
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Saat melihat sesosok tubuh terbaring di dipan kayu berukir, Ginari langsung berlari masuk mendapati lelaki yang terbaring beralas tilam putih.
“Joko!” panggil Ginari yang saat itu pula pecah tangisnya.
Ia melihat Joko terbaring dalam kondisi terpejam, tetapi napasnya masih bekerja.
“Joko!” sebut Ginari lembut seraya terisak. Ia memberanikan diri meraih tangan Joko dan menggenggamnya. “Joko, maafkan aku. Aku sangat menyesal telah memfitnahmu di hari yang lalu. Mengapa kau begitu rela mengorbankan nyawamu demi menolong aku yang seharusnya tidak pantas ditolong?”
Ginari meratapi Joko dengan mengenang hari-hari ketika ia mengira Joko telah merusak kehormatannya dan ia begitu ingin membunuh Joko. Tangisnya terseduh-seduh.
“Joko, jangan mati. Aku sangat menyesal. Aku sangat ingin menjadi istrimu. Aku tidak keberatan sedikit pun, asalkan kau tidak mati!” ucap Ginari lirih lalu melanjutkan ratapannya dengan luapan tangis.
Ginari mengangkat tangan Joko lalu ditempelkan ke pipinya. Tangan Joko basah terkena air mata.
“Aku mencintaimu, Joko. Tolong, sembuhlah,” ucap Ginari.
Ginari teringat segala perlakuan buruk dan jahatnya kepada Joko sebelum ia terkena racun Pil Gerogot Jantung, hingga ketika ia mau mati pun masih berkata kasar dan pedas kepada Joko. Hingga Joko berkata, “Makianmu membuatku sedih dan sakit hati. Kau begitu tega.”
Mengingat itu semua, Ginari menangis dahsyat. Tubuhnya sampai terguncang-guncang menyesali segala masa-masa buruk yang ia berikan kepada Joko. Ia telah memfitnah Joko, membencinya dan marah kepadanya dengan membabi buta.
Namun kemudian, satu suara menyadarkan Ginari.
“Aku bisa mati cepat jika kau terus memegang tanganku,” ucap bibir Joko tiba-tiba dengan mata tetap terpejam.
Terkejutlah Ginari mendengar kata-kata itu. Ia seketika langsung melepas tangan Joko begitu saja. Ekspresi tangisnya terhenti dan ia diam memandangi wajah Joko yang masih terpejam matanya. Namun, perlahan bibir merah Joko bergerak membentuk senyum dan disusul kelompak mata yang terbuka.
Hal itu membuat Ginari mendelik dan buru-buru berdiri dari duduknya di sisi dipan. Ia agak menjauh dari Joko, tetapi masih dalam jangkauan tiga langkah. Meski masih sedih, tetapi isak Ginari telah berhenti.
“Mengapa menangisiku, aku masih hidup. Tapi jika kau sering-sering memegang tanganku, justru aku bisa cepat mati,” kata Joko seraya menatap sayu kepada Ginari.
“Rupanya kau tidak apa-apa!” dengus Ginari agak kesal. Ia berusaha menutupi rasa begitu takutnya ia kehilangan Joko.
Kenangan di Kerajaan Tabir Angin itu membuat Joko justru menitikkan air mata di bawah pohon kecil di tengah sawah. Angin malam yang dingin kencang menerpa tidak mengusik raganya. Joko menatap ke langit berbintang, seolah sedang menonton berbagai rekaman interaksinya bersama dengan Ginari, baik yang buruk maupun yang memberi keindahan.
Sementara di dangau, telah tidur terlelap Getara Cinta, Tirana dan Helai Sejengkal. Getara Cinta tidur dengan berbantalkan paha Tirana yang tidur duduk bersandar. Sementara Helai Sejengkal tidur terlentang bebas.
“Kheerrr!”
Terdengar suara dengkuran halus dari Helai Sejengkal, tetapi itu tidak menjadi pengganggu bagi yang lainnya.
Hingga malam berlalu dan fajar mulai menyeruak di ufuk timur, Joko masih terjaga. Ia melalui malamnya dengan hanya memikirkan kemalangan Ginari. Menurutnya, Ginari lebih banyak melalui penderitaan saat bersamanya dibandingkan merasakan kebahagiaan.
__ADS_1
“Seandainya ada keajaiban kau bisa hidup kembali Ginari, seperti cerita Raja Kera tentang Satria Gagah, aku berjanji akan memberimu kebahagiaan yang kau kehendaki.”
Itulah ucapan Joko Tenang yang terlontar pada malam itu kepada dirinya sendiri.
Sebelum ayam jantan berkokok di kejauhan, Joko Tenang sudah membersihkan diri di kolam dekat dangau yang airnya jernih.
Suara gemericik air membuat Getara Cinta terbangun dari tidurnya. Ia melongok memandang ke arah kolam. Melihat calon suaminya mandi di dalam kegelapan, Getara Cinta tersenyum. Sejenak dipandangnya Tirana yang masih terlelap dengan kepala miring terkulai.
Getara kemudian berinisiatif turun ke dekat kolam tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
“Kakang!” panggil Getara Cinta bernada berbisik.
Joko Tenang terkejut dan cepat menengok. Dilihatnya Getara Cinta sedang berjongkok di pinggir kolam sambil tersenyum manis.
“Aku membangunkanmu?” tanya Joko Tenang lembut.
Getara Cinta hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia lalu menjentikkan jari tangan kanannya di atas kepala.
Swiit!
Tiba-tiba tercipta sebuah kubah sinar hitam pekat yang besar, mengurung kolam dan keberadaan mereka berdua.
“Apa yang kau lakukan, Getara?” tanya Joko penasaran.
Mendeliklah Joko Tenang mendengar niat Getara Cinta. Belum lagi Joko berkomentar, mantan ratu itu sudah mulai menanggalkan pakaian dan perhiasannya.
“Apa boleh buat, tidak mungkin aku menolak,” batin Joko Tenang seraya tersenyum pasrah.
Ketika Tirana terbangun, ia mendapati Getara Cinta sudah duduk cantik, segar dan rapi di hadapannya. Ia lihat juga ke arah Joko di bawah pohon kecil sana. Terlihat calon suaminya sedang merapikan pakaiannya. Rambutnya masih basah.
Namun tiba-tiba, Joko Tenang berpaling mendadak ke arah lain dan memandang jauh.
Joko Tenang cepat melesat berlari di atas genangan air sawah tanpa menimbulkan percikan.
“Kakang!” teriak Tirana memanggil, mengejutkan Getara Cinta dan membangunkan Helai Sejengkal.
Tirana tahu-tahu menghilang dari tempat duduknya. Ia melesat pergi mengejar Joko Tenang. Getara Cinta memandang sebentar kepergian keduanya di gelapnya subuh. Ia yakin, perpaduan Joko dan Tirana sudah cukup dalam menghadapi bahaya besar.
Tirana mendapati Joko Tenang berdiri di atas sebuah batu besar yang ditumbuhi rumput. Joko tampak sedang mencari dengan pandangannya.
“Siapa yang Kakang kejar?”tanya Tirana dari sisi batu.
“Aku tidak tahu. Seperti seorang wanita berpakaian serba biru. Ia mengawasi kita dari jauh,” jawab Joko.
__ADS_1
“Mungkin pendekar lewat yang melihat keberadaan kita di tengah sawah,” kata Tirana.
“Mungkin saja, tapi aku heran, aku merasa sangat ingin mengetahuinya. Padahal, jika hanya mengawasi dari jauh, aku tidak begitu peduli selama tidak membahayakan kita,” kata Joko.
“Lebih baik kita Kembali ke dangau, Kakang. Kita lanjutkan perjalanan ke kediaman gurunya Ginari,” kata Tirana.
“Ayo.”
Keduanya pun kembali ke sawah. Seperginya mereka, dari balik rimbunnya dedaunan sebuah pohon muncul sosok berpakaian serba biru yang berdiri melayang di udara. Wajahnya tertutupi oleh cadar biru dan hanya sepasang matanya yang terlihat.
Usai Tirana dan Helai Sejengkal membersihkan diri di kolam yang sama, mereka akhirnya pergi meninggalkan dangau, seiring warga dari desa terdekat mulai berdatangan untuk mengurus sawahnya.
Getara Cinta dan Tirana mengizinkan Helai Sejengkal ikut untuk sementara, hingga Joko dan Tirana menikah.
Joko Tenang berjalan di depan, sementara para wanita berjalan berdampingan empat langkah di belakang Joko.
“Aku mencurigai sesuatu, Ratu!” bisik Tirana sambil berjalan menggandeng tangan Getara Cinta.
“Apa?” tanya Getara Cinta datar.
“Kau dan Kakang Joko lebih dulu rapi dan waktunya bersamaan. Apakah kalian melakukan sesuatu di saat aku tidur?” tanya Tirana berbisik.
Getara Cinta melirik Tirana yang jauh lebih muda darinya itu, kemudian ia tersenyum.
Melihat Getara Cinta tersenyum, mendeliklah Tirana dan berkata, “Benar kecurigaanku. Apa yang kalian lakukan?”
“Hanya mandi bersama,” jawab Getara Cinta santai.
“Hanya itu?” tanya Tirana lagi, masih curiga.
“Ya, aku memandikan Kakang Joko,” jawab Getara Cinta seraya tersenyum kepada Tirana. “Tenang saja, Sayang. Aku tidak akan mengambil hakmu.”
Getara Cinta lalu merangkul pundak Tirana. Ia lalu menarik kepala Tirana dan mengecup pipi kanannya, membuat Gadis Penjaga tersenyum senang.
“Kakang Joko adalah milik kita bersama, Ratu. Namun, jika kau mendapat lebih dibandingkan aku, aku tidak masalah. Aku senang. Terlebih kau adalah seorang ratu dan akan menjadi istri yang tertua, tentunya kau pantas mendapatkan keutamaan,” ujar Tirana.
“Terima kasih, Sayang. Namun, kita tetap sama, jangan melebihkanku berlebihan,” kata Getara Cinta.
“Jadi Kakak Getara seorang ratu?” tanya Helai Sejengkal.
“Sudah tidak. Aku meninggalkan tahtaku,” jawab Getara Cinta.
“Aku heran, kenapa kalian tidak bertengkar memperebutkan Kakang Joko?” tanya Helai Sejengkal.
__ADS_1
Getara Cinta dan Tirana hanya tertawa mendengar pertanyaan itu. (RH)