
*Cincin Darah Suci*
“Hiaaat!” pekik Mong Tsing dan tahu-tahu sudah berada sejangkauan di depan Joko Tenang sambil kaki berlapis zirah pelindungnya berkelebat mengincar kepala si pemuda.
Baks!
Namun, Joko Tenang lebih cepat maju dengan pukulan telapak tangan. Mong Tsing hanya menahan. Justru ia yang terdorong mundur beberapa tindak.
Mong Tsing tidak berhenti. Ia maju lagi dengan serangan pukulan dan tendangan yang berkecepatan kilat. Joko Tenang mengimbanginya dengan kecepatan gerak yang sama. Tenaga dalam Mong Tsing tidak begitu berarti menghadapi Joko yang bisa menyamakan level tenaga dalamnya.
Mong Tsing kembali mundur. Ia sadar bahwa pemuda berbibir merah di hadapannya adalah pendekar yang jauh lebih berbahaya dari lawan-lawan sebelumnya.
Mong Tsing harus mengerahkan gerakan tercepatnya untuk menaklukkan Joko. Dan tidak tanggung-tanggung, kedua tangan dan kakinya ia bekali ilmu Gempur Nyawa. Ilmu itu membuat kedua tangan dan kaki Mong Tsing diliputi kobaran api berwarna biru.
Selanjutnya Mong Tsing maju lagi dengan kecepatan nyaris tidak terlihat. Mong Tsing yang tidak pernah bertarung dengan Joko Tenang sebelumnya, hanya bisa mendelik terkejut ketika Joko bisa bergerak lebih cepat darinya.
Namun, Joko Tenang tidak berani menangkis pukulan dan tendangan Mong Tsing. Joko dapat merasakan hawa ilmu Gempur Nyawa Mong Tsing saat lewat di dekat kulit wajah dan tubuhnya. Panasnya bisa langsung membakar daging.
Para pejabat dan prajurit Negeri Jang hanya bisa terperangah bingung melihat pertarungan dua orang sakti itu. Mereka seperti hanya melihat coretan gambar yang bergerak, tidak bisa dilihat jelas gerakannya.
Keunggulan Joko dalam kecepatan gerak membuatnya bisa menghindari semua serangan Mong Tsing yang mengandung Gempur Nyawa.
Buks!
Pada satu celah kesempatan, satu tinju Joko yang lama menunggu peluang berhasil masuk menonjok dada Mong Tsing. Tinju itu bertenaga dalam tinggi, menghantam dada zirah yang bersinar kuning redup.
Mong Tsing hanya terjajar dua tindak.
Joko Tenang memilih melompat mundur sambil melepaskan sepuluh Pukulan Tapak Kucing secara beruntun.
Babak babak baks!
Sepuluh pukulan dahsyat yang tidak terlihat menghantami tubuh Mong Tsing sepuluh kali. Orang tua itu dibuat termundur-mundur dengan tubuh terguncang-guncang keras oleh hantaman tenaga Pukulan Tapak Kucing.
Setelah sepuluh hantaman, tubuh Mong Tsing berhenti. Diam. Mong Tsing merasakan sesuatu yang berat pada dirinya. Sejenak Joko pun berhenti. Seolah ingin melihat sesuatu terjadi pada Mong Tsing.
Bagi pendekar biasa selevel Putri Yuo Kai saja, bisa langsung jebol tubuhnya jika terkena satu kali Pukulan Tapak Kucing. Apa jadinya bagi Mong Tsing yang terkena sepuluh kali?
Prak! Prak!
“Hukr!”
Tiba-tiba zirah emas Mong Tsing berhancuran seperti kaca pecah. Hancur semua sampai ke helm-helmnya. Seiring itu, Mong Tsing menyemburkan darah dari mulutnya.
Mong Tsing jatuh terlutut.
Sadar dengan kondisinya. Mong Tsing segera duduk bersila. Kedua tangannya melakukan gerakan bertenaga dan ia mengatur pernapasan dengan sebaik mungkin.
Joko tahu bahwa lawannya itu sedang berusaha mengobati luka dalamnya dalam waktu singkat. Joko harus akui, Mong Tsing berkesaktian sangat tinggi, terbukti sepuluh Pukulan Tapak Kucing belum bisa membunuhnya.
Joko Tenang tidak mau menyerang Mong Tsing dalam kondisi proses penyembuhan. Sejenak ia memandang kepada pertarungan tunangannya.
Terlihat Biksu Hitam tidak bersikap santai lagi. Ia kini bertarung dengan serius, terbukti ia lebih banyak bergerak.
Buam!
__ADS_1
Kembali Biksu Hitam menahan sinar putih samar Bidikan Mata Langit Putri Yuo Kai dengan ilmu perisai beningnya. Biksu Hitam kali ini hanya terjajar beberapa tindak, tidak seperti pertama menahan ilmu itu.
Zers! Zers! Zers!
Blar! Blar! Blar!
Tubuh Putri Yuo Kai sudah melayang terbang di udara sambil melesatkan tiga sinar kuning berekor secara beruntun. Dengan gesit, tubuh besar Biksu Hitam menghindar tiga kali lompatan, meninggalkan lantai yang hancur oleh sinar kuning Putri Yuo Kai.
Bum!
Ketika Putri Yuo Kai mendaratkan kaki di lantai, Biksu Hitam meninju ke bawah, mengirimkan gelombang tenaga dalam ke segala arah. Putri Yuo Kai tidak sempat melompat menghindar selain menahan dengan ilmu perisai Ruang Darah Naga. Gelombang keras itu menghantam lapisan perisai sinar merah bening.
Putri Yuo Kai hanya terdorong tiga tindak.
Bless!
Bluoom!
Sebuah ilmu yang bernama Tapak Buddha Hitam dilepaskan oleh Biksu Hitam. Wujudnya berupa bayangan telapak tangan besar berwarna hitam. Menghantam hebat lapisan perisai Ruang Darah Naga.
Tak ayal. Tubuh Putri Yuo Kai terpental deras.
“Yang Mulia Putri!” teriak Bo Fei sambil cepat berkelebat menyambut punggung Putri Yuo Kai agar tidak menghantam lantai.
Berkat bantuan Bo Fei, Putri Yuo Kai dapat mendarat baik di lantai. Namun....
“Hoekh!” Putri Yuo Kai muntah darah.
“Yang Mulia!” sebut Bo Fei.
“Mundurlah, Bo Fei!” perintah Putri Yuo Kai.
“Tidak, Yang Mulia,” bantah Bo Fei cemas. Ia menyeka darah yang mengotori dagu dan pakaian sang putri. “Yang Mulia akan mati jika bertarung sendirian.”
“Lancang kau, Bo Fei!” bentak Putri Yuo Kai marah.
“Ampuni hamba, Yang Mulia!” ucap Bo Fei sambil langsung berlutut.
“Beraninya kau meragukanku. Bahkan aku lebih baik mati mempertahankan kehormatan Kaisar Tutsi Long Tsaw daripada harus menyerah!” ucap Putri Yuo Kai mantap. Ia lalu mengancam, “Jika sampai kau turun tarung, jangan pernah muncul lagi di hadapanku!”
Putri Yuo Kai kembali berkelebat maju.
“Putri Yuo Kai harus aku obati dulu,” pikir Joko Tenang yang melihat calon istrinya terluka dalam. Menurutnya kondisi Putri Yuo Kai akan sangat berbahaya jika memaksa menghadapi Biksu Hitam.
Blugk!
Belum juga Joko Tenang bergerak pergi, tiba-tiba dari atas turun sesuatu yang sangat besar. Joko terkejut.
Kini tubuh Joko Tenang dikurung di dalam sebuah kubah sinar kuning raksasa berbentuk lonceng yang transparan. Sinar raksasa itu tahu-tahu jatuh dari atas dan memenjarakan Joko Tenang.
“Hahaha! Matilah kau!” tawa Mong Tsing yang telah bangkit berdiri dengan seluruh tubuh diselimuti sinar kuning. Lelaki tua itu seperti sedang memakai baju zirah kuning dari sinar. Kedua tangannya kini memegang pedang kembarnya yang sudah terhunus.
Joko Tenang kini terjebak dalam kurungan sinar dari ilmu Genta Kaca milik Mong Tsing.
Kini Putri Yuo Kai telah mengeluarkan ilmu Bulan Biru. Di atas tangannya yang bertemu di atas kepala, mengambang sinar biru besar yang berputar pada porosnya.
__ADS_1
Bisku Hitam bersiap.
“Hiat!” pekik Putri Yuo Kai sambil mengayunkan kedua tangannya seperti melempar bola.
Zwersss...!
Maka sinar biru besar di atasnya melesat ke depan dengan memecah diri menjadi ratusan sinar biru kecil.
Buru-buru Biksu Hitam duduk bersila dengan jari-jari tangan berkaitan di atas pangkuan. Bayangan sinar hijau berbentuk atap kuil tiba-tiba muncul mengurung tubuh sang biksu.
Duar dar dar dar...!
Ratusan ledakan terjadi menghantam sinar hijau pelindung Biksu Hitam.
Setelah selesai, kini Biksu Hitam duduk di tengah area yang hancur besar membentuk kawah kering yang berantakan oleh bebatuan pecahan lantai. Biksu Hitam masih hidup. Hanya saja ada segaris darah kental yang merembes keluar dari celah bibir tuanya.
Putri hanya bisa terkejut melihat kehebatan ilmu pelindung Biksu Hitam, seolah memutuskan harapannya untuk bisa menang. Sang putri lebih terkejut, karena tahu-tahu tubuh besar Biksu Hitam sudah melesat sangat cepat ke depannya dalam satu jangkauan. Tangan kanan Biksu Hitam sudah berbekal sinar biru.
Putri Yuo Kai langsung memasang perisai Ruang Darah Naga.
Boom!
Ledakan sinar biru terjadi ketika tinju kanan Biksu Hitam menghantam perisai Ruang Darah Naga.
“Hukr!”
Dengan mulut menyeburkan darah segar, tubuh Putri Yuo Kai terpental lagi ke belakang. Namun, sang putri sanggup mendarat dengan kedua kakinya.
Putri Yuo Kai berdiri goyah, tetapi ia berusaha bisa berdiri. Wajahnya mengerenyit menahan sakit yang dalam. Sepasang matanya tajam menatap Biksu Hitam yang akan menjadi dewa kematian baginya.
“Dengarlah, Putri. Aku membunuhmu karena dibayar oleh Xie Yua. Semoga arwahmu tidak penasaran di alam neraka. Saragatha!” seru Biksu Hitam, mengirimkan kata-kata terakhir untuk Putri Yuo Kai.
Mendeliklah sang putri mendengar pengakuan Biksu Hitam. Seketika begitu sakit hatinya.
“Mengapa Xie Yua melakukannya?” ucap Putri Yuo Kai lirih.
Bless! Bless!
Dua bayangan telapak tangan hitam besar dilepaskan Biksu Hitam untuk mengakhiri nyawa Putri Yuo Kai.
Saat itu, Putri Yuo Kai tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak bisa lagi mengerahkan tenaga dalamnya. Bergerak pun justru akan membuatnya jatuh. Ia hanya bisa diam berdiri menunggu mautnya.
“Yang Mulia Putri!” teriak histeris Bo Fei, Mai Cui, Li Yiun dan Pengawal Angsa Merah histeris. Mereka pun tidak bisa berbuat banyak.
“Putri!” teriak Joko Tenang pula. Ia terkejut di dalam kurungan Genta Kaca Mong Tsing.
Slap!
Di saat kritis itu, tiba-tiba di hadapan Putri Yuo Kai muncul sesosok wanita berpakaian putih yang membelakanginya. Pada kedua tangannya bercokol bola sinar biru. Angin seketika berhembus ke segala penjuru.
Dua bayangan Tapak Buddha Hitam milik Biksu Hitam hancur dan sirna ketika sampai dua jengkal dari tubuh wanita berpakaian putih. Wanita itu tidak menderita luka sedikit pun dari serangan itu.
Semuanya terkejut, terutama Putri Yuo Kai dan Biksu Hitam.
Joko Tenang yang panik dalam kurungan berubah tersenyum.
__ADS_1
“Tirana,” ucapnya lirih, tapi penuh kebahagiaan. (RH)