Ratu Getara Cinta dan Panglima Jagaraya memandangi dengan rasa tegang di dada. Sebab keduanya tahu, apa yang akan terjadi jika Joko berhasil menyedot setetes Arak Kahyangan.


Joko sudah mengumpulkan tenaga dalamnya di leher dan dada. Selanjutnya, Joko membungkuk dan ******* mulut botol Arak Kahyangan. Lubang yang ada di mulut botol terlihat hanya seperti sebuah titik. Joko melakukan penyedotan yang kuat pada moncong emas botol.


Ratu Getara Cinta dan Panglima Jagaraya tetap tegang, karena sebentar lagi akan terjadi sesuatu.


Sejenak Joko Tenang berhenti tenang, menahan. Tampaknya ia belum berhasil menarik keluar setetes Arak Kahyangan yang dipegangnya. Lalu ia melepas sejenak moncong botol. Ia hempaskan napas panjang lalu kembali ******* moncong botol dan menyedot dengan pengerahan tenaga dalam yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Beberapa detik berikutnya, Joko terhentak terdiam. Matanya mendelik lalu wajah tampan itu mengerenyit. Joko menegang, terlihat dari otot dan urat lehernya yang mengencang keras. Urat di dahinya pun bertonjolan dan wajah Joko cepat memerah. Seiring itu, sepasang mata Joko pun memerah. Sepasangan tangannya mengepal kuat dan bergetar karena menahan rasa sakit yang tinggi menyerang kepala, leher, dan dada. Mulut Joko telah lepas dari moncong botol Arak Kahyangan.


Setetes air dari dalam botol Arak Kahyang telah tersedot masuk ke dalam mulut Joko yang langsung memberi efek jahat kepada mulut dan tenggorokan Joko. Rasa sakit yang tinggi itu kemudian menjalar.


Ratu Getara Cinta dan Panglima Jagaraya tahu apa yang telah terjadi pada diri Joko.


Di saat Joko sedang dilanda kesakitan yang luar biasa akibat racun Arak Kahyangan, di tempat lain Tirana, Nintari dan Sulasih sedang memandangi hidangan-hidangan lezat yang mulai berdatangan dibawa oleh para pelayan. Mereka duduk ditemani oleh Panglima Perang Sugeti Harum. Mereka pun menunggu kedatangan Ratu Getara Cinta Joko.


“Prajurit!” teriak Panglima Jagaraya agak keras.


Seorang prajurit terdengar berlari datang dari depan rumah. Ia langsung turun menjura hormat.


“Hamba, Yang Mulia!” lapor si prajurit.


“Cepat panggil Pendekar Tirana di ruang jamuan ke mari! Beri tahu bahwa Pendekar Joko dalam bahaya!” perintah Panglima Jagaraya.


Prajurit itu segera pergi setelah menjura hormat. Suara langkahnya di lantai papan terdengar lebih cepat. Setibanya di luar, ia langsung berlari kencang.


“Aaak!” jerit Joko tertahan. Ia melempar tubuhnya ke tengah ruangan, agak jauh dari meja.


Tampak kecemasan tergambar di wajah Ratu Getara Cinta. Rona wajah seperti itu sangat jarang dilihat oleh Panglima Jagaraya selaku orang yang lama mendampingi sang ratu.


Joko Tenang bangun dan duduk bersila. Ia berusaha mengerahkan ilmu Serap Luka yang semestinya hanya berlaku untuk mengobati orang lain, sebab ilmu Cuci Raga yang bisa menyembuhkan diri sendiri hanya berlaku untuk luka-luka skala ringan.


Tangan kanan Joko bersinar biru. Tangan itu kemudian dia bekapkan ke mulutnya. Dengan cara seperti itu Joko bermaksud menarik racun Arak Kahyangan keluar ke tangannya.


Ingin rasanya Ratu Getara Cinta melakukan sesuatu kepada Joko untuk membantunya. Namun, sebelumnya Joko telah berpesan saat pembicaraan di tepi kolam ikan.


“Apa pun yang terjadi kepadaku saat aku keracunan Arak Kahyangan, jangan mendekatiku kurang dari empat langkah. Aku khawatir itu justru akan membuatku cepat mati,” pesan Joko kepada Ratu Getara Cinta kala di pinggiran kolam.


Karena pesan itulah Ratu Getara Cinta menahan diri. Padahal ia merasa sedih melihat Joko menahan sakit sekuat tenaga. Ia hanya berharap bahwa Joko memiliki satu kesaktian yang ternyata bisa menahan kekejaman racun Arak Kahyangan.


Telah keluarnya setetes racun Arak Kahyangan, berarti tetes berikutnya yang bisa dikeluarkan dari botol adalah obat.

__ADS_1


Di ruang jamuan, prajurit yang diutus Panglima Jagaraya telah tiba.


“Lapooor!” teriak si prajurit sambil menjatuhkan dirinya menghormat kepada Panglima Perang Sugeti Harum.


Kedatangan prajurit yang tiba-tiba itu membuat semua yang hadir terkejut dan bertanya-tanya dalam hati.


“Ada apa, Prajurit?!” tanya Sugeti Harum segera.


“Pendekar Joko dalam bahaya. Pesan ini untuk Pendekar Tirana!” lapor si prajurit.


“Apa?!” pekik Tirana sangat terkejut. Gambaran buruk langsung terilustrasi di dalam benaknya. “Kakang Joko!”


Bress!


Tirana cepat bangkit dari duduknya dan melempar sinar merah berbentuk jaring laba-laba besar. Sinar ilmu Lorong Laba-Laba itu menempel di dinding ruangan. Tirana langsung melompat masuk ke dalam jaring sinar dan menghilang.


Nintari, Sulasih dan Sugeti Harum segera bangkit dan beranjak pergi. Mereka berjalan cepat pergi ke tempat Ginari dan Kembang Buangi berada.


Tiba-tiba Tirana muncul mengejutkan di depan para prajurit yang berjaga di depan rumah kayu. Mereka sempat bergerak memasang kuda-kuda sambil cabut pedang masing-masing, tetapi setelah tahu bahwa orang yang muncul adalah Tirana, pemimpin prajurit segera memberi isyarat untuk menahan gerakan mereka.


Tirana tidak mempedulikan keterkejutan para prajurit itu. Ia langsung berlari masuk ke dalam rumah. Setibanya di ambang pintu ruangan, Tirana sejenak melihat kondisi yang terjadi. Ia bahkan tidak menjura hormat lagi kepada Ratu Getara Cinta. Dilihatnya Joko dalam kondisi berjuang.


“Kakang!” sebut Tirana.


“Hoekh!”


Pada saat itu pula, Joko muntah dara hitam.


“Kakang Joko!” sebut Tirana panik, begitu cemas. Ia cepat mendekati Joko.


“Jangan mendekat!” seru Joko cepat. “Jika aku lemah, aku bisa mati lebih cepat. Cepat, sedot Arak Kahyangan dan berikan kepada Ginari!”


Tirana cepat menahan langkahnya untuk tidak mendekati Joko. Memang, jika ia mendekat, Joko akan melemah yang dengan sendirinya membuat Joko tidak bisa mengerahkan kesaktiannya. Ia langsung bisa menerka bahwa Joko telah menelan racun Arak Kahyangan, yang artinya pula Joko sangat besar kemungkinan mengalami kematian.


Kesedihan seketika membuncah di hati Tirana yang berujung meluapnya air mata di wajah jelitanya. Air bening itu kemudian meluncur jatuh.


“Kenapa kau lakukan ini, Kakang?” tanya Tirana seraya menangis, ia tidak tega melihat kondisi Joko yang begitu gigih menahan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya, terutama di bagian kepala, leher dan dada.


“Cepat sedot Arak Kahyangan!” perintah Joko lagi dengan wajah mengerenyit kesakitan. Meski ia sudah memuntahkah darah hitam, tetapi racun Arak Kahyang tidak bisa ia sedot dengan ilmu Serap Luka.


Karena Joko sudah melakukan cara nekat itu, maka tidak ada jalan lain selain turut berupaya.

__ADS_1


“Jika tetes Arak Kahyangan bisa kau sedot, pastikan itu tidak tertelan olehmu, Tirana,” kata Ratu Getara Cinta.


Tirana mengangguk. Ia lalu mendekat ke meja dan langsung mengatur tenaga dalamnya. (RH)


__ADS_2