
*Cincin Darah Suci*
“Apakah setiap kau menggunakan Gerbang Tanpa Batas harus jatuh dari langit?!” tanya Tirana berteriak kepada Puspa yang masih dipegang tangannya dengan erat.
“Iya!” jawab Puspa dengan berteriak pula.
Seluruh rambut dan kain pakaian mereka berkibar deras ke atas seiring tubuh mereka meluncur cepat menuju bumi yang tandus.
“Berarti kau punya cara untuk mendarat!”
“Puspa punya!”
“Lakukan! Sebentar lagi kita akan menghantam bumi!” teriak Tirana.
“Tapi hanya buat Puspa!” jawab Puspa berteriak.
“Apa?!” kejut Tirana.
Jika Puspa hanya bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari menghantam bumi, lalu bagaimana dengan Tirana? Sementara jarak mereka dengan bumi yang gersang semakin dekat, tinggal hitungan belasan detik.
“Puspa akan lepas Tirana!” teriak Puspa lalu melepas pegangan tangannya pada tangan Tirana.
Seketika keduanya berpisah, tapi masih sama-sama meluncur ka arah yang sama.
Sess! Sess! Blom! Blom
Puspa menghentakkan sepasang lengannya bergantian, melesatkan dua bola sinar hijau nan besar sebesar dua kali pelukan ke arah bawah. Pada jarak tertentu, satu bola sinar hijau meledak di udara, tepat di bawah tubuh puspa. Daya ledaknya yang mengenai Puspa ternyata membuat laju jatuh tubuh jalan sempat melambat sejenak lalu meluncur deras lagi. Namun sedetik kemudian, bola sinar hijau satunya juga meledak nyaring di udara bawah luncuran tubuh Puspa. Daya ledaknya kali ini sempat menahan laju tubuh Puspa terhenti sejenak lalu meluncur lagi, tapi sudah tidak sederas semula.
Puspa semakin dekat kepada bumi. Ia kembali melesatkan dua bola sinar hijau dari ilmu Ludah Penghuni Hutan untuk menahan laju tubuhnya menabrak tanah yang tandus.
__ADS_1
Ternyata, pada ledakan bola sinar yang keempat di bawah tubuhnya dan beberapa tombak di atas tanah, membuat tubuh Puspa agak terlempar naik, tetapi tidak begitu tinggi. Sementara tanah kering di bawah hancur berlompatan ke segala arah menciptakan kawah dangkal dan kebulan debu yang pekat.
Dengan cara itu, Puspa bisa mendarat dengan aman di bumi, meski harus berkabut debu. Puspa memukul-mukul telinga kanannya karena masih menyisakan dengung akibat berjalanan super kencang itu.
Namun, Puspa terdiam tiba-tiba saat mendengar suara samar-samar dari banyak gerakan di sekelilingnya. Pandangannya masih tertutupi debu. Belum lagi ia melakukan sesuatu, sejumlah ujung besi lancip dan tajam sudah mengurung dirinya, bahkan menempel ke pakaian dan kulit leher Puspa. Tinggal maju sedikit, maka Puspa akan tertusuk.
Kondisi itu membuat Puspa tidak berani bergerak. Ia bisa melihat bahwa benda-benda lancip itu adalah sepuluh mata tombak yang panjang. Seiring debu menghilang tertiup angin gurun, jelaslah bahwa ada sepuluh lelaki berseragam militer warna cokelat gelap yang sudah mengepungnya sambil menahan tombak panjang di tangannya.
Selain sepuluh prajurit bertombak itu, di belakang mereka telah mengepung pula sekitar 20 prajurit dengan anak panah siap lepas dari busurnya. Semuanya membidik ke posisi Puspa. Tidak hanya itu, ternyata masih ada lapisan prajurit ketiga bersenjata tombak dan pedang yang membentuk pagar betis mengepung rapat area pendaratan Puspa.
“Aarrrk!” teriak Puspa meraung seperti binatang buas.
Namun, tusukan pelan beberapa ujung tombak membuat Puspa berhenti meraung marah dan bergerak. Meski tidak sampai menusuk menembus ke kulit, tetapi tusukan pada badan itu cukup terasa sakit. Untung mata tombak yang menempel di leher tidak turut maju menusuk.
Berbeda nasib dengan Puspa, Tirana lebih beruntung. Puspa pun tidak melihat lagi keberadaan Tirana karena ia memang sibuk untuk menyelamatkan dirinya sendiri dalam pendaratan.
Ketika Tirana semakin mendekati bumi, ia bingung karena tidak tahu cara mendarat dengan baik dan aman. Atau setidaknya mendarat tanpa harus hancur berkeping atau patah tulang. Bumi semakin dekat, dan....
Bress!
Tirana memutuskan mencoba ilmu Lorong Laba-Laba, meski itu adalah pertaruhan. Ia melesatkan sinar merah berpola jaring laba-laba. Sinar itu menempel di tanah dan jeda sedetik kemudian, tubuh Tirana menabrak sinar merah jaring laba-laba itu. Tirana yang jatuh kepala lebih dulu masuk dan lenyap ke dalam jaring. Entah ke mana dia masuk atau mendarat.
Puluhan prajurit berseragam militer warna cokelat gelap yang mengintai dari balik-balik tenda mereka, hanya bisa terbelalak melihat tubuh Tirana hilang masuk ke dalam bumi. Hal itu terjadi sebelum Puspa mendarat. Namun, mereka segera bersiaga karena ada pertunjukan lain di atas langit sana.
Di langit terjadi beberapa ledakan. Menyusul ledakan terakhir sangat dekat dengan posisi intai mereka. Saat Puspa mendarat di dalam kabut debu gurun, seorang perwira cepat memberi perintah isyarat agar langsung mengepung Puspa di dalam kebulan debu.
Setelah udara sekitar kembali bersih dari debu yang beterbangan, barulah Puspa mengetahui bahwa ia mendarat di tengah-tengah kamp militer tentara. Ada banyak tenda di bangun di beberapa sisi.
Datang dua orang prajurit kepada Puspa. Keduanya masing-masing membawa belenggu besi yang tebal dan berat, dengan rantai besar yang terlihat rumit.
__ADS_1
Tampak terlihat seorang lelaki berkumis dan berjenggot lebat berdiri gagah memandangi Puspa. Pria bertubuh besar itu mengenakan pakaian militer yang lebih bagus dengan zirah yang lebih kuat dari bahan logam. Semua tubuhnya terlindungi dengan rapi, kecuali kepalanya yang rambutnya digelung dan diikat dengan ring logam perak. Ada pedang besar yang terpasang di punggungnya. Ia adalah Kepala Perbatasan Timur Negeri Lor We, Jenderal Zhao Jiliang.
Di belakangnya berdiri seorang prajurit yang membawa pedang di pinggang dan membawa helm besi bagus di tangannya yang adalah milik Jenderal Zhao Jiliang. Ia adalah pengawal pribadi sang jenderal, namanya Ho Mo.
“Jangan melawan!” perintah prajurit yang berniat memborgol kedua tangan Puspa.
Puspa hanya kerutkan kening. Ia tidak mengerti kata-kata prajurit itu, sebab bahasanya sangat berbeda dengan yang Puspa dan Tirana miliki.
Sementara itu, setelah Tirana masuk ke dalam Lorong Laba-Laba, tubuhnya yang semula meluncur dari atas ke bawah, tiba-tiba muncul di udara dalam posisi melesat terbang beberapa meter di atas permukaan tanah berpasir. Namun, Tirana tidak bisa mengendalikan dirinya, karena laju tubuhnya bukan berdasarkan kehendaknya.
Tirana mendelik karena tubuhnya akan menghantam bukit pasir kecil. Ia buru-buru mengerahkan ilmu perisainya.
Brukss!
Begitu keras tubuh Tirana menghantam dinding pasir. Namun, ilmu perisai Tirana yang tinggi membuat kulitnya aman dari sentuhan dinding pasir, sebab perisai gaib yang lebih kuat dari baja melindungi seluruh tubuh gadis itu sejauh dua jengkal dari kulit.
Tirana memang memiliki ilmu yang tinggi. Kehebatan ilmu perisainya yang bernama Kulit Dewi Gaib telah terbukti ketika ia bertarung melawan Kakek Ular Emas di Sumur Juara. Kakek Ular Emas memiliki ilmu tertinggi yang bernama Amarah Ular Emas. Ilmu yang bersifat panas dan mampu melumerkan besi tidak memiliki daya apa pun ketika membentur ilmu perisai Kulit Dewi Gaib.
Hantaman keras itu membuat pasir berterbangan menutupi daerah itu dan dinding pasir tampak berlubang besar.
Tirana sendiri bangun dengan keadaan fisik yang aman dari cedera. Ia merapikan pakaiannya dan rambutnya yang berantakan setelah menempuh perjalanan yang gila.
“Di mana ini?” membatin Tirana sambil memandang ke sekitar.
Ternyata ia berada di sebuah gurun pasir. Tetapi di arah barat tampak daerah yang hijau. Ia tidak benar-benar berada di tengah gurun pasir, lebih tepatnya di pinggiran gurun. Terlihat pula sederetan tebing-tebing batu yang tandus dengan warna yang serasi dengan warna pasir.
“Bagaimana dengan Puspa?” pikir Tirana. “Sepertinya kami tadi jatuh di daerah perkemahan. Tapi di sebelah mana?”
Akhirnya Tirana berjalan menuju barat untuk mencapai daerah yang lebih sejuk dengan adanya tanaman dan pepohonan. (RH)
__ADS_1