
*Cincin Darah Suci*
Tiba-tiba Pangeran Young Tua berhenti sebelum keluar dari tenda besar itu. Ia berpaling kepada Zhao Lii. Tersentak jantung gadis cantik itu mendapati Pangeran Tua menengok kepadanya.
“Bukankah Nona Zhao ingin pulang ke Ibu Kota? Keretaku masih cukup luas untuk diduduki satu orang,” kata Pangeran Tua menawarkan.
Zhao Lii jadi bingung harus cepat menjawab apa, ikut pulang bersama pangeran yang diidamkannya itu atau menolaknya. Namun, sang ayah ternyata bisa membaca posisi putrinya.
“Lii, ikutlah bersama Yang Mulia Pangeran. Ajak pula kedua teman asingmu itu,” kata Jenderal Jiliang yang masih dalam posisi berlutut.
Maka Zhao Lii pun cepat berdiri dan berkata kepada Pangeran Tua, “Hamba merasa sangat tersanjung atas tawaran Yang Mulia Pangeran.”
Pangeran Tua jadi tersenyum. Perkataan Jenderal Jiliang tersebut dinilainya sebagai isyarat bahwa ia akan patuh.
“Tapi, Yang Mulia,” kata Zhao Lii.
“Ada apa?” tanya Pangeran Tua.
“Aku bersama dua orang sahabat wanitaku dari negeri asing,” kata Zhao Lii.
“Oh,” desah Pangeran Tua, lalu terdiam sejenak, berpikir. “Apakah mereka juga akan ke kota We?”
“Tidak, tetapi mereka menuju barat,” jawab Zhao Lii.
“Biarkan Nona Zhao satu kereta denganku dan kedua teman itu berkuda,” kata Pangeran Tua memutuskan. “Aku akan menunggu sejenak.”
“Terima kasih, Yang Mulia!” ucap Zhao Lii sambil turun berlutut menghormat.
Pangeran Young Tua kembali berjalan ke luar tenda dan langsung naik ke kereta bagusnya. Menunggu.
Jenderal Jiliang bangkin berdiri.
“Putriku, berhati-hatilah. Pastikan Keluarga Zhao dalam posisi yang aman. Ayah tidak bisa berbuat banyak,” kata Jenderal Jiliang.
“Baik, Ayah.”
Sementara di dalam tenda yang lain, Tirana dan Puspa sedang berbincang.
“Kita harus ke timur,” tandas Puspa.
“Tidak, Puspa. Kita harus ke barat,” sanggah Tirana.
__ADS_1
“Untuk apa Puspa pergi ke barat?” tanya Puspa dengan wajah merengut tidak setuju dengan Tirana.
“Kakang Joko jatuh ke barat,” jawab Tirana.
“Untuk apa mencari Kucing Hutan yang sudah mati? Bodoh!” tanya Puspa dengan membentak.
“Dia calon suamiku. Meski hanya akan menemukan tulang belulangnya, aku tetap harus mencarinya. Aku rela tidak bisa pulang demi menemukan Kakang Joko, hidup atau mati. Namun aku yakin, Kakang Joko masih hidup, karena dia adalah orang terpilih untuk dunia,” ujar Tirana dengan nada datar, tidak terbawa oleh nada kasar Puspa. Ia menambahkan, “Kita harus ke barat lebih dulu. Setelah menemukan Kakang Joko, barulah kita ke timur mencari Permata Darah Suci.”
“Kucing Hutan bodoh!” maki Puspa.
“Apakah Puspa tetap mau ke timur? Aku tetap akan ikut gadis bernama Zhao Lii itu ke barat,” kata Tirana yang sudah berpakaian rapi dan merapikan penampilannya sebagai seorang gadis.
“Baiklah, Puspa ikut ke barat mencari mayat Kucing Hutan. Puspa juga mau bersenang-senang di negeri asing ini, hihihi,” kata Puspa lalu tiba-tiba berubah tertawa.
“Tapi Puspa harus mandi dan ganti pakaian cantik,” kata Tirana.
“Tidak mau. Puspa hanya mau mandi di rumah yang bagus, tidak mau di tempat jelek seperti ini,” kata Puspa.
Percakapan mereka berhenti ketika Zhao Lii masuk dari luar.
“Ayo, kita ikut rombongan Pangeran Young Tua pulang ke barat!” ajak Zhao Lii sambil memanggil dengan gerakan tangan lalu menunjuk jauh ke barat.
Tirana lalu berkata kepada Jalang, “Sudah waktunya kita pergi ke barat.”
“Hihihi, kuda,” ucap Puspa seraya tertawa. Tampaknya kuda itu membuatnya senang. Ia lebih dulu naik ke pelana kuda.
Tirana pun naik ke atas kuda. Sementara Zhao Lii bergegas pergi menuju ke kereta kuda tempat Pangeran Young Tua menunggu. Tampak Dao Lushang berdiri menunggu di sisi kereta.
Diam-diam Pangeran Tua mengintip dari dalam bilik keretanya. Ia melihat dua teman Zhao Lii. Namun, pandangan sang pangeran lebih terfokus dan lama memandangi sosok Tirana.
“Cantik sekali wanita asing itu,” ucap Pangeran Tua lirih.
Tidak berapa lama, datanglah Zhao Lii. Dao Lushang memberikan pahanya untuk diinjak oleh si gadis saat naik ke dalam bilik kereta. Pangeran Tua dengan senyum manisnya membantu memegangi tangan Zhao Lii. Saat itu, begitu tersanjung dan bahagia perasaan Zhao Lii. Senyumnya malu. Sikap itu seakan memberi sinyal bahwa Pangeran Tua benar-benar memilihnya.
Setelah Zhao Lii duduk nyaman dan manis berhadapan dengan Pangeran, Dao Lushang segera naik ke punggung kudanya. “Berangkat!” serunya.
“Semoga Yang Mulia Putra Mahkota panjang umur diberkahi Langit!” seru serempak para prajurit yang masih berbaris dalam formasi. Semuanya turun berlutut menghormat ketika rombongan kereta kuda Pangeran mulai berjalan untuk meninggalkan kamp itu.
Jenderal Zhao Jiliang dan Ho Mo hanya membungkuk sambil mempertemukan kedua tangannya di depan dada. Kuda Tirana dan Puspa berjalan tepat di belakang kereta.
Di dalam perjalanan, bertanyalah Pangeran Tua kepada Zhao Lii tentang Tirana dan Puspa.
__ADS_1
“Nona Zhao, siapa sebenarnya kedua wanita asing itu?” tanya Pangeran dengan nada lembut.
“Mereka berdua dari langit selatan, Yang Mulia. Gadis yang cantik bernama Tirana, sementara yang kotor bernama Puspa,” jawab Zhao Lii.
“Dari langit?” tanya Pangeran Tua kerutkan kening.
“Benar. Ayah dan pasukannya melihat sendiri keduanya jatuh dari langit. Ayah yakin bahwa mereka bukan manusia,” jelas Zhao Lii.
“Nona Zhao tentunya tidak bermaksud bercerita dusta kepadaku?” tanya Pangeran Tua.
Terkejut Zhao Lii mendengar perkataan pemuda tampan yang sangat dekat di hadapannya itu. Ia buru-buru turun dari duduknya dan berlutut dengan wajah yang takut.
“Hamba sangat tidak berani bercerita bohong, Yang Mulia! Ampuni hamba, Yang Mulia!” ucap Zhao Lii.
“Bangunlah, Nona Zhao. Aku tidak bermaksud menuding Nona Zhao bercerita kosong,” kata Pangeran Tua sambil sedikit maju memegang lengan Zhao Lii agar gadis cantik itu kembali bangun dan duduk di kursinya.
Zhao Lii kembali duduk di tempatnya.
“Lalu bagaimana bisa Nona Zhao bisa berteman dengan keduanya?”
“Dalam perjalanan ke kamp, aku dikejar oleh gerombolan bandit gurun, Tirana menolongku. Kami pun berteman. Setibanya di kamp, ternyata Ayah telah menangkap Puspa. Itu membuat Tirana marah dan menaklukkan Ayah bersama tentaranya dengan mudah. Untunglah mereka bisa aku ajak berunding. Sebenarnya mereka bukan orang jahat, tetapi kekuatannya sangat mengerikan, Yang Mulia.”
“Mengerikan seperti apa?” tanya Pangeran Tua yang jadi tertarik mendengar cerita itu.
“Aku melihat sendiri Tirana muncul dari dalam tanah. Dia tidak bisa disentuh oleh senjata apa pun. Bahkan bisa membuat orang-orang tidak bisa bergerak sedikit pun, termasuk Ayah. Dan Puspa, perempuan berpenampilan kotor, dia pemarah. Aku melihat sendiri tangannya bisa berubah sangat panas, bisa melelehkan besi,” kata Zhao Lii.
Pangeran Tua benar-benar serius mendengar cerita Zhao Lii.
“Aku benar-benar tertarik dengan mereka, terutama yang bernama Tirana itu. Jadi mereka datang dari langit, pantas begitu jelita,” ucap Pangeran Tua sambil raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang baru.
Mendengar pangeran pujaannya memuji kecantikan Tirana, ada rasa tidak suka dan kekhawatiran dalam hati Zhao Lii. Dalam hati ia pun mengakui bahwa Tirana memang sangat cantik.
“Lalu, ke mana tujuan keduanya?” tanya Pangeran Tua lagi, setelah terdiam sebentar.
“Barat,” jawab Zhao Lii singkat.
“Di barat jelas ada ibu kota We. Atau mereka mau menuju ke Negeri Jang?”
“Entahlah, Yang Mulia. Bahasa mereka asing dan aku tidak mengerti kata-katanya. Tirana hanya menunjuk barat,” jawab Zhao Lii.
“Aku sangat ingin menjamu mereka di istana. Bisakah Nona Zhao membujuk mereka untuk singgah di We?”
__ADS_1
“Nanti di tempat peristirahatan aku akan berusaha membujuk mereka, Yang Mulia,” jawab Zhao Lii seraya tersenyum, meski jawaban itu bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya. (RH)