
*Arak Kahyangan*
Pertarungan tidak imbang terjadi antara Ratu Aswa Tara yang dikeroyok oleh Kembang Buangi dan Ginari. Meski Ratu Aswa Tara adalah orang tersakti di Hutan Kabut, tapi untuk menghadapi dua pendekar, cukup membuat sulit.
Tangan kanan Ratu Aswa Tara memegang cemeti sinar merah yang diselimuti api kuning. Cambuk Pemupus namanya. Sementara tangan kiri siap melepaskan maut yang lain setiap saat.
Hingga detik itu, Cambuk Pemupus belum berhasil menemukan sasaran. Kembang Buangi dan Ginari masih begitu gesit dalam mengelak.
Ctas! Sest! Cess! Blaar!
Sambil mundur setindak, Ratu Aswa Tara melecut cambuk sinarnya mengincar Kembang Buangi. Gadis perpakaian putih itu gesit bersalto mundur sambil tangannya menghentak melesatkan sinar kuning dari ilmu Menapak Gerhana Bulan. Spontan tangan kiri Ratu Aswa Tara juga melepaskan selarik sinar biru.
Dua sinar ilmu itu bertemu di udara dalam hitungan kurang dari satu detik. Menimbulkan percikan sinar hijau seperti kembang api. Namun hasilnya, Kembang Buangi terjengkang. Sementara Ratu Aswa Tara terjajar sempoyongan. Kembang Buangi meringis dengan segaris darah keluar dari celah bibirnya.
Pada saat itu pula, Ginari melesat terbang cepat kepada Ratu Aswa Tara. Buru-buru Ratu Aswa Tara melompat mundur menjauhi kedatangan Ginari sambil lengan kirinya menghentak.
Sest!
Satu butiran sinar putih kecil melesat menyerang tubuh Ginari yang melesat di udara. Namun, dengan gerakan yang mengejutkan, Ginari bisa menggeser tubuhnya dengan cepat di udara sehingga sinar itu lewat di bawah tubuh dan lenyap sendiri di kejauhan jarak.
Bugk!
“Hekh!”
Ratu Aswa Tara yang tidak habis pikir bahwa Ginari bisa bergeser di udara tanpa tolakan pada satu pun benda, harus terkejut karena tahu-tahu tinju jarak jauh Ginari telah bersarang di dadanya.
Bdagk!
Tubuh Ratu Aswa Tara terdorong keras menghantam tiang batu. Darah menyembur dari mulutnya. Pukulan andalan Tinju Menembus Gunung Ginari membuat sang ratu terluka cukup dalam.
Ratu Aswa Tara bergerak bangkit dengan wajah meringis. Kembang Buangi datang mendarat tujuh langkah di hadapan Ratu Aswa Tara. Sementara Ginari menunggu di atas sebongkah batu besar.
“Ratu, di mana kau tahan Hujabayat?!” tanya Kembang Buangi membentak, sementara di tangan kanannya bercokol sebuah sinar kuning yang siap dilepaskan kepada sang ratu.
“Hujabayat sudah menjadi manusia tanpa pikiran, sudah menjadi boneka hidup!” jawab Ratu Aswa Tara dengan pandangan tajam.
Ctas! Sest! Blar! Sest!
Ratu Aswa Tara justru menyerang Kembang Buangi dengan Cambuk Pemupus. Gesit Kembang Buangi melompat menghindar sambil melesatkan sinar kuning Menapak Gerhana Bulan. Ratu Aswa Tara masih bisa bergerak cepat membuang tubuhnya ke samping, meninggalkan tiang batu yang hangus berasap.
Dalam gerakan hindarnya, Ratu Aswa Tara masih bisa melesatkan satu sinar putih kecil dari tangan kirinya. Ternyata sinar putih itu berhasil mengenai tubuh Kembang Buangi. Sinar putih itu adalah ilmu Kendali Arwah.
“Kembang Buangi!” sebut Ginari lalu langsung berlari menghampiri Kembang Buangi.
Bak bak!
Namun, terkejut Ginari. Kembang Buangi tiba-tiba menghajarnya dengan dua pukulan, membuatnya terjajar nyaris jatuh.
Sets!
Tidak hanya pukulan, Kembang Buangi selanjutnya menyerang Ginari dengan sinar kuning Menapak Gerhana Bulan. Tidak mau mati tanpa tahu sebabnya, Ginari melejit naik tinggi ke udara. Sinar kuning lewat lalu menghanguskan sebongkah batu.
__ADS_1
Ratu Aswa Tara mendelik melihat Ginari bisa mengambang di udara yang tinggi, tanpa turun lagi ke bawah. Posisi Ginari jelas berbahaya bagi sang ratu.
“Kembang Buangi terkena ilmu Kendali Arwah, Pendekar,” kata Panglima Sugeti Harum kepada Joko Tenang. “Ratu Aswa Tara akan lebih memilih mati daripada menarik ilmunya.”
“Ginari! Kau harus membunuh Ratu Aswa Tara untuk membebaskan Kembang Buangi dan Hujabayat dari ilmunya!” seru Joko kepada Ginari yang posisinya sama tinggi dengan ketinggian tribun.
Ginari mengangguk kepada Joko tanda mengerti.
“Jangan kotori tanganmu dengan pembunuhan, biar aku saja yang menghabisinya!”
Teriakan tiba-tiba itu diucapkan oleh Nintari, Bidadari Seruling Kubur. Setelah itu, ia berlari cepat di udara lalu mendarat sejauh dua tombak di hadapan Ratu Aswa Tara.
Beg! Wezz!
Dua aliran sinar hijau dari ilmu Jalar Kematian melesat dari bawah kedua telapak kaki Nintari. Kedua aliran sinar itu melesat cepat menjalari permukaan batu ke arah posisi sang ratu.
Wezzz!
Pada saat yang bersamaan pula, Nintari melesatkan ilmu Sepiring Kematian dari tangan kanannya. Sinar biru bulat pipih selebar piring makan melesat cepat kepada Ratu Aswa Tara.
Cess! Blar! Bress!
Pada saat yang sama, Ratu Aswa Tara melesatkan dua lari sinar biru. Satu larik menghantam permukaan batu menghadang laju Jalar Kematian dan satu larik lainnya menghadang sinar biru Sepiring Kematian di udara.
Dua ledakan keras dari peraduan tenaga dalam tinggi itu membuat Ratu Aswa Tara terpental keras ke belakang dan kembali menghantam batu besar. Kondisi yang sama dialami oleh Nintari, ia juga terdorong keras kemudian menghantam bongkahan batu. Ratu Aswa Tara menyemburkan banyak darah panas dari dalam mulutnya. Sementara Nintari hanya segaris aliran darah kental keluar dari celah bibirnya.
“Aak!” jerit Ratu Aswa Tara tinggi dengan tubuh disetrum sinar hijau.
Ilmu Jalar Kematian Nintari kembali memakan korban nyawa. Tamat sudah perjalanan hidup Ratu Aswa Tara penguasa Kerajaan Hutan Kabut.
Saat itu juga, tubuh Kembang Buangi tersentak kecil. Ia kembali tersadar. Dengan mimik wajah yang agak keheranan, ia segera menghampiri Nintari yang baru saja bangkit.
“Apa yang terjadi denganku, Bidadari?” tanya Kembang Buangi.
“Kau terkena ilmu Ratu Aswa Tara. Kematiannya membuatmu sembuh kembali,” jawab Nintari.
“Lalu bagaimana dengan Kakang Hujabayat?” tanya Kembang Buangi. Ia menjadi bingung. Di saat Ratu Aswa Tara tewas, Hujabayat belum jelas keberadaannya.
Sementara di tribun selatan.
“Ratu kalian sudah tewas! Menyerahlah!” teriak Badak Jawara kepada para prajurit wanita yang masih tersisa.
Teriakan itu seketika menghentikan pertempuran di tribun. Para prajurit wanita segera memandang ke arena tarung Sumur Juara. Di sana memang sudah tidak ada pertarungan. Akhirnya mereka bisa melihat sosok wanita berpakaian hijau tua yang tergeletak telah menjadi mayat hangus. Para prajurit Kerajaan Hutan Kabut akhirnya menjatuhkan senjata mereka, tanda menyerah. Dengan senang hati, para prajurit mantan budak-budak itu segera meringkus para wanita tersebut.
Dari posisinya di udara, Ginari melesat seperti burung terbang dan mendarat di tribun, di sisi Tirana. Keahlian khusus di udara itulah yang membuat Ginari dijuluki Pendekar Tikus Langit.
“Bagaimana dengan Hujabayat, Kakang?” tanya Ginari.
“Hanya Tirana yang tahu di mana Hujabayat,” jawab Joko.
Tirana hanya tersenyum kepada Ginari. Ia lalu berkelebat turun ke bawah, menghampiri Kembang Buangi dan Nintari.
__ADS_1
“Kembang Buangi, kekasihmu telah aku amankan di suatu tempat,” ujar Tirana.
“Di mana?” tanya Kembang Buangi cepat dengan wajah sumringah.
“Ratu Aswa Tara tadi menanamkan ilmu Kendali Arwah kepadanya dan memaksanya bertarung denganku di sini, sebelum kalian datang. Jadi untuk mengamankannya, terpaksa dia aku kirim ke luar tempat ini. Tidak perlu khawatir, jika ratu itu sudah mati, pengaruh ilmu Kendali Arwah pasti sudah hilang. Hanya perlu mencarinya lagi. Nanti kita bisa minta bantuan Panglima Sugeti Harum untuk mencari Hujabayat,” jelas Tirana.
“Baguslah,” ucap Kembang Buangi lega.
“Mau aku obati?” tanya Tirana menawarkan.
Kembang Buangi mengangguk. Tirana langsung maju kepada Kembang Buangi dan mengecup kening gadis berpakaian putih itu. Seiring kecupan itu, satu gelombang sinar kuning tipis masuk ke wajah Kembang Buangi.
Kembang Buangi merasakan satu gelombang rasa sejuk memasuki kepalanya lalu menjalar berproses ke seluruh dalam tubuh. Tirana melepas kecupannya dengan tersenyum kepada Kembang Buangi, seolah menunggu proses itu bekerja. Dan hasilnya, wajah cantik Kembang Buangi kini tidak mengerenyit karena luka dalamnya. Kembang Buangi telah merasakan kondisi tubuh dan tenaga yang segar, seolah tanpa luka sedikit pun.
Melihat hasil kerja ciuman dari Tirana, Nintari kerutkan kening.
“Aku terluka lebih parah dari Kembang Buangi. Bisa kau lakukan itu pula kepadaku, Tirana?” kata Nintari.
Tirana tersenyum lebar kepada Nintari.
“Kemarilah!” panggil Tirana.
Nintari pun mendekati Tirana. Tinggi tubuhnya setinggi dagu Tirana.
Gadis asal Kerajaan Sanggana itu lalu mengecup kening Nintari. Maka ilmu pengobatan bernama Kecupan Malaikat itu bekerja dengan cepat.
“Gila! Jika ilmu penyembuhan bisa seajaib ini, cara mengalahkanmu hanya dengan cara langsung bunuh,” kata Nintari setelah kondisinya kembali membaik, kecuali ada sedikit rasa pegal yang masih tersisa, tetapi tidak begitu mengganggu.
Tirana hanya tertawa kecil mendengar perkataan Nintari, gadis yang terlihat seperti adik mungil mereka.
“Sugarda!” panggil Panglima Sugeti Harum.
“Hamba, Panglima,” jawab seorang prajurit setelah maju menghadap kepada Sugeti Harum.
“Segera susul rombongan Yang Mulia Ratu. Kabarkan bahwa Ratu Aswa Tara telah mati dan Kerajaan Hutan Kabut telah jatuh!” perintah Sugeti Harum.
“Baik, Panglima.”
Setelah menjura hormat, prajurit yang bernama Sugarda itu segera berbalik pergi.
Tirana, Kembang Buangi dan Nintari telah naik ke tribun utara dan berkumpul dengan Joko Tenang. Tirana menghampiri Panglima Sugeti Harum.
“Panglima, bisakah kami minta bantuan untuk mencari keberadaan Hujabayat di sekitar Hutan Kabut?” tanya Tirana.
“Baik, aku akan mengerahkan prajuritku,” jawab Sugeti Harum. (RH)
**********
Season berjudul "Arak Kahyangan" berakhir sampai di sini.
Perjalanan Joko Tenang akan berlanjut dalam season berjudul "Cincin Darah Suci" yang dimulai dari Episode 70. Semoga para pembaca novel ini tetap setia mengikuti.
__ADS_1
(Author: Rudi Hendrik)