
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Dengan didampingi oleh istri tercinta, Tirana, Joko Tenang melakukan serangan lebih dulu terhadap keempat pendekar penghadang itu.
“Macan Penakluk!” seru Joko Tenang sambil menonjokkan tangan kanannya yang memiliki Cincin Macan Penakluk ke arah Sembada, penghadang termuda yang mulutnya dianggap paling kurang ajar.
Aaurrgk!
Tiba-tiba satu sinar merah besar berwujud macan melesat keluar dari dalam Cincin Macan Penakluk. Macan itu langsung menerkam Sembada.
Bocah Kepang, Gigi Gagah dan Kuraban sontak melompat menjauh membawa keterkejutannya. Dari jauh, keenam pendekar anggota Gerombolan Kuda Biru lainnya juga terkejut melihat jenis serangan Joko Tenang, tetapi mereka tidak akan turun tangan hingga keempat rekan mereka itu benar-benar kalah.
“Akk…!” jerit Sembada kelabakan yang dicakar dan digigit oleh Macan Penakluk.
Bocah Kepang cepat menusukkan tombaknya kepada Macan Penakluk. Tusukan itu membuat sinar merah wujud macan buyar menjadi butiran-butiran sinar merah yang sangat halus, lalu bergerak seperti tersedot masuk pulang ke dalam cincin.
Set! Set!
Kuraban melesatkan dua bola besinya ke arah Joko Tenang. Ia melihat ada keanehan dalam gerakan Joko Tenang. Namun, Joko Tenang masih sanggup bergerak cepat mengelaki lemparan bola besi itu.
Tirana maju beberapa langkah ke arah Kuraban sambil lepaskan ilmu Pemutus Waktu. Kuraban langsung berdiri terdiam.
Pada saat itu, Joko Tenang berlari dan meraih tangan kanan Tirana yang mengulur kepadanya. Saat tangannya disambut oleh suaminya, Tirana menarik tubuh Joko Tenang lalu mengayunkannya memutar.
Dak!
Dalam ayunan itu, kaki kanan Joko Tenang menampar keras wajah tua Kuraban, membuatnya terbanting kuat. Masih beruntung Kuraban, karena tendangan Joko Tenang bertenaga kasar.
Setelah itu, Kuraban bisa bergerak lagi.
Joko Tenang dan Tirana mengalihkan perhatian pada serangan keroyokan Gigi Gagah dan Bocah Kepang.
Pada saat tusukan tombak Bocah Kepang tidak bisa dihindari oleh Joko Tenang, Tirana cepat menyentuh bahu suaminya. Maka, Bocah Kepang hanya bisa terkejut. Saat dua jengkal dari tubuh Joko Tenang, mata tombaknya tiba-tiba lumer seperti menekan lapisan tenaga yang sangat panas. Sentuhan Tirana pada bahu Joko Tenang membuat suaminya itu terlindungi oleh ilmu perisai Kulit Dewi Gaib.
Hal yang sama dialami oleh Gigi Gagah. Ketika ia melompat menebaskan kedua golok kembarnya, goloknya langsung lumer saat tiba dua jengkal dari tubuh Joko Tenang.
Baks!
Pada saat yang bersamaan, Joko Tenang dan istrinya menyerang balik. Tirana merangsek cepat mendaratkan pukulan bertenaga dalam tingginya ke dada kekar Gigi Gagah, membuat lelaki berotot itu terjengkang keras sambil menyemburkan darah dari dalam mulutnya.
Pada saat yang sama, Joko Tenang melompat sambil mengibaskan tendangan kaki kanannya mengincar kepala Bocah Kepang. Gerakan Joko Tenang yang standarnya biasa saja dengan mudah dielaki oleh Bocah Kepang.
Bukk!
“Hukh!” keluh Joko Tenang saat tendangan balik Bocah Kepang keras membuatnya terlempar keras di udara.
Cup!
__ADS_1
Namun, kelebatan tubuh Tirana cepat melintas tipis di atas suaminya. Pertemuan di udara itu membuat Tirana bisa mengecup dahi suaminya. Sinar kuning tipis dari ilmu Kecupan Malaikat langsung masuk ke wajah Joko Tenang, mengobati lukanya dalam proses yang sangat singkat.
Joko Tenang mampu mendarat dengan baik dalam kondisi tubuh telah sembuh dari luka akibat tendangan Bocah Kepang.
“Macan Penakluk!” teriak Joko Tenang.
Aaurrgk!
Macan sinar merah langsung keluar melompat menerkam ke arah Bocah Kepang.
“Aakk!”
Cepatnya terkaman Macan Penakluk membuat Bocah Kepang sulit untuk meghindar. Ia pun harus bertarung dengan sinar merah itu sambil menjerit saat satu cakaran menggores bahu kanannya.
Blar!
Macan Penakluk kembali hancur buyar menjadi butiran sinar merah yang banyak dan halus, saat Bocah Kepang meledakkan sinar hijau di tangannya. Sinar merah langsung melesat masuk ke dalam cincin.
Bocah Kepang masih beruntung hanya mengalami luka cakar pada bahu kanannya, tidak seperti Sembada yang telah tewas dalam kondisi mengerikan.
Bocah Kepang melompat mundur sambil mengerang kesakitan akibat lukanya.
“Utara!” teriak Tirana memberi peringatan kepada suaminya.
Zeezz! Srep!
Kuraban terkejut bukan main melihat ilmu kesaktiannya tidak berguna sedikit pun, padahal lima tahun lamanya dia berguru untuk menguasai ilmu itu.
“Loncat!” seru Tirana kepada Joko Tenang.
Joko Tenang lalu melompat di tempat. Tirana cepat menangkap kedua telapak kaki Joko Tenang lalu menolakkannya menggunakan tenaga dalam tinggi.
Hasilnya, tubuh Joko Tenang terlempar melesat terbang ke arah posisi Kuraban. Saat terbang seperti itu, tahu-tahu Tirana telah terbang di bawah tubuh suaminya dengan wajah menghadap ke atas, seperti berenang gaya punggung. Ia bahkan sempat tersenyum mesra kepada sang suami.
“Ooh, mesra sekali!” desah Kerling Sukma melihat gaya Joko Tenang dan Tirana di udara.
Pada detik itu, Tirana menyentuhkan tangan kanannya ke dada suaminya. Hal itu ia lakukan karena Kuraban melesatkan dua bola besinya yang telah membara merah, menyambut serangan Joko Tenang dan Tirana.
Bless!
“Oh, tidaaak!” pekik Kuraban histeris saat melihat dua bolanya hancur musnah saat sampai dua jengkal dari tubuh Joko Tenang.
“Macan Penakluk!” sebut Joko Tenang memanggil saat masih di udara.
Aaurrgk!
Macan sinar merah langsung keluar dari cincin Joko Tenang melompat menerkam ke arah Kuraban.
__ADS_1
“Aakkrr!” jerit Kuraban yang tidak bisa menghindari terkaman itu. Jarak kemunculan sang macan terlalu dekat.
Tirana mendarat dengan cantik sambil merangkul pinggang suaminya, membuat pemuda beristri lima itu juga mendarat dengan tampan. Tanpa peran Tirana, tidak mungkin Joko Tenang bisa melompat jauh-jauh seperti itu saat ini, apalagi sampai mendarat yang membutuhkan ilmu peringan tubuh.
Ctar!
Satu ledakan terjadi dibuat oleh Kuraban pada dirinya untuk mengusir Macan Penakluk. Macan sinar merah itu kembali hancur dan langsung tersedot masuk ke dalam cincin Joko Tenang.
Namun, ledakan tenaga yang dibuat oleh Kuraban untuk mengusir sang macan, juga membunuh dirinya yang sudah penuh luka cakaran dan gigitan.
Dua orang sudah mati. Kini tinggal Gigi Gagah yang terluka dalam dan Bocah Kepang yang mengalami luka cakar. Gigi Gagah dan Bocah Kepang tampak ragu untuk kembali maju.
Melihat keraguan tergambar pada wajah kedua lawannya, Joko Tenang pun berseru, “Pergilah! Tinggalkan Gerombolan Kuda Biru, karena sebentar lagi mereka akan hancur!”
Gigi Gagah dan Bocah Kepang saling pandang dengan wajah yang saling mengerenyit menahan sakit. Bocah Kepang lebih dulu mengangguk memberi isyarat kepada Gigi Gagah.
“Kami mengaku kalah!” kata Gigi Gagah.
“Jika aku kembali menemukan kalian berbuat jahat, aku berjanji akan merontokkan semua gigi kalian!” ancam Joko Tenang.
Akhirnya Gigi Gagah dan Bocah Kepang memilih berkelebat pergi.
Plok plok plok!
Joko Tenang dan Tirana dikejutkan oleh tepuk tangan Getara Cinta dan Kerling Sukma. Pasangan suami istri itu hanya tersenyum lebar melihat keduanya.
Cup!
Dengan mesra Tirana kembali mengecup kening Joko Tenang, memberinya Kecupan Malaikat sebagai pemugar stamina. Sebagai seorang lelaki biasa, Joko Tenang pasti akan mudah kelelahan dan gampang terluka dalam jika harus bertarung dengan orang-orang sakti.
“Aku ingin mencoba bertarung bersama Kakang!” kata Kerling Sukma bersemangat.
“Nanti, setelah ini adalah giliran Ratu yang bertarung bersama Kakang!” tandas Tirana.
“Yaaah!” keluh Kerling Sukma kecewa, sambil memasang wajah merengut tapi menggemaskan.
Tirana dan Joko Tenang hanya tertawa kecil melihat tingkah Kerling Sukma.
“Giliran kami yang harus kalian lawan!”
Tiba-tiba terdengar seruan dari depan sana. Joko Tenang dan Tirana berbalik.
Dua orang lelaki telah berdiri percaya diri. Sementara empat teman mereka lainnya masih memantau dari tempat yang agak jauh.
Getara Cinta bergerak melayang turun ke sisi Joko Tenang seperti seekor merpati mendarat. Sebaliknya, Tirana melayang terbang mundur naik ke kereta kuda.
Pertarungan tahap berikutnya siap digelar. (RH)
__ADS_1