Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC30: Duet Arjuna-Ginari


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


 


Arjuna Tandang benar-benar diberi pilihan yang semuanya sangat merugikannya. Dewi Bayang Kematian memang adalah kekasihnya. Namun, faktor sudah bosan yang membuat Arjuna Tandang berani menduakan Dewi ketika ia melihat kecantikan Ginari.


Kini ia sudah ketahuan, sebelum ia merasakan nikmatnya bercinta dengan Ginari. Jika ia memilih Ginari, maka ia jelas harus berhadapan dengan Dewi. Sebagai kekasihnya, ia tahu sejauh mana kesaktian wanita cantik nan montok itu. Ia akan berisiko terbunuh. Jika ia terbunuh, maka Ginari pun akan mati, sebab nyawa mereka saat ini sedang terhubung  oleh Racun Ikatan Seratus Langkah.


Jika ia memilih Dewi, maka Ginari akan berhadapan dengan kekasihnya. Ginari mungkin saja terbunuh. Jika itu terjadi, meski ia tidak akan ikut mati, tetapi akan sia-sialah pengorbanannya yang banyak demi mendapatkan Ginari.


Namun sebaliknya, bisa saja justru Dewi yang terbunuh. Ia pun tidak mau melihat wanita yang pernah memberinya kehangatan itu mati di depannya.


“Putuskan, Arjuna!” teriak Dewi Bayang Kematian kepada Arjuna. Ia benar-benar marah, terlihat dari sorot matanya yang cantik tetapi mengandung nafsu membunuh yang tinggi. Ia kembali berkata dengan sepasang gigi yang saling menekan, “Kau rupanya telah bosan dengan kehangatanku, kecantikanku, dan.... Putuskan, Arjuna!”


“Aku memilihmu, Dewi!” kata Arjuna Tandang lembut, akhirnya memutuskan.


Jawaban Arjuna Tandang itu seketika melegakan sepertiga perasaan Dewi, karena ia masih perlu memperjelas status hubungannya dengan Arjuna Tandang.


“Tapi aku juga memilihnya,” kata Arjuna Tandang.


Seperti menyiram minyak ke api yang sudah perlahan mengecil. Seperti itulah dampak perkataan kedua Arjuna Tandang terhadap Dewi Bayang Kematian.


“Kau benar-benar berengsek, Arjuna! Hiaat!” teriak Dewi Bayang Kematian murka sambil melepaskan sekumpulan bola-bola api dari jarak yang begitu dekat.


“Dewi! Apa kau akan membunuhku?!” teriak Arjuna Tandang sambil buru-buru menghindari serangan bola-bola api itu.


“Aku memang ingin membunuhmu agar aku tidak menyesal telah memberikan hatiku kepada seorang lelaki yang aku benci, tetapi dia masih hidup!” kata Dewi Bayang Kematian.


Sementara itu, bola-bola api justru menyasar dinding rumah yang masih tersisa dari kehancuran, lalu membakarnya.


Gagal pada serangannya yang pertama, Dewi Bayang Kematian melanjutkan terus memburu Arjuna Tandang dengan serangan mengamuk yang bertenaga dalam.


“Dewi, aku tidak mau melukaimu!” teriak Arjuna Tandang sambil menangkis dan menghindari serangan-serangan Dewi Bayang Kematian.


“Tapi kau telah membunuh hatiku!” teriak Dewi Bayang Kematian.


Slep!


Tiba-tiba gerakan gadis itu berubah cepat, tidak terlihat oleh mata Arjuna Tandang.


Baks baks!


“Hugk!” keluh Arjuna Tandang  saat tahu-tahu dadanya mendapat dua hantaman telapak tangan. “Dewi langsung mengeluarkan Gerak Bayang Kematian, ia benar-benar ingin membunuhku.”

__ADS_1


Arjuna Tandang memilih berkelebat menjauhi posisi Dewi.


“Dewi, jangan memaksaku. Aku tidak mau mati di tanganmu atau kau yang mati di tanganku!” seru Arjuna Tandang.


Sreeet!


Arjuna Tandang mengeluarkan ilmu Pasukan Pedang Haus Nyawa. Sepuluh sinar biru berbentuk pedang telah mengambang di sisinya.


“Bagus, keluarkan semua kesaktianmu, karena aku telah membencimu dan adikmu. Kau harus tahu, adikmu si Suci Sari itu telah membunuh kakakku!” kata Dewi.


“Kau jangan membawa-bawa adikku dalam permasalahan kita!” tandas Arjuna Tandang.


“Karena aku memang berniat membunuh adikmu, maka lebih baik aku juga membunuhmu sekalian, agar urusan dendam terselesaikan!” kata Dewi Bayang Kematian.


“Berarti memang tidak bisa diselamatkan hubungan kita,” kata Arjuna Tandang.


Set!


Akhirnya, Arjuna Tandang melesatkan kesepuluh pedang sinarnya dengan pengendalian pikiran. Kesepuluh pedang terbang itu melesat menyerang Dewi Bayang Kematian.


Ctar ctar ctar!


Namun mengejutkan, Dewi Bayang Kematian sanggup melumpuhkan serangan itu dengan mudah. Ia cukup memasang telapak tangan kirinya menghadang. Ketika pasukan pedang itu mendekat, satu ledakan cahaya putih muncul yang langsung memusnahkan seluruh pedang sinar Arjuna Tandang. Itulah kehebatan ilmu Kerlingan Kematian.


Mendadak gerakan  Dewi Bayang Kematian menghilang dan tahu-tahu tendangannya telah menusuk perut Arjuna.


Bess!


Dewi Bayang Kematian langsung menyusulkan tinjunya yang telah bersinar hijau kepada Arjuna Tandang yang terjajar beberapa tindak akibat tendangan tadi.


Namun, Dewi Bayang Kematian harus menahan serangannya. Pada saat itu, sekelebat sosok hitam melepaskan pukulan jarak jauh.


Bluarr!


Dewi Bayang Kematian terpaksa mengadu sinar Tinju Belantara-nya dengan tenaga besar yang datang tidak kasat mata. Sinar hijau Dewi Bayang Kematian meledak di tengah jalan.


Wanita berpakaian hijau muda itu terlempar pendek, tetapi masih bisa mendarat dengan kuda-kuda yang baik. Ia cepat memandang kepada penyerangnya, yang juga terdorong dan mampu untuk tidak jatuh.


Penyerang Dewi Bayang Kematian tidak lain adalah Ginari.


Slep!


Dewi Bayang Kematian maju kepada Ginari. Gerakannya yang selevel dengan Bayang-Bayang Malaikat milik Joko Tenang itu terlihat hanya seperti gerakan bayangan.

__ADS_1


Namun, Dewi Bayang Kematian harus kecewa, tiba-tiba Ginari hilang dari pandangan matanya, sehingga Dewi hanya menyerang ruang kosong.


Dewi Bayang Kematian cepat melihat ke sekeliling. Namun, ia tidak menemukan keberadaan Ginari.


Bak!


“Hek!” keluh Dewi Bayang Kematian saat dadanya terasa dihantam keras oleh sesuatu yang tidak tampak. Ia terjengkang.


Dewi Bayang Kematian buru-buru bangkit. Ia bersiaga. Ia terus mencari. Untuk sementara ia tidak mempedulikan Arjuna Tandang.


“Tunjukkan wujudmu, Perempuan Penggoda!” teriak Dewi Bayang Kematian kesal.


Tuk!


Tiba-tiba sebilah pedang milik sesosok mayat yang tergeletak bebas di tanah melesat menyerang Dewi Bayang Kematian.


Serangan itu seolah menunjukkan di mana posisi Ginari saat itu. Karenanya, Dewi Bayang Kematian langsung melesat laksana bayangan menghindari pedang sekaligus melesatkan ujung pita birunya.


Ctar!


Lecutan ujung pita itu menimbulkan suara nyaring. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa serangan tersebut mengenai sasaran.


Set! Set! Set...!


Tang tang tang...!


Tiba-tiba Arjuna Tandang melesatkan tebasan-tebasan angin setajam pedang berulang-ulang dari ilmu Angin-Angin Mengiris. Hebatnya, Dewi Bayang Kematian mampu menangkis seluruh serangan angin-angin tajam itu dengan gerakan pitanya yang meliuk-liuk sedemikian rupa.


Sets!


Ketika Dewi Bayang Kematian sibuk menangkis Angin-Angin Mengiris, mendadak Ginari muncul di belakang lawannya. Ginari melepaskan jala sinar biru. Serangan membokong itu tidak bisa dihindari oleh Dewi Bayang Kematian.


Gadis berambut sebahu itu langsung terjerat kuat oleh jala sinar itu. Ia tumbang ke tanah.


“Kalian berdua benar-benar curang! Lepaskan aku!” teriak Dewi Bayang Kematian gusar, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ilmu Jala Ringkus Penjahat tidak mudah dilepas, selain oleh pemiliknya sendiri atau dengan tenaga sakti yang tinggi.


“Nisanak, kau harusnya malu, kau justru membantu lelaki yang menyanderamu!” tukas Dewi Bayang Kematian kepada Ginari.


“Jika dia mati, aku juga akan mati. Dan aku tidak mau mati!” kilah Ginari.


Arjuna Tandang mendekati Dewi Bayang Kematian yang tergeletak di tanah.


“Sekarang kita tidak punya hubungan apa pun, Dewi. Aku tidak akan membunuhmu. Nasibmu terserah kepada Ginari,” kata Arjuna Tandang.

__ADS_1


“Perintahkan saja anak buahmu yang masih tersisa untuk membuangnya jauh-jauh,” kata Ginari. (RH)


__ADS_2