Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo11: Penyerang Gelap


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


Palang Segi adalah seorang pemuda bertubuh jangkung dan berotot. Ia mengenakan baju putih, bercelana biru. Pemuda berambut pendek itu segera bangun dan kembali memasang kuda-kuda yang terlihat gemetar. Itu efek dari adu ilmu dengan Kulwarek.


Sementara Kulwarek yang terjengkang dan bersimbah darah di dagunya, memegangi dadanya yang terasa sesak dan membuatnya sulit bernapas. Pemuda berambut gondrong keriting itu berusaha bangkit juga. Ia harus mengakui bahwa Palang Segi lebih unggul kesaktiannya daripada dia.


Para pemuda warga di desa itu segera berdatangan karena mendengar suara ledakan adu tenaga kesaktian, termasuk Tudurya dan Joko Tenang.


Sementara kaum wanita hanya bisa berkumpul di pinggir jalan utama, tanpa berani menyeberang ke wilayah lelaki. Mereka hanya bisa bertanya-tanya di antara mereka, siapa yang sedang berselisih.


“Kau tidak akan aku biarkan selamat, orang sepertimu harus mati!” teriak Palang Segi marah lalu maju setengah berlari hendak meraih tubuh Kulwarek.


Namun, dua pemuda desa lain segera memegangi kedua lengan Palang Segi, menahannya agar tidak mewujudkan niatnya.


“Cuih! Busuk sekali kau, Palang Segi!” teriak Kulwarek juga setelah ia meludahkan darah di mulutnya.


“Beraninya kalian bertarung dengan sesama warga?!” bentak Sudarka sesampainya di lokasi. “Palang Segi, apa yang kau perbuat terhadap Kulwarek?”


“Dia telah bersekongkol dengan Si Kucing Merah, makanya penyusup itu bisa leluasa keluar masuk di desa kita ini!” tukas Palang Segi, masih dengan emosi yang tinggi.


Sudarka beralih memandang kepada Kulwarek.


“Dia memfitnaku. Aku sedikit pun tidak kenal dan tahu-menahu tentang Si Kucing Merah!” sangkal Kulwarek. Tatapannya penuh benci terhadap Palang Segi.


“Aku melihatmu pernah memegang sebuah topeng kucing di dalam kamarmu!” kata Palang Segi.


“Kau jangan menuduhku dengan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan, Palang Segi!”


“Aku tidak menuduh, tapi aku mengungkapkan apa yang aku lihat sendiri!” tegas Palang Segi.


“Benarkah kau memiliki topeng kucing, Kulwarek?” tanya Sudarka.


“Tidak. Aku bersumpah bahwa apa yang dituduhkan oleh Palang Segi adalah dusta. Dia memfitnaku!” jawab Kulwarek.


“Jika aku memfitnahmu, apa tujuanku, hah?!” tanya Palang Segi mendelik kepada Kulwarek. Ia lalu berkata kepada Sudarka, “Sudarka tahu sendiri bahwa aku bersahabat dengan Kulware. Namun, aku tidak bisa diam jika dia ternyata mengkhianati kita semua. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa memeriksa kamarnya, apakah tudinganku dusta atau benar!”


Sudarka menatap tajam kepada Palang Segi. Lalu katanya kepada kedua pemuda yang memegangi Palang Segi, “Kalian berdua, periksa kamar Kulwarek!”


“Baik,” jawab kedua pemuda itu.


Keduanya melepaskan tangan Palang Segi dan segera pergi ke rumah tempat Kulwarek tinggal, yang juga merupakan rumah Palang Segi.


Di desa itu, setiap dua pemuda tinggal di satu rumah dengan kamar masing-masing.


“Tidak aku sangka kau ternyata sebusuk ini, Palang Segi!” desis Kulwarek. “Entah hal apa yang membuatmu tiba-tiba membenciku?”

__ADS_1


“Aku peringatkan kepada kalian semua, jika perkelahian seperti ini terjadi lagi, aku tidak akan segan-segan menghukum kedua yang terlibat!” seru Sudarka memperingatkan.


Semua warga hanya terdiam mendengar peringatan itu.


Tidak berapa lama, kedua pemuda yang diperintahkan memeriksa kamar Kulwarek telah kembali. Tampak salah seorang dari mereka membawa sesuatu di tangannya.


“Kami menemukan ini, Sudarka!” kata pemuda yang datang sambil menyodorkan tangannya yang memegang sebuah topeng kayu berbentuk wajah kucing. Hanya saja topeng itu tidak berwarna merah, tetapi masih natural berwarna kayu.


Mendelik Kulwarek saat melihat benda apa yang diserahkan kepada Sudarka. Orang kepercayaan Kepala Desa itu menerima topeng berwajah kucing. Setelah memperhatikan topeng di tangannya sejenak, Sudarka lalu beralih memandang marah kepada Kulwarek.


Semua mata menatap tajam kepada Kulwarek.


“Itu bukan milikku! Aku tidak pernah melihat benda itu!” teriak Kulwarek dengan wajah bingung. “Aku dijebak, itu pasti muslihatmu, Palang Segi!”


“Bawa Kulwarek ke penjara!” perintah Sudarka.


Maka beberapa pemuda yang memang memiliki tugas bagian keamanan segera menyergap Kulwarek. Pemuda yang sudah terluka parah itu mencoba melawan dengan mendorong satu pemuda yang ingin meringkusnya.


Buk! Buk!


“Hukr!” keluh Kulwarek memuntahkan darah saat dua tinju menghajar perutnya. Kulwarek semakin lemah.


Setelah itu, Kulwarek tidak bisa berontak lagi. Pemuda berambut keriting itu segera dibawa pergi.


Para warga muda itu segera membubarkan diri dan kembali ke aktivitasnya masing-masing.


Sudarka melangkah mendatangi Joko Tenang. Ia tersenyum kepada Joko.


“Maafkan atas ketidaknyamanan ini, Joko. Tidak mudah untuk mengatur banyak orang,” kata Sudarka.


“Tidak apa-apa. Hal yang biasa jika dalam sebuah rumah tangga terjadi konflik antaranggota,” kata Joko Tenang.


“Oh ya, aku lupa memberi tahu. Kami tidak akan memberi tamu jamuan. Makan dan minum ada waktunya sendiri. Tudurya nanti bisa menjelaskannya,” kata Sudarka.


“Baik,” jawab Joko.


“Nikmatilah harimu di desa ini,” kata Sudarka lagi.


Joko Tenang hanya mengangguk. Sudarka lalu melangkah pergi meninggalkan Joko dan Tudurya.


Joko lalu kembali mengikuti Tudurya.


“Apakah sedikit pun kalian tidak mengetahui siapa Si Kucing Merah?” tanya Joko.


“Kami hanya curiga bahwa dia adalah bekas warga Desa Wongawet yang pernah diusir. Sebab ia begitu mengenal seluk beluk desa ini dan begitu lihai saat berlari di dalam desa,” kata Tudurya.

__ADS_1


“Berarti kalian bisa menerka-nerka siapa Si Kucing Merah adanya?” tanya Joko lagi.


“Seharusnya demikian karena orang yang pernah diusir bisa dihitung dengan jari. Namun dari perkiraan, tidak ada yang cocok ciri-ciri antara Si Kucing Merah dengan orang-orang yang pernah diusir dari desa ini. Itu sebabnya, selama satu tahun kemunculan Si Kucing Merah hingga saat ini, jati dirinya masih misteri. Dugaanku mungkin senada dengan Palang Segi, ada pengkhianat di antara kami.”


Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah berlantai tanah. Di samping rumah ada seorang pemuda bertelanjang dada sedang mengasah golok. Bukan hanya satu golok yang ada padanya, tetapi sekumpulan golok yang diletakkan di keranjang anyaman bilah bambu.


“Dagang, perkenalkan tamu kita, namanya Joko!” kata Tudurya kepada pemuda pengasah golok.


“Oh, iya. Perkenalkan, nama saya Dagang, Pendekar,” ucap pemuda itu ramah seraya agak membungkuk-bungkuk ketika berbicara kepada Joko.


“Joko, nanti kau bisa bermalam di sini. Jika kau memerlukan sesuatu, aku tinggal di rumah sebelah,” kata Tudurya.


“Baik,” jawab Joko singkat, tapi kemudian dia berkata, “Bisa kau jelaskan tentang makan dan minum bagi tamu?”


“Kami hanya makan dan minum pada satu waktu, yaitu setelah matahari terbenam. Tamu dan warga desa ini makan bersama di alun-alun pada saat itu. Hanya waktu itulah laki-laki dan wanita bercampur dan berkumpul dalam satu tempat. Nanti kau akan melihat seperti apa suasananya,” jelas Tudurya.


“Itu selalu menjadi waktu yang menyenangkan bagi kami. Di saat itulah kami bisa mencuri-curi pandang terhadap gadis yang kami sukai. Hahaha!” kata Dagang lalu tertawa ringan di sela-sela pekerjaannya mengasah golok.


“Ya, kami hanya berharap, suatu hari nanti larangan menikah itu dicabut,” kata Tudurya juga seraya tersenyum.


“Maaf, aku ingin ke sungai untuk urusan perut,” kata Joko.


“Apakah perlu aku antar?” tanya Tudurya.


“Jika kau khawatir aku akan berbelok arah,” jawab Joko.


“Hahaha!” tertawa Tudurya. “Tidak, tidak sepantasnya kami menjadi tuan rumah yang penuh curiga. Kami sudah banyak menerima tamu asing sebelumnya. Kau lihat kebun jagung itu!”


Joko melihat ke arah tunjukan Tudurya. Ia melihat keberadaan kebun jagung yang sudah meninggi tapi belum berbuah.


“Setibanya di sana, kau akan melihat jalan setapak menuju ke tempat pembuangan isi perut,” kata Tudurya seraya tersenyum lebar.


“Terima kasih,” ucap Joko.


Joko lalu beranjak pergi. Sementara Tudurya bergabung dengan Dagang dan membantunya mengasah golok.


Joko berjalan sendiri menuju ke kebun jagung. Saat berpapasan dengan pemuda lain, ia hanya tersenyum irit ketika pemuda itu tersenyum ramah kepadanya.


Set! Sep!


Namun, ketika Joko telah tiba di jalan setapak pinggiran kebun jagung, tiba-tiba ada benda tipis melesat menyerang Joko. Benda itu melesat dari dalam kebun jagung. Benda itu mengincar leher Joko.


Tanpa melakukan gerakan pengelakan, Joko Tenang hanya memasang dua jarinya di samping leher, menangkap benda tipis panjang itu dengan jepitan dua jarinya.


Awalnya Joko hendak bergerak menangkap orang yang menyerang secara sembunyi-sembunyi itu, tetapi ia urungkan niatnya saat mengetahui ada gulungan daun pisang di batang lidi kecil yang menyerangnya itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2