Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
141. Hujan Manjanik Api di Benteng Taele


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


"Tembak!" teriak seorang komandan kepada prajurit petugas manjanik.


Wes!


Sebuah bola batu tanpa api dilemparkan jauh ke depan.


Bem!


Batu besar itu mendarat hingga amblas ke tanah, tepat hanya satu tombak dari kaki benteng.


Melihat hasil percobaan itu, komandan tadi segera berteriak kepada anak buahnya yang mengoperasikan alat pelontar tersebut.


"Naikkan!"


"Naikkan! Naikkan!" teriak para prajurit operator manjanik saling bersahutan.


Maka para prajurit operator semua manjanik bergerak cepat menaikkan ukuran jarak tembak pada alatnya.


Setelah semua prajurit memberi tanda bahwa ukuran jarak tembak telah dinaikkan, komandan manjanik pun memandang kepada jenderalnya. Sementara jenderal mereka memandang ke arah Pangeran Baijin.


Pangeran Baijin mengangguk kepada jenderalnya. Sang jenderal kemudian memberi isyarat tangan kepada komandan bawahannya.


"Pasaaang!" teriak komandan.


Jleg jleg jleg!


Para operator serentak memasang batu ke sendok-sendok pelontar raksasa mereka.


"Bakaaar!" teriak komandan lagi.


Blep blep blep!


Batu-batu yang belum dilempar itu kemudian disiram minyak khusus lalu dibakar.


Melihat api-api menyala di manjanik-manjanik pasukan Ci Cin, pasukan Lor We di atas benteng diliputi ketegangan, terlebih bagi prajurit yang belum pernah mengalami peperangan. Bahkan sudah ada yang mengucurkan keringat dingin.


"Tembaaak!" teriak komandan pasukan Ci Cin.


Wers wers wers!


Para prajurit operator langsung melepas kunci penahan. Maka, sendok-sendok raksasa itu terangkat naik lalu melontarkan batu api raksasa.


Lima belas bola api melambung jauh ke angkasa memberi penerangan luas yang sekilas di malam itu, sekaligus memberikan pemandangan yang mengerikan.


“Bersiaaap!” teriak Jenderal Zhao Jiliang tegang.


Para prajurit di atas benteng hanya bisa terperangah menatap maut datang saat hujan bola batu api berterbangan ke arah mereka. Mereka tidak bisa menangkis serangan seperti itu selain menerimanya.

__ADS_1


Bduar! Bduar! Bduar!


Bola-bola batu api itu akhirnya menghantami lima belas titik pada benteng itu. Sejumlah batu menghantam dinding benteng, menimbulkan guncangan pada benteng besar itu. Namun, separuh bola api itu berhasil mendarat di sisi atas. Puluhan prajurit di atas benteng harus berpentalan terkena hancuran batu, benteng dan api. Ada prajurit yang langsung tewas, ada pula yang menderita luka parah dan ringan, termasuk luka bakar.


“Aaak!”


Para prajurit yang terluka berjeritan histeris menahan rasa sakit yang parah, mempengaruhi mental perang para prajurit yang lain.


“Tembaaak!” teriak komandan di pasukan Ci Cin lagi.


Wers wers wers!


Kembali, lima belas bola api berterbangan di udara. Pasukan Lor We di atas benteng semakin jatuh nyalinya. Kembali mereka hanya bisa menatap. Mereka menebak-nebak apakah bola api itu kali ini menjadi maut bagi mereka.


“Pasang perisai!” teriak Jenderal Zhao Jiliang.


Breg breg breg!


Seketika para prajurit Lor We di atas benteng memasang perisainya sebagai alat pelindung. Mereka hanya perlu bertahan.


Bduar! Bduar! Bduar!


Sejumlah bagian benteng harus hancur parah saat dihantam bola batu api. Puluhan prajurit kembali dibuat porak-poranda. Sejumlah prajurit dapat terselamatkan oleh perisainya saat pecahan batu benteng menghantam mereka.


“Aaak!”


Para prajurit yang terluka semakin banyak, erangan kesakitan semakin ramai terdengar di atas benteng.


“Tembak gerbangnya!” teriak seorang jenderal di pasukan Ci Cin.


“Pasukan panah berkuda!” teriak seorang jenderal Ci Cin lainnya.


Wers wers wers!


Kali ini lima bola api melesat terbang ke udara dengan satu target, yaitu pintu gerbang benteng.


Bduar! Bduar! Bduar!


Kelima bola batu api itu menghantam lima titik di dinding benteng sekitar pintu gerbang, belum ada yang berhasil mengenai pintu.


Jenderal Zhao Jiliang menjadi agak panik melihat musuh mengincar pintu gerbang.


Pada saat yang sama, satu barisan memanjang pasukan berkuda berlari kencang yang muncul dari ujung kanan pasukan Negeri Ci Cin. Lima puluh prajurit itu berkuda dengan tangan kanan memegang tali kekang, sementara tangan kiri memegang busur yang sudah dipasang anak panahnya.


“Hea hea hea!”


Suara teriakan mereka terdengar ramai seperti pasukan yang sedang berburu binatang buruan.


“Jenderal, gerbang kita sebentar lagi akan hancur!” kata Ho Mo panik di sisi Jenderal Zhao Jiliang.

__ADS_1


“Naikkan gerbang!” perintah Jenderal Zhao Jiliang.


Prajurit penjaga pintu segera menarik roda penggulung rantai. Pintu gerbang pun terangkat terbuka.


“Hajar pasukan berkuda itu dengan pasukan kuda kita!” perintah sang jenderal kepada Ho Mo.


Ho Mo segera ke belakang dan berteriak kepada pasukan yang bersiap di belakang benteng.


“Pasukan kuda keluar!” teriak Ho Mo.


“Bersiaaap!” teriak komandan pasukan kuda. “Seraaang!”


“Seraaang!” teriak puluhan prajurit berkuda bersenjata tombak dan pedang serentak.


Sang komandan memacu lebih dulu kudanya keluar dari benteng melewati pintu gerbang yang terbuka.


Seseset...!


“Ak! Akh! Ak...!”


Pasukan kuda Negeri Ci Cin berlari melintas di dekat dinding benteng sambil melepaskan panah-panahnya ke atas. Mereka memanah dari atas punggung kuda yang berlari tanpa memegang tali kekang lagi.


Hasilnya, puluhan anak panah yang ditembakkan mengenai belasan prajurit di atas benteng.


Terkejut Jenderal Zhao Jiliang melihat fakta bahwa pasukan berkuda lawan adalah pasukan panah. Gelapnya malam membuatnya tidak segera tahu bahwa itu pasukan panah.


“Panah!” teriak Jenderal Zhao Jiliang.


Pasukan panah yang sempat kocar-kacir di atas benteng oleh hujan manjanik api segera memanahi pasukan berkuda lawan. Namun, formasi satu baris membuat pasukan berkuda itu sulit dikenai karena berlari cepat.


Bduar! Bduar! Bduar!


Kerugian di pasukan Negeri Lor We kembali terjadi. Rombongan pasukan berkuda yang baru keluar dari benteng dihantam dua bola batu api. Kuda-kuda dan prajuritnya terlemparan dalam kondisi mengenaskan. Adapun sisanya, mereka berusaha mengejar pasukan panah.


“Tidak aku sangka, Ci Cin punya pasukan panah berkuda yang lihai!” rutuk Jenderal Zhao Jilian.


Tidak satu pun dari prajurit pasukan berkuda Negeri Ci Cin yang gugur. Setelah melewati depan benteng dan tiba di ujung area, mereka kembali memutar arah. Bahkan mereka berinisiatif menyambut puluhan pasukan berkuda Lor We yang mengejar mereka.


“Habis pasukan kita!” teriak Jenderal Zhao marah melihat kondisi peperangan berkuda di depan benteng. Ia tampaknya sudah bisa membaca hasil dari perang itu.


Jenis senjata membuat pasukan berkuda Negeri Ci Cin unggul. Baru saja prajurit-prajurit berkuda Negeri Lor We datang mendekat, mereka lebih dulu dipanahi oleh pasukan berkuda yang terus berlari kencang.


Pasukan berkuda Lor We pun bertumbangan satu per satu.


“Seraaang!”


Tiba-tiba terdengar teriakan ratusan prajurit berlari dari barisan pasukan Ci Cin. Pasukan bertombak itu berlari ramai-ramai menuju pintu gerbang yang terbuka lebar.


Wers wers wers!

__ADS_1


Seiring itu, lima belas bola api manjanik kembali terbang menghujani benteng.


Bduar! Bduar! Bduar! (RH)


__ADS_2