Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 7: Menolong Putra Adipati


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


Mengikuti petunjuk jalan yang mereka peroleh, Joko Tenang dan ketiga istrinya serta mertuanya pergi menuju Padepokan Hati Putih pimpinan Resi Tambak Boyo.


“Sebenarnya apa yang akan dibahas oleh Guru Tiga Malaikat Kipas dengan para tokoh dunia persilatan di Jurang Lolongan?” tanya Kerling Sukma dari dalam bilik kereta.


“Aku juga tidak tahu. Para Guru hanya memerintahkan untuk mengundang nama-nama yang diberikan kepadaku dan itu sifatnya rahasia. Jadi, harus aku sendiri yang menyampaikannya,” jawab Joko Tenang yang saat itu berlakon sebagai kusir. Sementara sang mertua, Turung Gali, duduk di sisinya.


Kereta kuda itu berlari sedang pada jalan yang menuju perbatasan Kadipaten Surosoh.


Dari arah depan, terdengar dan terlihat seekor kuda hitam berlari kencang. Sang penunggang kuda adalah seorang pemuda tampan berpakaian bangsawan warna merah hati. Ia tidak lain adalah Arya Permana, putra Adipati Tambak Ruso.


Ternyata di belakangnya ada dua ekor kuda yang mengejar dengan kecepatan tinggi juga. Penunggang kuda berjubah hitam yang adalah perempuan dewasa, melesatkan beberapa benda berwujud logam seperti koin perak. Ia bernama Sumitri yang berjuluk Wanita Kepeng Perak, salah satu anggota Gerombolan Kuda Biru.


Seset! Teb!


Merasa ada serangan senjata, Arya Permana cepat menundukkan tubuhnya ke leher kuda, membuat lima koin yang menyerangnya meleset. Bahkan satu koin menancap dalam di dinding bilik kereta kuda Joko Tenang, tetapi tidak memakan korban.


“Putar arah! Di depan ada Gerombolan Kuda Biru!” teriak Arya Permana kepada Joko Tenang dan rombongannya sambil melintas lewat bersama kudanya. Ternyata, Arya Permana membawa sesosok tubuh di depannya yang terkulai.


Set! Zeb!


“Akh!” pekik Arya Permana ketika selarik sinar biru kecil melesat cepat dari belakang dan menembus bahu kirinya.


Tubuh Arya Permana seketika jatuh liar dari punggung kuda ke tanah berumput.


Orang yang menyerang Arya Permana adalah lelaki penunggang kuda berpakaian biru gelap. Lelaki berusia empat puluhan tahun itu berjenggot hitam dan agak lebat. Rambut gondrongnya diikat dengan kain berwarna putih. Ia adalah Sorak Bura, anggota Gerombolan Kuda Biru.


Sumitri dan Sorak Bura tidak peduli dengan kereta kuda yang dikusiri oleh Joko Tenang. Keduanya fokus untuk menghabisi Arya Permana.


Joko Tenang menghentikan lari kuda keretanya.


“Ayah, tolong orang itu!” perintah Joko Tenang kepada Turung Gali.


“Baik, Yang Mulia Pangeran,” ucap Turung Gali patuh.


Turung Gali lalu melompat naik ke atap bilik kereta, dari situ ia langsung melesat cepat di udara.


Bak!


Sorak Bura yang sudah melompat ke udara dari punggung kudanya dan siap melesatkan kembali sinar biru kecilnya, terlempar keras ke tanah karena dihantam terjangan Turung Gali. Arya Permana yang menggeliat kesakitan masih bisa lolos dari kematian.


“Kurang manis! Beraninya kau mencampuri urusan Gerombolan Kuda Biru!” hardik Sumitri kepada Turung Gali yang sudah berdiri di dekat Arya Permana. Ia masih duduk di atas punggung kudanya.

__ADS_1


Tangan kanan Arya Permana membekap bahu kirinya yang bolong kecil dan berdarah.


“Jika berani campuri urusan kita, tidak peduli kenal atau tidak, habisi semua!” teriak Sorak Bura marah.


Clap!


Arya Permana, Sumitri dan Sorak Bura terkejut saat tiba-tiba sesosok wanita muda cantik jelita sudah berdiri di sisi Turung Gali. Wanita itu tidak lain adalah Tirana.


“Karena kita tidak punya urusan, maka pergilah kalian berdua. Kami bermaksud menolong lelaki ini!” ujar Tirana.


“Cuih! Kurang manis!” maki Sumitri setelah meludah kasar ke samping. “Kau pikir siapa dirimu, Cah Ayu?”


“Jangan banyak ramah tamah, Sumitri!” seru Sorak Bura.


“Hiah!” pekik Sumitri sambil menarik tali kekang kudanya. Ternyata dia memerintahkan kudanya maju kepada Tirana lalu mengangkat kedua kaki depannya bermaksud menendang.


Dak!


Ehheeek!


Blugk!


Terkejut Sumitri saat merasakan, ternyata kedua tendangan kudanya seperti menendang tembok baja pada dua jengkal dari kulit Tirana. Akibatnya, kuda itu meringkik liar dan terdorong ke belakang, membuat tubuh Sumitri terlempar dan jatuh ke tanah dengan pendaratan punggung lebih dulu.


Set! Zrup


Tiba-tiba Sorak Bura melesatkan selarik sinar biru kecil ke arah dada Arya Permana. Namun, Arya Permana yang tidak bisa menghindar, serta kedua lawannya, harus terkejut. Sinar biru Sorak Bura dengan cepat ditahan oleh Turung Gali dengan cara menangkapnya di depan dada menggunakan tangan yang sudah diliputi sinar biru gelap.


Dak dak dak…!


Selanjutnya, Turung Gali berkelebat cepat menyerang Sorak Bura dengan serangan tangan yang cepat. Sambil kelabakan, Sorak Bura menangkis semua serangan tangan itu seraya mundur-mundur.


Turung Gali kemudian sengaja mengambil jeda dalam serangannya. Jeda itu cepat dimanfaatkan oleh Sorak Bura. Ia sodokkan telapak tangannya yang membara merah ke dada Turung Gali.


Paks!


Jebakan yang sengaja dipasang oleh Turung Gali itu langsung dihadapi dengan tinju yang bersinar putih menyilaukan. Ilmu Tapak Bara Sakti milik Sorak Bura bertemu dengan Tinju Lubang Langit milik Turung Gali. Hasilnya, ….


“Hukrr!” keluh Sorak Bura dengan tubuh terdorong keras dan jatuh terjengkang. Dari mulutnya tersembur darah kental.


Sementara Turung Gali hanya terjajar mundur dua tindak tanpa mengalami luka sedikit pun.


“Sorak!” teriak Sumitri terkejut melihat hasil peraduan dua ilmu kesaktian itu.

__ADS_1


Sumitri cepat mendapati tubuh Sorak Bura yang mengerenyit menahan sakit pada seluruh tubuhnya, terutama dada dan lengan kanannya yang bengkak.


“Kita harus mundur, Sumitri!” kata Sorak Bura.


“Akan aku ingat wajah-wajah kalian!” koar Sumitri sambil menunjuk Tirana dan ayahnya.


“Jika kalian sengaja membuat urusan dengan kami, maka kami pun tidak akan sungkan, Nisanak!” balas Turung Gali.


“Kalian belum tahu berurusan dengan siapa!” desis Sumitri.


Sumitri lalu membantu Sorak Bura naik ke kudanya. Ia kemudian berkelebat di udara dan mendarat jitu di punggung kudanya.


“Dan kau, Anak Adipati! Lain kali kau tidak akan lolos dari kematian!” ancam Sumitri sambil menunjuk Arya Permana. Ia lalu menggebah kudanya pergi ke arah awalnya mereka datang.


Sorak Bura juga menggebah kudanya mengikuti temannya.


Tiba-tiba Arya Permana jatuh berlutut. Ia mengerenyit menahan sakit pada lukanya. Turung Gali segera memeriksa luka Arya Permana.


“Lukanya beracun,” kata Turung Gali.


Joko Tenang datang dengan dikawal oleh Getara Cinta. Dari arah lain, datang berjalan Kerling Sukma yang menuntun seekor kuda. Di atas kuda hitam itu ada terkulai sosok seorang lelaki bertubuh kekar dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tampak darah menetes dari ujung jari-jarinya.


Kerling Sukma mendapat tugas pergi menangkap kuda yang sempat lari liar meninggalkan tuannya, yaitu Arya Permana.


“Bagaimana, Ayah? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Joko Tenang minta pendapat.


“Lebih baik kita tunda perjalanan ke Padepokan Hati Putih, Yang Mulia Pangeran. Sebab, katanya di depan sana ada Gerombolan Kuda Biru….”


“Benar, Yang Mulia Pangeran. Di sana ada Gerombolan Kuda Biru. Jumlah mereka puluhan orang dan semuanya dari kalangan pendekar!” kata Arya Permana memotong perkataan Turung Gali. Ia turut menyebut Joko Tenang dengan sebutan Pangeran.


“Sedemikian kuatkah kelompok itu?” tanya Joko Tenang.


“Mereka adalah gabungan para tokoh aliran hitam, Yang Mulia,” jawab Arya Permana lemah.


“Apakah kau putra Adipati?” tanya Joko Tenang.


“Benar, Yang Mulia. Nama hamba Arya Permana,” jawab Arya Permana dengan wajah yang sudah memucat dan mata sudah sayu hendak tertutup.


“Lebih baik kita membawa pulang Arya Permana dan temannya itu ke kediaman Adipati Surosoh. Sepertinya kita masuk ke wilayah konflik, Yang Mulia Pangeran,” ujar Turung Gali.


Bluk!


Arya Permana tumbang tidak sadarkan diri. (RH)

__ADS_1


__ADS_2