
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Zeeeng!
Diagram sinar kuning yang telah diciptakan oleh Sandaria berputar cepat di tempat, seperti sebuah mesin sinar. Ilmu Putaran Dewa Perang siap unjuk kehebatan. Putaran membuat diagram itu bersinar lebih terang.
“Yee yee yee!” teriak Sandaria sambil tersenyum lebar, seolah menikmati suara bising putaran diagram sinar itu. Ia lalu berteriak menghitung, “Satu, dua, sepuluuuh!”
Ketika menyebut angka sepuluh yang langsung lompat dari dua, Sandaria menunjuk ke depan dengan kedua telunjuknya.
Zeng zeng zeng…!
Dahsyat. Bukan hanya Satria Gagah yang terkejut, semua orang yang menyaksikan pertarungan di ketinggian itu terbelalak.
Diagram sinar yang berputar kencang itu tiba-tiba menembakkan bola-bola sinar kuning tanpa henti. Daya tembaknya begitu cepat. Tembakan sinarnya yang tanpa jeda dan henti mengingatkan kita pada senjata senapan mesin.
Blar blar blar…!
Demikian cepatnya serangan itu, membuat Satria Gagah tidak bisa mengelak selain membentengi diri dengan ilmu perisainya yang bernama Kepompong Abadi. Tubuh Satria Gagah diselimuti sinar biru gelap.
Puluhan ledakan dahsyat menghantami tubuh Satria Gagah seperti hujan deras menghantam bumi.
Hingga tujuh hitungan, tubuh Satria Gagah terpental dan meluncur jatuh dengan kepala berada di bawah. Ilmu perisai kepompongnya ternyata tidak abadi.
Dengan jatuhnya Satria Gagah, bola-bola sinar kuning berlesatan jauh hingga meledak sendiri dalam kejauhannya.
“Sandaria!” teriak Sandaria gembira sambil mengangkat tinggi tangan kanannya ke langit, sementara hidungnya mengerut dan ujung lidahnya ia tongolkan sedikit ke samping, memberi gaya menggemaskan yang mengaduk-aduk perasaan para jomblo batangan.
Auuu…!
Pada saat yang sama, kelima serigala kompak melolong merayakan kemenangannya.
Sandaria menghentikan operasi penembakan ilmu Putaran Dewa Perang.
Bugk!
Suara hantaman tubuh Satria Gagah menghantam tanah bukit terdengar keras.
“Sandaria memang hebat! Hihihi!” kata Sandaria memuji dirinya sendiri lalu tertawa genit sendiri.
“Aaarrk!”
Tiba-tiba terdengar teriakan Satria Gagah yang bangkit dengan tubuh diselimuti oleh sinar ungu yang berkobar. Satria Gagah belum mati.
Kali ini Sandaria dibuat terkejut. Ia jadi mengerenyit kecewa.
“Semangat, semangat!” ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Wesst!
Dari tanah bawah, Satria Gagah melesat cepat naik ke udara, melesat terbang ke arah posisi Sandaria. Tubuhnya masih diselimuti sinar ungu.
__ADS_1
Namun, muncul sesuatu yang mengganggu niat Satria Gagah.
Sebelum Satria Gagah mencapai posisi Sandaria, tiba-tiba dari arah lain melesat datang sosok ular terbang berwarna kuning. Kerling Emas datang bersama Kerling Sukma.
Zerss!
Mengetahui kedatangan calon madunya, Sandaria segera mengeluarkan penghuni Cincin Mata Langit-nya. Dari dalam tubuh Sandaria melesat keluar sosok kuda bersayap sinar ungu.
Wuss! Bros!
Satria Gagah melesatkan bola sinar ungu berekor yang langsung menghantam kepala ular sinar kuning Kerling Sukma di udara. Binatang bersayap kalong itu langsung buyar. Namun, tubuh Gadis Mata Hijau telah melesat cepat kepada sosok Satria Gagah.
Mendelik terkejut Satria Gagah ketika melihat Kerling Sukma menyerangnya dengan ilmu Roh Langit Empat. Ia pun menghadang pukulan sinar ungu Kerling Sukma dengan tinju besinar ungu pula dari ilmu Roh Langit Enam.
Buomm!
Ledakan dua tenaga sakti ilmu Roh Langit terjadi. Tubuh Satria Gagah terdorong deras ke belakang. Namun, alangkah terkejutnya orang tua itu, dalam kondisi seperti itu, Sandaria telah terbang di atasnya menunggangi kuda terbang. Sandaria hanya memberikan senyuman menggemaskannya, seolah memberi senyum pengantar menuju kematian.
Cess! Tuss!
Sandaria melakukan cara yang sama saat dia menghabisi Laga Patra. Ia tusukkan tongkat ajaibnya ke bawah. Maka segaris sinar kuning tipis melesat menusuk tembus dada dan jantung Satria Gagah.
Sementara itu, Kerling Sukma meluncur deras menuju bumi. Saat luncuran itu, serbuk sinar kuning dari Kerling Emas tersedot masuk ke dalam tubuhnya. Kerling Sukma yang terluka karena bentrokan tadi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan dirinya dari menghantam tanah keras.
Namun, beberapa tombak sebelum menghantam bumi, tubuh Kerling Sukma disambar oleh punggung seekor serigala yang berlari cepat dan melompat. Sambaran keras itu hanya menyenggol, membuat tubuh Kerling Sukma terlempar menjauh ke depan.
Dengan lari yang begitu kencang, empat serigala lainnya yang telah turun bukit cepat mengejar tubuh Kerling Sukma. Hingga puncaknya, Satria dan Kemilau melompat tinggi bersamaan menyambar tubuh Kerling Sukma.
Tubuh Kerling Sukma tepat jatuh di punggung kedua serigala yang bergerak kompak, sehingga tidak membuat tubuh Dewi Mata Hijau terpental lagi. Penyelamatan gemilang para serigala berhasil dengan apik.
Kerling Sukma terbatuk darah.
Bugk!
Sementara itu, tubuh Satria Gagah jatuh menghantam bumi. Kali ini ia benar-benar mati oleh ilmu Tusuk Nyawa Sandaria.
Sandaria datang menghampiri Kerling Sukma dengan kuda terbangnya. Ia terkekeh-kekeh kepada Kerling Sukma yang jadi tertawa melihat tingkah si mungil itu.
“Tinggal ada dua pertarungan,” kata Sandaria. Meski dia buta, tetapi tindakannya sedikit pun tidak menunjukkan kebutaan.
“Kakang Joko dan Ratu tidak bisa melawan Ginari, tetapi masih ada waktu untuk bertahan. Si Monyet Putih hampir mati. Kita selamatkan dulu Si Monyet Putih agar nanti kita bisa konsentrasi kepada Ginari,” kata Kerling Sukma.
“Baik. Ayo berangkat!” seru Sandaria lalu melompat berpindah tempat ke punggung Satria, si serigala berbulu hitam. Sementara kuda ungunya buyar lalu masuk ke dalam tubuhnya.
Zerss!
Kerling Sukma lalu mengeluarkan kembali Kerling Emas dari dalam tubuhnya. Sementara Satria dan keempat serigala lainnya berlari kencang, kembali menaiki bukit.
Boam! Boam!
Dua ledakan tenaga sakti terjadi dahsyat antara Ratu Ginari dengan Getara Cinta dan Joko Tenang.
Ratu Ginari bergeming tanpa bergeser sedikit pun dari titik layangnya di udara. Sementara Joko Tenang dan Getara Cinta terlempar jauh. Getara Cinta masih dapat disambar oleh macan terbangnya dan Joko Tenang disambar oleh naga hitam Kusuma Dewi.
__ADS_1
Selanjutnya, mereka berdua kembali terbang mendekati posisi Ratu Ginari yang belum terlihat ada tanda-tanda kelemahannya.
Di sisi lain, Manyo Pute alias Si Monyet Putih sedang diintimidasi oleh Suginowo dan beberapa orang muridnya.
Saat ini, kedua tangan dan kaki Manyo Pute dikunci oleh ikatan tali sinar merah. Masing-masing tali sinar merah ditarik kuat oleh seorang murid Kelompok Kaki Awan.
Penguncian itu membuat Manyo Pute tidak bisa menggunakan pukulan dan tendangannya. Sementara kakek Suginowo telah berdiri dalam jarak dua tombak di depannya.
Tas tas tas…!
Ketika kedua tangan dan kakinya dikunci, Manyo Pute hanya bisa mengandalkan ekor monyetnya. Sepuluh ekor putih yang bisa memanjang, bisa mengeras setajam tombak, menyerang deras kepada Suginowo. Namun, ratusan kali kesepuluh ekor itu menyerang menusuk, lapisan sinar ungu yang membentengi tubuh depan Suginowo tetap tidak sanggup ditembus. Sementara Manyo Pute tidak bisa mencoba ilmu yang lain lantaran ia terbelenggu.
“Hahaha…!” tawa Suginowo berkepanjangan melihat ketidakberdayaan Si Monyet Putih. Lalu teriaknya, “Bindar! Sarewa!”
Setelah Suginowo mememanggil dua nama muridnya, dari sisi belakang si kakek melompat tinggi ke udara dua orang muridnya yang berseragam putih-putih.
Wus wus! Bak bak!
“Fukhrr!”
Kedua murid yang melompat itu menghentakkan lengan kanannya dengan telapak terbuka. Bayangan tipis berwarna putih berwujud telapak tangan melesat cepat menghantam dada Manyo Pute. Dua hantaman terjadi.
Sontak hal itu membuat Manyo Pute menyemburkan darah kental dari mulutnya.
Namun, Suginowo dan para muridnya terkejut oleh kemunculan ular sinar kuning yang ditunggangi oleh Kerling Sukma. Ia muncul tepat di belakang Manyo Pute.
Siis! Duar duar!
Kerling Sukma melesatkan dua piringan sinar putih yang menghantam dua murid Suginowo. Ilmu Cinta Penjemput Nyawa itu meledakkan tubuh dua murid si kakek, membuat kedua tangan Manyo Pute bebas dari jeratan.
Sess sess! Ctar ctar!
Selanjutnya, Kerling Sukma melompat ke udara, tepatnya ke atas kepala Manyo Pute, sambil melepaskan dua bola Api Putih kepada Suginowo. Dua ledakan keras terjadi saat dua Api Putih menghantam lapisan sinar ungu pada tubuh Suginowo.
Kakek bertongkat melengkung itu terjajar dua tindak.
Set set!
Dengan bebasnya kedua tangannya, Si Monyet Putih langsung mengibaskan kedua tangannya. Dua sinar merah tipis melesat menebas tubuh dua murid Suginowo yang menjerat kaki Si Monyet Putih. Dua lelaki itu tewas dengan tubuh seperti tersayat pedang dengan dalam.
Melihat kematian empat muridnya dalam waktu singkat, membuat Suginowo yang awalnya senang menjadi murka.
“Heaaat!” teriaknya sambil menghentakkan lengan kirinya.
Wusss!
Segulung angin dahsyat berserat-serat ungu menderu keras menghempaskan tubuh Manyo Pute dan Kerling Sukma.
Seperti daun kering yang tertiup angin kencang, Manyo Pute dan Kerling Sukma terbang tidak terarah meninggalkan puncak bukit.
“Sandaria imut dataaang!” teriak Sandaria yang telah melompat tinggi bersama para serigalanya.
Sandaria langsung menyerang Suginowo dan empat serigala lainnya menerkam para murid Suginowo. (RH)
__ADS_1
***********
AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!