
Wanita tua itu berjalan selangkah demi selangkah menaiki anak tangga yang jumlahnya 191 undak. Meski ia membawa sebatang tongkat logam berwarna merah, tetapi tidak digunakan untuk membantu menopang tubuhnya. Tongkat yang lebih tinggi dari tinggi tubuhnya tersebut memiliki ukiran yang cantik tapi rumit, memberi tanda bahwa orang yang membuat tongkat itu memiliki kepandaian seni dan ketelitian yang tinggi.
Fisiknya ternyata tidak setua usianya yang sudah melampaui 120 tahun. Kaki tuanya masih kuat untuk mendaki ribuan anak tangga tanpa bantuan tongkat, karena sesungguhnya tongkat itu bukan untuk alat bantu berjalan, tapi sebagai simbol ketinggian kedudukannya di Kerajaan Sanggana.
Rambut putih panjangnya tergerai seolah menyatu dengan warna jubah putihnya yang besar. Sebuah gelang emas berhias satu permata putih pada titik di dahi, melingkari kepalanya. Meski wajah telah keriput, tapi riasan yang sempurna membuat wajah putihnya terlihat bersih dan berwibawa. Sepasang alisnya yang agak panjang juga berwarna putih. Meski pemerah bibir yang dipakainya tidak begitu tebal, tapi warna merah itu begitu segar di wajah tua yang cemerlang.
Wanita yang dikenal sebagai Penasihat Agung tersebut bernama Ila Sekar Mawangi. Kesepuluh jari tangannya yang berkuku panjang berwarna perak indah itu, sudah 80 tahun memegang Tongkat Keagungan. Ia sudah melayani tiga raja di kerajaan itu.
Setiap prajurit yang berdiri di posnya di sepanjang tangga, segera turun berlutut kaki kanan saat Penasihat Agung berlalu di depan mereka. Setiap hitungan sepuluh anak tangga, berdiri prajurit berseragam merah bersenjatakan pedang tersarung di pinggang dan pedang lain selalu tergenggam di tangan kanan.
Sangat mudah bagi Penasihat Agung untuk sekali melesat sampai ke puncak tanpa harus menghitung anak tangga demi anak tangga, tapi aturan menapaki setiap anak tangga adalah wajib di kerajaan tersebut. Menaiki anak tangga satu demi satu memiliki nilai pendidikan yang penting dan itu sudah mengakar pada jiwa dan pikiran setiap orang yang ada di istana ataupun seluruh rakyat Sanggana.
Menaiki anak tangga mengajarkan untuk bersikap sabar, mengajarkan untuk melakukan sesuatu secara bertahap tanpa melewatkan satu hal kecil pun, mengajarkan bersikap adil kepada semua anak tangga, mengajarkan bahwa untuk mencapai setiap tujuan diperlukan proses, mengajarkan untuk menghargai kerja keras, mengajarkan bahwa hasil bukanlah tolok ukur melainkan proses yang benar, dan pelajaran lainnya yang bisa diambil dari proses menaiki anak tangga seundak demi seundak. Aturan itu berlaku untuk semua tangga yang ada di dalam atau di luar istana, kecuali berhubungan dengan urusan darurat.
Hingga akhirnya, Penasihat Agung sampai di puncak, sebuah hamparan lantai berwarna hitam yang cukup luas. Lantai itu dipagari oleh rakitan kayu tebal dan kuat berwarna biru, sama warnanya seperti warna yang mendominasi setiap dinding istana utama yang dinamai Istana Awan. Tidak banyak hiasan di tempat itu, selain satu set tempat duduk dan meja dari kayu hitam yang berposisi cukup dekat dengan pagar.
Ada sekitar sepuluh prajurit berseragam merah tanpa senjata yang berdiri di sepuluh titik di pinggiran pagar kayu biru.
Di salah satu sisi pagar, berdiri seorang pria dengan pakaian jubah merah berhias sulaman emas yang indah bermotif harimau menerkam. Belang sulaman harimau yang besar itu memakai benang perak. Jubahnya yang berat karena tebal dan terbuat dari bahan yang kuat, masih bisa dibuat berkibar oleh kencangnya angin yang berhembus di atas kawasan hutan luas itu. Gelungan rambut hitamnya dicekik dengan cincin emas tebal berhias deretan berlian kecil berwarna merah jernih.
Untuk berdiri di tempat itu, ia tidak perlu mengenakan mahkota kebesarannya sebagai Raja Kerajaan Sanggana.
Pria tampan yang masih terhitung muda itu masih menyukai model kumis yang tipis di atas bibirnya. Tidak ada perhiasan berlebih yang ia kenakan di waktu santai seperti itu, sangat berbeda ketika ia harus mengenakan semua perhiasan secara lengkap ketika menghadapi para pejabatnya setiap Sidang Fajar yang dimulai sebelum matahari terbit.
Raja Anjas Perjana Langit memang dikenal sebagai raja yang lebih menyukai kesederhanaan, tapi menghargai mewahnya peraturan yang diterapkan di lingkungan seluruh istana.
“Sembah Penasihat Agung, Gusti Mulia,” ucap Penasihat Agung setelah ia turun berlutut kaki kanan seraya menempelkan kedua telapak tangan di depan kepala yang menunduk dalam.
__ADS_1
Raja Anjas Perjana Langit yang berdiri memunggungi kedatangan wanita tua itu, tetap memandang kepada luasnya alam hutan yang mengelilingi wilayah Kerajaan Sanggana.
“Berdirilah!” perintah Raja Anjas dengan nada pelan tapi berwibawa.
Penasihat Agung pun berdiri tegak.
“Kemarilah!” perintah Raja Anjas lagi, pelan tapi jelas di telinga.
Penasihat Agung pun melangkah maju dan berdiri di sisi Raja Anjas. Dari ketinggian itu keduanya menatap luasnya hutan dan terhamparnya luas istana yang berbenteng tinggi dan kokoh, serta desa-desa yang diciptakan di dalam hutan belantara sejak ratusan tahun yang lalu. Sementara di belakang mereka, menjulang tinggi Istana Awan yang dibangun seolah-olah hendak menggapai gumpalan awan di langit.
Kini raja dan penasihatnya berada di tempat yang bernama Taman Hitam. Dinamai Taman Hitam karena warna lantainya. Di taman ini tidak ada tempat untuk berteduh dari hujan dan terik. Namun, angin yang kencang membuat sengat mentari tidak terasa artinya. Ini adalah ketinggian tingkat empat jika dihitung dari lantai yang sejajar dengan bumi.
“Apa yang kau sarankan kepadaku tentang putraku, Dira Pratakarsa Diwana?” tanya Raja Anjas sambil memandang sejenak wajah penasihatnya. “Dia sudah mulai turun ke rimba persilatan.”
“Lalu apa yang Gusti Mulia inginkan dari Pangeran Dira?” Penasihat Agung justru balik bertanya.
“Jikalau memang benar adanya bahwa ketampanan Pangeran Dira begitu memukau, maka tak mungkin ia satu atap dengan Gusti Putra Mahkota, tak mungkin dua anak ayam berkumpul di satu cangkang. Seperti sarang laba-laba dengan kupu-kupu, seperti semut dan gumpalan madu, seperti anai-anai dan kobaran api. Untuk melenyapkan penyakit Sifat Luluh Jantan itu dan memunculkan kesaktian Delapan Dewi Bunga, Gusti Agung Nan Mulia Sintar Sadarmadewa harus menjalani delapan pernikahan. Dalam masa menuju ke pernikahan kedelapan, Gusti Agung Nan Mulia harus kehilangan seluruh kesaktiannya untuk sementara," kata Penasihat Agung.
"Aku rasa Gusti Mulia berpikiran sama denganku untuk hal ini. Adapun Pangeran Dira, pertama, jika membiarkannya apa adanya, penyakit Sifat Luluh Jantan akan menjadi masalah baginya ketika ia berurusan dengan wanita, bahkan bisa menjadi kelemahan yang sangat mudah dimanfaatkan oleh musuh. Kedua, sebaliknya. Jika kita membantunya untuk menyembuhkan penyakit itu, apakah ia siap? Atau yang ketiga. Jika Gusti Mulia ingin jalan pintas, Pangeran bisa diboyong ke Sanggana dan menikahkannya dengan delapan gadis yang dipilih,” katanya.
Raja Anjas terdiam mendengar tiga pilihan yang diutarakan oleh Panesihat Agung Ila Sekar Mawangi. Ia mencoba menggambarkan alur perjalanan Pangeran Dira Pratakarsa Diwana pada setiap pilihan.
Raja Anjas kemudian berkata, “Tidak perlu aku memanggilmu jika aku menyetujui pilihan pertama. Untuk pilihan ketiga, belum waktunya putra sulungku itu memasuki dan menetap di istana. Ia belum tahu sepenuhnya siapa ayah dan ibunya. Akan banyak yang perlu dipelajarinya untuk sekedar masuk ke istana. Meski tidak mungkin bagi Pangeran Dira memiliki maksud merebut gelar Putra Mahkota, aku khawatir kehadirannya justru akan menimbulkan kecurigaan gelap di hati Pangeran Drajat Mega Sukma. Dan, memilih jalan pintas bukanlah karakter orang Sanggana. Budaya menapaki tangga satu demi satu begitu mengakar di karakter kita. Aku lebih memandang baik pilihan kedua, meski aku melihat prosesnya cukup panjang. Terlebih, kesaktian Delapan Dewi Bunga harus dibangun di atas cinta dan harmoni sembilan hati anak manusia.”
“Risiko cara kedua cukup besar. Sebab, terhitung sejak pernikahan pertama, Pangeran Dira akan kehilangan seluruh kesaktiannya. Meski kita bisa menempatkan pengawal untuknya, tapi apakah Pangeran mau menempuh jalan itu dan sejauh mana kesempurnaan penjagaan terhadap dirinya?” kata Penasihat Agung.
“Pilihan ini harus dicoba lebih dulu, sementara aku menilai inilah yang terbaik. Jika Pangeran Dira dalam kondisi tanpa kesaktian sedikit pun, berarti hanya kesaktian Rompi Api Emas yang tersisa di tubuhnya. Karenanya, istri pertama harus gadis yang memiliki kesaktian tinggi. Tentunya, bukan hanya sakti, tapi juga memiliki kepatuhan yang tinggi terhadapku dan keluarga istana.”
__ADS_1
“Berarti, maksud Gusti Mulia, orang yang kita kirim untuk mengawal Pangeran Dira adalah wanita sakti yang siap menikah langsung dan berasal dari hamba yang kesetiaannya sudah tidak perlu diragukan?” terka Penasihat Agung.
“Kau punya calon untuk tugas ini?” tanya Raja Anjas seraya berpaling memandang wajah tua Penasihat Agung.
Penasihat Agung terdiam sejenak dalam pikirannya.
“Para pejabat Sanggana dan keluarganya memiliki tingkat kesetiaan setinggi langit, termasuk di kalangan rakyat. Tidak sulit mencari gadis untuk tugas ini. Namun, untuk mencari yang memiliki kecantikan yang sangat baik dan kesaktian yang lebih unggul dari yang dimiliki para tokoh digdaya rimba persilatan, tidak akan mudah,” ujar Penasihat Agung.
“Apakah perlu kita mengadakan pertandingan untuk mendapatkan yang terbaik?” tanya Raja Anjas.
“Jikalau Gusti Mulia tidak masalah andaikan misi ini tersiar luas,” kata Penasihat Agung. “Jikalau pun misi ini dirahasiakan, tentunya Enam Keagungan akan menuntut penjelasan, dan masukan-masukan lain akan disampaikan kepada Gusti Mulia. Jika Gusti Mulia menggunakan Kewenangan Tunggal, aku khawatir muncul dugaan-dugaan tidak pasti di kalangan keluarga istana.”
“Sebutkan beberapa gadis sakti dan cantik menurut pengetahuanmu, Penasihat!”
“Yang pertama, jelas aku mengajukan Tumenggung Uyu Kemangi, gadis cantik yang sudah tidak diragukan lagi,” kata Penasihat Agung.
“Tidak, selain posisinya yang sulit dicari penggantinya, karakter militernya begitu kuat,” kata Raja Anjas. “Siapa lagi?”
“Putri ketiga Mahapati Agung, yaitu Tirai Selaksa. Ia juga dijuluki Penyulam Mutiara. Selain berpendidikan perilaku kerajaan, gadis ini memiliki karakter yang lembut.”
“Aku ingat wajahnya. Siapa lagi?” kata Raja Anjas.
“Di dalam Pasukan Seratus Bintang ada gadis kembar yang sangat populer kesaktian dan kecantikannya. Namun, aku mengajukan Numi yang berjuluk Dewi Seribu Cangkang. Ia lebih pendiam dari saudaranya Nuri yang berjuluk Dewi Seribu Wajah. Dan satu lagi, Kirani. Ia putri Senopati Kurapaksa. Kesaktiannya melampaui sejumlah pejabat tinggi kerajaan. Ia sudah banyak menolak lamaran pejabat kerajaan dan para pendekar Sanggana.”
“Hadapkan mereka secara khusus kepadaku menjelang senja, kecuali Tumenggung Uyu Kemangi!” perintah Raja Anjas.
“Baik, Gusti Mulia.” (RH)
__ADS_1