
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Formasi rombongan Joko Tenang menempatkan rombongan serigala di barisan belakang, sedangkan kuda di depan. Dalam perjalanan kali ini, Joko Tenang harus rela jiwa berjauhan fisik dengan semua wanitanya karena mereka sedang menikmati sensasi menunggangi serigala.
Sepanjang perjalanan, para kuda cadangan yang berjalan di depan para serigala tidak merasa terintimidasi. Hal itu terjadi karena memang para serigala tidak menunjukkan karakter mengancam. Meski beda kelompok, serigala tergolong jenis buas dan kuda jenis jinak, tetapi karena sesama hewan, mungkin kondisi damai bisa dikomunikasikan. Sepertinya mereka lebih mengedepankan persamaan dari pada perbedaan, yaitu sama-sama hewan, kaki empat, dan berkembang biak dengan cara melahirkan.
Namun, tiba-tiba rombongan Joko Tenang harus berhenti. Hal itu terjadi karena kemunculan para penghadang.
“Berhenti!” teriak seorang lelaki dari tiga penghadang di tengah jalan.
Turung Gali kerutkan kening melihat tiga lelaki yang berdiri dengan gagah menantang. Joko Tenang mengintip dari dalam bilik kereta. Joko Tenang tersenyum melihat Surya Kasyara dan kedua sahabatnya berdiri menghadang bak kelompok perampok yang cari mati.
“Kemilau, maju!” perintah Tirana kepada serigala tunggangannya.
Maka, serigala kuning kemerahan yang ditunggangi Tirana melompat maju, bukan berlari. Hanya sekali lompat, melompati atas kereta kuda. Kemilau langsung mendarat tepat dan begitu dekat di depan Surya Kasyara, Gowo Tungga dan Gembulayu.
Gerrr!
“Huaaah!” jerit ketiga pemuda itu terkejut plus ketakutan. Spontan mereka terjengkang sendiri dan buru-buru mengesot ke belakang dengan wajah yang pucat.
Bagaimana tidak berasa nyawa melayang jika gigi-gigi runcing Kemilau bergetar di depan wajah mereka. Mungkin jika Kemilau maju selangkah lagi, kepala mereka tahu-tahu sudah berada di dalam mulut serigala kuning itu.
“Apa yang kau lakukan, Surya?” tanya Tirana seraya tersenyum kecil kepada Surya Kasyara yang buru-buru bangkit, tetapi menjaga jarak dari serigala.
Sementara Gowo Tungga dan Gembulayu berlindung di balik punggung Surya Kasyara, tetapi melongokkan kepala mereka ke kanan dan ke kiri dengan mulut terbuka seperti lubang pancuran patung batu. Keduanya terpana melihat kecantikan Tirana, ditambah keanggunannya di atas punggung serigala. Di sisi bawah, kedua kaki mereka gemetar.
“Hehehe! Anu, kami mau…” ucap Surya Kasyara cengengesan sambil garuk kepala belakang yang memang gatal.
“Anu kalian mau apa?” tanya Tirana seraya tersenyum tambah lebar.
“Bukan anu kami, Putri, tapi kami, kami bertiga. Hehehe!” ralat Surya Kasyara cengengesan dan salah tingkah. “Kami mau ikut Pangeran dan putri-putri.”
“Kenapa kau mau ikut kami, Surya?” tanya Joko Tenang yang muncul berjalan dari sisi belakang. Ia lalu berdiri di sisi kanan Kemilau.
“Benar. Bukankah kau bisa jadi jagoan di Kadipaten Surosoh?” kata Tirana pula.
“Jika aku bertahan di Kadipaten, aku akan selalu teringat dengan Kayuni. Jadi, aku memutuskan untuk ikut dengan Pangeran. Aku ingin seperti Reksa Dipa, jadi pengawal,” ujar Surya Kasyara.
“Tapi aku khawati kau akan sering mabuk-mabukan, jadi….”
“Tidak tidak tidak!” sergah Surya Kasyara cepat, memotong perkataan Joko Tenang. “Aku jarang mabuk. Mabuknya aku itu pura-pura. Aku dilarang mabuk oleh guruku!”
“Tapi kemarin kau benar-benar mabuk,” kata Tirana.
“Hehehe! Kalau kemarin, aku memang sangat sedih, Putri,” kilah Surya Kasyara.
“Aku akan menerimamu sebagai Pasukan Pengawal Bunga, asalkan istri-istriku setuju,” kata Joko Tenang.
__ADS_1
“Baik,” angguk Surya Kasyara semangat. Kegagahannya ketika pertama menghadang rombongan jadi hilang, berubah seperti ketika ia mau pinjam uang kepada Ki Lugas.
“Bagaimana, Sayangku?” tanya Joko Tenang kepada Tirana.
“Aku ya,” jawab Tirana, seperti juri kompetisi pencarian bakat.
“Ratu?” tanya Joko Tenang agak berteriak kepada Getara Cinta di belakang sana.
“Aku ya!” sahut Getara Cinta, yang meski agak jauh di belakang, tetapi bisa mendengar jelas apa yang diperbincangkan di depan.
“Dewi Mata Hijau!” sebut Joko Tenang.
“Aku tidak!” seru Kerling Sukma, membuat Surya Kasyara mendelik kecewa. Lalu sahutnya lagi, “Kecuali dia berpantun untuk kami istri-istri Kakang!”
“Kau dengar?” tanya Joko Tenang kepada Surya Kasyara.
Surya Kasyara mengangguk. Ia terdiam sejenak, seolah sedang berpikir.
“Semangka merah manisnya tiada terkira, dipetik malam saat bulan purnama, saat bertemu istri-istri Pangeran Dira, laksana melihat Dewi-Dewi Cinta dari nirwana!” pantun Surya Kasyara.
“Hihihi!” tawa para istri saat mendengar pantun Surya Kasyara yang memuji mereka. Ternyata, tingginya kesaktian tidak membuat para istri Joko Tenang menjadi antipuji.
“Lulus!” teriak Kerling Sukma akhirnya.
“Baik, kau diterima sebagai Pengawal Bunga!” putus Joko Tenang.
“Tapi ingat, jangan sekali-kali kau jatuh hati kepada istri-istriku!” ancam Joko Tenang.
“Hehehe! Aku mana berani. Bisa habis aku digigit guguk itu,” ucap Surya Kasyara cengengesan.
“Apakah aku tidak ditanya?” tanya Sandaria agak nyaring kepada calon suaminya.
Joko Tenang lalu membalikkan badannya menghadap kepada Sandaria. Ia tersenyum. Lalu jawabnya, “Aku akan menanyakanmu jika kita sudah menikah.”
“Sepertinya aku harus buru-buru menikah sebelum sampai ke kerajaan,” ucap Sandaria.
“Kau mau menjalani malam pertama di tengah jalan?” tanya Getara Cinta seraya tersenyum lebar.
“Tidak mau!” jawab Sandaria merengut.
“Hihihi!” tawa Kerling Sukma dan Kusuma Dewi.
Joko Tenang lalu kembali menghadap kepada Surya Kasyara.
“Lalu siapa mereka berdua?” tanyanya.
“Sahabatku. Ini namanya Gowo Tungga,” jawab Surya Kasyara lalu menarik keluar Gowo Tungga dari balik punggungnya dan memperkenalkannya. Dia juga kemudian menarik keluar Gembulayu. “Ini Gembulayu, orangnya sudah makmur, jadi tidak perlu diberi makan, Pangeran.”
__ADS_1
Gowo Tungga dan Gembulayu hanya cengengesan, tanpa kata, tanpa nada.
“Mereka ingin ikut kerja di kerajaan. Mereka diberi pekerjaan bersih cuci kakus juga tidak masalah,” kata Surya Kasyara lagi.
“Jangan begitu ah sama sahabat sendiri, kok urusan cuci kakus sih,” protes Gembulayu setelah menyolek Surya Kasyara.
“Jika bukan kalian, apakah para pendekar yang harus membersihkan kakus?” kata Surya Kasyara.
“Hentikan! Jadi apa alasan kalian berdua ingin ikut kami?” tanya Tirana.
“Kami ini orang yang malang dan tidak beruntung, apes pula. Selama kami tinggal di Kadipaten, dari orok sampai tua seperti ini, selalu hidup kekurangan, jadi kami mau merubah nasib. Mungkin dewata berpihak kepada kami jika kami pindah alam,” ujar Gembulayu dengan ekspresi sedih mengiba seperti sedang akting di drama Korea.
“Kalian selalu hidup kekurangan karena kalian selalu main judi!” hardik Surya Kasyara.
“Kami selalu main judi karena kau yang mengajarkan kami!” balas Gowo Tungga.
“Aku sekarang sudah tobat, seharusnya kalian juga ikut tobat!” debat Surya Kasyara.
“Bagaimana mau ikut tobat, kau saja kami kira sudah jadi setan di jurang?” Gembulayu tidak mau kalah menyalahkan.
“Dengarkan!” seru Joko Tenang menengahi. “Ikut kami berarti peluang untuk mati lebih besar. Apakah kalian masih tidak mau berubah pikiran?”
“Hahaha! Aku sekarang yakin, Pangeran. Urusan mati bukan urusan manusia, tetapi urusan setan. Buktinya Surya Rekayasa….”
“Surya Kasyara!” hardik Surya Kasyara mendelik.
“Eh iya, maksud aku Surya Kasyara, Pangeran. Dia sudah dibuang ke jurang tiga tahun yang lalu, tetapi masih tetap jadi manusia, belum jadi setan. Artinya dia tidak dikehendaki oleh setan!” kata Gembulayu menggebu-gebu.
“Benar, Pangeran. Kami jadi tidak takut mati kalau majikan kami tampan-tampan dan cantik-cantik,” timpal Gowo Tungga pula.
“Maksud kalian, mati pun tidak mengapa asal bahagia?” tanya Surya Kasyara.
“Betul! Hahaha!” jawab Gowo Tungga dan Gembulayu kompak lalu tertawa. Mereka mulai tidak takut dan tidak tegang.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang.
“Hihihi…!” tawa para wanita lebih panjang.
“Kalian bertiga bisa menggunakan kuda cadangan di belakang!” perintah Joko Tenang, lalu berseru, “Kita lanjutkan perjalanan!”
Joko Tenang berbalik pergi kembali ke bilik kereta. Surya Kasyara segera berlari kecil ke belakang kereta untuk mendapati kudanya. Gowo Tungga dan Gembulayu berlari-lari mengikuti Surya Kasyara.
“Surya! Surya!” panggil Gowo Tungga.
“Ada apa?” tanya Surya Kasyara sambil melepas tambatan satu kuda di belakang kereta.
“Kami tidak bisa naik kuda!” bisik Gowo Tungga, tapi masih terdengar oleh mereka semua.
__ADS_1
“Jika seperti itu, kalian harus berlari! Hahaha!” kata Surya Kasyara menertawakan. (RH)