Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 20: Ilmu Roh Tujuh Langit


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*


 


Malam itu, Desa Atuluncur terlihat ramai oleh cahaya obor di mana-mana, terutama di sepanjang luar desa. Ribuan prajurit membangun kemah-kemah sementara di luar desa yang mengelilingi separuh dari pinggiran desa.


Sementara Kepala Desa dan warganya hanya bisa menerima keadaan itu tanpa bisa berbuat apa-apa selain melayani permintaan.


Tepat tengah malam, di bawah purnama sempurna sang rembulan, Ratu Ginari dan keenam roh yang berada di bawah kendalinya, siap melakukan ritual puncak yang telah mereka nanti-nantikan.


Keunikan dari ketujuh orang yang pernah mati sebentar ini, yaitu Ginari, Laga Patra, Biru Segara, Satria Gagah, Nyai Kilau Maut, Suginowo, dan Raja Galang Madra, adalah mereka tahu dengan sendirinya hal yang belum pernah mereka lakukan dan ketahui di masa hidup sebelum mati. Seperti perihal Ketua Tujuh Roh, cara bersujud kepada Ketua Tujuh Roh, dan tentang ritual penyempurnaan kesaktian yang bernama Roh Tujuh Langit. Semasa mereka hidup, mereka tidak pernah mendengar nama ilmu Roh Tujuh Langit, tetapi setelah mereka hidup kembali, nama itu dan cara prosesinya sudah mereka ketahui dengan sendirinya.


Namun, tidak sedikit pula memori tentang kebaikan di masa mereka hidup sebelum mati yang hilang, tidak teringat lagi di masa kehidupan kedua.


Di tengah malam yang cukup terang oleh pencahayaan purnama, ketujuh orang sakti itu kini berkumpul di tanah lapang tengah desa yang mirip alun-alun.


Kini, Ratu Ginari duduk di atas lingkaran sinar ungu yang bentuknya seperti ban mobil. Posisinya diam mengambang di udara dengan ketinggian dua tombak dari tanah. Sebelum kematiannya, Ratu Ginari tidak memiliki ilmu yang bisa menciptakan wujud sinar ungu berbentuk lingkaran seperti itu, kemampuan itu muncul dengan sendirinya.


Sementara keenam orang lainnya, duduk mengambang pula di udara di atas sinar ungu dengan ketinggian yang sama. Posisi mereka mengelilingi Ratu Ginari atau Ketua Tujuh Roh.


Semua orang yang menyaksikan prosesi itu hanya bisa tegang. Meski tidak ada angin yang bertiup kencang, tetapi ada aura ketegangan yang tersebar menyusup masuk ke hati-hati orang yang menonton, termasuk apa yang dirasakan oleh anggota Bajak Laut Elang Biru.


Zezzz…!


Seiring terdengar dengungan yang kuat, di atas sana, tepatnya di pertemuan kedua telapak tangan Ratu Ginari di atas kepala, muncul sinar ungu terang yang cukup menyilaukan mata. Sinar itu bergejolak menyelimuti kedua tangan Ratu Ginari dari ujung jari hingga kedua lengan.


Suasana semakin tegang. Demikian pula yang menyaksikan, bahkan sebagian mulut mereka terbuka ternganga. Bagi mereka yang memiliki kesaktian, bisa merasakan kemunculan tenaga sakti yang sangat besar dan membuat bulu roma bangun berdiri.


Terlihat jelas, pada bagian telapak tangan Ratu Ginari mengembang sinar ungu membentuk bola yang lebih besar dari bulatan kepala.


Sementara di sekeliling Ratu Ginari, keenam pendekar sakti duduk bersila di atas lingkaran sinar ungu dengan kedua telapak tangan bertemu di depan dada. Sepertinya mereka menunggu sesuatu.


Zeezzzrr!

__ADS_1


Tiba-tiba bola sinar ungu di telapak tangan Ratu Ginari meledak pecah dengan melesat ke tujuh arah. Enam arah adalah kepada kepala keenam anak buah Ratu Ginari. Sementara satu pecahan melesat lurus ke atas langit yang gelap. Lesatannya begitu tinggi, entah sampai pada ketinggian mana. Namun jelasnya, sinar itu sampai menghilang tidak terlihat.


Bress bress…!


Setelah kepala keenam orang sakti itu mendapat sinar ungu, tubuh mereka sejenak dialiri lapisan sinar ungu bergelombang. Pada saat itu, masing-masing merasakan kedatangan tingkat tenaga sakti yang begitu tinggi. Belum jelas setinggi apa, tetapi pastinya itu lebih tinggi dari tenaga sakti yang sebelumnya mereka miliki. Mereka dapat merasakan bahwa tenaga sakti berproses melebur menyatu dengan tenaga sakti original milik mereka.


Suss suss suss…!


Selanjutnya, secara bersama keenam orang yang mengelilingi Ratu Ginari menghentakkan sepasangan lengannya ke depan. Sementara jari-jari mereka juga lurus ke arah sang ratu. Sinar-sinar ungu panjang tanpa putus melesat dari ujung jari-jari mereka, sehingga ada dua belas sinar yang melesat mengenai tubuh Ratu Ginari.


Kondisi itu terus bertahan selama seratus kali tarikan napas. Hingga akhirnya….


Prasss!


Ada ledakan sinar ungu menyilaukan pada tubuh Ratu Ginari. Namun, terjadi hanya sekejap, seiring padamnya kedua belas sinar ungu yang melesat.


Tiba-tiba tubuh Ratu Ginari melesat terbang lurus ke langit, seolah hendak menuju ke bulan. Ia meninggalkan lingkaran sinar ungu yang sejak tadi didudukinya. Di angkasa yang tinggi Ratu Ginari berhenti mengambang. Tubuhnya kemudian bersinar ungu terang.


“Roh Langit Satu!” teriak Ratu Ginari lantang dari atas sana.


Zwezz!


“Roh Langit Dua!” teriak Ratu Ginari lagi.


Zwezz!


Hal yang sama dialami oleh Biru Segara. Ia pun akhirnya turun jatuh ke bawah.


“Roh Langit Tiga!” teriak Ratu Ginari lagi.


Hal yang sama terjadi pada Raja Galang Madra.


“Roh Langit Empat!”

__ADS_1


Nyai Kilau Maut turun ke tanah.


“Roh Langit Lima!”


Giliran Suginowo yang turun.


“Roh Langit Enam!”


Maka Satria Gagah yang turun.


“Roh Langit Tujuh!” teriak Ratu Ginari yang terakhir.


Suut! Boom!


Setelah teriakan terakhir itu, tubuh Ratu Ginari melesat sangat cepat ke bumi, seperti rudal dari langit jatuh lurus ke bumi.


Ketika kaki Ratu Ginari menghantam tanah, satu gelombang dahsyat melesat ke segala arah. Keenam anggota Tujuh Roh terpental dahsyat ke segala arah dengan nasib yang berbeda-beda. Biru Segara terpental menghantam tiang kaki rumah hingga patah, Nyai Kilau Maut menghantam pagar kebun hingga hancur, Suginowo menghantam batang pohon besar hingga bagian atasnya terguncang keras. Sementara Gala Patra, Raja Galang Madra dan Satria Gagah terpental yang berujung berguling-guling atau terseret di tanah.


Namun, keenam orang itu segera berdatangan kembali lalu berdiri berderet di depan Ratu Ginari.


“Dengarkan! Ilmu Roh Tujuh Langit telah kita kuasai, maka sempurna sudah kesaktian kita. Kalian akan bisa mengetahui sehebat apa kesaktian Roh Tujuh Langit yang kalian miliki dengan cara bertarung. Tingkatan kalian dipilih langsung oleh Roh Langit, semakin tinggi tingkatnya, maka ilmu Roh Langit semakin tinggi!” ujar Ratu Ginari menjelaskan.


“Aku sudah tidak sabar untuk membuktikan kehebatan ilmu baru ini, Ratu!” kata Gala Patra.


“Jika demikian, Gala Patra, besok pagi pergilah mencari jejak calon suamiku yang diculik oleh para wanita mesum itu!” perintah Ratu Ginari.


“Baik, Ratu!” ucap Laga Patra patuh.


“Aku bisa merasakan bahwa Joko Tenang sedang menuju selatan, tidak begitu jauh dari desa ini,” kata Ratu Ginari. (RH)


 


__ADS_1


AYO HADIR!!!


__ADS_2