
*Cincin Darah Suci*
Di salah satu penginapan di Jalan Liong Sue, dua orang sedang dilanda ketegangan. Kedua orang itu adalah Bangsawan Sushan dan Ushang La, Ketua Kelompok Hutan Timur.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini keduanya mengenakan pakaian yang lebih sederhana, bahkan terkesan seperti warga Ibu Kota kebanyakan. Keduanya melakukan itu untuk menghindari penampilan yang mencolok. Termasuk mereka tidak mau menyertakan pengawalan, khawatir akan mengundang perhatian.
“Ayo, kita harus segera pergi. Prajurit sudah memeriksa kamar-kamar!” kata Bangsawan Sushan kepada Ushang La. “Lewat pintu sama saja bunuh diri.”
Serombongan prajurit dari Pasukan Naga Merah Tengah memang sedang menggeledah kamar-kamar di penginapan itu dan memeriksa identitas pelanggan yang mereka dapati. Para prajurit itu juga berbekal kertas bergambar sketsa wajah Bangsawan Sushan dan Ling Mo.
Ushang La segera mengunci pintu kamar itu. Keduanya lalu melompat ke luar lewat jendela.
Tuk tuk tuk!
Tidak berapa lama, terdengar ketukan di pintu dari luar.
Brak!
Tidak tunggu lama, prajurit yang mengetuk pintu mendobrak dengan tendangan. Tanpa dikomando, beberapa prajurit langsung masuk dan menggeledah.
Satu prajurit segera memeriksa jendela, karena terlihat daun jendela sedikit terbuka. Prajurit itu melongok ke luar untuk memeriksa. Di bawah sana, tepatnya di ujung gang kecil, ia melihat dua sosok manusia yang menghilang ke balik tembok.
“Suar!” seru prajurit itu kepada temannya yang membawa suar.
Prajurit lain segera memberikan suar.
Cuss! Ctar!
Satu suar berwarna biru dilepaskan ke angkasa, agak miring sehingga meledak di atas posisi pelarian Bangsawan Sushan dan Ushang La.
“Kurang ajar! Kita terlihat!” maki Ushang La.
Dum dum dum, drum dum...!
Suar itu memberi tanda kepada prajurit penjaga menara pengawas yang langsung memukul genderang, memberi informasi sandi bahwa ada penjahat di Ibu Kota bagian tengah.
Sejumlah pasukan yang ada di area terdekat segera bergerak menuju ke titik koordinat berdasarkan petunjuk suar biru.
Baru saja mereka berada di tengah gang, ujung gang sudah tertutup oleh kemunculan sejumlah prajurit. Bangsawan Sushan dan Ushang La segera berbalik. Namun, dari ujung yang tadi mereka tinggalkan juga muncul serombongan prajurit.
“Tidak ada jalan lain!” seru Bangsawan Sushan lalu berbalik lagi.
Ia mengeluarkan sebuah pisau dari balik pakaiannya lalu berlari ke arah para prajurit yang langsung menyambutnya dengan tusukan beberapa tombak. Dengan gesit Bangsawan Sushan berkelit dengan merunduk, sementara pisaunya berkelebat cepat menyayat sejumlah tangan para prajurit, membuat pegangan mereka pada tombak terlepas.
Bangsawan Sushan kembali bergerak gesit di antara para prajurit di dalam gang sempit itu.
Sementara itu, Ushang La memilih berjuang membantu Bangsawan Sushan daripada bertarung sendirian. Ternyata dia memiliki gaya bertarung yang ganas. Seolah setiap serangannya berujung suara persendian lawan yang patah atau remuk.
__ADS_1
Sejumlah prajurit sudah bertumbangan di tangan Bangsawan Sushan dan Ushang La. Hingga pada satu kesempatan, ada celah untuk kabur.
Keduanya berhasil melompati hadangan sejumlah prajurit dan keluar berlari ke jalan utama Liong Sue.
Namun, apes bagi keduanya. Saat mereka keluar dan berlari di jalan utama, keduanya justru bertemu dengan rombongan Jenderal Mok Jueng yang berjalan membawa pasukan lebih banyak.
“Sial!” maki Ushang La sambil mengerem larinya.
Keduanya langsung mencari jalan untuk kabur.
“Bangsawan Sushan larilah, aku akan melindungimu!” teriak Ushang La.
“Baik!” sahut Bangsawan Sushan.
Bangsawan Sushan segera berbalik arah. Meski di sana ada sejumlah prajurit, tetapi jumlah itu tidak sebanyak yang bersama Jenderal Mok Jueng dan Komandan Bu Ruong.
Kondisi Bangsawan Sushan dan Ushang La yang seperti dua tikus terperangkap bingung mencari jalan, terpantau oleh Putri Yuo Kai dan Joko Tenang yang masih bersama di atas atap.
Kelihaian ilmu beladiri Bangsawan Sushan membuatnya bisa membunuh beberapa prajurit dengan cepat. Namun, gelombang kedatangan para prajurit dari berbagai arah semakin menumpuk menutupi jalan utama Ibu Kota itu, membuat peluang Bangsawan Sushan untuk kabur sangat mustahil.
Dalam waktu singkat, pasukan sudah membentuk formasi yang rapi seperti sedang berada di medan perang.
Sementara di sisi yang agak berjauhan, Ketua Kelompok Hutan Timur telah bertarung dengan Komandan Bu Ruong.
Tiga tombak datang menusuk ke arah Bangsawan Sushan. Ia sigap bergerak hingga ketiga tombak itu ia tangkap dengan kepitan kedua ketiaknya.
Tsuk!
Dengan kekuatan penuh dalam kesakitannya, Bangsawan Sushan memukul batang-batang tombak yang ditahannya hingga berpatahan.
Prajurit yang menusuk paha Bangsawan Sushan menarik kembali tombaknya sehingga menciptakan lubang berkucur darah dari paha pemuda itu.
“Aaa!” jerit Bangsawan Sushan sambil terhuyung mundur.
“Panah!” perintah pemimpin prajurit panah.
Seset set!
Belasan anak panah dilepaskan kepada Bangsawan Sushan. Dengan bantuan tenaga dalam yang dia miliki, Bangsawan Sushan menggerakkan kedua lengannya guna menepis semua anak panah yang menyerangnya.
Panah-panah itu berpentalan sebelum menyentuh Bangsawan Sushan.
Melihat hal itu, seorang pemimpin prajurit merebut busur dan anak panah anak buahnya. Dengan gerakan mahir dia langsung menembakkan anak panahnya.
Set! Ses! Seb!
Bangsawan Sushan menahan laju anak panah itu tepat di depan dadanya. Anak panah itu diam tertahan dua jengkal di depan Bangsawan Sushan. Anehnya, anak panah yang satu ini tidak mental, tetapi seolah mencoba menekan maju.
__ADS_1
Mendelik lebar sepasang mata Bangsawan Sushan, ternyata anak panah itu mengandung tenaga dalam juga yang akhirnya berhasil menekan masuk dan menancap dalam di dada pemuda itu, tengah tapi agak ke kiri, tepat di posisi jantung.
Bangsawan Sushan tumbang ke belakang dengan mata mendelik merah dan mulut ternganga lebar penuh darah.
Sementara itu, pertarungan duel sengit terjadi antara Ushang La melawan Komandan Bu Ruong.
Bermodal kekesalan karena Ibu Kota dibuat kacau dalam beberapa hari, ditambah karena tampil di depan sang jenderal, Komandan Bu Ruong tampil habis-habisan. Dia mengamuk, benar-benar mengamuk.
“Hiaaat!” teriak Komandan Bu Ruong sangar seperti binatang buas terluka. Air liurnya sampai muncrat ke luar.
Tebasan-tebasan pedang yang cepat dan kuat membuat Ushang La terdesak hingga hanya bisa mundur-mundur mengelak dengan gesit pula.
Bakr!
Namun, ketika ada satu celah yang terbuka dari serangan Komandan Bu Ruong yang terkesan membabi buta, Ushang La cepat memanfaatkan momentum itu. Satu tinju bertenaga dalamnya berhasil masuk menghantam pelindung dada zirah Komandan Bu Ruong.
Set!
“Ak!” pekik tertahan Ushang La.
Seiring termundurnya tubuh Komandan Bu Ruong, pedang komandan pasukan itu masih sempat menyambar tangan kanan Ushang La.
Pertarungan berhenti sejenak. Komandan Bu Ruong masih berdiri kokoh dengan tatapan tajam. Zirahnya retak pada bagian dada. Sementara Ushang La berdiri sambil tangan kiri mendekap tangan kanannya guna menutupi luka sayatan yang cukup dalam.
“Biar aku selesaikan!” teriak Komandan Bu Ruong.
Set!
Komandan Bu Ruong melesatkan pedangnya lepas dari tangannya.
Sigap Ushang La mengelak sehingga pedang itu melesat tipis di sisi lehernya. Seiring itu, Komandan Bu Ruoang telah melompat dengan kaki kanan mengibas deras. Terlihat ada kilatan sinar merah di kaki itu. Komandan Bu Ruong mengerahkan satu-satunya kesaktian yang dimilikinya.
Ushang La hanya terkejut. Ia tidak mungkin mengelak. Terpaksa ia adu tinju bertenaga dalam tingginya dengan batang kaki Komandan Bu Ruong.
Drakr!
“Aaakr!”
Peraduan dua tenaga dalam terjadi. Terdengar suara tulang berpatahan. Kemudian semua orang tahu tulang siapa yang hancur dari benturan hebat itu saat mendengar Ushang La menjerit histeris.
Drekr!
Komandan Bu Ruoang melengkapi kemenangannya dengan meninju batang tenggorokan Ushang La.
Pemimpin tertinggi Kelompok Hutan Timur itu pun tumbang tanpa nyawa.
Tanpa diketahui oleh siapa pun, kematian Ketua Kelompok Hutan Timur Ushang La disaksikan oleh seseorang dari celah jendela lantai dua sebuah bangunan. Orang itu tidak lain adalah Ular Buta, pemimpin tertinggi Jaringan Ular Tanah sekaligus musuh bebuyutan Ushang La.
__ADS_1
“Akhirnya Hutan Timur benar-benar musnah,” ucapnya sambil melangkah pergi.
Su Rai alias Ular Putih yang ada bersamanya segera mengikuti. (RH)