
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Setelah menempuh perjalanan tiga hari tiga malam pasca peperangan di Jalur Bukit, rombongan Joko Tenang akhirnya tiba di salah satu sisi Gunung Prabu, tepatnya di pinggang gunung. Mereka tidak perlu naik ke puncak, cukup mereka memutar seperempat dari badan gunung lalu memandang ke utara.
Joko Tenang bersama keempat istrinya, kedua calon istrinya, dan para abdinya, memandang ke arah utara. Saat itu matahari telah mulai tergelincir menuju barat.
“Lihatlah, Yang Mulia Pangeran! Itulah istana yang diberikan oleh Gusti Mulia Raja Anjas Perjana Langit kepada Yang Mulia Pangeran Dira!” kata Turung Gali sambil memandang jauh ke depan.
Cukup jauh di arah utara, di balik hutan kecil di kaki Gunung Prabu, terlihat pucuk sebuah bangunan kokoh. Uniknya bangunan batu dan kayu itu memiliki pucuk-pucuk atap yang berbentuk seperti kubah-kubah berwarna hitam. Bangunan besar dan luas itu tidak terlihat sepenuhnya, karena terhalang oleh hutan.
Pemandangan di depan sana menjadi lebih indah dengan keberadaan telaga besar. Air tenang telaga memantulkan sinar mentari sehingga terlihat seperti air penuh taburan perhiasan permata. Jelas bahwa gedung yang disebut istana oleh Turung Gali berada tepat di pinggir telaga.
“Telaga itu bernama Telaga Fatara, Yang Mulia Pangeran,” kata Turung Gali.
“Jadi, ada siapa di sana?” tanya Joko Tenang.
“Sejumlah prajurit dan dayang yang dipimpin oleh Panglima Dada Perkasa,” jawab Turung Gali.
“Pemandangan yang indah,” ucap Kerling Sukma terkagum.
“Bisakah Ratu ceritakan keindahannya seperti apa?” tanya Sandaria kepada Getara Cinta.
Seraya tertawa kecil, Getara Cinta lalu menggambarkan apa yang mereka lihat kepada Sandaria yang duduk di atas punggung serigalanya.
“Waaah, Surya! Akhirnya kita memiliki istana mewah!” sorak Gembulayu kegirangan.
“Makanannya pasti enak-enak!” timpal Gowo Tungga pula.
“Beruntung kalian tidak mati saat perang kemarin!” timpal Surya Kasyara.
Terlihat kedua sahabat Pendekar Gila Mabuk itu begitu gembira melihat keberadaan istana yang sudah di depan mata.
“Kita berangkat ke sana!” perintah Joko Tenang kepada para rombongannya.
Untuk tiba di istana unik itu, mereka harus turun ke hutan. Di hutan ada satu jalan utama yang memiliki alur mengular.
“Sembah kami prajurit Sanggana Kecil kepada Yang Mulia Pangeran!” seru dua orang lelaki berpakaian hitam-hitam yang muncul tiba-tiba dua tombak di depan rombongan.
“Mulut hutan ini adalah batas terluar wilayah Sanggana Kecil, Yang Mulia Pangeran,” kata Turung Gali.
Joko Tenang mengangguk mendengar penjelasan mertuanya.
“Bangunlah!” perintah Joko Tenang kepada kedua prajurit itu.
__ADS_1
Kedua prajurit itu segera menyingkir dan memberi jalan bagi rombongan.
“Jika ini adalah batas terluar Sanggana Kecil, sulit dikatakan Sanggana Kecil sebagai sebuah kerajaan,” kata Getara Cinta.
“Sesuatu yang besar barawal dari yang kecil,” timpal Nara, Dewi Mata Hati.
“Jika Gunung Prabu bukan dalam kekuasaan kita, akan sangat berbahaya bagi kita. Apakah sudah diketahui siapa penguasa Gunung Prabu?” kata Joko Tenang.
“Belum, Yang Mulia Pangeran,” jawab Turung Gali.
“Gunung itu berpenghuni banyak manusia,” jawab Nara pula.
“Berarti kita harus memperkenalkan diri kepada mereka,” kata Kerling Sukma.
“Malam ini, selain mengatur jatah cinta, kita juga harus mengatur rencana, tugas dan jabatan,” kata Joko Tenang yang membuat para istri tersenyum.
“Biarkan malam ini menjadi malam pernikahanku dengan Kakang,” kata Nara.
“Dengan bahagia kami akan menunggu giliran,” kata Tirana seraya tersenyum. Ia menuntun kuda yang membawa tubuh Ginari.
Mereka terus berjalan mengikuti jalan hutan yang menuju ke Istana Sanggana Kecil. Dalam perjalanan itu, mereka bisa merasakan keberadaan beberapa prajurit yang berjaga pada posnya.
Cukup jauh mereka berjalan, sehingga akhirnya mereka tiba di sebuah tanah lapang yang luas. Nun jauh di depan sana, barulah mereka bisa melihat keberadaan Istana Sanggana Kecil secara utuh, yang memiliki benteng berdinding batu. Terlihat pintu bentengnya tertutup.
Rombongan itu terus berjalan ke arah gerbang benteng Istana. Setelah dekat, ternyata benteng batu itu dikelilingi oleh parit yang lebar. Lebar parit sejauh tiga kali lompatan seorang pendekar berilmu peringan tubuh. Air parit menyatu dengan Telaga Fatara yang menjadi sisi belakang istana itu.
Gregr!
Tiba-tiba di seberang parit bergerak perlahan sebuah benda besar dan berat. Benda besar itu bergerak maju perlahan, seolah memiliki roda penggerak canggih. Setelah menjulur sejauh setengah lebar parit, barulah jelas bahwa itu adalah jembatan besi raksasa yang digerakkan oleh sebuah mesin.
Sebagian dari rombongan Joko Tenang tampak terpukau oleh teknologi yang membuat dan menggerakkan jembatan besar itu.
Jleg!
Akhirnya ujung jembatan mendarat di pinggir parit yang memang sudah memiliki bidang besi tempat benda itu mendarat dan berhenti.
Kini terbentanglah sebuah jembatan perpaduan besi dan kayu tebal yang kokoh. Lebar jembatan mencapai tiga depa.
Gerbang benteng yang terbuat dari kayu yang tebal berwarna merah gelap, perlahan membuka. Setelah membuka, pada sisi bawah terlihat berdiri ramai orang yang Joko Tenang dan lainnya tidak kenal, kecuali Turung Gali.
Ada selusin lelaki berseragam hitam-hitam seperti dua prajurit penjaga di mulut hutan tadi. Di belakang mereka berbaris pula dua lusin kaum perempuan muda-muda berpakaian putih-putih.
Mereka dipimpin oleh seorang lelaki bertubuh tinggi, besar dan berotot padat. Lelaki berkumis tebal itu bisa ditaksir berusia masih di bawah lima puluh tahun. Ia mengenakan celana merah terang agak gombrong. Karena tidak berbaju, jadi kekekaran otot lengan, dada, perut, dan bahunya terlihat gagah bertonjolan, membuat kaum perempuan sedikit tergoyahkan perasaannya.
Rombongan Joko Tenang melangkah menapaki jembatan menuju pintu gerbang.
__ADS_1
“Sembah kami prajurit Sanggana Kecil kepada Yang Mulia Pangeran!” seru lelaki bertubuh besar sambil menjatuhkan dirinya berlutut dan menjura hormat dalam.
“Sembah kami prajurit Sanggana Kecil kepada Yang Mulia Pangeran!” ucap para prajurit lelaki dan wanita bersamaan sambil turun berlutut dan menghormat dalam.
“Bangunlah, kalian semua!” perintah Joko Tenang.
Joko Tenang dan rombongan berhenti di depan para prajurit itu.
“Ini adalah Batik Mida, bergelar Panglima Dada Perkasa. Ia adalah salah satu prajurit di dalam Pasukan Seratus Bintang Kerajaan Sanggana. Ia ditugaskan untuk memimpin keprajuritan di Sanggana Kecil ini,” ujar Turung Gali memperkenalkan diri.
“Benar, Yang Mulia Pangeran. Kami semua patuh mengabdi kepada Yang Mulia Pangeran dan para putri,” kata Batik Mida dengan suara bass-nya.
“Ada berapa banyak prajurit yang kau pimpin di sini?” tanya Joko Tenang ramah kepada Batik Mida.
“Dua ratus prajurit dan lima puluh dayang, Yang Mulia Pangeran,” jawab Batik Mida.
“Lalu siapa kepala dayangnya?” tanya Joko Tenang lagi dengan ramah.
“Hamba, Yang Mulia Pangeran!” sahut seorang wanita muda nan cantik, berperawakan agak besar seperti Getara Cinta. “Nama hamba Kicau Semilir.”
“Kami semua harus membersihkan diri dan makan, persiapkan semuanya!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Yang Mulia Pangeran,” ucap Kicau Semilir patuh.
“Dan kau Batik Mida, nanti malam persiapkan segala laporanmu tentang wilayah ini dan sekitarnya!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Yang Mulia Pangeran,” sahut Batik Mida.
“Bubarkan diri kalian semua!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Yang Mulia Pangeran!” jawab para prajurit dan dayang itu serentak.
Para prajurit dan dayang segera bergerak membubarkan diri secara rapi.
Namun, Tirana merasa terganggu oleh sosok seorang dayang. Ia melihat ada satu dayang yang sering kali mencuri pandang kepada Joko Tenang. Tidak hanya curiga karena gerak-geriknya yang mencurigakan, Tirana jadi ingat seseorang ketika melihat sekilas wajahnya.
“Para dayang berhenti!” perintah Tirana tiba-tiba, agak mengejutkan yang lainnya. Lalu katanya, “Ada penyusup!”
Tirana cepat berkelebat kepada salah satu dayang yang ada di dalam barisan, membuat dayang yang dimaksud terkejut mendelik cantik.
Tirana tersenyum menyeringai kepada dayang tersebut sambil hendak mencekal lengan kiri si dayang cantik.
Namun, dayang itu cepat menepis tangan Tirana dan menyerangnya dengan tendangan mengibas ke arah wajah. Mudah bagi Tirana mengelak.
“Hihihi…!” tawa dayang itu sambil berkelebat mundur menjauhi Tirana dan keluar dari barisan dayang.
__ADS_1
Kejadian itu membuat para prajurit dan dayang terkejut, terutama bagi Kicau Semilir sebagai Kepala Dayang. Jelas akan menjadi masalah besar baginya bahwa ternyata ada seorang penyusup di dalam satuannya. (RH)