Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 29: Kebulatan Tekad


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)* 


 


Meski mereka telah menang dari Biru Segara, perjalanan  tidak bisa langsung dilanjutkan. Kemenangan dari Roh Langit Dua harus dibayar mahal dengan terluka parahnya Tirana. Ia memang bisa lolos dari masa kritis setelah mendapat pengobatan dari sang ayah ditambah oleh Getara Cinta. Namun, ia tidak boleh bertarung dulu untuk sementara.


Sementara itu, Surya Kasyara bisa mengobati dirinya sendiri dengan tuak mujarabnya. Ia diperintahkan untuk mengobati keempat anggota Bajak Laut Elang Biru yang terluka parah. Mata Samudera, Ikan Kecil alias Wiro Kuto, Kurna Sagepa, dan Swara Sesat juga mendapat pengobatan tambahan dari Turung Gali.


JokoTenang mengadakan musyawarah kecil dengan para istri dan calon istrinya, yang melibatkan Turung Gali, Raja Kera dan Manyo Pute alias Si Monyet Putih.


“Meski Tirana menang dari Biru Segara, tetapi kesaktian Roh Langit Dua itu menjadi gambaran bagi kita bahwa Ginari hampir mustahil untuk kita kalahkan. Kembali kepada pilihan terbaik sebelumnya, aku menyerahkan diri kepada Ginari maka kalian pun bisa pergi ke Kerajaan Sangana Kecil dengan aman,” ujar Joko Tenang.


“Yang jelas, kami semua menentang pilihan itu,” kata Getara Cinta. “Ini sama saja dengan menyerah sebelum bertanding, Kakang.”


“Aku pun meragukan, apakah Ginari akan melepaskan kami jika Kakang menyerah dan ikut dengannya. Ginari menganggap kami, para istri Kakang, adalah ancaman bagi cintanya. Jika dia bisa membinasakan kami dengan mudah, untuk apa mengambil pilihan membiarkan kami pergi dengan aman?” kata Tirana dari tempat berbaringnya di bilik kereta kuda.


“Kalau memang kita ingin menghindari bentrokan dengan Ginari dan pasukannya, lebih baik kita balik arah dan mencari jalan memutar,” kata Turung Gali.


“Kakang, jika kami mati karena memperjuangkan cinta kami, itu adalah cara mati yang sangat terhormat bagi kami. Kakang masih bisa mencari wanita sakti lain untuk mewujudkan ilmu Delapan Dewi Bunga, asalkan jangan Tirana yang mati karena dia adalah kunci dari misi ini,” kata Kerling Sukma.


“Benar, Kakang,” ucap Getara Cinta.


“Jangan lupakan aku. Aku juga setia. Aku juga siap bertarung sampai mati demi calon suamiku,” kata Sandaria lalu tersenyum manis kepada semuanya, membuat Joko Tenang tersenyum kecil di masa-masa tegangnya.


“Aku dan Raja Kera sebagai orang yang bertanggung jawab terkait Kalung Tujuh Roh, juga akan turun bertarung. Kelompok jahat ini harus dimusnahkan, bukan dibiarkan,” kata Manyo Pute pula.


“Benar, Kakang. Kelompok ini harus dimusnahkan, bukan dibiarkan. Saat ini, kekuatan besar yang memungkinkan untuk menghancurkan mereka, hanya dimiliki oleh kita. Kita belum tahu, apakah kesaktian Permata Darah Suci mampu dikalahkan oleh kekuatan Kalung Tujuh Roh,” kata Tirana. “Aku dan Kerling Sukma sudah memikirkan cara melumpuhkan Ginari. Namun, kami tidak tahu apakah itu bisa berhasil atau tidak. Kita tidak tahu jika tidak mencobanya.”


Joko Tenang terdiam berpikir keras, pilihan mana yang harus ia ambil. Perkataan Manyo Pute menurutnya sangat benar. Jika kelompok Ginari ini dibiarkan, bisa-bisa ia tumbuh menjadi tidak terkalahkan. Selevel Gerombolan Kuda Biru saja bisa memiliki banyak pengikut, apalagi kelompok sehebat Ginari, pasti akan banyak pendekar yang siap mengabdi.


Saat itu juga ia teringat kepada Putri Yuo Kai, Dewi Mata Hati dan Putri Sri Rahayu.

__ADS_1


“Seandainya saja mereka ada di sini, mungkin aku tidak seragu ini,” kata Joko Tenang dalam hati.


“Putuskanlah, Pangeran! Apa pun yang kau putuskan, kami akan mematuhinya. Kematian adalah risiko dari kehidupan, tidak perlu ditakuti,” kata Turung Gali.


“Baiklah. Aku putuskan kita hadapi Ginari dan pasukannya!” putus Joko Tenang, membuat para istri dan yang lainnya tersenyum, seolah sepakat bahwa keputusan Joko Tenang adalah tepat, meski sangat berbahaya.


Setelah bermusayawarah, Joko Tenang mengumpulkan para pengikutnya dan beberapa orang Bajak Laut Elang Biru. Sementara para pasukan Kerajaan Balilitan yang tersisa sejak tadi diperintahkan bubar dan pergi.


“Aku memutuskan melanjutkan perjalanan untuk menghadapi musuh di depan. Namun, kalian sudah menyaksikan betapa hebatnya kesaktian lawan yang akan kita hadapi di depan sana. Yang kita saksikan tadi barulah satu orang, sedangkan di depan sana ada enam orang yang serupa seperti itu kesaktiannya. Jadi, jika kalian bersikeras untuk mengikutiku, maka peluang kalian mati telah terbuka lebar. Jadi, aku tidak akan mempermasalahkan jika kalian memilih pergi demi keselamatan. Maka tentukanlah!” ujar Joko Tenang kepada para pengikutnya.


“Aku setia sampai mati!” seru Reksa Dipa lantang tanpa ragu. Ia segera memisahkan diri dari kelompok.


“Aku juga setia!” seru Surya Kasyara juga lantang. Ia mengikuti Reksa Dipa.


Keputusan Surya Kasyara itu membuat Gowo Tungga dan Gembulayu bingung. Keduanya saling pandang dan mengerenyit. Entah apa yang ada di pikiran mereka, hanya mereka yang tahu.


“Kami tetap ikut!” seru Nyai Kisut. Ia lalu menarik tangan Senandung Senja dan berkumpul bersama Reksa Dipa dan Surya Kasyara. Pendekar Gila Mabuk tampak senyum-senyum melihat bergabungnya Senandung Senja.


“Tunggu!” sergah Kerling Sukma. “Apa alasanmu untuk bergabung bersama kami?”


“Ayahku berwasiat agar aku berhenti menjadi bajak laut. Saat ini aku tidak punya keluarga dan tujuan. Aku melihat, kalian adalah calon keluarga yang bisa diandalkan. Kalian tidak segan menolongku meski aku bagian dari kelompok yang menyerang kalian. Dan lihat, perlakuan kalian kepada teman-temanku yang terluka,” kilah Garis Merak.


Kurna Sagepa mengangguk sepakat, tetapi tidak bagi Mata Samudera, Ikan Kecil dan Swara Sesat.


“Tapi sebentar lagi kami akan menjemput maut!” tandas Kerling Sukma.


“Seharusnya kami sudah mati beberapa waktu yang lalu, tapi karena kebaikan kalian, kami masih bisa hidup, meski dalam kondisi masih terluka!” tandas Garis Merak pula.


“Benar. Kami akan sangat bangga bergabung di bawah kepemimpinan Pangeran, daripada bergabung dengan Ratu Ginari yang tidak memperhitungkan nyawa kami!” timpal Karna Sagepa. “Pemimpin bajak laut kami sudah mati, kelompok kami juga sudah hancur. Kami seperti keong yang membutuhkan cangkang baru. Ini pilihan yang tepat!”


“Lalu bagaimana dengan kalian, Tetua?” tanya Joko Tenang seraya memandang kepada Mata Samudera dan Ikan Kecil.

__ADS_1


“Aku sejak kecil hingga setua ini bernapas di lautan. Hanya karena ketaatan semata aku datang ke daratan ini. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku di tengah samudera!” jawab Mata Samudera lantang.


“Aku pun demikian. Laut adalah tempat hidup kami!” kata Ikan Kecil.


"Ayo bicara!" perintah Mata Samudera sambil menepuk bahu Swara Sesat. 


"Ah?" desah Swara Sesat sambil mendongak dan memandang kepada semua orang dengan mulut menganga.


"Merak ikut mereka! Aku mau ke laut! Kau ikut siapa?!" tanya Ikan Kecil dengan berteriak di dekat telinga Swara Sesat. 


"Hahaha!" sambil tertawa, Swara Sesat bergerak merapat kepada Garis Merak, bahkan memegang pergelangan tangannya,  membuat gadis manis itu tersenyum. 


Baru tahulah Joko Tenang dan yang lainnya bahwa orang gendut itu tuli adanya.  


“Lalu kalian berdua? Apakah mau ikut ke laut, atau ikut menjemput maut?” tanya Joko Tenang kepada Gowo Tungga dan Gembulayu.


Kedua pemuda awam itu terlihat berkeringat dingin dan bingung, membuat para wanita jadi tersenyum-senyum.


“Delima merah sudah mulai berputik, si bunga tanjung mekar bahagia, demi majikan yang tampan dan cantik-cantik, mati diujung pedang pun kami bahagia!” seru Surya Kasyara dengan pantunnya. Ia mengingatkan perkataan Gowo Tungga ketika pertama kali mau bergabung dalam mengabdi.


“Hihihi…!” tertawa ramailah para wanita mendengar pantun itu. Mereka ingat sekali perkataan Gowo Tungga.


“Benar, Pangeran. Kami jadi tidak takut mati kalau majikan kami tampan-tampan dan cantik-cantik.” Itu kata-kata Gowo Tungga saat mau bergabung sebagai abdi Joko Tenang.


“Baik, kami tetap setiaaa!” teriak Gowo Tungga kencang sambil memejamkan mata.


“Aku juga,” ucap Gembulayu lemas. Celananya masih bau pesing.


“Gembulayu, apakah kau tidak punya celana lain?” tanya Joko Tenang.


“Tidak, Pangeran!” jawab Gembulayu.

__ADS_1


“Lebih baik buka celanamu agar tidak bau pesing!” perintah Joko Tenang yang membuat Gembulayu terperangah tidak bisa menjawab. (RH)


__ADS_2